“Bukan Atas-Bawah, Tapi Sejajar-Setara!”
… Lanjutan Sebelumnya
“Bukan Atas-Bawah, Tapi Sejajar-Setara!” Rekonstruksi Mutaakkhir Peta Realita Alam Fisik dan Ghaib (2)
… Lanjutan Sebelumnya
A. BAGIAN 3: Reformasi Integral
Perkelahian ini untungnya membawa kita pada satu pandangan baru. Bagimana jika, materi dan non-materi itu justru sejajar? Tidak yang satu berada di bawah yang lainnya? Alam non-materi bukanlah melampaui materi / di atas materi. Tetapi justru berjalan beriringan secara sejajar disamping materi? (Ingat bahwa pembahasan ini tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan. Karena Tuhan bukanlah non-materi dan bukan pula materi. Ia SWT tidak bertahta di alam ghaib, tidak juga bertempat di alam ruang-waktu).

Jika kita menempatkan materi dan non-materi sejajar, bukan yang satu di bawah dan yang lainnya di atas, semua pandangan dapat didamaikan; disintesiskan; diintegrasikan. Neurosains yang menyebut pasien kanker (cerita kita sebelumnya) mengalami perubahan jaringan default mode network benar. Tetapi pengalaman subjektif pasien bertemu Tuhan yang dimaknainya sebagai anugerah transcendental juga benar. Lansia insomnia yang diberi obat penenang pada contoh kita sebelumnya sehingga mampu bangun malam sholat tahajud, dilihat dari sudut pandang medis, memang berhasil karena kerja kimiawi obat. Tetapi jika ia diklaim sebagai bentuk pertolongan / kerja Tuhan lewat medis juga sama benarnya! Keduanya benar, hanya dari wajah yang berbeda.
Materi dan non-materi berjalan beriringan, tidak yang satu di bawah dan yang lainnya di atas. Dalam praktik mindfulness. Seorang pekerja kantoran yang stres, ikut pelatihan mindfulness delapan minggu, lalu merasa lebih damai, lebih sabar, bahkan lebih khusyuk dalam sholat. Neurosains menunjukkan korteks prefrontal menebal dan amigdala menyusut (Tang, Hölzel, & Posner, 2015). Si pekerja merasakannya sebagai “hati yang lebih suci dan lebih dekat pada Allah SWT.” Phineas Gage (subjek paling terkenal dalam neurosains) terkena ledakan dinamit saat membangun rel kereta, membuat besi menusuk pelipisnya hingga tembus ke dahi. Jejaring pre-frontalnya rusak. Lucunya, moralnya juga ikut rusak! Gage yang tadinya disegani karena karakter yang sopan, beretika, bermoral, baik bagi sesama, tiba-tiba berubah jadi kasar, agresif, suka mengganggu orang dan marah-marah.
Daripada kita menyebutnya materi dan non-materi mari kita menyebutnya sebagai eksterior dan interior. Tradisi pra-modern, terkhusus para agamawannya, sudah benar menyebut bahwa realita tersusun ber-level-level. Akan tetapi tiap level itu selalu memiliki dua wajah: interior ghaib dan eksterior material. Pada level realita yang tinggi, pengalaman damai, ekstasi, atau rasa “hadirnya Yang Maha Kuasa” yang dialami secara batin (interior) disaat yang sama merubah pola neurologis di otak manusia (eksterior). Mekanisme pre- hingga superior frontal otak adalah eksterior spiritualitas yang sejajar dengan pengalaman batiniah luhur sebagai interiornya; interior spiritualitas.
Dengan kata lain, hal-hal material sebenarnya sama sekali bukan realita dengan level terendah, hoax yang dipahami beradab-abad! Sebagaimana dimensi interior ghaib ber-level-level, dimensi eksterior materi juga ber-level-level. Dimensi interior di tiap level punya keterkaitan dengan dimensi eksterior di level yang sama. Gejolak nafsu libido seksual yang menggebu kita rasa bersamaan khayalan liar di kepala (interior) berkaitan dengan debaran jantung, aliran darah di organ seksual dan percikan sinyal di amigdala (eksterior). Pengalaman demam seakan mau mati yang kita alami bersama imajinasi surealis yang muncul (interior) berkaitan dengan mekanisme kerja imun yang sedang melawan radikal bebas di tubuh (eksterior).

