← Back to list

One Fine Day

Mingyu sampai di kediaman Minghao tepat pukul 9 pagi, ketika langit berwarna biru cerah, seolah-olah tengah ikut bersuka cita atas hari…

Kirei 𐙚 · 2024-11-11 14:26 · 106 claps · 4.1 min read
#gyuhao #indonesia #seventeen
Open on Medium ↗

One Fine Day.

Mingyu sampai di kediaman Minghao tepat pukul 9 pagi, ketika langit berwarna biru cerah, seolah-olah tengah ikut bersuka cita atas hari yang sudah direncanakan oleh dua insan muda. Gelisahnya masih ada, jantungnya pun tetap berdetak cepat, seolah-olah ini adalah kali pertama mereka bertemu kembali.

Mungkin, bisa saja disebut kali pertama. Kali pertama Mingyu mengajak adik dari temannya itu untuk berkencan, menghabiskan waktu dengan rencana yang tidak begitu matang namun menyenangkan. Setidaknya itu yang Mingyu fikirkan.

Sama halnya seperti Minghao, jantungnya tidak bisa berhenti berdebar, sama terjadi ketika ia mengonsumsi caffeine. Indera pendengarnya mendapati suara dua hingga tiga ketuk di pintu rumah. Senyum tidak bisa luruh dari wajahnya, mengiringi langkah yang semakin lama semakin dekat ke arah pintu untuk bertemu sang pujaan hati sepertinya.

ㅤㅤㅤ

"Hai." Sapanya ketika ia berhasil membuka pintu dan mendapati Mingyu tengah berdiri di hadapannya sembari membawa kantong plastik berisi beberapa roti dan susu.

ㅤㅤㅤ

Mingyu tersenyum lebar, "Hai, sarapan dulu." Ujarnya sembari menyodorkan plastik yang ia bawa.

Yang ditawari hanya tertawa pelan, mempersilahkan Mingyu masuk ke dalam rumah. Beberapa hari yang lalu, ketika lelaki itu memutuskan untuk berangkat ke kampus ia melakukan hal yang sama, membawa sekantong roti dan susu. Minghao sempat menolak namun ternyata Mingyu lebih bersikeras jika bersamanya ia tidak boleh kelaparan.

"Bang Han enggak ada?"

"Ada kok, lagi di kamarnya." Minghao menyodorkan potongan roti yang baru saja ia buka, "makan dulu Gyu."

Lelaki itu tersenyum, menerima roti yang baru saja disodorkan sembari mengucap terima kasih, "Gue perlu pamitan lagi gak sama bang Han?"

Yang ditanya hanya mengibaskan tangan, "Alah enggak usah, dia juga udah tau 'kan kalau kita mau pergi?"

"Tau kok."

Minghao mengangguk, menyelesaikan sesi sarapannya dengan cepat lalu beranjak ke arah tangga dekat ruang tamu untuk memakai sepatu miliknya. Meninggalkan Mingyu yang tengah sibuk memperhatikannya seolah-olah ia bisa hilang begitu saja, "Ayo Gyu."

"Aduh ganteng banget, mau kemana?"

Minghao memicingkan matanya sembari mendengus, "Males banget ah."

Yang mengerjai hanya tertawa pelan, merapihkan sampah-sampah kecil kemudian beranjak dari duduknya, "Ayo ganteng, kayaknya si hitam tampan udah gak sabar."

"Hitam tampan?" tanya nya.

"Motor gue." Gelaknya, sembari berjalan keluar dari rumah secara beriringan. Aroma tubuh Minghao melewati indra penciumnya dengan begitu lembut dan manis.

Jika Mingyu boleh berbicara, penampilan lelaki yang ada disampingnya itu begitu menawan. Ia memadupadankan pakaian berwarna hitam dan celana jeans dengan begitu apik, yang sedikitnya membuat ia merasa dihargai karena Minghao bersedia meluangkan banyak waktu untuk berpakaian rapih.

Namun satu-satunya hal yang sukses mengganggu perhatian Mingyu sejak tadi hanyalah bibir merah milik Minghao.

“Gyu? Kok ngelamun?” Sahutan namanya yang keluar dari mulut Minghao membuat kesadaran Mingyu kembali. Bahkan ia tak sadar jika kini keduanya sudah berdiri di samping motornya.

Sorry-sorry, gak fokus.”

“Kenapa gak fokus? Lu belum matiin kompor di kosan?”

Mingyu menggeleng sembari tertawa pelan, “Udah kok, ini mah gak fokus soalnya lu cakep banget. Mau nge-date sama siapa nih.” Gelaknya sembari memasangkan helm berwarna hitam itu ke kepala kecil milik Minghao.

