← Back to list

Proyek Wavelet: Eksperimen Memori, Kebohongan, dan Seblak

Di sebuah pinggiran kota Bogor, hiduplah seorang pria muda hitam-rupawan bernama Rusdi Pajajaran. Ia tinggal di sebuah mansion tua bergaya…

Irfanjayadi · 2025-05-14 13:44 · 0 claps · 9.5 min read
#wavelet-transformation #wavelet-decomposition #wavelet #storytelling #fantasy
Open on Medium ↗
Wiki topics: VIS · Visual & Graphic Design LIT · Literature & Writing

Proyek Wavelet: Eksperimen Memori, Kebohongan, dan Seblak

Di sebuah pinggiran kota Bogor, hiduplah seorang pria muda hitam-rupawan bernama Rusdi Pajajaran. Ia tinggal di sebuah mansion tua bergaya Victorian yang menyimpan lebih dari sekedar debu. Ia tinggal bersama pamannya, Prof. Udin Blackwood, seorang ilmuan tua berusia 70 tahun yang sering menghabiskan waktunya dengan rokok surya dan penelitian yang sangat rahasia. Jika Rusdi bertanya, pamannya selalu menjawab bahwa penelitiannya itu berhubungan dengan pemerintah jadi bersifat rahasia dan Rusdi tidak boleh mengetahuinya. Rusdi pun hanya bisa percaya apa yang pamannya katakan. Memang sejak kecil ia selalu tinggal bersama pamannya. Rusdi bahkan tidak ingat seperti apa rupa orang tuanya dan apa yang terjadi pada mereka. Ketika Rusdi menanyakan hal itu, pamannya selalu menjawab bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia karena terlalu banyak makan seblak. Karena hal itulah Rusdi juga sangat tidak menyukai seblak. Bahkan ia pernah mencoba membentuk gerakan anti seblak di sekolah — yang sayangnya hanya mendapat respon negatif di sekolah. Hal itu juga membuat Rusdi sering dibuli dan diejek dengan rasis oleh teman dan gurunya. Walaupun demikian, Rusdi tidak pernah bersedih, karena ia tahu bahwa masih ada orang yang selalu bersamanya dan percaya padanya. Ia adalah Enjel dan Mbut. Sepasang saudara kembar keturunan belanda-inggris yang selalu menemani dan bermain dengan Rusdi sejak kecil. Merekalah yang selalu menemani dan bermain dengan Rusdi yang membuat ia selalu bisa menghadapi hari dengan penuh senyuman dan tawa.

Suatu hari, Rusdi dan teman-temannya mendapatkan tugas dari guru matematika mereka: membuat mading interaktif bertema “Matematika dalam Teknologi Modern.” Topik ini dirancang agar para siswa bisa mengeksplorasi bagaimana konsep-konsep matematika digunakan dalam dunia nyata, termasuk dalam pengolahan citra, pemrograman, dan bahkan kecerdasan buatan. Rusdi pun langsung mengajak Enjel dan Mbut untuk menjadi anggota kelompoknya. Ia tahu betul bahwa selain mereka berdua, tidak ada siswa lain yang mau bekerja sama dengannya karena reputasinya di sekolah yang sering dibumbui prasangka dan olokan. Enjel dan Mbut, yang sudah seperti saudara sendiri, setuju tanpa ragu.

Mereka pun memutuskan untuk mengerjakan proyek itu di mansion tua milik Rusdi. Selain karena suasana yang tenang, mansion itu juga memiliki banyak ruang dan — yang lebih penting — tersambung dengan jaringan komputer pamannya yang canggih, yang bisa berguna untuk riset mereka. Sesampainya di sana, suasana langsung dipenuhi antusiasme. Mbut yang memang tidak bisa diam, segera menjelajahi lorong-lorong rumah tua itu sambil berseru, “Siapa tahu nemu ruangan keren buat nugas, ya kan!”