Sensasi lapar, haus, mengantuk, ingin buang air (interior) terkait dengan lambung yang kosong, tenggorokan yang kering, hormone melatonin yang terinduksi atau tinja yang sedang dihujung usus besar (eksterior). Proses kita berpikir, menghitung rumus matematis, memecahkan masalah (interior) terkait dengan kerja antar neuron di neokorteks (eksterior). Begitu pula pengalaman spiritual-ghaib, bertemu Tuhan, astral proyeksi, pengalaman ruh lepas dari badan (interior) terkait dengan dinamika kerja neuronal terkhusus di bagian pre-frontal hingga superior frontal korteks. Seorang teman saya memiliki kualitas psychic dimana dapat melihat masa depan orang-orang dengan menyentuh tubuhnya. Karena tidak sanggup menampung anugerah ini, ia berdoa pada Tuhan agar kemampuannya dicabut. Tak lama ia kanker otak. Sebelum kematiannya, dokter menemukan jaringan neuron di otaknya jauh lebih kompeks, disertai aktivitas yang jauh lebih intense dibanding otak orang-orang normal pada umumnya.
Inilah yang gagal dipahami para agamawan pra-modern. Dalam kondisi / pemahaman / pandangan dunia pra-diferensiasi, dengan kapasitas rasional yang belum mapan, mereka bukan hanya tidak mampu memosisikan dan memahami baik alam / dimensi materi (yang sekarang sudah disebut interior) dan alam / non-materi (yang sekarang sudah disebut eksterior), tetapi juga dimensi individu dan dimensi kolektiva. Dimensi individu ada yang ghaib (“intensional” dimanika dan kesadaran dan jiwa) dan yang material (“behavioral” tubuh dan perilaku). Dimensi kolektiva pun ada yang ghaib (disebut “kultur”; lapisan makna atau nilai yang dibagikan dalam suatu masyarakat, tak dapat diinderai) dan ada yang material (disebut “sosial” / “struktural”; lapisan kolektif yang dapat diinderai mulai dari lingkungan alam, sistem structural institusional, mode produksi, sistem ekonomi, hingga infrasturktur suatu kota).
Pada akhirnya tiap level realita yang bergradasi (dari Tuhan hingga level terjauh dari Tuhan) sebenarnya memiliki 4 domain; 4 value-spheres; 4 wajah; intensional, behavioral, sosial dan kultural. Domain behavioral dan sosial karena sama-sama materi-fisik, sering disatukan. Sepanjang sejarah gagasan ini telah dikenal sebagai “the big three”. Buddha menyebutnya Buddha, Darma dan Sangha. Plato mengonsepsinya sebagai The Beautiful, The Good dan The True. Habermas mengemasnya sebagai tiga klaim validitas yaitu subjective sincerity, intersubjective justness dan objective truth. Sir Karl Popper merumuskannya dalam tiga jenis dunia, subjektif, kultural dan objektif. Kant menatanya dalam trilogy filosofisnya: Critique of pure reason, critique of practical reason, dan critique of judgement (Wilber, 1998).
“As Above so below
As Within so Without
As Universe so the Soul”
— Nabiyullah Idris as, Hermes Trimegistus, dalam the Emerald Tablet
Sebagaimana yang tinggi, begitu pun sertakan yang rendah. Sebagaimana yang interior, begitu pun sertakan yang eksterior. Sebagaimana yang kolektif begitu pun sertakan yang individu.
B. BAGIAN 4: Beragama Dengan Total.
Dalam kondisi pra-diferensiasi, masyarakat pra-modern sedikit atau sama sekali tidak memahami bagaimana kondisi tubuh, kondisi dan kesehatan otak, latar konteks kultural tiap daerah, mode produksi, sistem politik dan kondisi ekonomi berdinamika seiring proses penyucian diri dilakukan. Imam Hasan Al-Bashri secara personal dapat berkembang dan berevolusi naik melewati alam demi alam yang bergradasi kembali menuju Tuhan. Akan tetapi kondisi, proses dan sistem sosial, konteks kultural, dan mekanisme otak-perilaku seiring evolusi yang Al-Bashri lakukan tidak teruraikan atau terpahami dengan baik.

Orang-orang misalnya, tidak membayangkan bahwa pil kesehatan otak bisa memengaruhi kualitas ibadah, atau bahwa inflasi ekonomi, perubahan politik, hingga teknologi baru dapat mengubah cara atau titik kedekatan seseorang dengan Tuhan. Mengatakan “produksi handphone terbaru dapat memengaruhi kualitas iman” saja bagi mereka sudah mengagetkan! Pandangan ini juga berkontribusi memunculkan keyakinan sempit hoax dikotomi profan vs sacred: tenggelam dalam urusan-urusan duniawi seperti bekerja, menikah, atau berpolitik dianggap memisahkan diri dari kehidupan spiritual, “sudahlah, jadi ulama, jadi ulama saja di pesantren; tidak usah kerja kantoran!”
