Adat Dan Budaya Karo
Batak karo merupakan merupakan salah satu kelompok etnis Batak yang menyebar dan menetap di Tanah Karo dan sebagian Aceh; meliputi…
Adat Dan Budaya Karo

Batak karo merupakan merupakan salah satu kelompok etnis Batak yang menyebar dan menetap di Tanah Karo dan sebagian Aceh; meliputi Kabupaten Karo, sebagian Kabupaten Aceh Tenggara, Langkat, Dairi, Simalungun, Deli Serdang, Kota Medan, dan Kota Binjai).
Etnis ini merupakan salah satu etnis terbesar di Sumatra Utara. Nama etnis ini dijadikan sebagai nama salah satu kabupaten di Sumatra Utara, yaitu Kabupaten Karo. Etnis ini memiliki bahasa yang disebut bahasa Karo atau cakap Karo. Pakaian adat Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas. Konon, Kota Medan didirikan oleh seorang tokoh Karo yang bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi.
- SEJARAH DAN ETIMOLOGI SUKU KARO
Karo adalah etnis yang mendiami Tanah Karo (meliputi Kabupaten Karo, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Deli Serdang, Kota Medan, Kota Binjai, dan Kabupaten Aceh Tenggara). Etnis ini memiliki bahasa yang disebut bahasa Karo dan memiliki salam khas yaitu Mejuah-juah. Adapun rumah tradisional masyarakat Karo atau yang dikenal dengan nama Siwaluh Jabu yang berarti rumah untuk delapan keluarga, yaitu rumah yang terdiri dari delapan bilik yang masing-masing bilik dihuni oleh satu keluarga. Tiap keluarga yang menghuni rumah itu memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan pola kekerabatan masing-masing.
- MARGA
Suku Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan nama merga silima, tutur siwaluh, dan *rakut sitelu. Merga disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan disebut beru. Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok utama (marga inti/pokok), yang disebut dengan merga silima*. Kelima merga tersebut adalah:

