Naik KRL (Lagi)
Kembali meromantisasi perjalanan naik KRL.
Akhirnya Naik KRL (Lagi)

Image generated with DALL·E by OpenAI, powered by Microsoft
Belum jadi member Medium? Baca versi lengkapnya di tautan berikut.
Ada perasaan aneh ketika pertama kalinya aku kembali naik KRL beberapa waktu yang lalu. Sebelumnya ketika tinggal di Jerman, naik kereta merupakan rutinitas yang tidak terelakkan.
Rasanya tenang, terjadwal, dan cukup manusiawi seringkali— ya okelah, memang sesekali mereka suka bercanda dengan telat dan cancel perjalanan seenak jidat.
Kalau aku harus menyebutkan alasan suka naik kereta karena aku cukup duduk, menikmati pemandangan lewat jendela, turun di stasiun tujuan. Tanpa banyak halangan dan goncangan.
Kereta selalu jadi bagian yang menyenangkan dari perjalanan, bahkan kadang jadi waktu buat bengong tanpa rasa bersalah.
Setiba di Jakarta, aku masih naik kereta sesekali dengan KRL. Jalurnya lebih padat, ritmenya lebih cepat, dan suasananya jauh lebih ramai — utamanya di jam-jam tertentu.
Tahu nggak, setiap kali masuk gerbong, ada rasa excited yang sulit dihindari — mungkin karena terlalu sering dengar cerita drama per-KRL-annya. Dalam hati suka bertanya: akankah hari ini aku akhirnya jadi saksi peristiwa penting itu?
Tentang perjalanan KRL
Tampaknya perjalanan KRL bukan lagi jeda, tapi bagian penting dari hari seseorang.
Aku mulai sadar, KRL itu punya iramanya sendiri. Ada jam-jam tertentu di mana orang berdiri rapat tanpa banyak bicara. Wajah-wajah yang kelihatan sudah hafal betul rute perjalanan.
Paham kemana harus berlari ketika dibutuhkan, bahkan sekadar gerakan kecil yang efisien: menggeser kaki, mengamankan tas, mencari pegangan.
Semua dilakukan nyaris otomatis, seolah tubuh sudah belajar beradaptasi lebih dulu sebelum kepala sempat mengeluh.
Di kantor, cerita soal perjalanan pagi sering terdengar sambil lalu.
Tentang KRL yang sudah penuh sejak stasiun awal, tentang berdiri hampir satu jam, tentang pindah-pindah gerbong demi bisa bernapas sedikit lebih lega.
Diceritakan sambil membuka laptop — menata perbekalan ‘perang’, tak lupa sembari menikmati kopi pagi itu. Seolah itu semua bagian kecil dari hari, bukan sesuatu yang perlu diributkan.
Padahal kalau dipikir-pikir, itu bukanlah hal yang sepele.
Ada satu hal menarik dari kebiasaan ini: semakin sering diceritakan, semakin terdengar normal.
Seolah berdiri lama, berdesakan, dan mengatur tenaga sebelum jam kerja adalah bagian tak tertulis dari deskripsi pekerjaan — bagian dari resiko.
Sesuatu yang tidak pernah masuk kontrak, tapi selalu diasumsikan bisa dijalani.
Di situ aku biasanya diam — mendengarkan dengan tekun, lalu muncul perasaan yang agak campur aduk: kagum tapi juga sedikit malu.
Malu kalau mau mengeluh soal capek, soal macet, soal hari yang terasa panjang.
Karena buat banyak orang, hari yang panjang itu bahkan belum benar-benar dimulai, tapi tenaga sudah lebih dulu terkuras. Belum lagi dengan perjalanan pulang yang tak kalah panjang.
Lama-lama aku sadar, buat sebagian orang, kerja itu belum tentu dimulai saat duduk di meja.
Bekerja sudah dimulai sejak bangun lebih pagi, sejak melangkah ke stasiun, sejak berdiri di gerbong yang penuh, sejak mengatur napas supaya tetap sampai tepat waktu.
Perjalanan bukan jeda tapi bagian dari hari yang harus dituntaskan.
Aku yang tidak perlu menggunakan transportasi umum untuk mencapai kantor sering merasa kecapekan, dan di situ rasa sungkan buat mengeluh muncul dengan sendirinya.
Bukan karena capekku tidaklah valid, tapi karena aku tahu — aku masih punya jarak dari rutinitas ini. Aku masih bisa memilih, masih bisa menghindar. Sementara bagi banyak orang lain, ini bukan pilihan lagi, melainkan kebutuhan.
Fenomena KRL ini akhirnya bukan cuma soal transportasi — tapi soal ketahanan yang pelan-pelan dibiasakan.
Tentang tubuh yang diajak berkompromi setiap hari.
Tentang hidup yang berjalan terus meski kadang terasa sempit, sesak, dan melelahkan.
Dan mungkin yang paling mengesankan bukan keretanya, bukan juga sistemnya, tapi orang-orang di dalamnya — yang tetap datang, tetap bekerja, tetap menjalani hari, bahkan ketika perjalanan sudah lebih dulu menghabiskan tenaga.
Ada banyak kerja keras yang tidak pernah tercatat di jam kerja. Ada banyak usaha yang terjadi bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.
Dan mungkin, lain kali sebelum aku mengeluh, aku akan ingat pagi-pagi di KRL ini — sebagai pengingat untuk sedikit senantiasa bersyukur dan pantang menyerah.
Terima kasih sudah mampir! Semoga tulisan ini bermanfaat buat kamu. Kalau dirasa membantu, aku akan merasa senang kalau kamu memberikan tepukan atau sekadar berbagi pendapat di komentar. Kalau mau, kita juga bisa langsung terhubung di Instagram dan ngobrol lebih banyak di sana. Salam kompak selalu!
메타데이터
- post_id
- 4d4ecdb84d65
- slug
- naik-krl-lagi-4d4ecdb84d65
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/naik-krl-lagi-4d4ecdb84d65
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/naik-krl-lagi-4d4ecdb84d65
- author_url
- https://medium.com/@zahrohkhumayr
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-30 07:44:52