Yulianus Rettoblaut: Harapan di Tengah Kejamnya Diskriminasi terhadap Komunitas Transpuan
Tentang Mami Yuli
Yulianus Rettoblaut: Harapan di Tengah Kejamnya Diskriminasi terhadap Komunitas Transpuan

Sumber: Liputan 6, 2015
Tentang Mami Yuli
Yulianus Rettoblaut, atau yang akrab disapa Mami Yuli, adalah seorang aktivis transpuan di Indonesia yang telah menjabat sebagai ketua Forum Komunikasi Waria Indonesia (FKWI) sejak tahun 2005. Lahir di Famboret, Asmat, Papua pada 30 April 1961, perjalanan hidupnya sebagai transpuan berjalan begitu sulit. Ia terpaksa putus sekolah saat menginjak semester empat di Jakarta karena orang tuanya mengetahui seksualitasnya dan memutuskan untuk tidak lagi membiayainya. Penolakan keluarga terhadap Mami Yuli memaksanya mencari uang untuk bertahan hidup di perantauan. Awalnya, ia merasa sendiri karena berbeda dengan orang lain di sekitarnya. Namun, beberapa temannya mendekatinya dan mengatakan kepadanya bahwa dirinya adalah seorang transpuan sehingga mereka mengajaknya ke Taman Lawang untuk menunjukkan bahwa ia tidak sendiri. Mami Yuli merasa nyaman untuk berkumpul di sana dan ia memutuskan untuk menjalani kehidupannya sebagai transpuan. Selama kurang lebih 22 tahun, Mami Yuli menjalani kehidupan malamnya di Taman Lawang sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) dan bahkan tukang pukul bagi teman-teman transpuannya.
Hari demi hari Mami Yuli lalui di tengah pahitnya diskriminasi dan penindasan yang dialaminya sebagai transpuan. Namun, perjalanannya tidak berhenti begitu saja. Ia sempat mengikuti seleksi untuk menjadi anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada tahun 2007. Hampir lolos hingga tahap seleksi akhir, ia terpaksa gugur ketika Komisi 3 DPR RI menyatakan bahwa ia tidak sesuai dengan fundamental agama. Namun, penolakan tersebut tidak membuatnya putus asa untuk memperjuangkan hak asasi transpuan hingga sekarang.
Meraih Gelar Doktor, Melawan Stigma
Tak kenal lelah setelah mengemban pendidikan sarjana hukum, Mami Yuli memutuskan untuk melanjutkan pendidikan magister hukumnya di Universitas Tama Jagakarsa dan meraih gelar doktor di Universitas Jayabaya. Ia bahkan adalah transpuan pertama di Indonesia yang meraih gelar doktor. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa Mami Yuli berhasil melawan stigma negatif yang ada di masyarakat terhadap komunitas transpuan. Di Indonesia, posisi transpuan sangat termarginalkan sehingga mereka sulit mendapatkan pendidikan, jaminan sosial, dan pekerjaan yang setara. Hal ini disebabkan oleh stigma negatif terhadap transpuan yang seringkali dikaitkan dengan PSK. Oleh karena itu, gelar doktor yang diraih Mami Yuli adalah harapan dan inspirasi bagi komunitas transpuan lainnya.
“Tunjukkan apa yang kita bisa capai sebagai transpuan,” ucap Mami Yuli.
Gelar doktor yang diraihnya membuat masyarakat di sekitarnya mulai beranggapan bahwa Mami Yuli serius memperjuangkan dan mengadvokasi hak-hak transpuan. Pendidikan sangat membantu kehidupannya sebagai seorang transpuan. Ia mulai dikenal dan bahkan diundang sebagai pembicara di beberapa acara baik itu di dalam, maupun di luar negeri. Dengan meraih gelar doktor, Mami Yuli berharap dirinya dapat menginspirasi transpuan lain untuk mengikuti jejaknya. Ia berharap transpuan lain juga dapat membuktikan kepada masyarakat bahwa mereka tidaklah hina. Mereka juga dapat berguna bagi orang lain dengan keterampilan-keterampilan yang mereka miliki. Tidak hanya bagi transpuan, Mami Yuli juga berharap gelar yang diraihnya dapat berguna untuk menolong masyarakat luas.
Rumah bagi Transpuan Lansia
“Mereka kabur dari rumah. Keluarganya malu mempunyai anak seorang waria sehingga mereka diperlakukan sangat kasar,” ucap Mami Yuli.