Yang dipuji malah memukul pelan lengan atas Mingyu, membenarkan kembali posisi helm yang sudah dipakaikan lelaki itu. Kemudian memijakan kaki di step motor yang sebelumnya dibuka oleh Mingyu, Minghao berhasil duduk di atas motor hitam dengan nyaman, “Lets go!” serunya.

Mingyu tertawa pelan, mulai menjalankan motornya untuk membelah kota dengan perasaam senang. Ini adalah kali ketiga, Minghao duduk di jok belakang dan akan ia pastikan lelaki itu akan selalu ada disana sembari memeluk erat pinggangnya.

Woah” Seruan terkejut akan tata letak art exhibition yang mereka kunjungi sukses membuat Mingyu terkagum-kagum. Ini bukan kali pertama ia datang ke tempat seperti ini, namun rasanya ia baru saja menjajaki tempat baru.

“Lu nemu dimana ini tempat Gyu? Keren banget anjir.”

Mingyu menoleh lalu tertawa, “Lewat di explore Instagram gue.”

Lelaki itu mengangguk-anggukan kepalanya, puas mendengar jawaban Mingyu lelaki itu memilih untuk berjalan terlebih dahulu. Melihat dengan seksama bagaimana hasil dari lihainya jari jemari manusia di atas canvas. Namun, belum sampai lima menit Minghao mengamati dengan seksama fokusnya terdistraksi oleh sentuhan hangat di tangan kanan miliknya. Ada jari jemari milik Mingyu yang menggenggamnya, “Jangan jauh-jauh dari gue.” Ucapnya dengan pelan.

Sialnya kalimat itu malah membuat jantung Minghao semakin berdebar, bahkan ia merasa kini seluruh aliran darah tengah berlomba-lomba untuk mengalir ke kedua pipinya yang terasa panas.

Menyadari tindakannya yang tiba-tiba Mingyu langsung tersenyum sembari mengangkat genggaman tangan mereka, “Gue izin pegang tangan lu ya Hao.”

Minghao mendesis, “Izinnya pas udah pegangan.”

“Yang kabur duluan kan lu.”

Lelaki berambut cokelat itu hanya mendelik tajam, menghiraukan pernyataan Mingyu kemudian mulai memperhatikan lagi lukisan-lukisan yang terpajang di tembok dengan begitu apik. Sembari mulai meresapi makna dan emosi yang dicurahkan para seniman ke dalam karya nya. Bahkan Minghao mulai membicarakan detail-detail sederhana itu kepada Mingyu, meskipun ia tahu lelaki bertubuh jangkung tidak cukup mengerti tentang apa yang ia bicarakan.

Lain hal yang dilakukan Mingyu, lelaki itu lebih memilih untuk menatap lekat bagaimana Minghao bereaksi terhadap banyak lukisan yang dipajang, bagaimana jari jemari lentik nya menunjuk karya demi karya. Atau bagaimana raut wajah Minghao yang berubah-rubah ketika menatap lekat satu persatu lukisan yang memiliki banyak makna dan emosi. Mingyu bahkan dengan jelas melihat bagaimana binar mata, kerutan sudut bibir, serta nada bicara yang melonjak senang ketika mendapati hal yang lelaki itu sukai. Semuanya terlihat begitu cantik, bahkan menurutnya lelaki yang tengah ia genggam itu lebih indah dan berharga daripada seratus lukisan yang sekarang tengah dikagumi orang-orang, “Hao.” Panggilnya.

“Kenapa Mingyu?” Minghao menoleh.

Mingyu hanya tersenyum lebar, mengacak pelan rambut lelaki disampingnya menggunakan tangan lain yang sedang tidak menggengam jari jemari Minghao, “Gapapa.”

Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika menyadari tangan lelaki itu menyentuh puncak kepalanya, bahkan sejak sedari tadi genggaman tangan mereka belum terlepas sama sekali. Sialnya, Minghao menyukai hal-hal kecil seperti ini. Bagaimana jempol Mingyu terkadang bergerak untuk sekedar mengusap pelan punggung tangannya, atau ketika ia menyadari lelaki itu sering menatap lekat. Ia merasa tengah dipuja, disukai, dan dihargai dengan begitu lembut. Minghao kembali merasakan bagaimana kupu-kupu itu mulai kembali bergerak di dalam perutnya, seperti sedang jatuh cinta.

— Natsueisa


메타데이터
post_id
4c7fbdadb822
slug
one-fine-day-4c7fbdadb822
url
https://medium.com/@natsueisa/one-fine-day-4c7fbdadb822
canonical_url
https://medium.com/@natsueisa/one-fine-day-4c7fbdadb822
author_url
https://medium.com/@natsueisa
status
ok
fetched_at
2026-07-22 05:38:57