← Back to list

Sang Ganesha yang Kokoh Dengan Gadingnya

oleh: Mohammad Raskie_12324049_Teknik Geofisika

Mohammad Raskie · 2026-06-18 15:47 · 0 claps · 10.1 min read
#itb #km-itb
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🥊 · Combat Sports

Sang Ganesha yang Kokoh Dengan Gadingnya.

oleh: Mohammad Raskie_12324049_Teknik Geofisika

Di balik gedung-gedung megah yang berdiri kokoh di Jalan Ganesha No. 10, Kota Bandung, tersimpan sebuah warisan yang kian jarang diperbincangkan seiring berjalannya waktu, yakni warisan perlawanan dari sebuah kampus yang justru lebih dikenal publik karena eksklusivitasnya. Institut Teknologi Bandung (ITB) bukan sekadar lembaga pendidikan yang mencetak insinyur dan ilmuwan andal. Lebih dari itu, ITB adalah ruang di mana gagasan-gagasan besar tentang keadilan, demokrasi, dan keberpihakan kepada rakyat telah lama diperdebatkan, dipertaruhkan, bahkan diperjuangkan, dengan taruhan yang tidak kecil; posisi akademik dan kebebasan pribadi para mahasiswanya.

Sejarah mencatat bahwa ITB tidak pernah benar-benar berada di luar arus perubahan bangsa. Dari peristiwa 1966 yang menandai pergantian kekuasaan, hingga gelombang reformasi 1998 yang meruntuhkan rezim otoriter, ITB selalu hadir. Bukan sebagai penonton, melainkan sebagai aktor yang ikut menentukan arah sejarah. Di setiap titik balik tersebut, mahasiswa ITB turun ke jalan, menyuarakan kritik, dan mempertaruhkan masa depan akademiknya demi sesuatu yang mereka yakini lebih besar dari menyandang gelar akademik.

Ada sesuatu yang tertanam dalam fondasi institusi ini, sebuah nilai yang barangkali tidak tertulis dalam kurikulum resmi, namun diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita, gerakan, dan ingatan kolektif. Nilai itu adalah keyakinan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh berdiri terpisah dari nasib rakyat yang menjadi salah satu tujuan dalam mengemban ilmu di perguruan tinggi. Justru karena itulah, mahasiswa ITB kerap tidak bisa berdiam diri ketika ketidakadilan terjadi di luar pagar kampus, sebab mereka menyadari bahwa rumus-rumus dan teori yang dipelajari di ruang kuliah pada akhirnya harus bermuara pada kehidupan nyata masyarakat yang jauh lebih kompleks daripada sekadar persamaan matematika di atas kertas.

Namun pertanyaannya kemudian: apakah warisan ini masih hidup hari ini, atau justru sudah menjadi sekadar romantisme sejarah yang dibanggakan tanpa benar-benar dihayati?

Bagaimana sebuah kampus yang lahir di masa kolonial Belanda bertransformasi menjadi salah satu pusat gerakan mahasiswa paling berpengaruh di Indonesia, dan mengapa warisan itu relevan bagi setiap mahasiswa yang hari ini melangkahkan kaki pertama kali ke Ganesha menjadi tanya yang kerap timbul di benak hingga hari ini.

Perguruan tinggi menjadi salah satu langkah tiap negara dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Sama halnya di Indonesia, perguruan tinggi khususnya PTN lahir secara berangsur-angsur selayaknya negara berkembang yang ingin memantapkan kualitas rakyatnya. Salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang lahir sebelum Indonesia merdeka adalah Institut Teknologi Bandung (ITB), yang pada pertama kali pembentukannya disebut de Techniche Hoogeschool te Bandung, tepatnya pada 3 Juli 1920, didirikan oleh kolonial Belanda di era abad ke-20. Ironi sejarah ini perlu dicermati, bahwa ITB lahir bukan untuk memerdekakan rakyat Indonesia, melainkan untuk memenuhi kebutuhan Belanda akan tenaga teknis setelah Perang Dunia pertama pecah dan sumber daya ahli mereka berkurang. Pada awal berdirinya, kampus ini hanya diisi 28 mahasiswa dan hanya 2 orang Indonesia di antaranya, sebuah gambaran betapa eksklusif dan elitisnya institusi ini pada mulanya.

