← Back to list

Antara Doa dan Prasangka

Sebab, kepulangan seseorang selalu meninggalkan dua hal: doa yang melangit, atau prasangka yang menetap.

A. · 2026-04-16 18:18 · 1 claps · 1.5 min read
#poetry #self-reflection #sastra #life
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Antara Doa dan Prasangka

Sebab, kepulangan seseorang selalu meninggalkan dua hal: doa yang melangit, atau prasangka yang menetap.

Bagaimana jika ku lepas sukmaku hari ini? Kubiarkan ia luruh bersama amarah yang kian mendingin, lalu memintanya mengalunkan seuntai kenangan yang paling sunyi.

Sejatinya, aku kerap bertanya pada Bumantara; akankah surya memilih untuk menenggelamkan diri dengan khidmat layaknya aku, atau sudikah ia berendam barang lima menit saja — demi menyaksikan langkah terakhirku menuju nirwana?

Kabarnya, sedari kepulanganku sore yang lampau itu, cahaya mentari tak lagi mampu menyusup melalui celah.

Ruang itu seolah sedang berkabung; ada seseorang yang sengaja menyekap udara di sana, merampas segala jalan keluar hanya agar arumi tubuhku tetap meruang dan terjebak, meski hanya sekedar menjadi jejak bisu — di sudut ruang kamar mandi.

Aku tak mengerti mengapa ia begitu gigih merawat hangatku yang kian fana, padahal seingatku — botol parfum yang kubeli minggu lalu itu masih terlampau penuh, seakan menolak untuk lekas usai.

Mungkin setelah semua berlalu, hujan akan kembali jatuh sebagaimana mestinya —

Ia kembali menyapu debu-debu di jalan raya, membasahi lamat-lamat gerobak kaki lima di sudut buana, dan melarutkan sisa anyir yang entah dari mana asalnya.

Segalanya akan terasa baik-baik saja, bukan?

Dan mungkin, badut di pinggir jalan yang selalu kuberi lembaran itu akan mengira aku telah menemukan jalan pulang — persis seperti aksara yang telah kukatakan padanya kala itu.

Barangkali ia melangitkan asa lebih lama, merayu Tuhan agar sudi mempertemukan kami kembali di sudut buana yang tak terduga, demi selembar uang yang sama.

Lain halnya dengan kedai kopi yang terletak di pelantaran kampus itu; mungkin ia akan merawat prasangka bahwa aku telah menemukan secangkir kopi yang jauh lebih nikmat dari miliknya, sebab — aku tak pernah lagi tampak sejak sore itu.

Namun, tak menutup lara bila kepulanganku sore itu justru menjadi alasan bagi seseorang untuk tertawa lebih nyaring, bernapas lebih lega, atau membuat daksanya tak lagi berat untuk melangkah seperti sediakala.

Nanti, saat sore itu tiba — kala jiwa sudah berulang menjadi lelah, kalbu meminta supaya kembali ke tanah.

Janganlah engkau lupa untuk menyekar beberapa bait frasa di atas makam kalbuku.


메타데이터
post_id
4e293eac4f7c
slug
antara-doa-dan-prasangka-4e293eac4f7c
url
https://medium.com/@rrakhz/antara-doa-dan-prasangka-4e293eac4f7c
canonical_url
https://medium.com/@rrakhz/antara-doa-dan-prasangka-4e293eac4f7c
author_url
https://medium.com/@rrakhz
status
ok
fetched_at
2026-06-11 21:11:36