Kelima marga Karo tersebut mempunyai sub-marga masing-masing, dimana setiap orang Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Marga diperoleh secara turun termurun dari ayah, marga ayah juga merga anak. Orang yang mempunyai merga atau beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai nenek moyang yang sama. Jikalau laki-laki bermarga sama, maka mereka disebut (b)ersenina. Demikian juga antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru yang sama, maka mereka disebut juga (b)ersenina. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang, sehingga dilarang melakukan perkawinan, kecuali pada merga Sembiring (Sembiring Kembaren).
- FALSAFAH KEMASYARAKATAN
Hal lain yang penting dalam susunan masyarakat Karo adalah rakut sitelu, yang artinya secara metaforik adalah Tungku Nan Tiga, yang berarti Ikatan yang Tiga. Arti rakut sitelu tersebut adalah Sangkep Nggeluh (Kelengkapan Hidup) bagi orang Karo. Kelengkapan yang dimaksud adalah lembaga sosial yang terdapat dalam masyarakat Karo yang terdiri dari tiga kelompok, yaitu:
- Kalimbubu
- Anak Beru
- Sembuyak
-Kalimbubu dapat didefinisikan sebagai keluarga pemberi istri.
-Anak Beru yaitu keluarga yang mengambil atau menerima istri.
-Sembuyak adalah keluarga satu galur keturunan merga atau keluarga inti.
Orang Karo mempunyai salam khas yaitu Mejuah-juah atau lengkapnya adalah mejuah-juah kita kerina yang memiliki arti sehat-sehat kita semua, baik-baik kita semua, kedamaian, kesehatan, kebaikan untuk kita semua.
- SISTEM KEKERABATAN
Tutur Siwaluh adalah konsep kekerabatan masyarakat Karo, yang berhubungan dengan penuturan, yaitu terdiri dari delapan golongan:
- Puang Kalimbubu
- Kalimbubu
- Senina
- Sembuyak
- Senina Sipemeren
- Senina Sepengalon/Sedalanen
- Anak Beru
- Anak Beru Menteri
Dalam pelaksanaan upacara adat, Tutur Siwaluh ini masih dapat dibagi lagi dalam kelompok-kelompok lebih khusus sesuai dengan keperluan dalam pelaksanaan upacara yang dilaksanakan, yaitu sebagai berikut :
- Puang Kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu seseorang
- Kalimbubu adalah kelompok pemberi istri kepada keluarga tertentu. Kalimbubu ini dapat dikelompokkan lagi menjadi :
-Kalimbubu Bena-bena atau Kalimbubu Tua, yaitu kelompok pemberi istri kepada kelompok tertentu yang dianggap sebagai kelompok pemberi istri adalah dari keluarga tersebut. Misalnya A bermerga Sembiring bere-bere Tarigan, maka Tarigan adalah Kalimbubu Si A. Jika A mempunyai anak, maka merga Tarigan adalah Kalimbubu Bena-bena / Kalimbubu Tua dari anak A. Jadi Kalimbubu Bena-bena atau Kalimbubu Tua adalah kalimbubu dari ayah kandung.
-Kalimbubu Simada Dareh adalah berasal dari ibu kandung seseorang. Kalimbubu Simada Dareh adalah saudara laki-laki dari ibu kandung seseorang. Disebut Kalimbubu Simada Dareh karena mereka yang dianggap mempunyai keturunan sedarah, karena sedarah maka itu juga yang terdapat dalam diri keponakannya.
- Kalimbubu Iperdemui, yaitu yang berarti kalimbubu yang dijadikan kalimbubu oleh karena seseorang mengawini putri dari satu keluarga untuk pertama kalinya. Maka seseorang itu yang menjadi kalimbubu adalah berdasarkan perkawinan.
- Senina, yaitu mereka yang bersaudara karena mempunyai merga dan submerga yang sama.
- Sembuyak, yaitu secara harfiah artinya adalah satu dan Mbuyak yang artinya adalah kandungan. Maka artinya adalah orang-orang yang lahir dari kandungan atau rahim yang sama. Namun dalam masyarakat Karo istilah ini digunakan untuk senina yang berlainan sub-merga juga, dalam bahasa Karo disebut Sindauh Ipedeher (Yang jauh menjadi dekat).
- Sipemeren, yaitu orang-orang yang ibu-ibu mereka bersaudara kandung. Bagian ini didukung lagi oleh pihak Siparibanen, yaitu orang-orang yang mempunyai istri yang bersaudara.
- Senina Sepengalon atau Sendalanen, yaitu orang yang bersaudara karena mempunyai anak-anak yang memperistri dari beru yang sama.
- Anak beru, yang berarti pihak yang mengambil istri dari suatu keluarga tertentu untuk diperistri. Anak beru dapat terjadi secara langsung karena mengawini wanita keluarga tertentu, dan secara tidak langsung melalui perantaraan orang lain, seperti Anak Beru Menteri dan Anak Beru Singikuri. Anak beru ini terdiri lagi sebagai berikut :
-Anak Beru Tua, adalah anak beru dalam satu keluarga turun temurun. Paling tidak tiga generasi telah mengambil istri dari keluarga tertentu (Kalimbubu-nya). Anak Beru Tua adalah anak beru yang utama, karena tanpa kehadirannya dalam suatu upacara adat yang dibuat oleh pihak kalimbubu-nya, maka upacara tersebut tidak dapat dimulai. Anak Beru Tua juga berfungsi sebagai Anak Beru Singerana (sebagai pembicara), karena fungsinya dalam upacara adat sebagai pembicara dan pemimpin keluarga dalam keluarga kalimbubu dalam konteks upacara adat.
-Anak Beru Cekoh Baka Tutup, yaitu anak beru yang secara langsung dapat mengetahui segala sesuatu di dalam keluarga kalimbubu-nya. Anak Beru Cekoh Baka Tutup adalah anak saudara perempuan dari seorang kepala keluarga. Misalnya Si A seorang laki-laki, mempunyai saudara perempuan Si B, maka anak Si B adalah Anak Beru Cekoh Baka Tutup dari Si A. Dalam panggilan sehari-hari anak beru disebut juga Bere-bere Mama.
- Anak Beru Menteri, yaitu anak berunya si anak beru. Asal kata Menteri adalah dari kata Minteri yang berarti meluruskan. Jadi anak beru minteri mempunyai pengertian yang lebih luas sebagai petunjuk, mengawasi serta membantu tugas kalimbubu-nya dalam suatu kewajiban dalam upacara adat. Ada pula yang disebut Anak Beru Singkuri, yaitu anak beru-nya si Anak Beru Menteri. Anak beru ini mempersiapkan hidangan dalam konteks upacara adat.
-
Perkaden-kaden Sepuluh Dua:
-
Nini
-
Bulang
-
Kempu
-
Bapa
-
Nande
-
Anak
-
Bengkila
-
Bibi
-
Permen
-
Mama
-
Mami
-
Bere-bere
-
BAHASA DAN AKSARA
Bahasa Karo merupakan bahasa Austronesia dan digolongkan dalam rumpun bahasa Batak bagian utara yang utamanya dituturkan oleh masyarakat Karo di wilayah Kabupaten Karo, Kabupaten Langkat, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Dairi, dan Kota Medan.
Aksara yang digunakan oleh orang Karo adalah tulisen Karo yang merupakan varian dari Surat Batak. Aksara ini adalah aksara kuno yang dipergunakan oleh masyarakat Karo, akan tetapi pada saat ini penggunaannya sangat terbatas bahkan hampir tidak pernah digunakan lagi.
- BUDAYA DAN KESENIAN
Orang Karo mempunyai beberapa kebudayaan tradisional, mulai dari kesenian (sastra), dan tari tradisional. Beberapa tari tradisional Karo adalah:

