Bukan Kutu Loncat, tapi Ide Loncat
[5] Keluh-kesah dari seorang penulis pemula
PENULISAN
Bukan Kutu Loncat, tapi Ide Loncat
[5] Keluh-kesah dari seorang penulis pemula
Foto oleh Christin Hume di Unsplash
Selasa pagi di teras rumah, saya menatap lama layar ponsel. Telapak kiri saya menggenggam benda berbentuk persegi panjang itu, sementara yang lain menjaga keseimbangannya. Jemari saya sebenarnya sudah siap untuk mengetik, tetapi yang nampak justru hamparan layar putih. Hampa.
Bukan karena tak ada sesuatu untuk ditulis, melainkan karena saking banyaknya ide yang saling berebut tempat. Setiap selesai satu paragraf, saya akan segera merevisinya. Dan, seringkali berakhir dengan dihapus. Bahkan, direset alias mulai lagi dari awal.
Eh, kayaknya kalau kayak gini bagus, deh.
Siklus tersebut terus berputar hingga akhirnya saya menyerah. Tunggu. Ini sudah keempat kalinya saya mengganti topik tulisan. Waduh!
Baca juga
[embed]*Harga dari Sebuah Ide *[17] Sayangnya, ia tak semahal yang kita kira medium.com
Dua bulan lalu, saya membaca sebuah artikel tentang problematika para penulis. Salah satu topik yang dibahas ialah writer’s block. Momok menakutkan yang kerap dialami oleh para penulis, termasuk saya pribadi.
Otak manusia memiliki dua mode ketika mencurahkan kreativitasnya, yaitu divergen dan konvergen.
Divergen (si pencipta)
Berpikir divergen adalah tahap untuk menciptakan ide sebanyak-banyaknya (brainstorm). Pada fase ini, kita mencatat semua gagasan, sudut pandang, dan fakta yang terlintas di otak.
Kita fokus untuk mencatat kalimat sebanyak yang kita mampu. Tidak ada karangan ‘buruk’ karena masih draf awal. Kuantitas lebih penting daripada kualitas.
Konvergen (si editor)
Setelah memiliki bahan mentah alias draf kotor, otak akan memasuki mode konvergen. Fase ini akan mengevaluasi tata bahasa dan argumentasi yang tertulis. Mana yang kosong akan ditambal dan mana yang lebih akan dibuang.
Berbeda dengan divergen, tahap konvergen lebih mengutamakan kualitas dibanding kuantitas.
Kedua sisi ini sama pentingnya. Tidak ada satu yang lebih unggul daripada yang lain. Semua setara. Akan tetapi, keduanya seringkali saling sikut untuk tampil paling depan. Ketika kondisi ini terjadi, aktivitas kreatif justru akan terhambat.
Otak akan terus mengeluarkan inspirasi baru, tetapi di lain sisi justru mengkritisi apa yang sudah dikeluarkan. Inilah sebabnya saya menarik kembali paragraf yang telah ditulis dan menggantinya dengan yang baru. Begitu terus.
Sayangnya, ruminansi ini tidak akan berhenti tanpa ada intervensi. Perlu campur tangan pihak ketiga untuk mendamaikan dua sisi otak tersebut.
Pihak ketiga itu bernama menulis bebas (free writing). Metode ini memaksa otak untuk terus mengeluarkan pikiran tanpa terkena distraksi, interupsi, atau revisi. Hanya menulis.
Agar lebih mudah diterapkan, saya pribadi akan merancang outline dasarnya terlebih dahulu. Tema apa yang akan dibahas? Poin mana saja yang perlu saya cantumkan?
Tidak harus langsung detail. Paling tidak ada gambaran kasar mengenai apa yang akan ditorehkan. Namanya juga draf awal. Sedang mengalami kebuntuan menulis pula. Duh!
Selanjutnya, catat saja secara asal dan acak. Sejauh pengalaman saya hasilnya akan melebar ke mana-mana, tetapi tidak masalah. Toh, pada akhirnya akan melalui tahap kurasi mandiri (self-editing).
Selain itu, jumlah kata yang tertulis sebelum dan sesudah revisi juga akan berbeda jauh. Saya pribadi terkadang memiliki selisih 100–300 kata.
Bagi saya ini tidak masalah selama hasil akhirnya menjadi lebih padat dan lebih berbobot.
Apakah kamu punya pengalaman seperti saya? Yuk, ceritakan di kolom komentar!
Terima kasih telah membaca hingga akhir. Jika artikel ini bermanfaat, Anda bisa menekan ikon tepuk tangan, menyorot tulisan, dan meninggalkan komentar sebagai bentuk dukungan.
메타데이터
- post_id
- 4e3e5a612ddd
- slug
- bukan-kutu-loncat-tapi-ide-loncat-4e3e5a612ddd
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/bukan-kutu-loncat-tapi-ide-loncat-4e3e5a612ddd
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/bukan-kutu-loncat-tapi-ide-loncat-4e3e5a612ddd
- author_url
- https://medium.com/@aryo.akhmad
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 10:39:35