Pesta Babi dan Perang Panjang atas Tanah Papua
Foto diambil dari narasipost
Pesta Babi dan Perang Panjang atas Tanah Papua

Foto diambil dari narasipost
Halo, kembali lagi di catatan saya setelah sekian tahun tidak menulis. Menulis bagi saya merawat ingatan, ingatan seperti apa ? ada banyak ingatan yang dilalui baik memoar maupun temuan. Dan kali ini saya ingin menuangkan sedikit ulasan temuan pribadi, tentang film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono dan kawan-kawan yang terlibat langsung dalam advokasi, baik di lapangan maupun di luar lapangan.
Pertama-tama, menurut saya film dokumenter ini adalah bentuk advokasi digital yang cukup berhasil. Kenapa bisa dibilang berhasil? Karena bahkan sebelum film ini ditayangkan secara luas, sudah banyak “kepala-kepala babi” yang tersinggung, marah, sekaligus ketakutan hingga berusaha membungkam dan membubarkannya. Alasannya pun klasik: dianggap provokatif, mengandung ujaran kebencian, dan narasi-narasi lain yang sebenarnya sering dipakai untuk membatasi kritik.
Padahal justru di situlah letak kekuatan dokumenter ini. Ia berhasil memancing reaksi dari pihak-pihak yang merasa terusik. Ketika sebuah karya mampu membuat penguasa atau kelompok tertentu merasa tidak nyaman, artinya ada realitas yang sedang disentuh dengan jujur.
Dengan gaya penyampaian yang dekat dengan generasi muda, memoar film ini bukan cuma menjadi tontonan, tapi juga ruang refleksi. Bahwa kritik sosial hari ini tidak selalu harus turun ke jalan; ia juga bisa hadir lewat kamera, cerita, dan distribusi digital yang menjangkau lebih banyak orang.
Bagi saya pribadi, Pesta Babi bukan sekadar dokumenter. Ia adalah pengingat bahwa suara-suara yang selama ini ditekan akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk didengar. Dan jujur secara pengamatan pribadi film ini berhasil menayangkan di berbagai lintas sosial dan generasi. Bahkan di beberapa titik baik perkuliahan mahasiswa, anak SMP, SMA bahkan pesantren dan masjid pun ikut andil dalam menontonkan film dokumnter ini.
Film ini berupaya menjelaskan bagaimana tanah leluhur di Papua — yang sejak lama menjadi sumber kehidupan dan pangan masyarakat adat — perlahan berubah menjadi arena kepentingan ekonomi dan politik. Bukan semata negara sebagai entitas abstrak, melainkan jejaring pebisnis, pemilik modal, dan aktor yang memiliki kedekatan dengan lembaga kekuasaan, yang berusaha mengubah fungsi tanah dari ruang hidup menjadi komoditas industri.
Tanah yang sebelumnya ditanami bahan pangan khas Papua, sebagaimana tergambar dalam dokumenter Pesta Babi, mulai diarahkan untuk kebutuhan lain: bahan bakar industri, proyek perkebunan skala besar, hingga tanaman komoditas seperti padi dan tebu yang berasal dari logika pertanian wilayah lain seperti Jawa. Padahal, kondisi tanah, budaya, serta hubungan masyarakat Papua dengan alam memiliki karakter yang berbeda dan tidak bisa disamakan begitu saja.

Pertanyaannya kemudian: mengapa perubahan itu dipaksakan? Mengapa tanah yang selama ini menopang kehidupan masyarakat adat justru dialihkan untuk kepentingan produksi yang tidak berangkat dari kebutuhan warga setempat? Dokumenter ini mencoba menunjukkan bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya soal tanaman atau hasil bumi, melainkan juga identitas, ingatan kolektif, dan hak masyarakat Papua atas ruang hidup mereka sendiri.
Ketiga, film ini juga berupaya menyampaikan kepada publik bahwa persoalan Papua dan tanahnya membutuhkan perhatian serta dukungan masyarakat Indonesia secara lebih luas. Papua dikenal memiliki kekayaan alam yang melimpah — mulai dari hasil hutan, pangan, hingga kandungan tambang yang bernilai besar bagi negara maupun investor. Namun di balik kekayaan itu, masyarakat adat sering kali justru berada di posisi paling rentan.