Dengan penasaran, ia membuka pintu demi pintu di lorong bawah tanah yang jarang disentuh cahaya. Lorong itu panjang dan sunyi, udara di sana dingin dan terasa asing. Hingga akhirnya, Mbut sampai di ujung lorong, tempat sebuah pintu berbeda mencuri perhatiannya. Pintu itu tidak seperti pintu kayu tua lain di mansion. Ia tampak baru dan kokoh, terbuat dari logam hitam legam, dengan sebuah simbol aneh di gagangnya — huruf Yunani ψ (psi) yang seperti terbelah dua di tengah. Panel digital di sisi kirinya berkedip pelan, seolah masih aktif. “Dit… Enjel… kalian harus lihat ini. Ini sih… seriusan kayak pintu laboratorium di film-film sci-fi!” bisik Mbut sambil memanggil mereka. Ketika Rusdi melihat pintu itu, tubuhnya kaku. Napasnya tertahan, wajahnya memucat. Ia tahu betul apa ini — pintu yang sama yang dilarang keras oleh pamannya untuk dibuka. Paman Udin selalu berkata bahwa ruang bawah tanah bagian terdalam menyimpan eksperimen rahasia pemerintah, dan tidak seorang pun boleh masuk. Namun, dorongan rasa ingin tahu dan desakan lembut dari Enjel membuat pertahanannya runtuh. “Kita cuma intip sebentar,” kata Enjel sambil tersenyum menggoda. “Kalau beneran berbahaya, kita cabut.” Dengan ragu, Rusdi mengangkat tangannya dan menyentuhkan jari telunjuknya ke panel digital. Yang mengejutkan, panel itu langsung menyala terang, mengeluarkan suara lembut — “Akses diterima.”

Pintu logam berdesis pelan… lalu terbuka. Mereka pun masuk ke ruangan itu tanpa tahu bahwa terdapat sesosok hitam misterius yang telah mengintai mereka. Di sana mereka sangat terkejut, ruangan itu terlalu modern untuk berada di mansion tua bergaya Victorian, dinding yang dilapisi logam mengkilap dengan strip LED biru menyala di sepanjang tepian, tak lupa lantainya terbuat dari material seperti kaca tembus pandang, di bawahnya terlihat kabel-kabel optic berdenyut dengan cahaya ungu. Di ruangan itu juga terdapat banyak rang dan sebuah meja komputer yang sempat menarik perhatian mereka. Tapi Rusdi segera mengingatkan mereka untuk tidak menyentuh barang apapun di ruangan itu. Karena mereka seharusnya tidak boleh masuk ke ruangan itu. “Sudah-sudah, ayo kita mulai kerjain tugasnya, nanti malah ketahuan paman dan makin ribet urusannya”

Mereka pun setuju dan membuat tugas kelompok di ruangan itu. Selang beberapa waktu kemudian. Mereka merasa bosan mulai mencoba berkeliling sambil melihat-lihat ruangan itu. Perhatian Mbut pun mulai teralihkan Kembali ke komputer di ruangan itu, ia dengan iseng menyalakan komputer itu. Layar pun menyala dan menampilkan beberapa folder. Mbut, yang kembali iseng, mencoba membuka salah satu file. File yang dibuka pun menampakkan sebuah file gambar dan Mbutpun membukanya:

Merasa ada yang aneh dengan gambar itu, Mbut pun memanggil Rusdi dan Enjel. Melihat apa yang dilakukan Mbut, Rusdi menjadi marah. “Kita tidak seharusnya menyentuh apa pun di ruangan ini!” Rusdi menggigit bibir, ingat betul peringatan Prof. Udin yang melarangnya mendekati area bawah tanah. “Heehehe…iya sorry-sorry, tapi coba liat gambar ini deh”. Perhatian Rusdi pun segera teralihkan dengan gambar itu. Ia pun segera menyadari kejanggalan pada gambar itu dan mulai menulis sebuah program untuk memprosesnya:

import cv2
import numpy as np
import matplotlib.pyplot as plt

def normalize(img):
    img = np.float64(img)
    img_min, img_max = img.min(), img.max()
    return (img - img_min) / (img_max - img_min + 1e-10)

def conv2d(image, kernel):
    kh, kw = kernel.shape
    ih, iw = image.shape
    oh, ow = ih - kh + 1, iw - kw + 1
    result = np.zeros((oh, ow), dtype=np.float64)

    for i in range(oh):
        for j in range(ow):
            region = image[i:i+kh, j:j+kw]
            result[i, j] = np.sum(region * kernel)
    return result

def downsample(image):
    return image[::2, ::2]

def wavelet_decomposition(image, h, g):
    h_h = h[np.newaxis, :]
    h_v = h[:, np.newaxis]
    g_h = g[np.newaxis, :]
    g_v = g[:, np.newaxis]

    low_h  = conv2d(image, h_h)
    high_h = conv2d(image, g_h)

    low_h  = low_h[:, ::2]
    high_h = high_h[:, ::2]