Namun sejarah memiliki cara ironisnya sendiri. Kampus yang dibangun untuk melanggengkan kekuasaan kolonial justru menjadi salah satu tempat di mana benih-benih kesadaran kebangsaan mulai tumbuh.

ITB sempat beberapa kali berganti nama, pada awalnya disingkat menjadi TH saat Belanda berkuasa, berubah menjadi Bandung Kogyo Daigaku (BKD) saat Jepang menduduki Indonesia, lalu menjadi Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung pasca kemerdekaan. Sempat berpindah ke Yogyakarta pada 1946 yang kini dikenal sebagai Universitas Gadjah Mada, kemudian menjadi bagian dari Universitas Indonesia untuk Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Alam. Sampai akhirnya, pada 2 Maret 1959, Pemerintah Indonesia meresmikan berdirinya Institut Teknologi Bandung. Dari institusi kolonial menjadi institusi yang perlahan-lahan mengakui bahwa ia berdiri di atas tanah Indonesia dan memiliki tanggung jawab kepada rakyat Indonesia.

Perjalanan panjang tersebut menunjukkan bahwa identitas sebuah institusi tidak pernah benar-benar bersifat statis. Sebuah kampus dapat lahir dari kepentingan politik tertentu, tetapi arah perkembangannya ditentukan oleh manusia-manusia yang menghidupinya. Dalam konteks ITB, perubahan itu tampak jelas, dari institusi yang semula melayani kebutuhan kolonial menjadi ruang yang melahirkan pemikir, ilmuwan, seniman, insinyur, hingga aktivis yang memberikan kontribusi bagi perjalanan bangsa. Sejarah ini mengajarkan bahwa pendidikan tinggi bukan sekadar tempat memindahkan pengetahuan dari dosen kepada mahasiswa, melainkan sebuah wadah pembentukan nilai, karakter, dan keberanian untuk mengambil sikap.

Untuk memahami mengapa mahasiswa ITB begitu aktif dalam perubahan sosial, perlu melihat apa yang dicita-citakan oleh kampus ini. Visi ITB sebagaimana tercantum dalam Buku Biru adalah menjadi universitas yang ”leads changes toward welfare improvement of the Indonesian nation and the world” atau universitas yang “memimpin perubahan” menuju peningkatan kesejahteraan bangsa Indonesia dan dunia. Buku Biru ITB secara eksplisit merumuskan bagaimana ITB memposisikan dirinya terhadap berbagai persoalan masyarakat. Terhadap kehidupan lembaga kenegaraan, ITB mengambil sikap kritis terhadap mekanisme politik dan komposisi lembaga perwakilan, serta menekankan perlunya sistem yang benar-benar demokratis. Juga membahas mengenai pertanian dan pangan, ITB menyoroti kemiskinan petani dan kebijakan pangan yang dinilai terlalu berorientasi pada satu komoditas. Serta terhadap pendidikan, ITB mengkritik sistem yang dianggap hanya formalitas dan elitis, serta menekankan pentingnya pendidikan untuk mencerdaskan seluruh bangsa. Pun perihal sumber daya alam, ITB mengkritik pengelolaan yang cenderung eksploitatif dan hanya menguntungkan pemodal besar. Yang paling mencolok adalah pernyataan tentang tanggung jawab sosial sivitas akademika ITB. Buku Biru secara tegas menyatakan bahwa mahasiswa tidak boleh menjadi ”kutu buku” atau bahkan ”tikus laboratorium”, mereka wajib mengikuti peristiwa sosial, politik, dan kejadian lain di masyarakat. Lebih jauh, universitas dan mahasiswa memiliki tugas partisipasi aktif terhadap masalah kenegaraan melalui cara-cara ilmiah untuk kepentingan rakyat. Ini merupakan pernyataan yang cukup radikal untuk sebuah kampus berbasis sains dan teknologi (SAINTEK). ITB tidak hanya mendidik mahasiswanya untuk ahli dalam memecahkan masalah teoritis, tapi ITB sejatinya mendidik mahasiswanya untuk peduli, kritis, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat yang lebih luas.

