← Back to list

A Man From 1970

Raden Mas Mahendra Adiputro Sudarsono dan Raden Ayu Kartika Rahayu

sabilu · 2024-10-20 15:52 · 0 claps · 6.2 min read
#keraton #bangsawan #romance #past-and-future
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

A Man From 1970

Raden Mas Mahendra Adiputro Sudarsono dan Raden Ayu Kartika Rahayu

Raden Mas Mahendra Adiputro Sudarsono dan Raden Ayu Kartika Rahayu

1970- Jalanan tanpa kendaraan, suasana teduh nan hangat berdirilah laki-laki dengan perawakan tinggi gagah mengenakan beskap putih lengkap dengan blangkon dan keris di seberang sana, menyunggingkan senyum manis pada puan berambut cokelat panjang dengan gaun motif bunga selutut. Tidak ada percakapan hanya ada puan dan tuan yang saling bertatapan dengan raut wajah yang berbeda. Jika tuan menatap dengan ramah, maka puan menatap dengan wajah yang datar dan kebingungan.

“Amara” panggilan lembut memasuki telinga puan, ia menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya, namun cahaya putih teramat terang menyilaukan matanya.

“Amara! Amara Putri Sastrodiadjeng! Bangun, masa anak gadis bangunnya siang begini, rezeki mu dipatok ayam lho!” Perempuan paruh baya sibuk mengguncang tubuh Amara, ia pun mengulet sebentar lalu duduk untuk mengumpulkan nyawa. Ibu Amara pergi setelah memerintah anaknya untuk segera mandi dan bergegas berangkat kuliah.

Selama perkuliahan, Amara tidak bisa fokus pikirannya hanya tertuju pada mimpinya semalam. Siapa laki-laki yang mendatanginya melalui sebuah mimpi hanya dengan senyuman tanpa kata?

“Amara, ini tugas kelompok tinggal bagian lo ya, jangan lupa dikerjain tenggatnya udah sedikit lagi!” Tegur perempuan berkacamata di samping Amara. Amara yang dikejutkan saat melamun mengangguk sebagai jawaban.

Seusai kelas, kaki Amara melangkah menuju perpustakaan, berniat mengerjakan tugas agar tidak diamuk teman sekelompok. Ia mengambil beberapa buku untuk dijadikan referensi. Tidak berlangsung lama, karena rasa kantuk mulai menyerang. Pikirnya memejamkan mata beberapa saat tidak masalah, hanya sebentar lalu kembali melanjutkan tugasnya. Amara tertidur dengan sebelah lengannya yang dijadikan bantalan.

Bangunan khas keraton menjadi pandangan Amara, banyak sekali orang ramai berlalu lalang menggunakan lurik dan kain batik, pakaian tradisional Jawa. Para lelaki menggunakan blangkon di kepalanya, sedangkan para perempuan menyanggul rambutnnya agar rapi.

Salah satu perempuan paruh baya sedikit membungkuk menghampirinya, “Kula nuwun (permisi) Den Ayu, Raden Mas sudah menunggu di dalam” ucapnya dengan aksen Jawa yang begitu kental. Langkah kaki Amara sedikit tertatih karena dirinya dibalut kain batik dan kebaya beludru hitam.

Laki-laki yang dipanggil Raden Mas berdiri memunggungi Amara, ia sembari merapikan beskap yang melekat. Menyadari kedatangan Amara, laki-laki itu membalikan tubuhnya disertai senyuman yang manis. “Cah Ayu, bisa tolong Mas sebentar?” Tanyanya lembut dengan aksen Jawa. Amara mendekat hingga berhadapan dengan laki-laki tinggi itu.

“Menurutmu, lebih bagus yang mana?” Tanyanya lagi dengan menunjukan dua jam tangan, hanya berbeda pada tali pengait, yang satu terbuat dari perak dan yang satu lagi terbuat dari bahan kulit. Pilihan Amara jatuh pada tali berbahan kulit.

Si Tuan memasang jam tangan pilihan Amara, tetapi sesekali curi-curi pandang pada perempuan di hadapannya, “Kamu kenapa toh? Diam terus, Mas ada salah?” Tanya lembut tuan seraya merangkul pinggang Amara dengan kedua tangannya. Amara menggeleng, ia hanya bingung “saya hanya bingung, mengapa saya bisa ada di sini, dan kamu siapa?” tanya Amara tanpa berekspresi. Mendengar pertanyaan Amara, lelaki tinggi itu hanya tersenyum lembut. “Kamu ini aneh, Mas ya suami mu cah ayu, kamu lupa? Ini rumah mu, rumah kita. Sampun nggeh (sudah ya)? Mas mau peluk kamu yang lama, rasanya rindu sekali.” Lelaki itu mendekap tubuh Amara cukup erat namun tidak membuatnya merasa sesak.

