← Back to list

THE LAST BLUE JUNE

CHAPTER 5 : CARA KERJA DOPAMIN JULIO

greenyiee · 2026-06-02 07:27 · 0 claps · 3.4 min read
#lebih-dari-teman #elio #lovers
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

THE LAST BLUE JUNE

CHAPTER 5 : CARA KERJA DOPAMIN JULIO

jul, tungguin akuuuu….

jul, tungguin akuuuu….

Pagi yang cerah menyambut langkah kaki Julio. Saat dia memasuki gerbang sekolah, dengan langkah yang teratur dan santai. Dia berjalan menyusuri koridor terbuka, yang langsung membelah area taman sekolah yang luas. Membiarkan kulitnya menikmati hembusan angin pagi, yang sejuk dan menyegarkan batinnya.

Di sepanjang jalan taman, atmosfer sekelilingnya tampak ramai, oleh hiruk-pikuk para murid yang sibuk berlalu-lalang. Memulai aktivitas mereka di awal semester ini. Sebagai seorang ambivert, Julio menyikapi lingkungan sekitarnya dengan sikap yang biasa saja, tidak terlalu acuh namun juga tidak berlebihan, untuk menarik perhatian.

Sesekali, senyuman ramah yang tulus terukir di wajahnya yang teduh. Ketika matanya tidak sengaja berpapasan dengan teman-teman lamanya, dari kelas 10 lalu. Dia akan menyapa mereka, dengan sapaan hangat yang singkat, mempertahankan hubungan baik, yang sudah terjalin sejak setahun yang lalu.

Namun, begitu teman-teman yang ia kenal sudah tidak lagi terlihat di sepanjang koridor taman, Julio otomatis kembali mengaktifkan mode defensifnya sendiri. Dia mulai berjalan sedikit lebih cepat, sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung sepatunya demi menghindari kontak mata, dengan murid lain yang tidak ia kenal.

Tak disangka, sebuah teriakan nyaring yang sangat familiar dan berat memecah keheningan koridor, dari arah belakang. Seketika membuat gerak langkah kaki Julio terhenti di tempat.

“JULIOOOO!” teriak June.

Julio menghela napas pendek di posisinya, sudah sangat hafal dengan suara lantang yang tidak tahu tempat itu. Belum sempat Julio berbalik untuk menoleh, siluet tubuh tinggi June sudah muncul di sampingnya, dengan napas yang sedikit terengah-engah setelah berlari kecil.

“Buru-buru amat, tungguin aku lah,” sambung June.

Cowok kelahiran Juni itu langsung menyamakan ritme langkah kakinya, dengan langkah Julio yang kini kembali berjalan. Julio sendiri memilih untuk tetap bungkam dan tidak menjawab seruan menyebalkan itu, melangkah lurus ke depan, dengan pandangan yang pura-pura acuh tak acuh.

[embed]

Namun, June yang dasarnya tidak mengenal batasan ruang personal, tiba-tiba mengangkat lengan panjangnya. Dia langsung meletakkan tangannya di atas pundak Julio, dengan begitu santai, sebuah sentuhan mendadak, yang seketika membuat Julio terkejut setengah mati, hingga tubuhnya menegang kaku.

Tak berhenti di situ, tangan June yang satu lagi mulai bergerak naik, meraih puncak kepala Julio. Dengan gerakan yang terlampau manis dan lembut, June mengacak-acak rambut hitam Julio, yang semula tertata sangat rapi sejak dari rumah, menciptakan kedekatan yang membuat dunia sekitar mereka seolah melambat.

Tindakan kasual itu sukses membuat Julio langsung membeku sepenuhnya, di tempatnya berjalan. Dia bisa merasakan debaran jantungnya, yang seketika mencuat hebat. Seperti baru saja tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Memicu hormon dopaminnya, yang langsung meningkat drastis hingga wajahnya memanas.

Karena teramat takut ketahuan, jika dirinya sedang salah tingkah parah di bawah tatapan June, Julio buru-buru mengumpulkan kesadarannya. Dia membalas, dengan mendorong tubuh tegap June menjauh menggunakan siku lengannya dengan ekspresi yang sengaja dibuat ketus.

“Mana tas aku berat, ditambah tangan lo… kocak,” ucap Julio.

Enggan terlihat lemah dalam interaksi fisik ini, Julio mendongakkan tubuhnya sedikit, lalu membalas dengan kembali mengacak-acak rambut June, dengan gemas hingga berantakan. June yang rambutnya kini mencuat ke segala arah justru tertawa lepas dan menatap Julio penuh percaya diri.

“Sini aku bawain,” ucap June.

Julio yang masih ingin menjaga harga dirinya dan bersikap jual mahal tidak memberikan jawaban apa pun, atas tawarannya. Dia langsung menyambung langkah kakinya dengan cepat, sengaja meninggalkan June yang masih berdiri di belakangnya, dengan sisa tawa yang tertahan di bibir.

“Eh, malah pergi dia,” ujar June dalam hati.

June segera menggelengkan kepalanya, melihat tingkah jual mahal Julio. Lalu bergegas mengejar langkah kaki cowok berwajah teduh itu lagi. Mereka akhirnya kembali berjalan beriringan, menyusuri lorong kelas sebelas yang panjang, hingga langkah keduanya terhenti tepat di sebuah persimpangan koridor, yang menjadi titik pisah tujuan kelas mereka.

“Ayok, aku antar ke kelas,” kata June.

“Gausah,” jawab Julio.

Perjalanan beriringan mereka pagi itu akhirnya resmi berakhir, di sudut persimpangan itu. June melangkah masuk ke dalam ruangan kelasnya sendiri, dengan lambaian tangan kecil. Sementara Julio kembali beranjak, melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kelas pojok miliknya.

Julio berjalan dengan sisa hati yang masih berdebar kencang tak karuan. Namun anehnya, suasana hati dan mood-nya entah mengapa langsung membaik kala itu. Sentuhan kasual June di koridor taman tadi, seolah menjadi sihir instan yang mengembalikan seluruh energi positif, di dalam dadanya.

Begitu melangkah masuk ke dalam kelasnya yang masih sepi, Julio berjalan ke bangkunya untuk meletakkan tas ransel birunya di atas kursi. Dia tidak langsung duduk di sana, melainkan memilih beranjak maju ke depan kelas dan mendudukkan dirinya di atas kursi guru yang kosong, sebuah tempat kebiasaannya menunggu teman-teman sekelasnya masuk.

Julio duduk santai sembari memegang ponsel di tangan kanannya, lalu mengubah posisi layarnya menjadi mendatar ‘landscape’. Jemarinya dengan cepat membuka aplikasi kamera depan, mencoba bercermin dari pantulan layar ponselnya itu, untuk merapikan kembali tatanan rambutnya, yang sempat berantakan akibat ulah usil June tadi.

Sembari merapikan sela-sela rambutnya dengan jemari kiri, seulas senyum tipis yang sulit disembunyikan perlahan terbit, di bibir Julio. Saat bayangan June kembali terlintas di kepalanya, menyadari bahwa hari-harinya di kelas sebelas ini, tidak akan pernah berjalan biasa saja selama radar June masih mengunci eksistensinya.

Next…


메타데이터
post_id
4cb2903d7e08
slug
the-last-blue-june-4cb2903d7e08
url
https://medium.com/@fallinlovee/the-last-blue-june-4cb2903d7e08
canonical_url
https://medium.com/@fallinlovee/the-last-blue-june-4cb2903d7e08
author_url
https://medium.com/@fallinlovee
status
ok
fetched_at
2026-06-16 19:09:56