Sering kali masyarakat memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang netral dan terpisah dari persoalan sosial. Pandangan serupa juga melahirkan anggapan bahwa mahasiswa rumpun sains dan teknologi seharusnya hanya berkutat pada laboratorium, praktikum, dan pengembangan teknologi, sedangkan persoalan politik maupun sosial merupakan ranah disiplin ilmu sosial dan humaniora. Meski anggapan tersebut terdengar masuk akal, tetapi pada kenyataannya, hampir setiap hasil pemikiran berbasis ilmiah pada akhirnya akan memengaruhi kehidupan masyarakat. Seperti contoh jalan yang dibangun menentukan akses ekonomi suatu daerah, bendungan memengaruhi kehidupan ribuan warga, algoritma menentukan arus informasi, dan kebijakan energi turut menentukan masa depan lingkungan hidup. Karena itu, menjadi mahasiswa sains dan teknologi, terlebih di ITB, bukan berarti menjauh dari persoalan publik. Sebaliknya, kecakapan teknis harus berjalan beriringan dengan kesadaran sosial agar ilmu yang dikembangkan tidak kehilangan arah. Seorang ilmuwan atau insinyur yang baik tidak hanya mampu menyelesaikan persoalan secara matematis, tetapi juga memahami dampak keputusan yang diambil terhadap manusia, lingkungan, dan generasi mendatang. Dalam konteks inilah warisan ITB menjadi relevan, kampus ini tidak hanya berupaya melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga insan yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan kepentingan masyarakat. Keberpihakan tersebut bukan diwujudkan melalui slogan semata, melainkan melalui penggunaan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk menghadirkan solusi yang adil, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

Pada 1966, mahasiswa ITB bersama mahasiswa dari kampus-kampus lain di Jakarta dan Bandung menjadi garda terdepan gerakan yang menuntut perubahan politik. Mereka turun ke jalan, menuntut pembubaran PKI, perombakan kabinet, dan penurunan harga bahan pokok. Gerakan ini, yang kemudian dikenal sebagai Angkatan ’66, menjadi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah politik Indonesia. Pada 1974, mahasiswa ITB kembali bersuara dalam peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari), mengekspresikan keresahan atas kebijakan ekonomi Orde Baru yang dinilai terlalu membuka pintu bagi modal asing dan mengabaikan kepentingan rakyat kecil. Pada 1978, ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan NKK/BKK yang membatasi aktivitas politik mahasiswa di kampus, mahasiswa ITB menolak. Mereka memilih untuk tetap bersuara meski dengan risiko akademik yang besar. Dan puncaknya adalah 1998. Dalam gelombang reformasi yang akhirnya menumbangkan rezim Orde Baru setelah 32 tahun berkuasa, mahasiswa ITB berdiri bersama jutaan rakyat Indonesia yang sudah lama lelah oleh korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mereka bukan sekadar ikut-ikutan (seperti yang dikatakan di sosial media hari ini) mereka membawa intelektualitas yang telah mengakar selama puluhan tahun, yang mengajarkan bahwa diam di hadapan ketidakadilan adalah pengkhianatan terhadap nilai ilmiah itu sendiri. Meski demikian, gerakan mahasiswa tidak dapat dipahami semata-mata sebagai aksi demonstrasi di jalan. Esensi pergerakan terletak pada keberanian menyampaikan gagasan yang didukung data, analisis, dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Menulis kajian kebijakan, melakukan penelitian yang berpihak pada masyarakat, mengembangkan teknologi tepat guna, hingga mengedukasi publik juga merupakan bentuk nyata dari pengabdian intelektual. Dengan kata lain, perlawanan yang diwariskan ITB bukan hanya soal turun ke jalan, tetapi tentang keberanian menggunakan ilmu pengetahuan untuk memperbaiki keadaan.