    LL = conv2d(low_h, h_v)[::2, :]
    LH = conv2d(low_h, g_v)[::2, :]
    HL = conv2d(high_h, h_v)[::2, :]
    HH = conv2d(high_h, g_v)[::2, :]

    return LL, LH, HL, HH

img = cv2.imread('gambar_misterius.png', cv2.IMREAD_GRAYSCALE)

h = np.array([1, 1]) / np.sqrt(2)
g = np.array([1, -1]) / np.sqrt(2)

LL, LH, HL, HH = wavelet_decomposition(np.float64(img), h, g)

plt.figure(figsize=(10, 10))

plt.subplot(2, 2, 1)
plt.imshow(normalize(LL), cmap='gray')
plt.title("LL (Approximation)")
plt.axis('off')

plt.subplot(2, 2, 2)
plt.imshow(normalize(LH), cmap='gray')
plt.title("LH (Horizontal Detail)")
plt.axis('off')

plt.subplot(2, 2, 3)
plt.imshow(normalize(HL), cmap='gray')
plt.title("HL (Vertical Detail)")
plt.axis('off')

plt.subplot(2, 2, 4)
plt.imshow(normalize(HH), cmap='gray')
plt.title("HH (Diagonal Detail)")
plt.axis('off')

plt.tight_layout()
plt.show()

Rusdi, Enjel, dan Mbut terdiam membeku. Layar memamerkan pesan mengerikan yang baru saja terungkap melalui proses dekomposisi wavelet yang dibuat Rusdi: “UDIN PEMBUNUH CARI FLASHDISK NO.23”. “P-Paman Udin… pembunuh?” Rusdi menggigil, tangannya gemetar di atas keyboard. Enjel menatap tajam ke layar. “Ini nggak mungkin… Tapi wavelet nggak bakal bohong, kan? LH dan HL-nya jelas banget nunjukin pesan tersembunyi!” Mbut, yang biasanya paling santai, malah paling cepat bertindak. Ia langsung membongkar rak di sebelah terminal dan menemukan sebuah laci tersembunyi berisi puluhan flashdisk berlabel nomor 23 “AH, INI FLASHDICK NYA!”

Tiba-tiba, suara langkah berat bergema dari lorong. “RUSDI! KALIAN NGAPAIN DI SINI?!” Teriak Prof. Udin, wajahnya merah padam, tangannya mencengkeram rokok Surya yang hampir habis. Rusdi nyaris terjengkang. “P-Paman, kami cuma ngerjain tugas — “ “DIAM!” Udin menghantamkan tinju ke dinding. “Kalian sudah membuka yang tidak seharusnya!” Matanya melotot ke arah gambar di layar, lalu ke flashdisk di tangan Mbut. “Beri itu padaku!” Enjel refleks menyambar flashdisk №23 dan lari ke sudut ruangan dan memberikannya ke Rusdi. “Cepet, Rusdi! Liat isinya!” Rusdi memasukkan flashdisk ke port USB dengan tangan gemetar. Begitu terbuka, ada satu folder berjudul “SUBJECT EKSPERIMEN”. Di dalamnya… ratusan foto orang-orang yang bertuliskan “Subject Gagal”. Salah satu foto mempelihatkan sebuah keluarga. Rusdi pun merasa bahwa anak dalam foto keluarga itu adalah dirinya. Untuk meyakinkan dirinya, ia pun segera menyusun foto itu dengan dengan membuat sebuah program rekonstruksi citra. Udin pun tidak tinggal diam, ia segera menghentikan Rusdi, namun Mbut dan Enjel segera menghalanginya.

def upsample_and_filter(subband, h_filter, v_filter):
    rows, cols = subband.shape
    up_h = np.zeros((rows, cols * 2))
    for i in range(rows):
        for j in range(cols):
            up_h[i, j*2] = subband[i, j]

    h_kernel = h_filter.reshape(1, -1)
    filtered_h = conv2d(up_h, h_kernel)

    up_v = np.zeros((rows * 2, filtered_h.shape[1]))
    for i in range(rows):
        up_v[i*2, :] = filtered_h[i, :]

    v_kernel = v_filter.reshape(-1, 1)
    filtered_v = conv2d(up_v, v_kernel)

    return filtered_v

def wavelet_reconstruct(LL, LH, HL, HH):
    h = np.array([1, 1]) / np.sqrt(2)
    g = np.array([1, -1]) / np.sqrt(2)

    rec_LL = upsample_and_filter(LL, h, h)
    rec_LH = upsample_and_filter(LH, g, h)
    rec_HL = upsample_and_filter(HL, h, g)
    rec_HH = upsample_and_filter(HH, g, g)

    reconstructed = rec_LL + rec_LH + rec_HL + rec_HH
    reconstructed = np.clip(reconstructed, 0, 255).astype(np.uint8)
    return reconstructed

