3 FATES UNDER 1 THRONE | 04
Istana kembali tenang setelah beberapa hari-hari diwarnai ketegangan — permasalahan politik, aturan baru istana yang semakin menyusahkah…
3 FATES UNDER 1 THRONE | 04

Istana kembali tenang setelah beberapa hari-hari diwarnai ketegangan — permasalahan politik, aturan baru istana yang semakin menyusahkah, juga kondisi sang putra mahkota pasca terkena racun.
Bukan hal yang baik untuk dibahas. Tapi setidaknya, Minho bisa bernapas lega karena hari-hari berat itu sudah lewat. Meski… masih ada seuatu yang mengganjal di dadanya.
Minho melangkah menyusuri lorong batu dengan nampan di kedua tangannya, berisi semangkuk sup hangat, nasi lembek yang dimasak khusus, dan ramuan pahit yang aromanya tak pernah ia sukai — tapi selalu ia pastikan diminum Hyunjin. Ia berhenti tepat di depan pintu kamar Hyunjin.
Baru saja hendak mengetuk, pintu itu terbuka lebih dulu.
“Selamat pagi, Minho!”
Hyunjin muncul dari balik pintu dengan wajah cerah, yang jujur saja membuat Minho terpaku sepersekian detik. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi matanya berbinar. Dan… ia tersenyum manis sekali. Sudah tidak nampak lagi sisa sakit akibat racun itu.
“Kau mau ke mana?” tanya Minho.
“Keluar,” jawab Hyunjin enteng. “Aku bosan di kamar terus.”
“Kau baru saja sembuh,” dengus Minho. “Tabib bilang kau harus — ”
“Aku tahu.” Hyunjin melangkah mendekat lalu merangkul bahu pemuda itu dengan lengan kiri. “Tapi Minho, aku sudah baik-baik saja.”
“Lukamu belum benar-benar — ”
“Sudah membaik,” sahut Hyunjin cepat. Ia mengangkat sedikit lengan kanannya yang masih diperban rapi. “Tidak sakit lagi.”
Minho menatap perban itu lama. Ingatannya melayang pada warna hitam samar di tepi luka itu beberapa hari lalu. Bau getirnya, juga Hyunjin yang kesakitan waktu itu. Kata-kata tabib istana terngiang kembali di kepalanya, sewaktu memeriksa salep racikannya yang Seungmin diberikan pada Hyunjin. Tabib bilang racunnya bukan bisa alami atau efek samping ramuan. Ada bahan lain yang sengaja dimasukkan. Racun olahan.
Minho tak bisa berhenti memikirkan itu. Ia juga jadi semakin mencurigai Seungmin karenanya.
“Kau dengar aku kan, Minho?” Hyunjin menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Minho..
Pemuda itu tersentak. “Eh? I-iya,” balasnya cepat. “Kalau ingin keluar, setidaknya makan dulu.”
“Justru itu,” Hyunjin tersenyum lebar. “Aku ingin mengajakmu melakukan sesuatu.”
“Melakukan apa?”
“Ikut saja. Nanti kau juga tahu sendiri.” Hyunjin beralih menggandeng tangan Minho. Ia juga menyuruh pelayannya membawakan makanan yang tadi hendak diantar Minho untuknya.
Mereka berjalan berdampingan menuju taman kecil yang tersembunyi di sisi timur bangunan. Sebuah sudut hijau yang jarang dipakai, dengan pohon rendah dan bunga liar yang tumbuh di sekeliling. Ketika mereka sampai, Minho baru menyadari ada seseorang lagi di sana.
Seungmin.
Lelaki itu sudah lebih dulu datang, kini tampak merapikan alas kain di atas rumput dan menata meja kecil dari kayu. Ia menoleh. “Oh, kalian sudah sampai,” katanya.
Minho tidak menjawab.
Ia hanya mengambil alih nampan yang semula dibawa pelayan dan meletakkannya ke meja dengan sedikit lebih keras, lalu duduk tanpa menatap Seungmin sama sekali.
Hyunjin, yang tidak menyadari apa-apa, duduk di antara mereka dengan senyum puas. “Nah! Berhubung kita sarapan di satu meja,” Ia menepuk pelan dan menyatukan kedua tangannya. “Jadi, alangkah baiknya kalau kita juga saling berbagi makanan.”