Watak perlawanan mahasiswa ITB tidak hanya tercermin dalam aksi di jalanan. Ia juga diwujudkan dalam cara mahasiswa ITB membangun organisasinya sendiri. Contohnya Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB) bukan organisasi yang lahir dengan mudah. Perjalanan panjang menuju terbentuknya KM ITB adalah perjuangan tersendiri melawan tekanan birokrasi kampus. Sebagaimana dicatat dalam Konsepsi KM ITB (Amendemen 2025) bahwa Kongres Mahasiswa sebagai perwujudan kedaulatan mahasiswa dapat dibentuk tetapi tidak memiliki energi cukup besar untuk menahan hempasan badai dari birokrat kampus. Berkali-kali konsep organisasi mahasiswa terpusat dirancang, berkali-kali pula terhambat oleh aturan birokrasi dan tekanan dari pihak rektorat. Baru pada Juni 1998 mahasiswa ITB berhasil mengimplementasikan sistem KM ITB secara nyata. Yang membuat KM ITB unik bukan hanya sejarah perjuangannya, tetapi filosofi di balik strukturnya.

Pertama, KM ITB dirancang “mandiri”. Dalam dokumen Konsepsi KM ITB menegaskan bahwa organisasi kemahasiswaan memiliki hak dan kewenangan penuh untuk menentukan aktivitas dan kelangsungan hidupnya dan pola hubungan yang dikembangkan dengan institusi lain adalah pola hubungan kerja sama dalam suasana saling menghormati.

Kedua, KM ITB bersandar pada falsafah insan akademis yang dirumuskan dari pemikiran Muhammad Hatta. Dijelaskan pula bahwa tugas perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis yang memiliki dua peran, yaitu mengembangkan diri secara intelektual, dan mengkritisi kondisi kehidupan masyarakatnya di masa kini dan selalu berupaya membentuk tatanan masyarakat masa depan yang benar dengan dasar kebenaran ilmiah. Secara implisit pernyataan tersebut menjelaskan bahwa menjadi mahasiswa ITB yang baik bukan berarti hanya pandai di bidang studi masing-masing, tetapi juga aktif merespons realitas sosial di sekitarnya.

Ketiga, Konsepsi KM ITB secara eksplisit mengakui kelemahan sistemnya sendiri dan menetapkan solusi yang menuntut kesadaran kolektif. Ketika sistem formal gagal, menjadi tugas mahasiswa, himpunan mahasiswa, dan unit untuk melakukan kontrol aktif secara informal sebagai garda moral terakhir sistem kemahasiswaan.

Menjadi mahasiswa ITB berarti mewarisi sebuah tradisi yang panjang dan berat. Karena telah masuk ke kampus yang secara institusional dan historikal telah menyatakan keberpihakannya kepada rakyat, kepada demokrasi, kepada kebenaran ilmiah yang tidak boleh berhenti di ruang kelas. Buku Biru ITB telah menegaskan bahwa ilmu pengetahuan yang dipelajari bukan untuk kepentingan individu semata. Ia harus dilaksanakan untuk kepentingan rakyat melalui partisipasi aktif mahasiswa dan universitas dalam masalah-masalah kenegaraan. Konsepsi KM ITB telah mengingatkan bahwa organisasi kemahasiswaan ada bukan sekadar untuk mengadakan acara dan kompetisi, melainkan untuk mewujudkan karya nyata mahasiswa dalam perjuangan menata kehidupan bangsa dengan menjaga akar aktivitas mahasiswa yaitu intelektualitas, kemandirian, dan kebenaran ilmiah.