LL = cv2.imread('LL.png', cv2.IMREAD_GRAYSCALE)
LH = cv2.imread('LH.png', cv2.IMREAD_GRAYSCALE)
HL = cv2.imread('HL.png', cv2.IMREAD_GRAYSCALE)
HH = cv2.imread('HH.png', cv2.IMREAD_GRAYSCALE)

reconstructed_img = wavelet_reconstruct(LL, LH, HL, HH)
reconstructed_img = cv2.normalize(reconstructed_img, None, 0, 255, cv2.NORM_MINMAX, cv2.CV_8U)
reconstructed_img = cv2.equalizeHist(reconstructed_img)

plt.figure(figsize=(12, 6))

plt.subplot(2, 3, 5)
plt.title("Reconstructed Image")
plt.imshow(reconstructed_img, cmap='gray')
plt.axis('off')

plt.tight_layout()
plt.show()

Melihat hasil programnya, Rusdi pun terkejut bukan main, bahwa anak dalam foto itu adalah dirinya, dan kedua orang di sebelahnya adalah orang tuanya.

Prof. Udin mendesah panjang, lalu tersenyum dingin. “Rusdi… Sayang sekali kau harus tahu seperti ini.” Dari balik jas labnya, ia mengeluarkan pisau bedah. “Aku memang membunuh orang tuamu. Mereka adalah subjek uji coba teknologi wavelet untuk manipulasi memori. Tapi kau… kau spesial. Wavelet di otakmu bekerja sempurna, itu sebabnya kau lupa segalanya.” Mbut menjerit. “Kau gila! Wavelet buat apa — ” “Untuk menghapus kebenaran!” Udin tertawa. “Pemerintah membiayai riset ini untuk mengontrol ingatan massa. Tapi sekarang…” Ia melangkah mendekat. Rusdi, Enjel dan Mbut pun panik.

Rusdi merasakan dadanya sesak. Setiap kata Prof. Udin seperti palu godam yang menghancurkan dunianya. “M-manipulasi memori…?” Dari sudut ruangan, Enjel tiba-tiba menunjukkan sesuatu — flash drive kecil yang menyala merah. “LIHAT, UDIN!” teriak Enjel, suaranya bergetar tapi penuh tekad. “Aku sudah rekam semuanya! Termasuk pengakuanmu barusan!” Udin berhenti melangkah. Matanya menyipit. “Kau pikir polisi akan percaya omong kosong anak kecil? Eksperimen ini telah didukung dan berada di bawah kendali pemerintah. Selain itu, eksperimen ini juga telah berjalan selama 20 tahun — ”

BRRRT!

Alarm darurat tiba-tiba berbunyi nyaring. Layar komputer utama menyala dengan pesan berkedip merah:

“Tidak mungkin!” Udin berbalik ke terminal, wajahnya berubah pucat. “Siapa yang mengakses sistem utama?!” DENGAN SUARA MENDERU, seluruh ruangan bergetar. Rusdi tiba-tiba jengkang-jengking kesakitan saat gelombang ingatan yang hilang membanjiri pikirannya: Ayahnya, seorang whistleblower yang mencoba membocorkan proyek rahasia Ibunya, Lilis, ilmuwan yang sengaja menanam fail-safe di otak Rusdi. Kebenaran tentang “kecelakaan seblak” — itu pembunuhan berencana. “AKU INGAT SEMUANYA!” Rusdi bangkit, matanya sekarang berbinar biru elektrik — efek samping dari wavelet yang runtuh. Udin mundur ketakutan. “Tidak… Tidak mungkin, siapa yang memecahkan enkripsi quantum itu!” Dari balik asap yang tiba-tiba mengepul, bayangan tinggi muncul. Itu adalah sosok hitam yang selama ini mengintai!

