Pria setengah matang
Di ujung hayat hari ini, terduduk diam di selasar. Termenung konsisten setengah matang yang kerap ku delegasikan bebannya pada pikirku…
Pria setengah matang
Di ujung hayat hari ini, terduduk diam di selasar. Termenung konsisten setengah matang yang kerap ku delegasikan bebannya pada pikirku. Mencari kesepakatan hati atas apa yang tak disudahi, mengulik kedamaian yang tak kunjung menghampiri.
“Semoga esok kutenggak segelas perdamaian di hatiku.”
Selalu ku tanamkan kata-kata itu di ujung waktu. Aku hanya butuh ketenangan di ibukota batin, untuk memaafkan segala sesal kelana hidupku. Embun pagi terasa berat, tak seperti yang dijelaskan lagu-lagu cinta yang mengejar rating. Rasanya aku dijemput paksa oleh pagi dan terpaksa tinggalkan malam.
“oh, selamat pagi dunia.” ucap hati padaku yang tertinggal sendiri
Menyeruput kopi hitam yang ditambahkan kontemplasi hari ini, adalah menu pembuka hari-hari monotonku. Disapa keras padatnya kota, menerjang tsunami manusia yang dituntut mapan, mereka terjerat oleh belenggu bayangan mimpi kapitalisme.
“Sesak hidupmu hanya dibayangi ambisi mereka.”
Suara hati yang terlepas, walau terkadang posisi mereka yang ku inginkan. Tampaknya sudah saatnya aku mengais materiil, untuk membayar retribusi untuk membeli meja dari orang-orang mapan itu.
Hari dijalani sempurna, tertekan dan terpaksa. Tampaknya muak sudah terjadwal pukul 3 sore, tak pernah berubah. Padatnya jalan arteri yang dipayungi senja selalu ku saksikan, menyaksikan ribuan manusia lelah yang tak menuai karir indah.
“semoga semuanya ini pantas kuarungi di dunia yang katanya berkah.”
Sedikit harap masih kutitipkan pada-Mu, Tuhan Yang Maha Esa.
메타데이터
- post_id
- 4ed158c99d05
- slug
- pria-setengah-matang-4ed158c99d05
- url
- https://medium.com/@radith.dean1/pria-setengah-matang-4ed158c99d05
- canonical_url
- https://medium.com/@radith.dean1/pria-setengah-matang-4ed158c99d05
- author_url
- https://medium.com/@radith.dean1
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30