[embed]

[embed]
- Tari Terang Bulan

[embed]
- Guro Guro Aron

[embed]
- SENI MUSIK
- Alat musik tradisional Karo adalah Gendang Karo. Biasanya disebut Gendang “Lima Sedalinen” yang artinya seperangkat gendang tari yang terdiri dari lima unsur.
Unsur disini terdiri dari beberapa alat musik tradisional Karo seperti kulcapi, balobat, surdam, keteng-keteng, murhab, serune, gendang si ngindungi, sendang si nganaki, penganak dan gung. Alat tradisional ini sering digunakan untuk menari, menyanyi dan berbagai ritus tradisi.
Jadi gendang Karo sudah lengkap (lima sedalinen) jika sudah ada serune, gendang si ngindungi, gendang si nganaki, penganak dan gung dalam mengiringi sebuah upacara atau pesta.

*Lagu daerah
Beberapa lagu yang berasal dari daerah Karo adalah:
- Piso Surit
- Mbiring Manggis
- Mejuah-juah
- Famili Teksi
- Tanah Karo Simalem
- Seni tari
Tari dalam bahasa Karo disebut “landek”. Pola dasar tari Karo adalah posisi tubuh, gerakan tangan, gerakan naik turun lutut (endek) disesuaikan dengan tempo gendang dan gerak kaki. Pola dasar tarian itu ditambah dengan variasi tertentu sehingga tarian tersebut menarik dan indah.
Tarian berkaitan adat misalnya memasuki rumah baru, pesta perkawinan, upacara kematian dan lain-lain. Tarian berkaitan dengan ritus dan religi biasa dipimpin oleh guru (dukun). Misalnya tari mulih-mulih, tari tungkat, erpangir ku lau, tari baka, tari begu deleng, tari muncang, dan lain-lain.
Tarian berkaitan dengan hiburan digolongkan secara umum. Misalnya tari gundala-gundala, tari ndikkar dan lain-lain. Sejak tahun 1960 tari Karo bertambah dengan adanya tari kreasi baru. Misalnya tari lima serangkai yang dipadu dari lima jenis tari yaitu tari morah-morah, tari perakut, tari cipa jok, tari patam-patam lance dan tari kabang kiung. Setelah itu muncul pula tari piso surit, tari terang bulan, tari roti manis dan tari tanam padi.
- Kegiatan kebudayaan dan adat-istiadat
- Merdang Merdem: “Kerja tahun” yang disertai “Gendang guro-guro aron”.
- Mahpah: “Kerja tahun” yang disertai “Gendang guro-guro aron”.
- Mengket Rumah Mbaru: Pesta perayaan memasuki rumah (adat/ibadat) baru.
- Mbesur-mbesuri: “Mengenyangkan” memberi makan untuk wanita yang hamil 7 bulan, dengan harapan memenuhi keinginannya sebelum melahirkan.
- Cawir Metua: Upacara adat/ritual kematian.
- Ndilo Udan: Memanggil hujan.
- Rebu-rebu: Mirip dengan pesta “kerja tahun”.
- Ngumbung: Hari jeda “aron” (kumpulan pekerja di desa).
- Erpangir Ku Lau: Penyucian diri (untuk membuang sial).
- Raleng Tendi: “Ngicik Tendi”, yaitu memanggil jiwa setelah seseorang kurang tenang karena terkejut secara suatu kejadian yang tidak disangka-sangka.
- Motong Rambai: Pesta kecil keluarga-handai taulan untuk memanggkas habis rambut bayi (balita) yang terjalin dan tidak rapih.
- Ngaloken Cincin Upah Tendi: Upacara keluarga pemberian cincin permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere atau dari Bibi ke Permain).
- Manok Sangkepi
- Mbaba Belo Selambar (MBS): Rangkaian ritus Pernikahan adat Karo
- Ngaloken Rawit: Upacara keluarga pemberian pisau (tumbuk lada) atau belati atau clurit kecil yang berupa permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere) — keponakan laki-laki.
- Kuliner khas
-Makanan
Kuliner Karo banyak ragamnya, salah satu yang terkenal adalah babi panggang karo, sering disingkat sebagai BPK. Babi panggang karo dibuat dengan cara memanggang babi yang sebelumnya telah diberi bumbu khas, yang di dalamnya terdapat tuba atau andaliman. Umumnya orang Karo yang menjual babi panggang karo di warung makan ataupun restoran, namun tidak jarang juga ditemukan orang non-Karo yang juga menjual hidangan tersebut seperti orang Batak Toba, Nias, dan lain-lain.
Kuliner Karo lainnya meliputi:
- Kidu Kidu

