Cinta Namun Benci: Memaknai HUT RI ke-80 dengan Cara yang Berbeda
Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 untuk Republik Indonesia Tercinta ini!
Cinta Namun Benci: Memaknai HUT RI ke-80 dengan Cara yang Berbeda
Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 untuk Republik Indonesia Tercinta ini!
Sudah jadi rahasia umum bahwa saya banyak memendam rasa kecewa dengan kondisi pemerintahan saat ini. Mulai dari maraknya kasus korupsi, hingga perilaku tidak adil dari pemegang kekuasaan yang secara nyata semakin dipertontonkan pada panggung sandiwara negara ini.
Namun, terlepas dari opini pribadi saya terhadap negeri ini, saya ingin memaknai Dirgahayu ke-80 tahun negeri kita dengan cara yang positif.
Meskipun saya merasa perayaan Hari Kemerdekaan tidak diadakan semeriah dulu, saya dan bapak-bapak kompleks sepakat bahwa anak-anak kita berhak merasakan semangat dan kebahagiaan yang sama seperti yang kami rasakan dulu setiap bulan Agustus.
Maka dengan semangat membara dan persiapan mendadak secepat kilat, bahkan mungkin melampau kecepatan Bandung Bondowoso dalam membangun Candi Prambanan, kami menyiapkan dua acara untuk memperingati hari jadi tanah air.
Acara pertama adalah doa dan makan bersama dengan model liwetan.
Sumber gambar: dokumentasi pribadi Raditya Putra
Dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kami melanjutkan kegiatan dengan doa bersama untuk kebaikan negeri ini. Untuk kesembuhan kedaulatan, untuk persatuan, agar anak-anak kami nantinya dapat hidup sejahtera di dalam negara yang tentram. Setelah selesai, dengan lahap kami semua menyantap hidangan yang telah disiapkan oleh para srikandi kompleks. Ayam dan lele bakar, dengan beragam sayur dan hidangan pendamping lainnya menemani malam khidmat itu.
Sederhana, namun penting.
Karena dengan kegiatan ini, kami memaksa para penyendiri kompleks untuk srawung bersama. Mengenal satu sama lain, sehingga ikatan antar warga semakin terjalin. Anak-anak, remaja, orang tua, ikut hadir dalam malam syukuran HUT RI ke-80. Kegiatan malam itu kemudian diakhiri dengan para warga yang secara sukarela ingin menyumbangkan suaranya untuk menyanyikan lagu sebagai hiburan.
Dan pada acara tersebutlah kami memutuskan untuk membuat acara kedua, yaitu lomba Agustusan.
Tidak afdol jika tidak dadakan, kami memilih mengadakan lomba tepat sehari setelah makan bersama. Dengan peralatan seadanya dan hadiah sumbangan sukarela, acara pun berjalan dengan meriah.
Sumber gambar: dokumentasi pribadi Raditya Putra
Beberapa lomba sederhana kami pilih untuk memeriahkan acara, mulai dari lomba makan kerupuk, memasukkan paku dalam kelereng, memakan biskuit, himpit balon, estafet air, hingga meletuskan balon dengan kaki kami pilih.
Berawal dari semangat merayakan hari kemerdekaan, kompleks yang biasanya begitu sepi kini penuh dengan sorakan dan tawa suka cita.
Anak-anak yang seringkali menghabiskan waktunya di dalam rumah sepulang sekolah, kini ikut meramaikan acara dengan teriakannya. Sederhana, tapi butuh momen untuk bisa terjadi.
Ada pahit yang saya rasakan setiap kali melihat berita buruk muncul di berita tentang semakin bobroknya negeri ini. Kesedihan yang mendalam bahwa saya sudah tidak mengenali negeri ini lagi.
Namun, di momen-momen seperti inilah saya merasakan betapa cintanya saya terhadap negeri ini, despite and inspite of of everything that is happening.
Karena itu saya memaknai perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia kali ini dengan cara yang positif, semampu yang saya bisa.
Sehingga rasa cinta begitu besar yang saya rasakan, tidak hilang di generasi selanjutnya.
Saya menyadari bahwa ketika kita mencintai negeri ini, benar-benar mencintai, maka akan timbul rasa memiliki. Dan dengan adanya rasa memiliki, timbul rasa peduli. Sehingga dengan hadirnya rasa peduli tersebut, saya berharap anak-anak saya kedepannya tidak acuh terhadap persoalan negara.
Karena dengan rasa peduli tersebut, maka muncul resistensi terhadap segala ketidakadilan dan ketimpangan yang terjadi. Anak-anak kita akan belajar untuk tidak tinggal diam, tetapi berani bersuara dan bertindak demi perubahan yang lebih baik.
Inilah harapan terbesar saya: bahwa cinta tanah air bukan hanya sekadar kata-kata, melainkan menjadi kekuatan yang mendorong setiap warga negara untuk terus menjaga, memperbaiki, dan membangun negeri ini bersama-sama.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-80! Semoga semangat kebersamaan dan cinta tanah air terus menyala dalam setiap hati anak bangsa.
메타데이터
- post_id
- 4cb216df2b05
- slug
- cinta-namun-benci-memaknai-hut-ri-ke-80-dengan-cara-yang-berbeda-4cb216df2b05
- url
- https://medium.com/@radityase09/cinta-namun-benci-memaknai-hut-ri-ke-80-dengan-cara-yang-berbeda-4cb216df2b05
- canonical_url
- https://medium.com/@radityase09/cinta-namun-benci-memaknai-hut-ri-ke-80-dengan-cara-yang-berbeda-4cb216df2b05
- author_url
- https://medium.com/@radityase09
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-18 03:46:58