Aku dan Teh Hijau
Ternyata ada musim yang membuatku percaya bahwa aku sudah sembuh. Lalu ketika musim itu selesai, aku marah bukan karena ia pergi, tetapi…
Aku dan Teh Hijau
Ternyata ada musim yang membuatku percaya bahwa aku sudah sembuh. Lalu ketika musim itu selesai, aku marah bukan karena ia pergi, tetapi karena aku harus menerima bahwa tidak semua musim diciptakan untuk menetap.
[embed]
Aku sempat mengira Tuhan sedang mengembalikan fungsi hatiku.
Setelah hubungan panjang yang kandas itu, aku pikir jantungku hanya akan bekerja sebagaimana mestinya: memompa darah. Tidak lebih. Urusan berbunga-bunga, biarlah menjadi cerita orang lain.
Lalu datanglah seseorang.
Tidak mengetuk. Tidak meminta izin. Tahu-tahu sudah membuat notifikasi WhatsApp terasa seperti kabar yang layak ditunggu.
Aneh sekali. Dulu aku mengira telepon berjam-jam adalah aktivitas yang hanya dilakukan anak SMP yang baru pacaran. Nyatanya, orang dewasa juga bisa. Bedanya, sekarang sambil membahas hidup, pekerjaan, trauma masa lalu, sampai tiba-tiba mengantuk di ujung sambungan.
Aku bahkan mulai berani melakukan sesuatu yang dulu paling kutakuti yaitu menjadi manusia yang mudah berharap.
Lucu ya.
Manusia memang makhluk yang mudah lupa. Baru saja habis dijahit semesta, sudah sibuk mencari gunting baru.
Musim itu menyenangkan.
Hangat. Ringan. Rasanya seperti matahari bulan Juni yang tidak terlalu terik, tapi cukup membuatmu ingin lebih lama berada di luar rumah.
Lalu… selesai.
Tidak ada ledakan. Tidak ada pengkhianatan kelas berat. Tidak ada adegan dramatis seperti sinetron pukul tujuh malam. Hanya sebuah akhir. Dan rupanya, sebuah akhir tetap bisa membuat dada sesak meski tidak ada tokoh antagonisnya.
Yang paling membuatku kesal justru bukan kepergiannya. Melainkan investasi emosional yang terlanjur kutanam.
Bayangkan.
Puluhan jam telepon.
Ratusan pesan.
Sekian banyak keberanian yang kukumpulkan sedikit demi sedikit untuk berkata pada diriku sendiri, “Tidak apa-apa, Alfien. Coba lagi.”
Eh, ternyata semesta menjawab, “Terima kasih sudah mencoba.”
Lho?
Begitu saja?
Rasanya seperti membeli tiket konser, sudah hafal semua lagu, sudah berdandan rapi, lalu diumumkan bahwa acaranya dibatalkan karena cuaca. Refund ada. Tapi pengalaman yang sudah dibayangkan tidak ikut kembali.
Lalu, beberapa hari kemudian, Tulus merilis lagu Teh Hijau.
Aku tidak tahu apakah algoritma Spotify sedang bersekongkol dengan semesta, atau semesta memang berlangganan Spotify Premium. Yang jelas, lagu itu datang di waktu yang sangat mencurigakan.
Ada kalanya kita memang sedang tidak bisa membuka hati. Bukan karena membenci cinta. Bukan karena dendam kepada seseorang. Melainkan karena hati sedang sibuk mengepel dirinya sendiri.
Dan ternyata itu tidak apa-apa.
Selama ini kita terlalu sering memaksa setiap orang yang datang menjadi “orang yang tepat.”
Padahal, mungkin mereka hanya musim.
Musim panas tidak gagal hanya karena berganti hujan.
Musim hujan tidak salah hanya karena akhirnya selesai.
Begitu pula seseorang. Tidak semua orang hadir untuk tinggal. Sebagian hanya datang untuk membuktikan bahwa hatimu ternyata masih hidup. Bahwa setelah sekian lama mati rasa, kamu masih bisa tertawa sampai lupa waktu. Masih bisa deg-degan menunggu balasan. Masih bisa menyusun masa depan dalam kepala, meski akhirnya hanya bertahan sebagai when yah.
Dan itu, kupikir, bukan kegagalan.
Itu healing wkwkwkwkwk.
Jadi hari ini aku memilih untuk tidak mengutuk musim panas itu. Aku hanya sedang belajar menerima bahwa beberapa musim memang datang bukan untuk dimiliki. Mereka datang agar kita tahu, pohon yang sempat kering ternyata masih mampu menumbuhkan daun.
Sisanya?
Ya sudah.
Barangkali benar seperti yang kurasakan setelah mendengar Teh Hijau bahwa mungkin ini memang siklusnya. Dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak sedang mengejar seseorang. Aku sedang belajar menikmati secangkir teh hijau, lalu membiarkan waktu bekerja sebagaimana mestinya.
Kalau memang semesta sedang mengajariku sesuatu, semoga pelajaran berikutnya tidak lagi berbentuk manusia.
Kalau bisa… berbentuk rezeki saja.
Dan setelah semua pelajaran itu, doa yang kupanjatkan ternyata sederhana,
Ya Tuhan, hindarkan hamba dari pria bingung. Sebab patah hati masih bisa sembuh, tetapi menjadi tempat singgah bagi seseorang yang tak pernah tahu ingin ke mana adalah jenis lelah yang lain.
메타데이터
- post_id
- 4e25bcedbf15
- slug
- aku-dan-teh-hijau-4e25bcedbf15
- url
- https://medium.com/@1000journey/aku-dan-teh-hijau-4e25bcedbf15
- canonical_url
- https://medium.com/@1000journey/aku-dan-teh-hijau-4e25bcedbf15
- author_url
- https://medium.com/@1000journey
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 13:10:46