Hyunjin langsung mengambil dua buah piring dan mangkuk kosong lalu membagi rata bubur nasi hambar, lauk tanpa rasa, juga sup pahit miliknya pada Seungmin dan Minho juga.
“Hei! Mana bisa begitu?!” ucap Minho tak terima. “Kau harus menghabiskan semua makananmu itu ya, pangeran.”
Hyunjin mencebikkan bibir mendengar itu. “Ayolah. Sekali saja. Ini perintah!” Ia mendengus pelan. “Biar kalian tahu betapa tidak enaknya makanan ini.”
Minho melirik malas. “Terus?”
“Y-ya, biar kau tidak memberiku makanan seperti ini terus lah!”
“Ini juga untuk kebaikanmu, pangeran. Agar kau cepat sembuh.”
“Aku sudah baik-baik saja. Benar, kan, Seungmin?” Hyunjin menyenggol Seungmin, bermaksud meminta bantuan.
“Iya. Tentu saja,” jawab Seungmin cepat. “Lihat saja tingkahnya.”
Bola mata Minho merotasi. “Terserahlah.”
Mereka mulai makan. Sendok sejujurnya, tak ada yang benar-benar lahap memakan hidangan itu. Karena memang benar kata Hyunjin, makanannya sangat tidak enak. Kalau tidak hambar ya pahit.
“Astaga, makanan ini,” gumam Minho.
Hyunjin menyeringai. “Kubilang juga apa?”
“Aku tidak bilang makanan ini tidak enak,” semprot Minho. Masih enggan jujur, agar bisa terus memaksa Hyunjin memakan bubur dan sup obat ini sampai sang pangeran sembuh total. “Habiskan makananmu.”
“Iya. Iya,” serah Hyunjin.
.
“Minho,” ujar Hyunjin tiba-tiba di sela makan. “Aku sudah memikirkannya.” Suaranya sedikit pelan agar tak terdengar oleh Seungmin yang pergi sebentar mengambil air.
Minho mengangkat kepala. “Tentang?”
“Seungmin,” jawab Hyunjin sambil menoleh ke arah lelaki itu. “Dia bisa diandalkan. Dan… aku ingin menjadikannya pengawal pribadiku.”
Minho yang baru saja menyesap sup langsung tersedak. Bahunya terguncang saking kerasnya batuk itu. Sungguh! Ia betulan kaget sampai rasanya semua sup yang barusan diseruputnya tersesat ke paru-paru. “Apa — kau — ”
Hyunjin langsung menepuk pelan punggung Minho, meredakan batuknya. “Pelan-pelan.”
Seungmin yang menyadari itu juga dengan segera memberikan air kepada Minho. Tapi Minho sudah mengangkat tangan, memberi isyarat kalau ia tak memerlukan itu. Setelah beberapa saat, batuknya mereda.
“Apa,” kata Minho serak, sorotnya tajam ke arah Hyunjin. “Yang barusan kau katakan? Apa kau sudh gila hah?!”
“Hah? Apa aku sudah gila? Memangnya aku kenapa?” Hyunjin balik bertanya. “Tunggu dulu, aku baru sadar satu hal. Kenapa kau jadi sensi begini pada Seungmin? Apa kalian sedang marahan?”
Minho tidak langsung menjawab.
“Kau marah padaku?” Seungmin juga ikutan bertanya. “Apa gara-gara aku hampir menepuk nyamuk di tanganmu itu?”
“Nyamuk?” Hyunjin jadi semakin bingung dibuatnya.
“Ah! Sudahlah lupakan saja!” Minho bangkit dari tempat duduk dan melangkah cepat meninggalkan mereka.
Seungmin berjalan sendirian di lorong sepi dekat dapur istana seusai mengembalikan peralatan makan yang tadi Hyunjin pakai. Langkahnya tenang, sampai ketika sampai di belokan —
Sebuah tangan muncul dan menarik kerah bajunya ke dinding. Ujung belati dingin — yang dibawa orang itu — menempel tepat di bawah rahangnya.
Seungmin tersentak, tapi hanya sepersekian detik. Setelah itu… ia hanya diam. Tidak berteriak ataupun melawan. Matanya menatap lurus ke wajah Minho yang tegang.
“Apa niatmu sebenarnya?” ucap Minho dengan mengeratkan rahang.