Totalitas kosmik bukan hanya dimensi jiwa, ruh dan kesadaran yang luhur saja. Ia juga adalah dimensi sosial (ekonomi, pemerintahan, gerakan masyarakat dan politik) yang besar pengaruhnya memperlambat atau mempercepat pencapaian spiritual. Ia juga adalah kesejahteraan tubuh yang menopang penyucian diri. Ia juga adalah aspek kultural seperti konteks dan latar budaya yang membentuk interpretasi keyakinan kita. Agamawan bermental pra-modern tipikal gambaran seorang Ustad yang selain menolak sama sekali rasionalitas dalam beragama, juga hidup miskin tanpa ambisi hidup layak (dimensi sosial diacuhkan), tidak menjaga kebugaran / kurus kering sakit-sakitan (dimensi behavioral direndahkan karena menganggap alam materi sebagai alam terendah) dan secara autis menganggap hanya orang-orang islam yang selamat di akhirat, sedangkan mereka yang secara fiqih non-muslim, pasti masuk neraka! (dimensi kultural diabaikan). Yang masih meyakini keberagamaan seperti ini, tidak akan survive di zaman modern yang lebih maju; lebih tinggi; lebih diridhoi Tuhan.
Banyak orang melihat kehidupan pra-modern lebih dipenuhi spiritualitas dan diberkati oleh lebih banyak orang-orang mulia dibanding zaman modern. Namun sejatinya, spiritual yang jadi tren di masa itu adalah spiritual yang terdistorsi, spiritualitas yang egois. Dan bukankah tidak dapat disebut spiritual jika masih egois? (lenyapnya perbudakan terjadi di zaman modern dimana rasionalitas dihormati. Cikal bakal demokrasi dengan ide bahwa ‘semua orang memiliki hak yang sama untuk berkuasa’ muncul di zaman para filsuf Yunani dimana rasionalitas juga di zaman tersebut dihormati. Budaya saintifik muncul di zaman keemasan arab abad pertengahan, lagi-lagi zaman dimana orang-orang merayakan rasionalitas). Tren masyarakat pra-modern adalah pra-rasional. Dalam psikologi, kondisi mental pra-rasional hampir sulit dibedakan dengan mental trans-rasional (melampaui rasionalitas). Sayangnya spiritualitas yang autentik bersifat trans-rasional; trans-mental; melampaui rasional, melampaui mental. Bukan pra-rasional (Friedman & Hartelius, 2013).
Contoh kehidupan pre-rasional adalah kehidupan anak-anak, penuh imajinasi dan khayalan yang ajaib. Selama “spiritualitas” / “religiusitas” seseorang masih dipenuhi khayalan yang tidak masuk akal, mitos-mitos, imajinasi dan doktrin ajaib tanpa bukti, maka spiritualitasnya masih terdistorsi, tidak autentik!

Tuhan digambarkan sebagai raja yang betul-betul duduk di singgasana, menghuni surga layaknya Raja menghuni istana. Dipersepsi sebagai tiran tukang marah yang perlu kita taati agar selamat dari hukuman. Dunia diyakini bekerja secara ajaib sesuai keinginan yang tidak diketahui dari Tuhan, bukan ada aturan alamiah / mekanisme objektif yang telah mengaturnya dimana dapat betul-betul kita pahami. Surga dipahami betul-betul dipenuhi para wanita cantik seakan-akan tempat prostitusi. Neraka dipahami betul-betul tempat penyiksaan layaknya penjara seakan-akan Tuhan ingin menghancurkan kita.
Dosa dan pahala dipahami sebagai koin ghaib ajaib, bukan dinamika kualitas kesadaran yang dapat kita rasakan di dunia ini. Gempa yang terjadi di suatu daerah dilihat karena Tuhan sedang menghukum semata karena masyarakat setempat tidak beribadah. Seakan-akan Tuhan butuh peribadatan dan persembahan dari makhluk-Nya. Bermasyarakat dengan baik diyakini hanya bisa terjadi jika kita “mengorbankan” diri kita sama sekali (padahal yang betul-betul bisa membahagiakan yang lain hanyalah mereka yang sedemikian telah bahagianya dimana membahagiakan orang lain telah menjadi cara mereka berbahagia. Ini efek dari tidak dipahami dan diposisikannya dengan baik dimensi individual dan kolektif). Dan lain-lainnya. Inilah keyakinan orang-orang pra-modern. Keberagamaan kanak-kanak.
