← Back to list

Langit Jingga Menyapa

Tarikan gravitasi kasur menguat selama waktu ini

Nicholas Michael Halim · 2026-05-26 12:31 · 0 claps · 6.8 min read
#tidur #pagi #waktu
Open on Medium ↗

Langit Jingga Menyapa

Tarikan gravitasi kasur menguat selama waktu ini

Langit begitu indah tampak dengan campuran warnanya yang menyejukan hati dan menenangkan mata, tetapi langit tersebut menandai pula keharusan kita berangkat dari pulau kapuk. Kredit gambar: Karen Hammega.

Langit begitu indah tampak dengan campuran warnanya yang menyejukan hati dan menenangkan mata, tetapi langit tersebut menandai pula keharusan kita berangkat dari pulau kapuk. Kredit gambar: Karen Hammega.

Kelopak mata terbuka untuk pemandangan jingga yang menghiasi bumantara. Di sana — dihalangi oleh segerombolan awan yang geraknya laksana baris-berbaris dengan tuntunan seorang pemimpin di depan — berangkatlah sang surya dari kediamannya tempat ia tertidur nyenyak semalaman. Atap malam — gulita dan mencekam — beralih rona; perlahan, parasnya dicaplok oleh lawan bebuyutannya — sang pagi. Tiap-tiap hal — entah yang bergerak ataupun yang tidak — menjadi tampak, dan ketiadaan menjadi tidak tampak.

Mata dibebaskan dari jeratan kelopaknya dan menyaksikan sekilap cahaya yang bergerak masuk ke dalam kamar tidur melalui celah-celah tirai. Bak air sungai yang mengalir bebas di atas lereng licin, cahaya terus merembet ke segala penjuru ruangan. Ratusan liang yang bermukim pada tirai makin mempermudah keberhasilan upaya masuk cahaya.

Saya mengesampingkan selimut, yang selama satu malam telah menemani lelapnya tidur, dengan tangan kanan; dan merogoh ponsel genggam, yang berada di atas meja kayu kecil, dengan tangan kiri untuk mendapati waktu saat ini. Belum kedua mata saya dapat melihat jelas sesaat setelah bangun dari tidur, tetapi setidaknya tertangkap dua angka terawal, yang teruraikan sebagai “pukul enam pagi”.

Kawah tengik menganga seraya udara lama pergi ke luar dari udara baru bergerak ke dalam. Kesadaran masih belum terkumpul penuh, dan semua neuron otak berusaha menerima masuk informasi baru setelah berpuasa semenjak malam tadi. Seluruh permukaan kasur acak-acakan seakan-akan lautan manusia telah merusuh dengan satu sama lain. Dingin sudah tidak merata tersebar — dan panas dari luar yang kian terasa terus memusnahkan dingin tersebut.

Mengamati panorama

Sesudah semua hal itu, saya lantas meluruskan tangan dari ujung ke ujung seolah orang-orangan sawah. Kegiatan peregangan tersebut membuahkan senandung pecahan gelembung. Kendatipun tidak memenangi kicauan burung-burung yang bertengger di atas reranting — tidak juga menyebar di dalam seisi ruangan — suaranya begitu saya elu-elukan dan menyalurkan kelegaan kepada sekujur atma. Setiap tulang jari-jemari bertemuan seraya berpeluk-pelukan dan berpukul-pukulan.

Cerlang menerobos ke dalam ruang tempat tidur berada dan membawai saya kabar bahwasanya malam sudah tuntas dan pagi baru saja bermula. Kredit gambar: Ignat Kushnarev.

Cerlang menerobos ke dalam ruang tempat tidur berada dan membawai saya kabar bahwasanya malam sudah tuntas dan pagi baru saja bermula. Kredit gambar: Ignat Kushnarev.