Pelukan dua insan itu terlepas setelah mendapati interupsi dari balik pintu. “Kulo nuwun ngapunten Raden, Kanjeng Sultan sampun ngentosi Raden Mas.” (Permisi Raden, Kanjeng Sultan sudah menunggu Raden Mas) Si tuan menatap setiap inci wajah Amara, “Mas pergi dulu ya sudah ditunggu romo, hanya sebentar menemui Adipati Susena lalu pulang.” Tanpa menunggu jawaban, ia mencium kening dan meninggalkan Amara yang masih diam tidak bergeming.

Amara merasa harus mencari tahu apa yang sedang terjadi. Kakinya melangkah menyusuri bangunan keraton, mendapati sebuah ruangan mirip seperti perpustakaan dalam skala yang kecil. Ada sebuah buku berisi silsilah keluarga ningrat. Pria yang tadi bernama Raden Mas Mahendra Adiputro Sudarsono, seorang pangeran keraton. Lembar berikutnya tertulis Raden Ayu Kartika Rahayu, istri dari R.M Mahendra Adiputro Sudarsono, wajah si puan mirip sekali dengannya, namun ia adalah Amara bukan Kartika.

“Ayo bangun Amara! Ini gak nyata, ini hanya mimpi!” Monolog Amara. Ia tahu ia masih berada dalam mimpinya, tetapi ia merasa tidak bisa pergi untuk bangun. Ia seperti terjebak dalam mimpinya.

Seseorang datang menghampiri Amara tergesa-gesa. Perempuan muda dengan rambut disanggul kecil mengenakan kebaya lurik, ia mengambil napas sejenak karena lelah berlarian. “Den Ayu, ayo ikut saya, Keraton sedang tidak aman, para perampok berhasil masuk, saya ditugaskan untuk membawa Den Ayu ke tempat aman!” Perempuan muda tersebut menarik lengan Amara secara cepat.

Amara dibawa ke sebuah paviliun yang cukup tersembunyi, di sana banyak sekali perempuan yang Amara yakin adalah keluarga keraton. “Mbakyu dari mana? Saya dari tadi mencari Mbakyu” Perempuan muda dengan kebaya beludru menghampirinya dengan panik, Amara yakin perempuan tersebut bernama Laras setelah melihat buku silsilah keluarga. “Saya dari perpustakaan, oh iya para lelaki di mana ya?” Perempuan paruh baya dengan kebaya beludru putih tulang ditambah aksesoris di kepala mendekat saat mendengar pertanyaan Amara. “Romo dan Kangmas mu ikut membantu abdi dalem melawan para perampok, kita percayakan saja sama mereka, Ibu yakin mereka bisa mengatasi ini, doa saja ya nduk” senyuman teduh menghiasi wajah cantik itu. Kini Amara tahu dari mana asal senyuman Raden Mas.

Pintu paviliun didobrak oleh salah satu perampok, Kanjeng Ratu beserta yang lainnya sontak terkejut, para dayang berusaha melindungi keluarga keraton. Rasa takut menyelimuti paviliun, termasuk Amara karena perampok itu membawa senjata tajam. Ibu dan Laras berpelukan satu sama lain, sedangkan Amara mengepalkan kedua tangannya. Perampok itu terus maju mendekat sembari mengarahkan belati, terhenti setelah beberapa langkah, ia terjatuh akibat pukulan dari belakang. Raden Mas datang dengan sebalok kayu di tangannya. Beruntung Raden Mas datang tepat waktu sebelum Perampok itu melukai keluarganya.

Dengan langkah cepat, Raden Mas menghampiri Amara memeriksa kedua tangan dan wajah Amara. Rautnya terlihat sangat cemas, “Kamu ndak apa apa cah ayu? Ada yang luka?” belum sempat Amara menjawab, tubuhnya didekap dalam pelukan Raden Mas. “Maaf sudah membuat mu takut, harusnya Mas bisa cegah dia sebelum masuk ke sini” ucapnya penuh khawatir ditutup dengan kecupan lembut di pelipis Amara. “Saya tidak apa-apa, terima kasih sudah datang tepat waktu” hanya itu yang bisa Amara ucap, dirinya masih sedikit terkejut.

Raden Mas melepas pelukannya dan beralih pada Ibu dan Laras yang masih merangkul satu sama lain. “Ibu sama Laras ada yang luka? Maaf seharusnya saya bisa lebih cepat” Ibu Ratu menggeleng, senyumannya kembali terukir “Ibu ndak apa-apa Mas, terima kasih sudah datang” tangan lembut Ibu Ratu mengusap lembut lengan Raden Mas.