“Akulah yang melakukan semuanya,” gertak suara itu. Ia pun membuka topengnya, memperlihatkan wajah yang mirip Rusdi tapi lebih muda. “SIAPA KAU!” tanya Udin dengan nada marah yang menggebu-gebu. Ruangan bergetar hebat saat sistem keamanan laboratorium mengeluarkan asap tebal. Sosok misterius itu mulai melangkah mendekati Udin yang terjatuh, wajahnya dingin. “Aku adalah kau, lebih tepatnya clone dari tubuhnya yang diciptakan oleh orang tua anak itu” sambal melihat Rusdi yang kesakitan. Ia pun menjelaskan “Tujuan ku di sini adalah untuk membunuhmu dan membebaskan anak itu, aku sudah menyabotase sistem utama dari ruang utama. Sekarang sistemnya akan error dan tempat ini akan runtuh.” Clone Udin itu pun segera melemparkan sebuah device kecil ke arah Rusdi. “Pergilah dari sini! benda itu akan membantumu membalikkan wavelet di otakmu.” Tanpa pikir panjang, Enjel dan Mbut pun segera membawa Rusdi keluar dari mansion itu. Udin yang ketakutan pun ikut mencoba keluar, namun ia dihalangi oleh clone dirinya. “MENGAPA KAU LAKUKAN INI, KAU ITU BERASAL DARI TUBUHKU!.” Dengan nada dingin dan cool nya clone itu pun menjawab “aku tidak tahu… sejak awal aku sudah diprogram seperti ini.” Clone pun melanjutkan “ah, dan sepertinya kau sudah salah mengenai suatu hal. Yang membiayaimu bukanlah pemerintah… melainkan sebuah organisasi asing bernama Blackbull Company. Sepertinya ingatanmu sudah dimanipulasi oleh mereka menggunakan wavelet yang kau kembangkan” Udin pun terkejut bukan main. Kakinya menjadi lemas hingga dirinya terjatuh. Seluruh tubuhnya berkeringat dan wajahnya pucat “A-Apaaa……” Seketika ruangan itu meledak dan meruntuhkan sebagian mansion. Untungnya Enjel dan Mbut berhasil membawa Rusdi keluar tepat waktu. Tak berselang lama polisipun datang dan mengamankan lokasi kejadian. Rusdi akhirnya tahu kebenaran: orang tuanya adalah ilmuwan yang menentang riset Udin dan dijadikan subjek percobaan, dan ia selamat karena wavelet di otaknya yang dikira berhasil menghapus ingatannya, ternyata hanya menyegel ingatan aslinya agar bisa dipulihkan di masa depan.

Ketika polisi akhirnya tiba dan mengamankan mansion yang hampir runtuh itu, sebuah mobil van hitam tampak diam di kejauhan, tersembunyi di balik kabut hujan sore kota Bogor. Di dalamnya, dua sosok misterius duduk di depan layar monitor, memperhatikan rekaman dari kamera tersembunyi di laboratorium bawah tanah. Salah satu dari mereka berbicara di telepon dengan nada datar, “Subjek Udin gagal… tampaknya ada variabel tak terduga — seorang clone dan anak itu.” Sebuah suara dingin di ujung sambungan menjawab, “Tak masalah. Udin hanya satu dari banyak pion. Aktifkan protokol cadangan. Bangunkan Subject 69. Penelitian harus berlanjut.”

Sambungan terputus. Lampu indikator merah di dashboard van menyala:

Dalam sebuah gedung tua bekas kantor pos yang kini penuh kabel dan papan tulis penuh rumus, Rusdi, Enjel, dan Mbut mendirikan “Wavelet Truth” — organisasi rahasia yang membongkar konspirasi dunia lewat matematika, citra digital, dan teh manis. Mereka menjadi simbol perlawanan, dengan slogan legendaris: “Kebenaran bisa disembunyikan, tapi tidak bisa dikompresi selamanya.”

Di tengah kesibukannya, Rusdi akhirnya mencoba kembali sesuatu yang dulu sangat ia benci: seblak.

“Sekali coba nggak bakal apa-apa kan?” katanya santai.

Ternyata… enak juga.

Terlalu enak.

Seminggu kemudian…

📢 “Pasien atas nama Rusdi Pajajaran, segera ke IGD. Overdosis seblak level pedas 7.”

TAMAT


메타데이터
post_id
4d2e72383522
slug
proyek-wavelet-eksperimen-memori-kebohongan-dan-seblak-4d2e72383522
url
https://medium.com/@irfanjayadi2004/proyek-wavelet-eksperimen-memori-kebohongan-dan-seblak-4d2e72383522
canonical_url
https://medium.com/@irfanjayadi2004/proyek-wavelet-eksperimen-memori-kebohongan-dan-seblak-4d2e72383522
author_url
https://medium.com/@irfanjayadi2004
status
ok
fetched_at
2026-08-07 11:13:26