Saya beranjak dari pulau kapuk kesayangan. Setelah duduk termenung di pinggiran kasur selama beberapa saat untuk mencari kembali kepingan-kepingan nyawa dan kemudian menyusunnya rapi, saya mempergunakan tungkai kaki saya dan bergerak ke arah tingkap. Saya melihat terang yang benderang dari balik tirai — agak pening karenanya — dan menyampingkan helaian kain untuk mengizinkan cahaya tersebut mengisi seluruh ruang.

Saya melihat burung-burung yang mengepakkan sayapnya dan berformasi bersama kawanannya di permukaan dan awang-awang. Selain itu, kucing-kucing bertamasya dari bangunan ke bangunan atau memancing berkelahi sejawatannya. Dengan kerja sama yang mulus, semut-semut berpetualang sembari mengangkut pangan yang berkali-kali lipat besarnya untuk koloni. Anjing-anjing dituntun menikmati matahari pagi oleh tuannya, sedangkan kupu-kupu beterbangan sambil memamerkan sayap kirananya bagi dunia.

Ketika jendela dibuka — dan terbukalah jendela itu — angin dingin dan sejuk masuk serentak dan menerpa muka saya. Nyaman terasa tiada duanya, dan senyuman kecil saya pasang sebagai jawaban kepada udara pendatang. Saya menghirupnya dengan tenaga yang maksimal dan mengembangkan sejoli paru-paru sampai titik optimal. Beberapa detik berjalan. Saya menahan udara itu di dalam sana sebelum melepaskannya pelan-pelan.

Kesilauan yang kirana

Penglihatan saya mula-mula sabah, tetapi kini berangsur-angsur menjelas. Masih ada perasaan ingin bergoleran sebentar lagi — lima menit saja — di atas kasur, tetapi saya tidak akan bisa kembali terlelap jikalau mengetahui bahwa saat ini bukan lagi malam yang berkuasa. Bola mata saya kuceki untuk menyingkirkan semua ampas yang tertinggal dari malam tadi, dan saya akhirnya dapat melihatnya semuanya dengan paripurna.

Sinar mentari berkelindan dengan atap dunia untuk mempersembahkan pemandangan yang memanjakan semua jiwa mempergunakan matanya untuk melihatnya. Kredit gambar: Kristína Krúžková.

Sinar mentari berkelindan dengan atap dunia untuk mempersembahkan pemandangan yang memanjakan semua jiwa mempergunakan matanya untuk melihatnya. Kredit gambar: Kristína Krúžková.

Dari balik lengkungan timur butala, saya mengamati sinar yang dihalau beriringan oleh awan. Dengan sungguh mudah, tantangan itu dikalahkan oleh dirinya, yang dapat menunjukkan pancaronanya tanpa perjuangan yang berarti. Waktu berjalan terus, sementara cahaya bintang induk kita makin benderang. Kilauannya makin tampak pula. Tampil warna jingga, yang seperti jeruk mandarin, dan warna kuning, yang kecerahannya lebih menyilaukan. Timbul juga warna putih, yang lebih putih daripada semua putih di atas air dan tanah.

Semua warna tersebut berasal dari hanya satu sumber — matahari — dan bertanding akrab dengan biru langit untuk menghasilkan dwitunggal yang menghipnosis. Tidak sesaat pun awan berhenti, tetapi mata saya terpaku pada perpaduan tersebut, dan sarat saya akan ketenteraman dan kawannya — kenyamanan. Sesekali, saya mengedipkan kelopak mata guna menjaga kelembapan mata sampai saat saya sudah merasa puas dengan semua yang dipandang-pandang di atas sana.

Saya beradu kata dengan diri sendiri sambil memandangi dengan saksama setiap pergerakan di langit. Kekaguman dan keterpanaan — saya merasakan dua hal tersebut di dalam sanubari. Matahari bergerak naik terus dari timur. Terangnya menebas awan tebal penghalangnya — dan terlihat makin berjaya. Ketika sinarnya sudah terlalu cemerlang, mata saya tidak lagi sanggup terpaku bukan karena rasa jenuh menyerang, tetapi insting insani dan keperihan menyuruh saya demikian.