Tidak semua orang memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, apalagi di institusi seperti ITB. Kesempatan ini merupakan sebuah privilese yang membawa konsekuensi moral. Setiap ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, hingga diskusi yang diikuti mahasiswa merupakan fasilitas yang lahir dari investasi panjang bangsa terhadap pendidikan tinggi. Menyadari hal tersebut, menjadi mahasiswa ITB seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai amanah untuk memberikan manfaat yang lebih luas. Ilmu yang diperoleh memiliki nilai ketika diterapkan untuk menjawab persoalan masyarakat, membantu pembangunan daerah, menghasilkan inovasi yang inklusif, atau sekadar membagikan pengetahuan kepada orang lain. Dengan sudut pandang ini, kebanggaan mengenakan jaket almamater hijau tidak berhenti pada identitas simbolik. Kebanggaan tersebut harus diwujudkan dalam sikap rendah hati untuk terus belajar sekaligus keberanian menggunakan kemampuan yang dimiliki demi kepentingan yang lebih besar daripada diri sendiri.

Generasi mahasiswa hari ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Jika dahulu keberanian sering diuji melalui perlawanan terhadap rezim atau kebijakan yang mengekang kebebasan, kini tantangan itu hadir dalam bentuk yang lebih halus, derasnya arus informasi, polarisasi opini, hingga algoritma media sosial yang kerap membentuk ruang gema dan memperkuat keyakinan tanpa memberi ruang bagi kritik. Dalam situasi seperti ini, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Mahasiswa dituntut bukan hanya untuk bersuara, tetapi juga memastikan bahwa suara tersebut lahir dari proses membaca, berdiskusi, meneliti, dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang secara rasional.

Pergerakan mahasiswa ITB bukan sesuatu yang harus diromantisasi dari jarak jauh. Hal tersebut merupakan aksi nyata yang terus-menerus perlu diperbarui oleh setiap generasi sesuai dengan tantangan zamannya. Tantangan hari ini mungkin berbeda dari 1966 atau 1998, yang hadir dalam bentuk krisis iklim, ketimpangan digital, kebijakan pendidikan yang semakin dikomersialisasi, atau demokrasi yang perlahan terkikis. Tetapi esensinya sama, ada persoalan-persoalan di luar tembok kampus yang membutuhkan perhatian, kekritisan, dan aksi dari mereka yang memiliki privilese untuk mengenyam pendidikan tinggi.

ITB lahir dari tangan kolonial, tetapi ia tumbuh menjadi sesuatu yang jauh melampaui niat para pendirinya. Ia adalah tempat di mana ilmu pengetahuan bertemu dengan kesadaran sosial, di mana rumus-rumus teknik bertemu dengan pertanyaan-pertanyaan tentang keadilan. Setiap kali mahasiswa ITB turun ke jalan, mereka tidak meninggalkan identitas akademisnya. Karena seperti yang diyakini oleh Konsepsi KM ITB, watak ilmu adalah selalu mencari dan membela kebenaran ilmiah, dan kebenaran ilmiah tidak bisa diam ketika ia melihat ketidakadilan.

Jika ditarik ke benang merahnya, sejarah ITB bukanlah kisah tentang bangunan tua, tokoh-tokoh besar, ataupun deretan peristiwa demonstrasi yang tercatat dalam buku sejarah. Lebih besar dari itu, sejarah tersebut adalah kisah tentang bagaimana setiap generasi mahasiswa menafsirkan kembali makna menjadi insan akademis di zamannya masing-masing. Ada generasi yang harus berhadapan dengan kolonialisme, ada yang menghadapi otoritarianisme, dan ada pula yang hidup di tengah era digital dengan tantangan disinformasi, perubahan iklim, serta ketimpangan teknologi.