“Mas, tangan mu berdarah! Mbak tolong kotak obat!” Pekik Laras saat melihat telapak tangan Raden Mas mengeluarkan gumpalan darah. Mbak dayang segera mengambil kotak obat yang tersedia di paviliun. Begitu mendapati, kotak tersebut langsung direbut oleh Amara. Pergerakan tubuh Amara diluar kendalinya, ia dengan cekatan mengobati luka Raden Mas. Tanpa sepengetahuan Amara, Raden Mas tersenyum sembari menatap wajah cantik Amara.

Hari telah berganti menjadi malam, Amara duduk di halaman belakang menikmati semilir angin dan bintang-bintang yang terlukis di langit. Raden Mas menghampiri dan ikut duduk disebelah Amara memandangi hamparan bintang, tangannya yang terbalut perban menggenggam jemari Amara. “Dingin lho cah ayu, ndak mau masuk ke dalam?” Tanya Raden Mas. Tanpa mengalihkan pandangan, Amara menjawab “Saya ini Amara Mas, bukan Raden Ayu Kartika. Apa yang mau Mas sampaikan?” sungguh kalimat itu keluar dengan sendirinya. Senyuman manis itu terus terukir di wajah tampan Raden Mas, punggung tangan Amara dikecup singkat. “Saya sangat menyayangimu Kartika. Bagi saya tidak ada yang paling penting di dunia ini selain kamu. Saya tidak akan pernah sanggup hidup tanpa kamu. Tetapi jika saya pergi lebih dahulu, bukan berarti saya tidak menyayangimu. Saya akan selalu bersamamu disetiap kamu melangkah. Saya tidak akan pernah hilang jika kamu tidak melupakan saya karena saya hidup dalam kenangan. Jangan lupakan saya ya cah ayu?” Selain senyuman, tatapan teduhnya menghipnotis Amara. Raden Ayu Kartika Rahayu engkau sangat beruntung memiliki pasangan seperti Raden Mas Mahendra Adiputro Sudarsono.

Rembulan dan hamparan bintang menjadi saksi malam paling romantis antar dua insan, namun juga menjadi saksi malam paling tragis. Di tengah aksi romantis itu, sebilah anak panah mendarat tepat di jantung Raden Mas. Amara terlalu terkejut hingga tak bisa berkata-kata. Senyuman manis masih terukir di wajah Raden Mas “Saya janji akan kembali, temui saya di masa depan. Saya menyayangimu Kartika” tepat setelah menyelesaikan kalimatnya, Raden Mas menutup mata dengan hembusan nafas terakhirnya. Air mata Amara menetes tanpa disadari. Hingga detik terakhirpun Raden Mas tidak melepaskan genggamannya pada Amara. Amara memejamkan matanya untuk mencerna apa yang terjadi.

Amara membuka matanya, buku berantakan menjadi pandangan pertamanya. Matanya basah dan dadanya terasa sesak. Hanya mimpi namun emosi yang tercipta terasa nyata. Walau ia menjadi sosok Raden Ayu Kartika, tetapi Amara merasa sangat dicintai. Raden Ayu Kartika Rahayu seharusnya engkau tidak melupakan laki-laki yang menyayangimu begitu dalam, jika kau melupakannya sungguh Amara yang akan menanggungg rasa bersalah itu.

Amara mengusap air matanya, bukan saatnya memikirkan itu, tugasnya harus selesai terlebih dahulu. Fokus Amara kembali pada buku-buku dihadapannya, namun laki-laki menginterupsinya. “Permisi, apa kursi ini kosong? Boleh saya duduki? Hanya ini kursi yang tersisa” Ucapnya lembut dengan senyuman manis menghiasi wajahnya. Amara tidak lepas menatap wajah laki-laki di hadapannya. Raden Mas kembali namun dengan penampilan yang berbeda, lebih modern dengan kaos dan sebuah headset menggantung di lehernya. Air mata kembali menetes ke pipi Amara. Rasanya mengharukan. “Mbak? Saya ada salah? kenapa menangis?” Tanya laki-laki itu dengan nada panik. Amara menggeleng sebagai jawaban, ia mempersilahkan laki-laki di hadapannya untuk duduk.

Laki-laki dari tahun 1970 itu hadir dalam kehidupan Amara di tahun 2024. Laki-laki yang membuat Amara merasakan cinta yang begitu besar. Bukan Amara yang mencari Raden Mas, bukan pula Raden Mas yang menemukannya, tetapi takdir yang mempertemukan mereka kembali.


메타데이터
post_id
4eaec608fece
slug
a-man-from-1970-4eaec608fece
url
https://medium.com/@ssbrinur/a-man-from-1970-4eaec608fece
canonical_url
https://medium.com/@ssbrinur/a-man-from-1970-4eaec608fece
author_url
https://medium.com/@ssbrinur
status
ok
fetched_at
2026-08-09 13:51:10