Lantas berberes

Saat pemandangan di atas sana tidak lagi mengenakkan mata dan hati, saya berlanjut dengan membereskan seluruh kekacauan di atas tempat tidur. Kredit gambar: Annie Spratt.

Saat pemandangan di atas sana tidak lagi mengenakkan mata dan hati, saya berlanjut dengan membereskan seluruh kekacauan di atas tempat tidur. Kredit gambar: Annie Spratt.

Pagi ialah sinyal dunia bahwa kita mesti terbangun dari kenyenyakan tidur dan bersiap menjalani hari baru. Jendela telah terbuka — saya membiarkan keadaannya begitu supaya udara dari luar terus menyeimbangkan suhu di dalam ruangan. Bergerak saya dari atas kasur untuk membereskan semua yang berantakan. Bantal ditaruh kembali sesuai tempatnya bagi kepala dan tangan. Seprai diganjal kembali oleh badan tempat tidur. Selimut dilipat cantik dan kemudian ditaruh di atas kasur. Kapal pecah sekarang teratasi.

Setelahnya, saya mengingat perkuliahan. Ya, saya mesti meneruskan hari yang — tidak seperti langit jingga — tidak akan memanjakan saya bahkan sesaat. Seluruh kesadaran saya kembali dari pelariannya dan pulih, tetapi niat saya melanjutkan kegiatan masih mengembara di hutan belantara. Apabila menengok ke belakang, saya berjumpa dengan rasa tenang yang memotivasi tangan saya menuliskan seribu syair sanjungan. Namun, apabila membalikkan kepala ke depan, saya bertemu dengan rasa enggan akan hari yang pasti melelahkan nantinya.

Tugas kuliah menumpuk, tetapi niat saya belum berkumpul. Saya masih mengharapkan lima menit tambahan untuk menjadi saksi akan indahnya langit atau berkelana dalam ruang dan waktu di bawah alam sadar — atau keduanya. Akan tetapi, sebesar apa pun harapan ini, saya akan bergerak ke depan terus. Saya memandang sekelibat ke arah langit, dan menemukan bahwa tampilannya memutih — dan memutih — sebagai pertanda halus dan pasti bahwa dirinya sudah tidak semestinya dilihat dan saya justru mesti terlepas dari keinginan saya.

Setelah corak awan yang tadinya ada sekarang tiada, saya melihat bahwa jam di ponsel genggam saya menunjukkan angka tujuh. Udara pagi sudah cukup saya serap ke dalam tubuh. Sinar mentari sudah tidak enak dirasa. Tubuh saya kini berdiri dengan tegap dan mengarah ke arah pintu kamar tidur. Jalan saya perlahan walau pasti. Gagang pintu dipegang dan bergerak ke arah bawah sesuai cara kerja torsi, dan pemandangan seisi rumah di luar kamar terlihat. Beberapa orang rumah sudah bangun — yang lain tetap terlelap.

Sebagaimana mestinya

Berangkatlah saya ke kamar mandi — di situ, semua hal yang bersangkutan dengan malam hari berakhir dan yang bersangkutan dengan hari baru ini bermula. Saya membersihkan seluruh diri dari tinggalan kemarin, dan saat sudah keluar dari tempat itu, saya langsung mencari pakaian yang sehari penuh akan menemani saya ke mana-mana. Saya melihat diri lewat cermin seraya mengeringkan rambut dengan handuk kering dan merapikan tata letak rambut dengan sisir.

Saya memeriksa pemberitahuan dalam ponsel genggam — siapa tahu ada kabar baik dari lingkup pertemanan saya — dan tidak menemukan hal apa pun yang menarik perhatian. Angka pada jam ponsel genggam saya telah melaju banyak langkah semenjak saya berada di dalam kamar mandi, dan saya berlanjut dengan kegiatan berikutnya, yakni menyarap semangkuk kenikmatan bubur ayam, yang tidak boleh dan tidak mungkin saya lewati, apalagi lupakan. Mata saya kembali melihat langit — hanya mendapati bahwasanya sudah tidak ada lagi yang bisa saya pantau karena terangnya sudah mustahil ditoleransi oleh mata saya.