Pertanyaan yang diwariskan kepada mahasiswa hari ini bukan lagi apakah mereka akan mengulang bentuk perjuangan generasi sebelumnya, melainkan apakah mereka memiliki keberanian untuk menjawab persoalan-persoalan baru dengan integritas yang sama. Mungkin bentuknya bukan melalui aksi massa, melainkan penelitian yang berpihak pada masyarakat, inovasi yang menjawab kebutuhan publik, atau keberanian menyampaikan kritik yang dibangun di atas data dan argumentasi ilmiah.

Di sinilah makna simbol Ganesha menjadi semakin menarik. Ganesha sering dipandang sebagai lambang ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, tetapi kebijaksanaan tidak pernah berhenti pada banyaknya pengetahuan yang dimiliki. Ia menuntut kemampuan menggunakan pengetahuan tersebut secara bertanggung jawab. Pengetahuan tanpa kepedulian dapat melahirkan kesenjangan, sedangkan kepedulian tanpa pengetahuan mudah berubah menjadi emosi tanpa arah. Oleh karena itu, menjadi bagian dari ITB berarti menerima tantangan untuk terus menyeimbangkan keduanya: menjadi insan yang tidak hanya piawai memecahkan persoalan dan merancang teknologi, tetapi juga mampu memahami manusia yang akan merasakan dampak dari setiap keputusan yang dibuat. Dengan cara itulah warisan intelektual dan moral ITB akan terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pada akhirnya, kebesaran sebuah almamater tidak diukur dari megahnya bangunan, tingginya peringkat internasional, ataupun banyaknya prestasi yang terpampang di berbagai media. Kebesaran itu tercermin dari sejauh mana para lulusannya mampu menggunakan ilmu yang dimiliki untuk menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Warisan terbesar ITB bukan hanya tradisi akademiknya, tetapi juga keberanian untuk mempertanyakan keadaan, menguji kebenaran dengan metode ilmiah, dan tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan ketika dihadapkan pada pilihan yang sulit.

Untuk yang hari ini baru saja resmi menjadi bagian dari keluarga besar ini, yang diwariskan bukan hanya gelar almamater atau jaket hijau yang ikonik, melainkan keberanian untuk memikul tanggung jawab sebagai insan akademis; terus mencari kebenaran, berpihak pada masyarakat, dan menggunakan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk menghadirkan perubahan yang bermakna. Barangkali itulah makna paling mendalam dari menjadi mahasiswa dan bagian dari ITB. Bukan tentang menjadi yang paling pintar di dalam kelas, melainkan tentang memastikan bahwa pengetahuan yang dimiliki tidak berhenti sebagai angka di lembar transkrip atau rumus di papan tulis. Pengetahuan itu harus hidup, hadir di tengah masyarakat, menjawab persoalan nyata, dan memberi manfaat bagi mereka yang membutuhkan.

Sebab pada akhirnya, Ganesha tidak hanya melambangkan kecerdasan, tetapi juga kebijaksanaan dalam menggunakan kecerdasan tersebut. Selama nilai itu terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, ITB akan tetap menjadi lebih dari sekadar kampus, ia akan terus menjadi tempat lahirnya insan-insan yang berani berpikir, berani peduli, dan berani bertindak.

Itulah ITB. Dan kini, itulah kita.

Daftar Pustaka:

Konsepsi KM ITB (Amandemen 2025)

Dokumen “Aura Biru” ITB


메타데이터
post_id
4d7fcbbe1457
slug
sang-ganesha-yang-kokoh-dengan-gadingnya-4d7fcbbe1457
url
https://medium.com/@mohammad.raskie/sang-ganesha-yang-kokoh-dengan-gadingnya-4d7fcbbe1457
canonical_url
https://medium.com/@mohammad.raskie/sang-ganesha-yang-kokoh-dengan-gadingnya-4d7fcbbe1457
author_url
https://medium.com/@mohammad.raskie
status
ok
fetched_at
2026-07-18 06:07:47