Mungkin Pertanyaannya Bukan Kapan, Tapi Siapa
Bukan tentang menikah, tapi tentang siapa yang mengetuk
FIKSI
Mungkin Pertanyaannya Bukan Kapan, Tapi Siapa
Bukan tentang menikah, tapi tentang siapa yang mengetuk
Apartemen tua di Montreal pada musim panas. Photo by the Bialons on Unsplash
Sejak seminggu yang lalu, malam-malam di Montreal panas sekali, jenis panas yang tidak biasa. Tak ada tiupan angin, terasa lengket, tidak bergerak. Kota ini seolah lupa cara bernapas.
Apartemen Lara, seperti kebanyakan bangunan tua di Côte-des-Neiges, tidak punya AC. Ia sudah lama tahu ini. Sudah bagian dari kesepakatan tak tertulis tinggal di gedung tua bercharme. Koridornya masih kayu yang berderit, jendela besar berlapis cat lama. Tidak ada pendingin udara terpasang di dinding mana pun.
Dalam kondisi normal, biasanya cukup dengan membuka jendela, sudah terasa sejuk. Tapi, belakangan ini, membuka jendela hanya membiarkan udara panas dari luar bertukar tempat dengan udara panas di dalam.
Minggu lalu, Lara memesan kipas angin secara daring. Di luar dugaan, orang antrean membeli. Pengiriman butuh waktu beberapa hari.
Kipas angin baru itu berputar di sudut kamar, mendengung, mendorong udara yang sama berulang-ulang tanpa benar-benar mendinginkan apa pun.
Ponselnya bergetar tiga kali berturut-turut, lalu berhenti, lalu bergetar lagi.
Sebelum sampai ke grup keluarga, ada notifikasi berita yang lebih dulu ia baca: Environment Canada issues extreme heat warning for Greater Montreal. Hospitals report surge in heat-related admissions, mostly among elderly residents.
Ia membaca artikelnya sebentar. Rumah sakit di beberapa borough kewalahan. Sebagian besar pasien lansia, tinggal sendirian, di apartemen tanpa AC seperti apartemennya sendiri, ditemukan sesak napas, dehidrasi, beberapa terlambat ditemukan. Lara masih ingat dua tahun lalu, beberapa lansia meninggal karena tak keburu mendapat pertolongan. Tidak ada yang mengecek keadaan mereka sampai tetangga curiga kenapa tirai tidak pernah dibuka dua hari berturut-turut.
Ia meletakkan ponselnya sebentar, menatap kipas angin yang masih berputar percuma.
Ada sesuatu yang mengganggunya dari berita itu, lebih dari sekadar rasa iba yang biasa muncul saat membaca berita buruk. Ia pikir tentang bagaimana kerentanan itu — sendirian, tidak ada yang mengecek, ditemukan terlambat — bukan sesuatu yang eksklusif milik usia tua.
Itu hanya soal waktu, dan keberuntungan siapa yang punya seseorang untuk mengecek dan siapa yang tidak.
Ia tidak pernah benar-benar memikirkan itu sebelumnya, dan sejelas ini. Jelas, bukan karena takut mati sendirian. Itu adalah pikiran yang terasa terlalu jauh. Terlampau dramatis untuk malam biasa seperti ini.
Lebih tepatnya, ia tiba pada kesadaran kecil, bagaimana jika ia pingsan malam ini karena panas. Siapakah yang akan tahu sebelum besok pagi kalau ia tidak membalas pesan siapa pun?
Baru setelah itu ia membuka WAgrup keluarga — “Kel. Besar H. Suwondo 🌷”.
Foto pertama: Wulan dengan gaun putih, tersenyum di pelaminan, bunga anggrek di sanggulnya.
Foto kedua: seluruh keluarga besar berpose, tersenyum lebar, beberapa wajah yang Lara kenali.
Tante Wati: Cantik banget Wulan 😍😍 Om Broto: Selamat Wulan & Bagas! Semoga langgeng Tante Wati: @Lara kapan nih nyusul? 🤭 udah lama juga di Kanada sana Rini -Sepupuh: Aamiin buat Lara juga 🙏
Biasanya, pikirnya, pertanyaan itu akan menempel lebih lama di benaknya, diputar dari berbagai sudut. Tapi malam ini, entah karena panas yang membuat pikirannya lebih lambat atau karena berita tentang rumah sakit yang penuh masih memenuhi pikirannya, pertanyaan Tante Wati terasa jauh lebih tak menggangunya.
Seolah pertanyaan itu berasal dari dunia yang berpikir waktu berjalan lurus dan aman — menikah atau tidak, sementara pertanyaan yang lebih mendasar, tentang siapa yang akan mengecekmu ketika tubuhmu berhenti bekerja sama, tak pernah masuk hitungan sama sekali.
Ia mengetik: Selamat ya Wulan! Cantik banget 😍
Dikirim.
Ia berdiri, mengambil segelas air, meminumnya sambil berdiri di depan kipas angin, membiarkan udara yang dipindahkan kipas menyentuh lehernya yang basah keringat.
