Sebelum Peluit Panjang
Di Antara Angka dan Waktu
Sebelum Peluit Panjang
Di Antara Angka dan Waktu

Foto oleh Dmitry Ant di Unsplash
Papan skor menunjukkan 2–0 untuk Mesir. Sorak-sorai membahana di satu sisi stadion, sementara di sisi lain wajah-wajah pendukung Argentina membeku. Sebagian menutup wajah dengan kedua tangan. Pertandingan memasuki menit ke 67. Waktu terus berjalan. Papan skor tetap bergeming.
Dalam keadaan seperti itu, perhatian sering kali lebih tertuju pada papan skor daripada kepada lawan. Papan itu seolah mengatakan: kamu tertinggal. Dua gol. Angka yang terasa sangat berat. Sedang waktu semakin mendekati peluit panjang.
Pertandingan terus berlanjut. Bola mengalir cepat dari kaki ke kaki. Setiap kali kehilangan penguasaan, mereka segera merebutnya kembali. Hingga pada menit ke 79, sundulan pemain Argentina berhasil menjebol gawang Mesir.
Papan skor berubah menjadi 2–1. Mesir masih memimpin. Tetapi angka itu tak lagi terlihat setinggi beberapa menit sebelumnya.
Nama Argentina diteriakkan berulang-ulang. Di tengah sorak-sorai itu, wajah-wajah yang beberapa menit lalu dipenuhi kegembiraan kini hanya bisa memandang lapangan tanpa suara.
Tak lama kemudian papan skor kembali berubah. Kini angkanya sama: 2–2. Sorak-sorai membahana memenuhi stadion. Waktu terus berjalan. Hingga memasuki injury time. Sebuah sundulan dari pemain Argentina menambah angka di papan skor. Kini kedudukan berubah menjadi 3–2 untuk Argentina.
Dan, peluit panjang wasit mengakhiri pertandingan.
Tetapi ada yang belum berakhir. Papan skor itu masih berada dalam pikiranku. Saat ia menunjukkan angka 2–0.
Entah mengapa, angka itu terasa begitu akrab.
Aku pernah berada di posisi itu, tetapi bukan di lapangan bola. Ketika usiaku sudah tak lagi muda, tetapi pencapaian masih minim. Ketika rumah harus segera direnovasi, tetapi biaya terasa mustahil diwujudkan. Ketika anak-anak harus meneruskan sekolah tinggi secara bersamaan, tetapi dukungan finansial jauh dari siap.
Bukan semata angka 2–0 itu yang aku ingat. Yang lebih kuingat adalah rasa lelah mengejar angka itu. Waktu terus berjalan, sementara angka tak kunjung berubah. Dalam keadaan seperti itu papan skor lebih meyakinkan daripada harapan.
Dari pertandingan itu aku menyadari satu hal. Sering kali aku ingin menyerah lebih dulu kepada papan skor, jauh sebelum wasit meniup peluit panjang. Sering kali kemungkinan lain tertutup oleh angka yang terus memenuhi pikiran.
Barangkali aku masih tertinggal dua gol. Tetapi peluit panjang belum berbunyi.
메타데이터
- post_id
- 4dee8a8790d9
- slug
- sebelum-peluit-panjang-4dee8a8790d9
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/sebelum-peluit-panjang-4dee8a8790d9
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/sebelum-peluit-panjang-4dee8a8790d9
- author_url
- https://medium.com/@heripurnomodsc
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 20:05:18