Bisakah Kita Berhenti Sejenak Memuja Orang Kaya
Surat cinta 9
LOVE AND LETTERS
Bisakah Kita Berhenti Sejenak Memuja Orang Kaya
Saya di tempat cuci mobil ketika tanpa sengaja mendengar perbincangan dua orang di sebelah saya. Mereka ayah-anak, sepertinya.
Saya tidak bermaksud menguping. Lagi pula mereka berbicara dengan suara cukup keras, seakan ingin seluruh orang di ruang tunggu ikut mendengar. Bisa jadi memang karakternya begitu; bisa juga pengaruh dari topik pembicaraan — yang mana menuju satu hal yang sama: kami kaya, kami kaya, kami kaya. Orang-orang kini kehilangan kemampuan untuk tidak memamerkan kekayaan.
Dulu, saat kanak-kanak, saya dan teman-teman selalu membantah kapan pun ditunjuk dan menunjuk siapa yang punya lebih banyak uang. Kami tersinggung sekaligus merasa tidak enak. Sebab pertama, benar adanya bahwa kami tidak benar-benar berharta. Selain itu, kedua, muncul perasaan bersalah: anak-anak kecil itu sadar bahwa di tiap sikap pamer mengandung kesedihan orang-orang miskin.
Sedihnya sedikit demi sedikit, hingga tanpa terasa sudah terlalu berlebih, sisa segelintir yang memiliki empati. Dan makin banyak yang ingin unjuk diri. Tak ada lagi beban yang mengganjal di hati. Bahwa pada postingan mobil Eropa itu; hidangan resto bintang lima; pakaian berlogo Chanel atau Louis Vuitton — terdapat hak-hak mereka yang tidak punya apa-apa. Tidak dihiraukan.
Biar bagaimanapun, ini bukan hal baru. Affluenza, demikian Amy Morin menyebutnya dalam buku 13 Things Mentally Strong People Don’t Do. Sebuah istilah untuk menggambarkan dampak psikologis dan sosial yang tidak diinginkan dari kemakmuran. Ini pertama kali mencuat dalam kasus Ethan Couch. Remaja 16 tahun itu mabuk saat berkendara dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Empat orang tewas. Ia diadili, tapi tim hukum Couch belum menyerah. Dengan bantuan psikolog pembela, mereka berdalih bahwa kliennya tidak dapat dihukum karena korban afluenza.
Pamer sendiri merupakan gejalanya.
Ini gawat, dan saya dibuat khawatir. Sebab layaknya influenza, afluenza juga menular. Ia telah mewabah di mana-mana. Menyumbat rongga hidung tiap-tiap orang sehingga tidak bisa mencium bau. Mereka tak lagi bisa mengharum. Tidak merasakan apa pun.
메타데이터
- post_id
- 4e62e1eee649
- slug
- bisakah-kita-berhenti-sejenak-memuja-orang-kaya-4e62e1eee649
- url
- https://medium.com/@justjeki/bisakah-kita-berhenti-sejenak-memuja-orang-kaya-4e62e1eee649
- canonical_url
- https://medium.com/@justjeki/bisakah-kita-berhenti-sejenak-memuja-orang-kaya-4e62e1eee649
- author_url
- https://medium.com/@justjeki
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13