← Back to list

Kepentingan Komersial vs Tanggung Jawab Sosial: Dilema Etika dalam Periklanan Anak

Aqillah Ega Prayoga Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang Email: aqillahega146@gmail.com

Aqillah Ega · 2025-07-03 05:37 · 0 claps · 5.6 min read
#sosial-media-marketing #iklan-online #anak-anak #etika-periklanan
Open on Medium ↗
Wiki topics: ECO · Economy · General

Kepentingan Komersial vs Tanggung Jawab Sosial: Dilema Etika dalam Periklanan Anak

Aqillah Ega Prayoga Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang Email: aqillahega146@gmail.com

Abstrak

Iklan yang ditujukan kepada anak-anak menjadi isu etika yang kompleks dalam dunia pemasaran saat ini. Perusahaan memiliki dorongan untuk memperluas jangkauan pasar melalui konsumen usia dini, namun hal ini berbenturan dengan kenyataan bahwa anak-anak adalah kelompok yang belum memiliki kemampuan berpikir kritis untuk menilai pesan-pesan komersial. Artikel ini membahas konflik antara tujuan bisnis dan tanggung jawab sosial dalam konteks periklanan anak. Dengan pendekatan kajian literatur, tulisan ini menyoroti prinsip-prinsip dasar dalam etika periklanan seperti kejujuran, penghormatan terhadap hak anak, dan kewajiban moral perusahaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa periklanan yang tidak memperhatikan etika dapat memengaruhi perkembangan nilai dan perilaku konsumsi anak secara negatif. Karena itu, diperlukan sistem regulasi yang kuat, penerapan kode etik periklanan, serta keterlibatan aktif masyarakat untuk memastikan praktik iklan yang lebih bertanggung jawab terhadap anak sebagai audiens yang rentan. Kata Kunci: etika periklanan, anak-anak, tanggung jawab sosial, kepentingan komersial, konsumen rentan

Abstract

Advertisements aimed at children have become a complex ethical issue in today’s marketing world. Companies have an urge to expand market reach through young consumers, but this clashes with the reality that children are a group that lacks the critical thinking skills to evaluate commercial messages. This article discusses the conflict between business objectives and social responsibility in the context of children’s advertising. Using a literature review approach, this writing highlights fundamental principles in advertising ethics such as honesty, respect for children’s rights, and the moral obligations of companies. The study’s findings indicate that advertising that does not adhere to ethics can negatively affect the development of children’s values andconsumption behaviors. Therefore, a strong regulatory system, the implementation of advertising codes of ethics, and active community involvement are needed to ensure more responsible advertising practices toward children as a vulnerable audience. Keywords: advertising ethics, children, social responsibility, commercial interest, vulnerable consumers

1. Pendahuluan

Dalam era persaingan bisnis yang semakin ketat, banyak perusahaan terus berlomba-lomba untuk memperluas jangkauan market mereka. Salah satu pendekatan yang sering digunakan yaitu menyasar anak-anak sebagai target dalam strategi periklanan. Anak-anak dipandang sebagai konsumen potensial karena memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian keluarga serta berpotensi menjadi konsumen setia di masa depan. Namun, strategi ini tidak lepas dari kontroversi etika yang perlu mendapat perhatian serius. Anak-anak berada pada tahap perkembangan yang belum matang secara kognitif maupun emosional. Hal ini membuat mereka lebih mudah terpengaruh oleh konten visual dan pesan iklan yang menarik tanpa mampu memahami maksud komersial di baliknya. Ketidakmampuan ini membuat mereka menjadi sasaran yang rentan terhadap berbagai bentuk pengaruh persuasif dalam periklanan. Masalah etis muncul ketika kepentingan bisnis perusahaan berbenturan dengan tanggung jawab sosial terhadap perlindungan anak. Di satu sisi, perusahaan berusaha menarik perhatian konsumen muda untuk meningkatkan penjualan. Di sisi lain, mereka diharapkan mampu menjaga integritas moral dengan tidak mengeksploitasi kelemahan anak-anak sebagai audiens. Periklanan yang tidak mempertimbangkan aspek etis dapat memunculkan pola konsumtif sejak dini dan memengaruhi perkembangan nilai serta perilaku anak. Oleh sebab itu, penting untuk membahas bagaimana prinsip-prinsip etika, seperti kejujuran, penghargaan terhadap martabat anak, dan tanggung jawab sosial, diterapkan dalam praktik periklanan. Selain itu, peran pemerintah, lembaga pengawas, dan partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan dalam mengawal praktik iklan yang lebih adil, bertanggung jawab, dan layak untuk anak-anak sebagai bagian dari generasi penerus.

