Batas Kemampuan Diri
Minggu pagi menjelang siang aku dichat oleh atasanku tentang pekerjaan dengan deadline Senin pagi/siang karena akan digunakan untuk rapat…
Batas Kemampuan Diri
Minggu pagi menjelang siang aku dichat oleh atasanku tentang pekerjaan dengan deadline Senin pagi/siang karena akan digunakan untuk rapat pada hari Selasa. Sepertinya aku belum terlalu ngeh dengan deadline tersebut. Oleh karena itu aku santai-santai saja. Aku sepertinya masih berpikir bahwa deadline-nya hari Selasa bukan Senin dan itu adalah kesalahan besar. Aku malah memprioritaskan pekerjaan lain yang deadline-nya di hari yang sama. Sebenarnya kadang aku agak bingung menetukan mana yang harus aku kerjakan terlebih dahulu karena tenggat waktu yang hampir sama.
Kali ini aku salah pilih (lagi) terkait pekerjaan mana yang harus aku dahulukan alhasil atasanku (jelas) marah meskipun hanya lewat kata-kata. Merasa bersalah iya, menyesal jelas, merasa tidak mampu nah ini pemahaman baru untukku. Selama ini aku sering berusaha untuk memenuhi target yang tidak rasional(?) meskipun beberapa kali gagal juga seperti hari ini. Kadang aku juga berpikir apakah aku yang lama mengerjakannya atau memang karena deadline yang mepet.
Aku sudah melihat baik-baik chatnya tapi seakan masih belum tersadar akan deadline-nya. Entah aku yang tidak fokus atau meneyepelekan atau memprioritaskan pekerjaan yang lain.
Angin yang bertiup entah kenapa berbeda. Aku juga menyalahkan diriku, tetapi aku lebih tenang kali ini. Aku menerima bahwa aku tidak hebat dalam deadline dan tidak seteliti itu membaca chat orang lain. Aku merasa bahwa ini salah satu batas kemampuan dan kemauan diriku. Jujur aku jenuh dan merasa tidak berkembang dengan pekerjaanku saat ini.
Sebenarnya ini sudah terlihat dari sekitar lebih dari dua tahun lalu aku mengikuti seleksi karyawan tetap (kartap) di perusahaanku. Saat itu aku merasa kurang termotivasi untuk mengikutinya karena aku merasa struggle dengan beban kerjaku saat itu. Pada saat interview dan atasanku menanyakan apa motivasiku bekerja aku memilih alasan yang agak aneh dan kurang bagus.
Bahkan ketika ditanya apakah sanggup untuk pulang setelah maghrib (pulang malam tanpa bayar) aku tidak langsung bilang sanggup. Aku menjawab kalau ada yang dikerjakan aku akan sanggup pulang malam. Namun, jawaban-jawaban itu tampaknya tidak membuat atasanku puas. Buktinya aku tidak diterima menjadi pegawai tetap padahal aku tidak ada saingan. Aku mengakui bahwa aku tidak ada persiapan ketika akan interview. Aku juga merasa gugup meskipun berusaha menjawab pertanyaan dengan baik.
Hari ini aku mencoba mengingat kembali apa yang aku rasakan saat interview tersebut. Sepertinya saat ini dan saat itu aku memiliki perasaan yang sama. Perasaan tidak sanggup untuk mengerjakan pekerjaan yang itu-itu saja dan membuatku tidak berkembang. Aku sering merasa bosan tapi masih belum punya pilihan yang lain. Ini hampir mirip dengan toxic relationship, bedanya ini pekerjaan bukan orang. Tidak berani melepaskan karena beranggapan yang ada sekarang ini adalah yang terbaik dan di luar sana belum tentu akan bertemu yang lebih baik.
Bismillah berusaha lebih keras lagi dan berdoa lebih khusyuk lagi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan cocok untuk kita. Sehingga kita termotivasi untuk melakukannya setiap hari.
메타데이터
- post_id
- 4e4b2c6ac573
- slug
- batas-kemampuan-diri-4e4b2c6ac573
- url
- https://medium.com/@shinedreamsmile35/batas-kemampuan-diri-4e4b2c6ac573
- canonical_url
- https://medium.com/@shinedreamsmile35/batas-kemampuan-diri-4e4b2c6ac573
- author_url
- https://medium.com/@shinedreamsmile35
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 07:00:49