Belati itu sedikit ditekan. Cukup untuk membuat kulit terasa perih.
“Salep itu… kau kan yang menambahkan racun ke dalamnya?” Minho mendesis. “Dan soal Hyunjin, kenapa kau selalu ada di dekatnya? Tidakkah kau memiliki perkerjaan lain di istana ini hah? Aku membiarkanmu masuk karena mengira kau membutuhkan pekerjaan, tapi apa yang malah kau lakukan ini?!”
Seungmin menatap belati itu. Lalu menghela napas pelan. “Kau sudah punya jawabannya sendiri sejak awal, bukan?”
“Apa… apa maksudmu?!” Tangan Minho gemetar. Ia ingin menekan lebih keras, tapi belati itu justru bergetar dan nyaris jatuh.
Seungmin mengangkat tangannya perlahan. Dua jari menyentuh sisi belati itu lalu menurunkannya.
“Aku tidak akan menjawab itu sekarang,” kata Seungmin tenang. “Aku masih punya urusan dengan pangeran.”
Minho membeku. “Urusan apa?”
Seungmin melangkah pergi, melewati Minho begitu saja. “Perpustakaan istana,” katanya tanpa menoleh. “Cepatlah menyusul atau kau akan melewatkan keseruannya.”
Minho berdiri terpaku beberapa saat.
Perpustakaan istana.
Tidak. Bukan perpustakaan.
Ruangan itu sudah lama ditutup. Buku-buku penting dipindahkan. Yang tersisa hanya rak-rak tua, debu, dokumen tak terpakai. Ruangan itu sudah menjadi ruang arsip lama yang bahkan pelayan jarang datangi, nyaris seperti gudang.
Tempat yang sempurna untuk —
“Tidak.”
Minho berbalik tajam. Ia langsung berlari, langkahnya menggema di lorong-lorong istana. Di kepalanya, pikiran buruk dan ketakutan terus bermunculan.
.
Minho berhenti di depan perpustakaan istana dengan napas tersengal. Ia lanjut berlari menyusuri ruangan sunyi, gelap, dan dipenuhi debu itu sambil terus meneriaki nama Hyunjin.
“Hyunjin, kau dimana?!” Langkah Minho tak bisa diam. Ia terus menoleh kesana-kemari.
Sebuah suara benda jatuh sontak mengalihkan atensi Minho. Pemuda itu bergegas ke sumber suara.
Ia mendapati Hyunjin terduduk disana… dengan pakaian kotor penuh debu juga kening yang sedikit memar.
“Astaga!” Minho langsung berlutut di dekat sang pangeran. “Apa…apa kau baik-baik saja?” Tangannya panik meraba-raba kepala, pipi, hingga bahu Hyunjin, mengecek barangkali ada luka lain.
“Hei, kau ini kenapa? Aku baik-baik saja, Minho,” bingung Hyunjin.
“Kau tidak — ”
“Kenapa kalian malah duduk disitu?” tanya Seungmin yang baru saja mendekat. Tampak ada sapu dan kain lap di tangannya.
“Apa yang kau bawa itu?” tanya Minho. Sungguh! Ia sedari tadi sudah ketakutan kalau Seungmin akan menggunakan senjata tajam dan berbuat yang macam-macam dengan Hyunjin. Tapi, apa yang barusan ia lihat itu sapu?
“Ohh. Ini untuk bersih-bersih,” jawab Seungmin.
“Bersih-bersih?”
“Ruangan ini sudha lama tak terpakai, padahal letaknya strategis dan pemadangannya bagus. Jadi, aku ingin mengubahnya jadi ruang pribadiku. Aku akan melukis, berlatih panah, dan melakukan apapun disini.” Hyunjin menjelaskan.
“Aku tadi jatuh dan — argh,” Ia mendesis pelan ketika menekan memar di pelipisnya. “Kotak kayu yang ingin kuambil tadi jatuh dan menimpa wajahku. Makanya aku jatuh dan seperti yang kalian lihat, wajah rupawanku jadi memar begini.” Ia menunjuk pelipisnya.
Akhirnya, mereka bertiga pun membersihkan ruangan itu bersama-sama.
Hyunjin merapikan barang-barang kecil — karena belum sepenuhnya pulih jadi Minho melarangnya melakukan pekerjaan yang lebih berat. Minho yang menyapu ruangan, sementara Seungmin sibuk memindahkan peti kayu serta barang-barang yang ukurannya lebih besar.
