Ambivalent
Aku adalah seorang pembenci.
Ambivalent
Photo by Johannes Plenio on Unsplash
Aku adalah seorang pembenci.
Wow, nice info. (Mungkin itu yang ada di pikiran kalian waktu membaca kalimat di atas)
But sure, aku mudah membenci orang lain. “Napas di deket gue aja udah salah” itu sloganku apalagi untuk orang yang aku sudah mendapat aura tidak dapat berteman dengan mereka.
Emh, sebenarnya nggak separah itu sih, tetapi jika ditanya apakah aku membenci orang yang dibenci temanku? Tentu saja. Mungkin lebih daripada yang dilakukan temanku. Kalau ditanya lagi apakah aku membenci orang menyebalkan di sekitarku? Benar, meski aku bisa tidak terlalu menunjukkannya. Kalau ditanya apakah aku membenci orang yang salah padaku? Aku jawab, tentu saja. Aku mudah menunjukkan aura permusuhan meski tetap berusaha baik pada mereka.
Jika boleh menikam orang, ribuan kali aku sudah melakukannya pada banyak orang. Jika boleh membuat hidung mereka berdarah, aku adalah manusia yang paling semangat melakukannya. Jika boleh memukul, aku tak akan segan menghancurkan tulang rusuk mereka meski tanganku pun akan berdarah karenanya.
Aku bahkan masih sering menyimpan dendam pada manusia yang aku rasa benar-benar melukai aku. Banyak juga manusia yang aku rasa, keputusan impulsifku aku ambil dari rasa dendamku ke mereka. Ah, meski aku takut dan kecewa, aku telah banyak membunuh orang tak berakal di dalam otakku. Monyet.
Namun, beberapa waktu lalu, temanku mengatakan sesuatu yang membuatku merenung, “Na, aku makin lama jadi ngikutin kamu yang kalau terjadi sesuatu ke kamu, kamu cuma bakal jawab dan mikir, ‘ya udahlah. Mau gimana lagi.’ Itu bikin aku lebih tenang karena makin sadar kalau banyak hal nggak selalu bisa aku handle,”
Jadi, sebenarnya aku ini pembenci atau enggak, sih? Itu pikiranku pada malam hari dalam beberapa malam terakhir.
Apakah aku itu mudah benci, tetapi pada banyak kesempatan aku lebih sering menerima tanpa banyak protes pada keadaan yang sering tidak berada di pihakku?
Aku mungkin membenci keadaan itu, tetapi seperti kata temanku, banyak hal yang nggak bisa dipegang oleh tangan kecilku — tanganku gede sebenarnya. Cuma kalau dibuat megang seluruh masalahku, kayaknya juga tetap nggak cukup. Aku banyak memaafkan meski aku masih kesal. Aku terkadang juga banyak menerima tanpa memikirkan aku.
Aku rasa, manusia yang dinamis dan kompleks juga menjadi alasan aku memiliki berbagai wajah untuk menghadapi masalahku. Terkadang aku marah, terkadang aku membenci, terkadang aku diam, dan terkadang pula aku memukul. Ya, beruntung jika kalian lebih sering mendapati aku versi diam. Setidaknya tidak mendapat versi pemukulku.
Jadi, mungkin jangan pula mengajakku membenci orang lain. Aku lelah membenci, meski pada akhirnya, aku memang seorang pembenci. Aku masih sering berendah diri merasa aku memang tak layak untuk beruntung ketika kondisi tidak berpihak padaku dalam dosis yang kecil. Namun, dalam dosis yang besar, aku lebih sering memberontak. Menyalahkan keadaan. Menyalahkan manusia bajingan yang terkadang tak memakai akal dalam berbicara dan bertindak.
Ah, harusnya aku mulai untuk memenangkan aku. Membolehkan aku untuk merasa lebih tenang dengan apapun yang aku rasakan. Membolehkanku memaafkan tanpa mereka harus berutang maaf padaku. Namun, aku juga ingin mendengar permintaan maaf mereka sih,
Dasar. Manusia tidak jelas. Namun, bagaimanapun berikutnya, tolong jangan mengajakku membenci orang, ya? Takutnya aku yang merasa mereka berutang maaf meski sebenarnya, mereka tidak benar-benar melakukannya.
Bandung, 11–2025
메타데이터
- post_id
- 4caed8a4a468
- slug
- ambivalent-4caed8a4a468
- url
- https://medium.com/@AU27Lee/ambivalent-4caed8a4a468
- canonical_url
- https://medium.com/@AU27Lee/ambivalent-4caed8a4a468
- author_url
- https://medium.com/@AU27Lee
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 04:42:08