Melihat banyaknya transpuan yang menderita pada masa lanjut usia, Mami Yuli tidak tinggal diam. Di masa tua, banyak dari mereka yang meninggal di jalanan dan dikubur secara massal karena tidak memiliki identitas ataupun kerabat. Oleh karena itu, Mami Yuli memutuskan untuk membangun Rumah Singgah Anak Raja guna menaungi dan memberdayakan komunitas transpuan yang sudah menginjak masa lansia. Bahkan, rumah singgah ini dapat dikatakan sebagai rumah singgah transpuan lansia pertama di dunia.
“Jika kamu bisa memasak, masaklah dengan profesional. Kompetensi akan membuat kita berharga,” ucap Mami Yuli.
Rumah singgah ini dibuat untuk memberdayakan dan mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh teman-teman transpuan sehingga mereka dapat hidup mandiri, seperti memasak, menjahit, merias rambut, dan lainnya. Di rumah singgah ini, Mami Yuli juga menyediakan pertolongan bagi transpuan lainnya dalam proses pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan pemberian vaksin agar kesehatan mereka dapat tetap terjaga. Selain itu, dampak baik dari kehadiran rumah singgah tidak hanya berputar pada kepentingan komunitas transpuan saja, tetapi juga dirasakan oleh warga sekitar. Mami Yuli aktif membantu warga sekitar dengan memberikan sembako. Meskipun sering mendapat perkataan kasar bahwa ia akan masuk neraka, Mami Yuli memiliki prinsip untuk tetap berbuat baik terhadap sesama, baik dalam bentuk materi maupun hal sederhana seperti tersenyum. Pada akhirnya, ia berharap dirinya dan transpuan lain di rumah singgah dapat membawa berkat bagi warga sekitar.
Kami, Transpuan, adalah Manusia
Diskriminasi, ejekan, dan kekerasan dari masyarakat serta keluarga sudah menjadi makanan sehari-hari bagi komunitas transpuan. Mereka dianggap sebagai penyakit sosial masyarakat yang harus dihindari dan dikucilkan dari kehidupan. Bahkan, Mami Yuli pernah diperintahkan untuk pindah tempat duduk saat ada acara karena kehadirannya dianggap dapat membuat para tamu takut dan kabur. Ia juga pernah mengalami perlakuan diskriminatif lainnya, seperti dijauhi saat naik angkutan umum dan melihat teman-temannya disiksa, dibakar hidup-hidup, bahkan dimutilasi. Indonesia adalah negara yang kental dengan norma dan moralitas sebagai pilar utama dalam mengatur cara kita bermasyarakat. Namun, kebanyakan orang fanatik terhadap ajaran yang normatif sehingga lupa memanusiakan manusia.
“Orang-orang berkata kami teroris. Padahal, kami tidak merugikan siapa pun,” ucap Mami Yuli.
Kriminalisasi terhadap transpuan terus terjadi. Tidak ada yang menolong dan memihak mereka. Polisi dianggap tidak berguna dan menyulitkan mereka. Menurut Mami Yuli, negara lalai dalam mengimplementasikan Pasal 27 ayat 2 UUD 1945 yang menyatakan bahwa tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak dan UU №39 Tahun 1999 yang seharusnya menjamin semua hak warga negaranya. Nyatanya, komunitas transpuan frustrasi ketika dihadapkan pada kenyataan minimnya akses kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan. Meskipun ada yang sempat mendapatkan pekerjaan di sektor nonformal, mereka diperintahkan untuk menyembunyikan identitas sebagai transpuan dan dipaksa berpenampilan maskulin. Tentu, perlakuan tersebut adalah perlakuan yang diskriminatif. Ini menyiratkan bahwa keberadaan mereka sebagai transpuan tidak diakui.
Transpuan adalah manusia yang lahir dengan hak asasi yang telah melekat. Mereka pantas untuk dilihat dan diperlakukan seperti manusia oleh siapa pun. Mami Yuli ingin agar komunitas transpuan juga dipandang dan diperlakukan seperti manusia. Transpuan juga berhak untuk dihargai. Mengenai diskriminasi yang sering mereka alami dari keluarga, masyarakat, dan negara, Mami Yuli berpesan, “Keberadaan kami sebagai transgender bukan persoalan bahwa kami harus dilegalkan, tetapi bagaimana hak kami sebagai warga negara dapat terpenuhi.”