Minho dan Seungmin saling berdekatan sejak tadi tapi tak sedikitpun ada percakapan diantara mereka. Malah kesannya, Minho selalu menghindari lelaki itu.
Seungmin menyadari itu.
Hyunjin menyadari ketegangan itu, tapi sampai sekarang masih mengira kalau mereka sedang marahan karena perdebatan soal nyamuk seperti yang Seungmin katakan tadi pagi — tanpa tahu hal besar apa yang sebenarnyaMinho khawatirkan dan curigai.
“Kalian kenapa sih?” tanya Hyunjin. “Dari tadi kayak… aneh.”
Minho langsung membuang muka. “Bukan apa-apa.”
Hyunjin menyenggol bahu Seungmin, lalu menunjuk Minho dengan isyarat wajahnya. “Kalian sedang marahan?”
“Kenapa jadi bertanya padaku?” Seungmin balas bertanya. “Yang ngambek sejak tadi kan Minho. Tanyakan saja padanya.”
Hyunjin tersenyum kecut. “Bertanya denganmu bukannya menyelesaikan masalah malah membuatku semakin pusing,” keluhnya. “Terserahlah kalian mau apa. Tapi jangan libatkan aku, ya.” Ia lalu berderap menjauh, membersihkan area lain.
Seungmin sempat terdiam sejenak memandangi Minho, baru menerskan kembali aktivitasnya tadi. Ia menggeser peti kayu sambil tangannya sesekali menyentuh dinding, rak, lantai. Mencari… sesuatu. Matanya terlalu fokus untuk sekedar ikut beres-beres.
Seungmin berhenti di sudut ruangan. Langkahnya terhenti tepat saat telapak kakinya menginjak lantai kayu yang mengeluarkan bunyi berbeda.
Ia menginjaknya sekali lagi, pelan untuk memastikan. dan semakin penasaran setelahnya.
Mata lelaki itu mengedar ke sekeliling memastikan situasi aman dan tak ada yang memerhatikan. Baru setelahnya, ia berlutut dan menyingkap karpet tua yang warnanya sudah hampir menyatu dengan debu itu.
Di bawah karpet itu ada garis tipis diantara sambungan kayu yang yang jika diperhatikan dengan seksama, tidak menyatu dengan lantai.
Seungmin mengulurkan tangan, menyusuri celah itu dengan kukunya — menekan lalu sedikit mencongkel.
Ada laci tersembunyi di sana, yang di dalamnya terdapat sebuah kotak kayu.
“Akhirnya ketemu juga.” Ia menggumam, lalu tersenyum tipis.
Seungmin hendak mengambil kotak kayu itu, namun urung begitu mendengar derap langkah beberapa orang mendekat. Ia dengan cepat menyembunyikan kembali temuannya itu lalu bergabung bersama Minho dan Hyunjin — yang ternyata didatangi sang raja di bagian depan ruangan.
Samar, Seungmin mendengar perdebatan kecil antara Hyunjin dan sang raja. Yang semakin jelas seiring jaraknya yang semakin dekat pada mereka.
“Aku memanggilmu sejak tadi,” kata sang raja dingin. “Kau pikir aku memiliki waktu untuk menunggumu melakukan hal konyol begini?”
Hyunjin mengepalkan tangan. “Ini bukan hal konyol. Aku sedang — ”
“Ikut aku sekarang.” Raja memotong. “Dewan sudah menunggu. Kau akan menandatangani persetujuan aliansi timur.”
Hyunjin menghela napas berat. “Ayah, bukankah sudah kubilang kalau aku tidak setuju dengan aliansi itu? Kebijakan mereka menyengsarakan rakyat perbatasan.”
“Bukan urusanmu.” Raja melangkah lebih dekat. “Tugasmu hanya patuh.”
Minho refleks maju setengah langkah. “Yang Mulia, Pangeran baru saja pulih. Mungkin — ”
Tatapan raja membuat Minho membeku di tempat.
“Lancang sekali pelayan sepertimu berbicara tanpa diminta. Ingin kupotong lidah — ”
“Yang mulia!” bentak Hyunjin. Tentu saja ia takkan tinggal diam melihat Minho diperlakukan seperti ini.