Film ini memperlihatkan bagaimana tanah Papua kerap dipandang sebatas ruang eksploitasi dan perebutan sumber daya, tanpa benar-benar mempertimbangkan siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang kehilangan ruang hidup, dan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan maupun kehidupan sosial masyarakat setempat. Tanah yang semestinya menjadi tempat hidup dan identitas masyarakat adat perlahan berubah menjadi objek pembangunan dan investasi yang tidak selalu sejalan dengan kebutuhan warga Papua sendiri.
Melalui narasi dokumenter seperti Pesta Babi, penonton diajak memahami bahwa Papua bukan hanya nama wilayah di dalam peta Indonesia. Papua adalah ruang hidup bagi manusia-manusia yang memiliki budaya, sejarah, dan hubungan ekologis yang kuat dengan tanahnya. Karena itu, masyarakat Papua berhak memperoleh perhatian, perlindungan ekologis, dan hak untuk hidup secara layak di tanah mereka sendiri — tanpa mengalami penggusuran, kehilangan ruang hidup, ataupun diperlakukan seolah asing di tanah kelahirannya sendiri.
Keempat, alasan film ini diberi judul Pesta Babi tampaknya tidak lepas dari makna babi dalam kehidupan masyarakat Papua. Dalam banyak tradisi adat, babi bukan sekadar hewan ternak, tetapi bagian penting dari budaya, ritual, jamuan adat, hingga simbol relasi sosial masyarakat. Babi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang berburu dan hidup berdampingan dengan alam Papua.
Namun, ketika ruang hidup dan hutan tempat masyarakat berburu mulai menyempit akibat berbagai kepentingan industri dan pembangunan, tradisi itu perlahan ikut terancam. Di situlah judul “Pesta Babi” terasa memiliki makna yang lebih dalam: pesta bukan lagi milik masyarakat adat, melainkan gambaran tentang pihak-pihak yang menikmati kekayaan Papua tanpa benar-benar mempertimbangkan nasib warga yang hidup di atas tanah tersebut.
Film ini juga memperlihatkan bagaimana relasi antara pejabat, pemilik modal, dan investor sering kali saling berkaitan dan melindungi kepentingan satu sama lain. Penonton diajak melihat bahwa di balik proyek-proyek besar dan seremoni pembangunan, ada masyarakat yang justru kehilangan ruang hidup dan akses dasar untuk bertahan.
Hal yang paling menyentuh dari film ini adalah bagaimana warga yang terdampak penggusuran harus hidup dengan fasilitas yang sangat terbatas. Ada adegan-adegan yang memperlihatkan keterbatasan akses air bersih, kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari, yang menunjukkan betapa jauhnya ketimpangan antara pusat pembangunan dan kondisi nyata masyarakat di Papua.
Pada akhirnya, film ini seperti ingin mengingatkan bahwa Papua bukan tanah kosong dan bukan sekadar wilayah untuk dieksploitasi. Papua adalah tanah yang sejak awal telah menjadi rumah bagi masyarakat adat dengan budaya, kehidupan, dan masa depannya sendiri. Karena itu, masyarakat Papua berhak mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, informasi, dan pembangunan yang layak — setara dengan daerah lain seperti Jakarta, Semarang, atau wilayah maju lainnya di Indonesia. Sebab di sana juga tumbuh generasi-generasi muda yang memiliki harapan dan potensi besar untuk masa depan.
메타데이터
- post_id
- 4e58f56686ca
- slug
- pesta-babi-dan-perang-panjang-atas-tanah-papua-4e58f56686ca
- url
- https://medium.com/@megadiah/pesta-babi-dan-perang-panjang-atas-tanah-papua-4e58f56686ca
- canonical_url
- https://medium.com/@megadiah/pesta-babi-dan-perang-panjang-atas-tanah-papua-4e58f56686ca
- author_url
- https://medium.com/@megadiah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 14:10:06