Cahaya di Tengah Kegelapan
Mami Yuli telah berhasil menunjukkan bahwa komunitas transpuan juga berhak mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak melalui usahanya selama bertahun-tahun. Berkat dedikasinya, stigma negatif terhadap komunitas transpuan perlahan-lahan dapat dikurangi. Mereka juga bisa berkarya, berinovasi, dan berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan sehingga perlakuan diskriminatif yang sering kali ditujukan kepada mereka harus disudahi. Transpuan harus diberdayakan agar mereka terus hidup. Mami Yuli berharap dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman transpuan lainnya untuk mengejar pendidikan, mengembangkan kemampuan, bahkan secara perlahan meninggalkan “aktivitas” malam yang akan membahayakan mereka. Perjalanan yang ditempuhnya masih jauh, tetapi bukan berarti kesetaraan terhadap komunitas transpuan hanyalah sekadar mimpi. Mami Yuli adalah sosok yang inspiratif tidak hanya bagi transpuan, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.
Daftar Referensi
Jurnal
Faradillah, C. V., Basri, M. A., Sari, E., Purwanto, A., & Wijaya, A. I. (2024) Viktimisasi Terhadap Transpuan Sebagai Kelompok Marginal. Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam, 23(1), 85–98. https://doi.org/10.14421/musawa.2024.223.85-98
Toomistu, T. (2019). Embodied Notions of Belonging: Practices of Beauty among Waria in West Papua, Indonesia. Asian Studies Review, 43(4), 581–599. https://doi.org/10.1080/10357823.2019.1657066
Internet
Angel, G. (2021, November 3). Rumah singgah ‘Anak Raja’, menaungi para waria dalam masa tuanya. Froyonion. https://www.froyonion.com/news/viral/rumah-singgah-anak-raja-menaungi-para-waria-dalam-masa-tuanya
Mubtadi, V. (2021, October 12). Hari HAM Sedunia: Apakah hak asasi transpuan sudah terpenuhi? VOA Indonesia. https://www.voaindonesia.com/a/hari-ham-sedunia-apakah-hak-asasi-transpuan-sudah-terpenuhi-/6347972.html
Perdani, Y. (2015, September 29). Yulianus Rettoblaut: Fighting for equal education for transgender people. The Jakarta Post. https://www.thejakartapost.com/news/2015/09/29/yulianus-rettoblaut-fighting-equal-education-transgender-people.html
Syahdinar. (2024, January 16). The extraordinary story of Indonesia’s first trans doctor. FairPlanet. https://www.fairplanet.org/story/the-extraordinary-story-of-insonedias-first-trans-doctor/
Vepsä, L., & Warganegara, A. (2024, April 10). Indonesialainen Mami Yuli tarjoaa turvapaikan perheidensä hylkäämille transnaisille — Ja motivoi heitä kouluttautumaan: “Voin näyttää, mitä transihminen voi saavuttaa”. Maailman Kuvalehti. https://maailmankuvalehti.fi/2024/vain-verkossa/pitkat/indonesialainen-mami-yuli-tarjoaa-turvapaikan-perheidensa-hylkaamille-transnaisille-ja-motivoi-heita-kouluttautumaan-voin-nayttaa-mita-transihminen-voi-saavuttaa/
Podcast
Trainor, M (Host). (2021, December 6) PODCAST GACOR-MAMI YULI, BERJUANG MENGIKIS STIGMA WARIA DI MASYARAKAT [Audio Podcast]. Mclub Indo. https://www.youtube.com/watch?v=zjdE33E1Edk&t=516s
Penulis: Velma Anindya Hapsari (Staf Divisi Riset dan Advokasi Amnesty UI 2024)
메타데이터
- post_id
- 4e35a467bfc2
- slug
- yulianus-rettoblaut-harapan-di-tengah-kejamnya-diskriminasi-terhadap-komunitas-transpuan-4e35a467bfc2
- url
- https://medium.com/@amnesty-ui/yulianus-rettoblaut-harapan-di-tengah-kejamnya-diskriminasi-terhadap-komunitas-transpuan-4e35a467bfc2
- canonical_url
- https://medium.com/@amnesty-ui/yulianus-rettoblaut-harapan-di-tengah-kejamnya-diskriminasi-terhadap-komunitas-transpuan-4e35a467bfc2
- author_url
- https://medium.com/@amnesty-ui
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 15:53:03