← Back to list

Cerita Tentang Seorang Janda Miskin Memberi Persembahan

Bagaimana mau memberikan sesuatu jika hidup yang dijalani saat ini saja sudah penuh kekurangan?

Jesica Caroline in Pelita Kasih · 2025-04-03 08:02 · 201 claps · 3.7 min read paywalled
#pelita-kasih #kekristenan #persembahan #kristen #indonesia
Open on Medium ↗

#166 | CHRISTIANITY

Cerita Tentang Seorang Janda Miskin Memberi Persembahan

Bagaimana mau memberikan sesuatu jika hidup yang dijalani saat ini saja sudah penuh kekurangan?

Photo by Josh Applegate on Unsplash

Photo by Josh Applegate on Unsplash

Belum menjadi Member Medium? Klik di sini untuk versi gratis!

Siapa yang dulunya pernah mengira bahwa memberikan persembahan itu sebatas pada memberikan sejumlah uang di kantong kolektan di gereja? Yah, aku pernah sih berpikiran demikian saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Kemudian, saat beranjak dewasa pun aku mengerti bahwa memberikan persembahan kepada Tuhan itu lebih dari sekadar memberikan sejumlah kecil uang yang kita miliki pada gereja.

Bercerita Tentang Persembahan Seorang Janda Miskin

Mengakhiri bulan Maret lalu, aku ditugaskan menjadi pembawa firman di kelas sekolah minggu gabungan. Kelas gabungan itu terdiri dari kelas 1–3. Temanya adalah Tuhan Mengajarkan Memberi Persembahan. Perikop Alkitabnya diambil dari Lukas 21:1–4, yang pokok ceritanya membahas seorang janda miskin dan orang-orang kaya memberikan persembahan di Bait Allah.

Jika menjadi seorang pembawa firman (PF), berarti kita diwajibkan untuk mengikuti persiapan GSM (Guru Sekolah Minggu) secara daring sebagai bekal. Pendeta akan mempersiapkan para guru mengenai tema yang akan dibawakan di hari Minggu mendatang dengan pengertian yang lebih mendalam, melihat berbagai konteks dengan lebih luas serta latar belakangnya sebelum masuk ke cerita yang akan dibawakan. Lalu, para GSM juga akan diberikan waktu untuk memberi pertanyaan seputar tema atau tentang bagaimana cara penyampaian yang tepat kepada anak-anak.

Hal ini menjadi salah satu hal yang paling menarik bagiku. Sang pendeta yang memang mempunyai latar belakang pendidikan teologi sebelumnya itu menceritakan tiap-tiap kata yang terlihat remeh dan tidak terlalu penting jika kita hanya membacanya sekilas tanpa merenungkannya lebih dalam. Ia membiasakan kita untuk menyelisik dan merenungkannya.

Contohnya adalah cerita tentang janda. Kurang lebih dua ribu tahun yang lalu, budaya patriarkal masih sangat amat kental dan menyisihkan perempuan untuk menapaki tanah mencari nafkah sendiri. Perempuan tidak dapat hidup sendiri seperti zaman sekarang. Mereka semua terpaksa menggantungkan seluruh kehidupannya pada laki-laki, entah itu sang ayah, suami, bahkan anak laki-lakinya.

Di cerita kali ini, secara gamblang sang penulis menyebutkan bahwa yang memberi persembahan saat itu adalah seorang janda yang miskin. Sudah tidak mempunyai suami yang dapat menafkahinya, dia pun harus hidup berkekurangan secara materi pula.

Jika kita berada di posisi yang sama seperti si janda, apakah kita masih bisa memberi?

“Hidup aja udah susah, gimana coba mau memberi?”

Nampaknya, Yesus melihat ketulusan hati seorang janda ini.

Jadi, memang sudah menjadi kesehariannya Yesus pergi ke berbagai tempat untuk mengajar firman Tuhan, termasuk di Bait Allah. Menyaksikan hal itu, Yesus berkata kepada orang-orang yang sedang bersamanya kala itu, “…sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.

Aku mencoba membawa anak-anak agar dapat membayangkan situasi yang sedang terjadi saat itu dengan menunjuk dua anak yang akan berperan sebagai seorang yang kaya dan seorang janda miskin.