- Arsik Nurung Mas

- Pagit Pagit/Trites

- Gule kuta-kuta (gulai ayam kampung)

- Tasak Telu

- Cipera

- Cimpa

- Minuman
Selain makanan, minuman khas Karo pun banyak macam ragamnya. Minuman yang terkenal adalah susu kitik, yaitu teh khas Karo. Minuman ini umumnya disajikan di warung kopi di daerah Karo.

- Upacara Adat Karo
- Ngembah Belo Selambar Secara etimologi, Ngembah Belo Selambar artinya membawa sirih selembar, memiliki makna simbol bahwa sirih, kapur, tembakau, pinang dan gambir terdapat didalam kampilnya atau yang dikenal dengan Kampil Kehamaten (kampil kehormatan).
- Nganting Manuk Secara etimologi, Nganting Manuk diartikan “menenteng ayam” pada jaman dahulu ayam adalah simbol ternak sebagai lauk-pauk yang akan disantap dalam pertemuan adat. Perkawinan Adat Karo yang dulunya berbentuk dusun kedusunan, ayam tersebut ditenteng oleh Anak Beru karena tidak adanya sarana perhubungan dan masih dilakukan berjalan kaki. Ayam-ayam ditenteng oleh Anak Beru menuju rumah orang tua calon pengantin wanita, di sinilah muncul istilah nganting manuk.
- Mata Kerja (Hari H Pesta Perkawinan) Mata Kerja atau hari H pesta perkawinan yang telah dimusyawarahkan pada tahap Nganting Manuk merupakan inti acara dalam proses perkawinan Adat Karo. Karena penyelenggaraan pesta inilah dilaksanakan pembayaran hutang adat kepada singalo Ulu Emas, sedangkan orang tua calon mempelai perempuan membayar hutang Adat kepada Singalo Bebere. Dalam mata kerja ini peran serta Anak Beru Singerana, Senina, Kalimbubu dari kedua belah pihak mempelai banyak berperan dalam menjalankan Tukur (mahar) dan membagi bagikannya kepada pihak yang menerima (Ngalo). Dalam acara adat, ada acarea mbereken telah-telah (acara berbicara) yang diatur oleh Anak Beru pihak pengantin laki-laki dimana urutan berbicara dimulai dari pihak Sukut (senina, sembuyak) kemudian acara kepada kalimbubu serta yang terakhir adalah Anak Beru. Acara adat inibanyak pedah pedah (kata-kata nasehat) yang diberikan oleh Sukut, kalimbubu dan Anak Beru kepada kedua pengantin. Dimana kedua pengantin juga akan mendapat banyak kado berupa penjayon (peralatan rumah tangga) dari pihak Puang Kalimbubu dan kain panjang serta kain sarung dari pihak kedua keluarga yang diundang.

메타데이터
- post_id
- 4d5fb826d2d3
- slug
- adat-dan-budaya-karo-4d5fb826d2d3
- url
- https://medium.com/@febymeliala03/adat-dan-budaya-karo-4d5fb826d2d3
- canonical_url
- https://medium.com/@febymeliala03/adat-dan-budaya-karo-4d5fb826d2d3
- author_url
- https://medium.com/@febymeliala03
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01