2. Kajian Literatur

2.1. Etika dalam Periklanan

Etika periklanan merupakan seperangkat nilai moral yang mengatur bagaimana pesan promosi disusun dan disampaikan kepada khalayak. Menurut Bertens (2000), iklan tidak hanya bersifat memberi informasi, tetapi juga sangat kuat unsur persuasinya. Karena itu, periklanan sering kali tidak netral dan berpotensi menyesatkan, terutama jika informasi yang disajikan tidak sesuai kenyataan. Dalam perspektif etis, iklan seharusnya memberikan informasi yang akurat dan mencerminkan kenyataan, serta tidak mengeksploitasi kelemahan atau ketidaktahuan audiens, apalagi anak-anak.

2.2. Prinsip Moral dalam Iklan

Keraf (1993) dan Bertens (2000) mengemukakan bahwa dalam menilai etika sebuah iklan, setidaknya ada tiga prinsip utama yang perlu diperhatikan:

  • Kejujuran: Iklan harus menyampaikan fakta secara utuh, tanpa manipulasi atau mengaburkan informasi penting.
  • Penghormatan terhadap individu: Konsumen, termasuk anak-anak, harus dipandang sebagai subjek yang memiliki hak, bukan sekadar target pasar.
  • Tanggung jawab terhadap masyarakat: Periklanan semestinya mempertimbangkan dampak sosial yang ditimbulkan, baik terhadap norma budaya maupun kesejahteraan psikologis masyarakat luas.

Prinsip-prinsip tersebut menjadi dasar penting dalam menyeimbangkan strategi pemasaran dengan nilai-nilai etis yang layak dijunjung.

2.3. Anak dalam Posisi Rentan sebagai Konsumen

Dari sisi perkembangan psikologis, anak-anak berada dalam fase pertumbuhan di mana kemampuan berpikir kritis dan logika belum berkembang optimal. Subroto (2017) menyatakan bahwa anak belum mampu membedakan antara iklan sebagai informasi dan sebagai alat bujukan. Kondisi ini menjadikan anak sebagai sasaran yang mudah dipengaruhi oleh pesan visual, karakter animasi, atau slogan yang dirancang secara persuasif. Tanpa perlindungan etis, periklanan yang ditujukan kepada anak-anak dapat mengarah pada eksploitasi psikologis yang membentuk kebiasaan konsumtif yang berlebihan sejak dini.

2.4. Komitmen Sosial Perusahaan

Konsep tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) menekankan bahwa bisnis seharusnya tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga mempertimbangkan dampak moral dan sosial dari setiap keputusan yang diambil, termasuk dalam periklanan. Penerapan CSR dalam periklanan mencakup keterbukaan informasi, pemilihan waktu dan media yang sesuai, serta kepatuhan terhadap regulasi etika. Keraf (1993) menegaskan bahwa perusahaan yang menjunjung tinggi prinsip sosial dan etika akan memperoleh reputasi baik serta kepercayaan dari publik, yang pada akhirnya menguntungkan secara jangka panjang.