Raja terkekeh pelan. “Oh, begini rupanya cara mengancammu. Baiklah.” Ia menoleh, memberi isyarat pada pengawalnya. Dua dari mereka mengangguk singkat dan langsung membekuk Minho hingga pemuda itu jatuh berlutut. Tak sampai disitu, sang raja juga mengarahkan ujung pedangnya ke leher Minho. “Temui dewan istana sekarang, atau pedangku akan menembus tenggorokan pelayan kesayanganmu,” ancamnya.
Hyunjin menelan ludah. Rahangnya mengencang. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mengangguk. “Baik, yang mulia. Aku… akan ikut.”
Sang raja menyeringai. “Bagus.” Tapi seringai itu dengan cepat pudar begitu pandangannya terarah pada Seungmin — pengawal baru yang sebelumnya tak pernah terlihat ada di istana.
Tatapan itu hanya sesaat — namun cukup lama untuk membuat raut sang raja berubah tegang.
Wajah itu.
Terlalu familiar.
Rahang, mata, garis alis, bahkan hidung Seungmin mirip dengan bayangan dari masa lalu yang seharusnya sudah mati.
Seungmin yang menyadari tatapan itu langsung menunduk hormat. Namun di balik sikap patuh itu, tangannya mengepal begitu keras sampai kukunya menekan telapak. Kemarahannya semakin tak terbendung ketika akhirnya ia berhadapan dengan raja kejam itu.
Raja berbalik. Tak lagi menggubris kehadiran Seungmin. “Ayo.”
Hyunjin melangkah pergi, diapit pengawal.
Hari mulai gelap.
Ruangan bersih, meski belum selesai sepenuhnya. Minho dan beberapa pelayan yang lanjut membersihkannya, sementara Hyunjin sudah pergi lebih dulu karena dipanggil raja.
Dan Seungmin? Terserahlah, Minho tak ingin peduli.
Lagipula, dibanding Seungmin, Minho lebih gelisah memikirkan perasaan Hyunjin yang lagi-lagi dipaksa menjadi raja tiran dan boneka petinggi kerajaan korup itu.
Sejujurnya, ia juga masih sedikit ngeri mengingat ujung pedang sang raja nyaris menancap di lehernya. Tapi memang harusnya ia terbiasa dengan itu, bukan? Bukan sekali dua kali ia mengalami itu.
Minho menepuk tangannya yang kotor, meluruhkan dbu yang menempel disana. “Ah seudahlah untuk apa aku mengingat itu terus?” gumamnya pada diri sendiri. “Lebih baik aku membersihkan diri dan menyiapkan makan malam untuk pangeran.”
Pemuda itu melakukan peregangan sedikit lalu berderap keluar ruang perpustakaan lama itu.
Namun belum jauh melangkah,
Sebuah kain menutup matanya.
Minho langsung memberontak tapi tangan-tangan asing itu menyeretnya ke dalam peti kayu dan membawanya pergi. Ia juga tak bisa berteriak karena mulutnya disumpal kain.
.
Guncangan di peti kayu mereda, yang mana berarti orang-orang yang menculik Minho sudah sampai di tujuan.
Peti kayu itu dibuka dan minho dikeluarkan dari sana.
Masih dengan posisi diikat, pemuda itu didudukkan pada permukaan keras yang terasa seperti batu. Saat penutup dibuka, ia baru menyadari ia berada di sebuah gua dekat istana.
Minho masih berteriak tertahan, menggeliat sebisanya agar lepas. Tapi nihil.
Gerakan pemuda itu terhenti ketika mendapati ada seseorang lagi yang datang. Matanya membulat begitu melihat wajah lelaki itu dengan jelas.
Seungmin.
Lelaki itu berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depan Minho.
Sudut bibirnya tertarik. “Terima kasih,” katanya pelan. “Sudah membantu memuluskan rencanaku.”
메타데이터
- post_id
- 4e2d9e30a3c8
- slug
- 3-fates-under-1-throne-04-4e2d9e30a3c8
- url
- https://medium.com/@nuurhinsky/3-fates-under-1-throne-04-4e2d9e30a3c8
- canonical_url
- https://medium.com/@nuurhinsky/3-fates-under-1-throne-04-4e2d9e30a3c8
- author_url
- https://medium.com/@nuurhinsky
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 18:54:59