Ia kepikiran tetangganya di lantai dua, seorang perempuan tua yang tinggal sendirian, yang biasa ia lihat menyiram tanaman di depan pintunya setiap pagi. Ia tidak tahu namanya. Mereka hanya saling mengangguk di lorong, beberapa kali setahun.
Apakah ia baik-baik saja malam ini?
Lara tidak tahu. Dan menyadari ia tidak tahu itu membuatnya merasa sesuatu yang lebih tajam daripada rasa bersalah — semacam pengakuan bahwa selama ini ia membanggakan dirinya sebagai orang yang “cukup sendiri,” padahal ia juga belum pernah benar-benar memeriksa siapa di sekitarnya yang mungkin butuh diperiksa balik.
Ia meletakkan gelasnya, lalu, tanpa terlalu banyak berpikir, berjalan ke pintu, turun satu lantai, dan mengetuk pintu tetangganya itu.
Untuk sesaat, tidak ada jawaban. Lalu terdengar langkah pelan, dan pintu terbuka sedikit.
“Oui?” Perempuan tua itu menatapnya, berkeringat, kipas kecil bertumpu di tangannya.
*“*Excusez-moi de déranger” kata Lara, dalam bahasa Prancis yang masih terbata. “Je veux juste… voir si ça va ? C’est à cause de la chaleur.”** — Saya cuma mau memastikan Ibu baik-baik saja. Ada peringatan cuaca panas.
Perempuan itu tersenyum, agak terkejut.
“Ça va, ça va. Ça va, ça va. Mais merci de demander.” — Baik, baik..Tapi terima kasih sudah bertanya.”
Mereka berdiri sebentar di ambang pintu, tidak benar-benar tahu harus bicara apa lagi setelah itu. Lara menawarkan, agak canggung, apakah perempuan itu mau turun ke apartemennya kalau merasa terlalu panas malam ini, karena kipasnya — meski tidak sempurna — setidaknya bergerak.
Perempuan itu menggeleng pelan, tapi tersenyum lebih lebar.
“Tu es bien gentille. Ça va aller pour moi. Mais merci, vraiment.” — Kamu baik sekali. Aku akan baik-baik saja. Tapi, benar-benar terima kasih.”
Lara kembali ke kamarnya, tidak yakin apakah tindakan kecil itu mengubah apa pun. Mungkin tidak. Tetangganya mungkin akan baik-baik saja malam ini terlepas dari ketukan pintu itu. Tapi entah kenapa, kembali duduk di depan kipas anginnya, ia merasa kini sedikit lebih ringan.
Turut senang untuk Wulan. Itu benar. Dan berdampingan dengan itu, rasa tertinggal yang tidak sepenuhnya tentang Wulan — itu juga masih benar, masih ada, tidak hilang hanya karena malam ini ia mengetuk pintu tetangganya.
Tapi ada sesuatu yang bergeser sedikit, pikirnya. Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan “kapan giliranku menikah,” tapi “siapa yang akan mengetuk pintuku kalau aku butuh diketuk” — dan mungkin, ia sadar dengan agak canggung, itu juga pertanyaan yang jawabannya sebagian bisa ia bangun sendiri, bukan hanya menunggu datang seperti kereta atau mercusuar.
Ia tidak sampai pada kesimpulan lebih jauh dari itu malam ini. Kipas anginnya masih berputar, mendorong udara panas yang sama, dan di luar, kota masih menahan napas dalam suhu yang tidak biasa, menunggu pagi yang mungkin akan sedikit lebih sejuk, atau mungkin tidak.
Ponselnya bergetar sekali lagi — pesan dari ibunya: Tadi liat WA grup? Ibu jawabin Tante Wati ya.
Ia mengetik pesan: Makasih Bu. Btw disini lagi heat wave parah, banyak lansia masuk RS. Ibu jaga kesehatan juga ya kalau di Jakarta lagi panas.
Pesan dikirim.
Ia meletakkan ponselnya, menghadap ke atas kali ini. Layarnya masih menyala sebentar sebelum gelap sendiri.
Terima kasih sudah membaca.
Tags para tetangga spesial saya di Medium: Belen Amanda Dian Larasati Iyas Utomo , Karunia Safitri, Ellyen Darananta , Meta Marvelia , Dian Paramita Nugraharini dan editor Lentera Literas Dewinta Bunda Sajak
Semoga cerita ini membangkitkan sesuatu dalam benakmu.
메타데이터
- post_id
- 4e97166247ed
- slug
- mungkin-pertanyaannya-bukan-kapan-tapi-siapa-4e97166247ed
- url
- https://medium.com/lentera-literasi/mungkin-pertanyaannya-bukan-kapan-tapi-siapa-4e97166247ed
- canonical_url
- https://medium.com/lentera-literasi/mungkin-pertanyaannya-bukan-kapan-tapi-siapa-4e97166247ed
- author_url
- https://medium.com/@stepanuskapoda
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 02:41:57