Bertemu Jiwa: Pelajaran Sabar untuk Seorang yang Tidak Sabaran | Catatan #1
Jika ada kejadian dalam hidup yang paling cocok untuk mengajarkan sabar bagi seseorang (khusus perempuan ya) adalah hamil.
Bertemu Jiwa: Pelajaran Sabar untuk Seorang yang Tidak Sabaran | Catatan #1

Designed by stories / Freepik
Jika ada kejadian dalam hidup yang paling cocok untuk mengajarkan sabar bagi seseorang (khusus perempuan ya) adalah hamil.
Perkenalkan, aku adalah orang yang paling tidak sabaran sekomplek rumah di kabupaten sudut di Jawa Timur (baca: Sidoarjo).
Dan hamil, mengajarkanku hal yang paling sulit aku lakukan sepanjang hidup, yaitu SABAR.
Sabar adalah sebuah konsep yang sangat abstrak buatku. Kita semua selalu diingatkan bahwa hidup itu singkat dan harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin, jadi wajar kan kalau aku ingin waktu yang aku punya ini aku manfaatkan secara efektif dengan mengerjakan semua hal dengan cepat?
Aku makan dengan cepat. Menulis dengan cepat. Berjalan dengan cepat. Menyetir dengan cepat. Semua.
Kecuali tidur. Aku suka tidur lama.
Hingga aku hamil.
Masih tetep suka tidur lama, sih. Tapi bukan itu yang bakal aku ceritakan di sini.
Bertemu Jiwa (nama anakku, hence this Medium name) mempertemukanku juga dengan kesabaran dan membantuku memperlambat tempo kerja tubuh dan otakku (alias makin lemot).
Selama hamil, Jiwa yang masih berada dalam kandunganku seolah berkata, “Sabar, Ma. Pelan-pelan,” setiap kali aku melakukan hal dengan cepat, atau dia akan menunjukkan efeknya saat itu juga.
Makan dengan cepat, muntah.
Berjalan dengan cepat, pusing.
Berpikir dengan cepat, nggak bisa.
Mengusahakan agar dia lahir lebih cepat, justru lahir tepat waktu.
Ingin cepat-cepat merayakan lebaran bersama, ternyata dia masih harus dirawat di rumah sakit setelah lahir.
Dimulai dari trimester pertama, saat Jiwa mengajakku bersabar saat makan. Karena kalau tidak, dia akan langsung memuntahkannya lagi banyak-banyak.
“Sabar ya, Ma.”
Pelajaran sabar selanjutnya adalah ketika tidak semua makanan bisa aku makan, bahkan makanan yang mudah dicari dan makanan yang aku suka. Menjadi picky eater bukan keinginanku, tapi sungguh saat itu aku jadi pilih-pilih banget. Bahkan sempat terbawa saat beberapa minggu setelah Jiwa lahir.
Tidak berhenti sampai di situ, aku yang selalu berjalan dengan cepat, diajak untuk berjalan pelan. Sungguh pelajaran yang tidak kukira akan kuterima dari bayi yang belum lahir, karena seumur hidup aku selalu berjalan cepat.
“Sabar ya, Ma. Pelan-pelan.”
Tapi kalau tidak berjalan pelan, kepalaku langsung berputar atau bahkan oleng. Sebenarnya ini juga efek karena tidak ada makanan yang bisa bertahan lama dalam sistemku.
Begitu juga untuk duduk, berdiri, rebahan, dan semua aktivitas lain yang tidak lagi bisa kulakukan dengan cepat seperti yang dulu selalu kulakukan. Semua harus serba pelan. Sungguh kehamilan tidak cocok untuk orang tidak sabaran sepertiku.
Kelakuan Jiwa lainnya yang harus membuatku sabar adalah karena dia dominan berada di sebelah kiri perutku. Padahal ibu hamil disarankan untuk tidur miring ke kiri. Kalau dia ada di sebelah kiri dan aku harus tidur miring ke kiri, apa dia nggak kegencet?
Setiap aku miring ke kiri, gerakan Jiwa tidak karuan seperti merasa kesakitan dan bikin aku kaget dan terbangun. Tapi aku harus tetap miring ke kiri. Jadi kemiringannya harus aku atur sedemikian rupa agar kami berdua tetap nyaman dengan menumpuk entah berapa bantal dan guling di sekelilingku hingga menyerupai benteng.
“Sabar, Ma.”
“Iya, Ji. Bawel.”
Puncaknya, ketika kami memasuki usia 37 minggu di awal bulan puasa.
Sejak awal hamil dan mengetahui bahwa hari perkiraan lahir Jiwa berada pada beberapa hari sebelum Hari Raya Idulfitri, aku rutin berdoa agar Jiwa bisa lahir 1–2 minggu lebih cepat. Agar nantinya pihak RS tidak kesulitan menghubungi dokter obgynku yang mungkin sedang cuti libur lebaran.
Semua usaha sudah aku lakukan agar aku cepat kontraksi, dan hanya menghasilkan kontraksi palsu lucu yang sakitnya nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kontraksi asli yang sakitnya amit-amit. Semua agar Jiwa bisa lahir sedikit lebih awal.
Tapi sekali lagi Jiwa berkata,
“Sabar ya, Ma.”
Dan memutuskan untuk lahir tepat saat HPL.
Jiwa lahir normal dengan metode induksi 2 kali selama 14 jam. Menyebabkan nggak cuma aku, tapi juga dia mengalami rasa sakit luar biasa, hingga Jiwa lahir tanpa tangisan dan harus dirawat di NICU selama 2 minggu karena kondisi darurat (bakal aku ceritakan di catatan terpisah).
Sekali lagi, aku harus sabar karena belum bisa pulang dari rumah sakit bersama-sama. Aku masih harus menunggu 2 minggu untuk bisa menggendong Jiwa. Dan bersabar karena harus menunggu satu tahun lagi untuk bisa merayakan Idulfitri bersama.
Mungkin, latihan kesabaran yang dilakukan Jiwa sejak awal kehamilanku adalah cara dia mempersiapkanku untuk situasi saat dia lahir. 2 minggu yang terasa panjang itu benar-benar menguji mental, dan pastinya, kesabaran.
“Nggak sulit kan, Ma?”
“…Ya.”
메타데이터
- post_id
- 4cb9b4e6966d
- slug
- bertemu-jiwa-pelajaran-sabar-untuk-seorang-yang-tidak-sabaran-catatan-1-4cb9b4e6966d
- url
- https://medium.com/@thecinematicriot/bertemu-jiwa-pelajaran-sabar-untuk-seorang-yang-tidak-sabaran-catatan-1-4cb9b4e6966d
- canonical_url
- https://medium.com/@thecinematicriot/bertemu-jiwa-pelajaran-sabar-untuk-seorang-yang-tidak-sabaran-catatan-1-4cb9b4e6966d
- author_url
- https://medium.com/@thecinematicriot
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 12:15:08