3. Pembahasan

platform digital, iklan disampaikan dengan cara yang sangat menarik. Mulai dari tokoh animasi, warna cerah, hingga lagu-lagu yang menyenangkan. Semua itu dirancang untuk menarik perhatian dan membangkitkan rasa ingin memiliki. Namun, anak-anak belum memiliki kemampuan berpikir kritis yang cukup. Mereka belum bisa menilai apakah informasi dalam iklan bisa dipercaya atau tidak. Banyak dari mereka belum memahami bahwa iklan dibuat untuk mendorong orang membeli. Akibatnya, mereka cenderung menerima pesan iklan apa adanya, lalu menyampaikannya kepada orang tua dalam bentuk permintaan yang sering kali berlebihan. Yang juga menjadi perhatian adalah bagaimana iklan ini hadir di keseharian mereka. Anak-anak kini lebih sering mengakses YouTube, media sosial, dan aplikasi permainan. Di tempat-tempat ini, iklan muncul secara otomatis, bahkan terselip di tengah-tengah tontonan yang mereka sukai. Tanpa disadari, anak-anak bisa menyerap banyak sekali pesan komersial dalam waktu singkat, tanpa pengawasan langsung. Sebagian perusahaan menyadari bahwa pendekatan semacam ini bisa memberikan hasil yang cepat. Tapi saat produk yang dijual sebenarnya berisiko atau tidak sesuai untuk anak-anak, misalnya makanan tidak sehat atau aplikasi yang tidak ramah anak, maka hal itu menimbulkan pertanyaan. Apakah tujuan bisnis benar-benar lebih penting dibanding dampaknya terhadap perkembangan anak? Beruntung, kesadaran masyarakat mulai tumbuh. Orang tua kini lebih selektif dan peduli terhadap apa yang dikonsumsi anak mereka secara visual. Banyak yang mulai memfilter konten dan bertanya tentang pesan yang muncul di layar. Selain itu, lembaga-lembaga pengawas juga mulai menegakkan aturan yang lebih tegas. Tak sedikit pula masyarakat yang menyuarakan kritik terhadap iklan yang dinilai berlebihan atau menyesatkan. Dari sini kita bisa melihat bahwa periklanan anak bukan hanya soal strategi penjualan. Ini juga soal tanggung jawab. Bagaimana pesan disampaikan, siapa yang menjadi sasaran, dan apa dampaknya harus dipertimbangkan dengan matang. Anak-anak tidak boleh dijadikan sasaran utama dalam kampanye yang tujuannya hanya untuk meraup untung. Sebaliknya, mereka harus dilindungi dari pengaruh berlebihan, agar bisa tumbuh dengan pemahaman dan nilai yang sehat.

4. Kesimpulan

Periklanan yang ditujukan kepada anak-anak seharusnya tidak hanya dipandang sebagai strategi bisnis, tetapi juga sebagai bentuk komunikasi yang memerlukan tanggung jawab etis. Anak-anak berada dalam masa perkembangan yang membuat mereka belum sepenuhnya mampu memahami maksud di balik pesan iklan. Ketika iklan dibuat untuk menarik perhatian mereka tanpa mempertimbangkan batasan usia dan pemahaman, dampaknya bisa cukup serius, baik secara psikologis maupun sosial. Memasarkan produk tentu menjadi hak setiap perusahaan. Namun, ketika anak-anak menjadi targetnya, ada nilai-nilai yang harus dijaga. Informasi yang disampaikan dalam iklan perlu disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka, bukan justru memanfaatkan kelemahan mereka untuk mendorong konsumsi yang berlebihan.

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K. (2000). Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Keraf, S. (1993). Etika Bisnis: Tuntutan dan Relevansinya. Yogyakarta: Kanisius. Subroto, H. (2017). Komunikasi dan Anak: Perspektif Psikologi Perkembangan. Jakarta: Prenadamedia Group. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). (2020). Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). UNICEF Indonesia. (2019). Panduan Hak Anak dan Periklanan. Jakarta. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). (2021). Iklan dan Perlindungan Konsumen Anak: Laporan Pemantauan. Jakarta. Putri, R., & Andriani, T. (2021). “Etika Iklan Komersial terhadap Anak dalam Era Digital.” Jurnal Komunikasi dan Media, 13(2), 55–64. Rahmawati, N. (2022). “Periklanan Anak dan Peran Orang Tua dalam Mengontrol Konsumsi Media.” Media Cerdas Anak, 5(1), 23–30.

Catatan Tambahan Sumber

Untuk tambahan referensi mengenai peran orang tua dalam mengawasi media digital:

Rahmania, K. (2025). Peran Orang Tua Dalam Mendampingi Anak Yang Terpengaruh Oleh Gadget. ALMURTAJA: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 3(1), 23–29. DOI: https://doi.org/10.58518/0efk5h54 Mayasari. (2023). Aspek Perlindungan Anak dalam Iklan Televisi: Kajian Terhadap Iklan Televisi Yang Melanggar Kode Etik Periklanan. Rekam, 10(1). DOI: https://doi.org/10.24821/rekam.v10i1.3247


메타데이터
post_id
4dca04685fa2
slug
kepentingan-komersial-vs-tanggung-jawab-sosial-dilema-etika-dalam-periklanan-anak-4dca04685fa2
url
https://medium.com/@aqillahega146/kepentingan-komersial-vs-tanggung-jawab-sosial-dilema-etika-dalam-periklanan-anak-4dca04685fa2
canonical_url
https://medium.com/@aqillahega146/kepentingan-komersial-vs-tanggung-jawab-sosial-dilema-etika-dalam-periklanan-anak-4dca04685fa2
author_url
https://medium.com/@aqillahega146
status
ok
fetched_at
2026-08-15 07:23:29