Uang recehan berbentuk koin telah kusiapkan di kantong celanaku dan memberikannya kepada mereka,masing-masing menurut peran yang mereka jalankan. Tidak ada dialog atau apa pun. Mereka hanya harus menaruh uang receh yang sudah kuberikan ke dalam kantong persembahan secara bergantian dengan jumlah yang pastinya berbeda, yang satu memberikan lebih banyak dan yang lainnya memberikan jauh lebih sedikit.

Poinnya apa? Supaya anak-anak mengerti bahwa Tuhan Yesus tidak melihat apa yang manusia lihat.

“Memberi lebih banyak = Lebih baik”

Itulah yang biasanya kebanyakan dari kita pikirkan, bukan? Bahwa Tuhan akan senang jika kita memberi lebih banyak dan agar berkat yang kita dapatkan dari-Nya juga lebih banyak karena kita sudah memberi banyak?

Ternyata, Tuhan tidak melihat seperti yang kita pikirkan. Memangnya, Tuhan kekurangan uang dan membutuhkan uang milik kita?

Dan, tentu saja jika mengajar anak-anak sekolah minggu, kita harus dapat mengaitkan cerita yang disampaikan dengan kehidupan sehari-hari sebagai pengaplikasiannya.

Hal inilah yang ingin kusampaikan pada anak-anak, yakni agar mereka memahami bahwa memberi persembahan adalah bukan sebatas memberikan uang di gereja saja, bahwa mereka dapat memberi persembahan di luar gereja.

Lalu, aku menulis di papan tulis:

“Persembahan adalah sesuatu yang kita berikan kepada Tuhan sebagai tanda syukur kita atas kebaikan-Nya.”

Kemudian bertanya, “Emangnya, apa aja sih kebaikan Tuhan yang adik-adik terima?

Mungkin karena malu-malu ibadahnya digabung dengan kelas lain, aku pun menjelaskan beberapa hal yang selalu kita nikmati dalam hidup, seperti keluarga, makanan, dan sekolah.

Dan, bentuk-bentuk persembahan yang dapat kita berikan untuk Tuhan itu tidak sebatas uang saja, tetapi juga waktu dan talenta.

“Persembahan berupa waktu itu contohnya kayak adik-adik sekarang nih, lagi ngapain? Sekolah Minggu kan? Nah, itu termasuk bentuk adik-adik memberi persembahan kepada Tuhan. Padahal, bisa aja kan adik-adik lanjut tidur dan ga perlu bangun pagi-pagi pas hari libur? Tapi adik-adik memilih untuk pergi ke sekolah minggu.”

Ada pula beberapa anak lainnya yang menjawab berdoa dan membaca Alkitab.

“Nah, siapa di sini yang bisa menggambar? Mewarnai? Main musik? Menyanyi? Itu semua adalah talenta yang diberikan Tuhan untuk adik-adik lho! Adik-adik bisa melakukan semua itu untuk Tuhan, untuk kemuliaan-Nya.”

Jadi, perihal Tuhan ingin kita memberikan persembahan yang terbaik pada-Nya adalah bukan karena Ia membutuhkan apa yang kita berikan, tetapi karena Ia senang jika kita bersyukur. Memberi persembahan adalah bentuk nyata kita mengasihi-Nya melalui apa yang kita dapat lakukan dan berikan untuk kemuliaan nama-Nya.

“…supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” — Roma 12:1

Terima kasih telah membaca!

May God bless us all ❤

Selamat Idulfitri bagi teman-teman yang merayakan!


메타데이터
post_id
4ed08d21d2a5
slug
cerita-tentang-seorang-janda-miskin-memberi-persembahan-4ed08d21d2a5
url
https://medium.com/pelita-kasih/cerita-tentang-seorang-janda-miskin-memberi-persembahan-4ed08d21d2a5
canonical_url
https://medium.com/pelita-kasih/cerita-tentang-seorang-janda-miskin-memberi-persembahan-4ed08d21d2a5
author_url
https://medium.com/@jejes511
status
ok
fetched_at
2026-07-18 15:10:39