Max Weber menggambarkan modernitas sebagai proses “disenchantment of the world”, yaitu ketika rasionalitas dan ilmu pengetahuan menggantikan penjelasan supranatural, membuat kehidupan modern lebih berpijak pada bukti ilmiah daripada doktrin kitab suci. Banyak yang memandang hal ini sebagai pukulan bagi agama dan spiritualitas — seolah modernisme telah “membunuh Tuhan.” Namun, kenyataannya agama dan mistisisme tidak sepenuhnya mati. Yang mati hanyalah interpretasi kekanak-kanakannya; Keberagamaan yang pre-rasional based on doktrinal tanpa bukti dan pra-diferensiasi yang tidak lagi nge-tren. Pada majelis-majelis yang kecil, pada padepokan-padepokan yang tak terpublish, agama dan spiritualitas masih terus dikembangkan, dipraktekkan dan dibicarakan.
Interpretasi baru akan kesejajaran alam materi-fisik dan alam ghaib-nonmateri ini memiliki implikasi yang luar biasa pada sains, agama dan hubungan keduanya, entah dalam tataran teoritis atau pun praktis di keseharian. Walau begitu, temuan ini belum sepenuhnya mapan dan final terutama pada bagaimana interpretasi ini menggambarkan konsep-konsep nonmateri seperti malaikat, setan, alam barzakh, alam akhirat, dan lain-lainnya. Dan bagi penulis, seperti sains, temuan-temuan mistisisme takkan pernah final. Epistemologi mistisisme yang terus berkembang akan terus menghasilkan temuan-temuan interpretatif berikutnya yang lebih mindblowing, dan menghentak!; mendorong kita untuk terus-menerus memperbaharui — bukan agama, tapi — keberagamaan kita.
Referensi:
Bellah, R. N. (2011). Religion in human evolution: From the Paleolithic to the axial age. Harvard University Press.
Chalmers, D. J. (1995). Facing up to the problem of consciousness. Journal of Consciousness Studies, 2(3), 200–219.
Cristofori, I., Bulbulia, J., Shaver, J. H., Wilson, D., Krueger, F., & Grafman, J. (2022). The neural underpinning of religious beliefs: Evidence from brain lesions. Frontiers in Behavioral Neuroscience, 16, 927858. https://doi.org/10.3389/fnbeh.2022.927858
Crick, F. (1994). The astonishing hypothesis: The scientific search for the soul. Charles Scribner’s Sons.
Dennett, D. C. (2006). Breaking the spell: Religion as a natural phenomenon. Viking.
Friedman, H. L., & Hartelius, G. (Eds.). (2013). The Wiley-Blackwell handbook of transpersonal psychology. Wiley Blackwell.
Griffiths, R. R., Johnson, M. W., Carducci, M. A., Umbricht, A., Richards, W. A., Richards, B. D., … & Klinedinst, M. A. (2018). Psilocybin produces substantial and sustained decreases in depression and anxiety in patients with life-threatening cancer: A randomized double-blind trial. Journal of Psychopharmacology, 32(1), 49–69.
Nagel, T. (1974). What is it like to be a bat? The Philosophical Review, 83(4), 435–450.
Newberg, A. (2010). Principles of neurotheology. Ashgate.
Newberg, A., & d’Aquili, E. (2001). Why God won’t go away: Brain science and the biology of belief. Ballantine Books.
Milbank, J. (2006). Theology and social theory: Beyond secular reason (2nd ed.). Blackwell.
Persinger, M. A. (1983). Religious and mystical experiences as artifacts of temporal lobe function: A general hypothesis. Perceptual and Motor Skills, 57(3), 1255–1262.
Sayadmansour, A. (2014). Neurotheology: The relationship between brain and religion. Iranian Journal of Neurology, 13(1), 52–55.
Tang, Y. Y., Hölzel, B. K., & Posner, M. I. (2015). The neuroscience of mindfulness meditation. Nature Reviews Neuroscience, 16(4), 213–225.
Taylor, C. (2007). A secular age. Harvard University Press.
Wilber, K. (1998). The marriage of sense and soul: Integrating science and religion. Random House.
Wilber, K. (2000). The Integral Psychology. Shambala.
메타데이터
- post_id
- 4cce4fee950e
- slug
- bukan-atas-bawah-tapi-sejajar-setara-4cce4fee950e
- url
- https://medium.com/@askarakarsa/bukan-atas-bawah-tapi-sejajar-setara-4cce4fee950e
- canonical_url
- https://medium.com/@askarakarsa/bukan-atas-bawah-tapi-sejajar-setara-4cce4fee950e
- author_url
- https://medium.com/@askarakarsa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-20 16:23:28