Bubur ayam tersebut disantap oleh saya dengan sesekali meniupnya untuk menghalau suhu panas yang dapat mengejutkan lidah, dan saya mendapat pemberitahuan pertama saya lewat ponsel genggam — pemberitahuan akan mata kuliah pertama yang akan dilaksanakan pada hari ini. Saya terpaku melihatnya, tetapi saya akan lanjut memikirkannya sesudah satu mangkuk bubur ayam ini dipindahkan semuanya ke dalam saluran pencernaan. Setiap suapan bubur ayam saya nikmati dengan penghayatan. Saat suapan yang kesekian kalinya terjadi, saya melihat hanya kekosongan di mangkuk — dan hasil suapan tersebut akhirnya ditelan.

Mengarah ke dunia luar

Kembali teringat saya akan pemberitahuan tadi — mata kuliah yang hendak memulai hari ini — dan saya merasakan sedikit kemurungan. Pemandangan awang-awang spektakuler sewaktu saya baru bangun, kicauan burung yang berkerumun dan kepakan sayapnya yang memberikan hiburan, perpaduan elok tanpa cacat yang memprotagoniskan dua unsur angkasa raya, kesepoi-sepoian angin yang membersihkan seluruh ampas di dalam paru-paru, dan hipnosis yang disajikan oleh kerja sama semua hal tersebut — tidak ada satu pun kata berbahasa Indonesia yang bisa saya pakai untuk menggambarkan kegembiraan akibat meniliknya.

Sayangnya, semua itu berlalu — dan saya kembali melihat pemberitahuan yang terpampang jelas di atas ponsel genggam. Semua barang perkuliahan dimasukkan oleh saya ke dalam ransel setelah mangkuk bekas saya makan diletakkan di dalam dapur. Tugas yang wajib dikumpulkan paling tidak hari ini tidak pula terlupakan. Sekarang, ransel saya dipenuhi oleh segala benda yang diperlukan untuk perkuliahan — dan cukup berat manakala saya taruh di balik punggung.

Sepasang sepatu saya kenakan untuk kaki. Selama itu, suhu di pekarangan lebih tinggi, sedangkan langit kehilangan pelbagai warna moleknya dan dikuasai oleh keberkilauan yang membakar mata. Saya tidak berminat lagi melihatnya — dan memang begitu seharusnya sesuai akal sehat. Warna jingga dominan tidak lagi menampakkan dirinya; hanya putih polos berada di tempatnya — hal itu tidak membutuhkan konfirmasi oleh saya pribadi.

Pagi tadi, rasanya asyik sekali meskipun tidak ada kelakar dan permainan. Saya melamun sebentar guna mengingat kembali peristiwa beberapa jam lepas sebelum berdiri dari kursi dengan dua sepatu yang sudah terpasang. Langit selesai mengizinkan pukaunya teperlihatkan kepada saya. Hal itu bisa dimengerti oleh saya dengan sedikit resistensi. Namun, apakah yang dapat saya lakukan? Saya memalingkan muka saya dari atas dan berharap bahwa besok pagi, saya bisa kembali mengagungkan pesonanya sekali lagi — dan lagi.


메타데이터
post_id
4dbfbc8498e4
slug
langit-jingga-menyapa-4dbfbc8498e4
url
https://medium.com/@nicholasmhalim/langit-jingga-menyapa-4dbfbc8498e4
canonical_url
https://medium.com/@nicholasmhalim/langit-jingga-menyapa-4dbfbc8498e4
author_url
https://medium.com/@nicholasmhalim
status
ok
fetched_at
2026-06-20 20:29:01