Jejak Tinta Leluhur: Mengenang Huruf Serang dalam Tradisi Bugis-Makassar
Tentang aksara, tradisi ilmu, dan cara leluhur Bugis-Makassar merawat peradaban melalui tinta dan bahasa
Jejak Tinta Leluhur: Mengenang Huruf Serang dalam Tradisi Bugis-Makassar

Sumber: Koleksi Pribadi
Pada lembaran-lembaran tua yang mulai menguning dimakan usia, di tinta yang perlahan memudar bersama waktu, tersimpan jejak kecerdasan leluhur Bugis-Makassar yang hari ini nyaris terlupakan. Huruf Serang—aksara yang dahulu hidup di surau, di rumah-rumah ulama, di sela pengajian malam, dan di tangan para santri—bukan sekadar rangkaian huruf Arab yang diubah bentuknya. Ia adalah saksi bahwa leluhur Bugis-Makassar pernah membangun tradisi ilmu dan literasi yang kuat dengan caranya sendiri.
Nama “Serang” lahir dari tradisi para santri yang menulis makna kitab secara menyerong (Bugis: serang) di bawah baris-baris matan Arab. Dari goresan miring itulah tumbuh sebuah tradisi besar. Lambat laun, huruf Serang tidak lagi hanya menjadi alat untuk memberi makna pada kitab kuning, tetapi menjelma menjadi media tulis masyarakat Bugis-Makassar. Kisah Isra Mi’raj yang hingga kini dibaca dalam tradisi Khalwatiyah Samman ditulis dengannya, syair-syair keagamaan diabadikan melaluinya, nasihat para ulama diwariskan dengan huruf itu, bahkan sejarah dan ingatan kolektif komunitas keagamaan pernah hidup di dalam aksaranya.
Tentu saja, huruf Serang tidak lahir di ruang kosong. Perkembangannya tidak dapat dipisahkan dari pengaruh tradisi aksara Arab Nusantara seperti Jawi di tanah Melayu dan Pegon di tanah Jawa yang dipelajari oleh leluhur Bugis di tanah perantauan maupun kedatangan orang Melayu di tanah Sulawesi. Dalam perjumpaan itulah masyarakat Bugis-Makassar kemudian mengadaptasi huruf Arab sesuai kebutuhan bahasa serta tradisi keilmuan mereka sendiri. Karena itu, huruf Serang bukanlah simbol keterpisahan, melainkan bagian dari jalinan besar peradaban Islam Nusantara yang saling terhubung dan saling memengaruhi, sambil tetap melahirkan kekhasan budaya di tiap daerah.
Namun di tangan para ulama dan penulis Bugis-Makassar, aksara itu berkembang dengan ciri khasnya sendiri. Mereka berpikir, meneliti, lalu menyesuaikan huruf Arab dengan bunyi bahasa Bugis atau bahasa Makassar. Maka lahirlah berbagai harakat tambahan yang bervariasi di berbagai daerah. Misalnya, penggunaan dhammah terbalik untuk vokal “o”, tanda mirip cangkul di bawah huruf untuk bunyi “e taling”, dan tanda mirip cangkul terbalik di atas huruf untuk bunyi “e pepet”. Dari tangan mereka, aksara Arab tidak sekadar dipakai, tetapi diolah dengan kecermatan ilmu dan kehalusan budaya agar benar-benar sesuai dengan bahasa sendiri.
Betapa luar biasanya para pendahulu itu. Di masa ketika teknologi belum hadir, ketika kertas begitu berharga, mereka telah memikirkan bagaimana ilmu dapat diwariskan dengan tepat agar tidak ada kesalahan pembacaan oleh generasi setelahnya. Karena itu naskah Serang biasanya ditulis lengkap dengan harakat, seakan para leluhur sedang berbisik kepada anak cucunya di masa depan, “Bacalah dengan benar, niscaya kamu akan menemukan kebenaran.”
Namun yang lebih menarik, penggunaan huruf Serang tidak pernah membuat masyarakat Bugis-Makassar meninggalkan aksara Lontara yang usianya jauh lebih tua. Keduanya hidup berdampingan dalam harmoni tradisi dan ilmu. Lontara tetap digunakan secara luas dalam pencatatan sejarah, sastra, adat, petuah leluhur, hingga berbagai teks keagamaan untuk masyarakat umum. Sementara huruf Serang berkembang khusus di lingkungan religius, terutama di kalangan ulama dan santri. Ia menjadi bahasa tulis pengajian, penerjemahan kitab kuning, penyalinan ilmu-ilmu Islam, baik dalam bentuk makna kata per kata di bawah matan Arab maupun penerjemahan penuh tanpa menyertakan teks aslinya.
Di situlah tampak kedewasaan intelektual leluhur Bugis-Makassar. Mereka tidak mempertentangkan antara warisan lama dan pengaruh baru. Mereka tidak menghapus Lontara demi Serang, dan tidak pula menolak Serang demi mempertahankan Lontara. Keduanya dipelihara sesuai fungsi dan kehormatannya masing-masing. Sebuah sikap budaya yang memperlihatkan bahwa masyarakat Bugis-Makassar dahulu bukan hanya masyarakat yang religius, tetapi juga masyarakat yang matang dalam memandang ilmu, tradisi, dan peradaban.
Namun hari ini, warisan itu perlahan menjauh dari kehidupan generasi muda. Banyak anak muda Bugis-Makassar yang mampu membaca berbagai bahasa asing, tetapi tak lagi mengenali tulisan yang pernah menjadi denyut ilmu nenek moyangnya sendiri. Manuskrip-manuskrip tua tersimpan sunyi di lemari, sementara mata yang masih jernih itu lebih akrab dengan layar hape daripada jejak tinta leluhurnya. Padahal di balik aksara itu tersimpan harga diri sebuah bangsa. Bahwa orang Bugis-Makassar bukan masyarakat yang buta huruf, bukan masyarakat yang hanya mewarisi tradisi lisan, tetapi masyarakat yang memiliki sejarah intelektual yang tinggi.
Huruf Serang dan aksara Lontara bukan sekadar tulisan lama yang layak dipajang di museum. Keduanya adalah lambang kecerdasan, ketekunan, dan cinta ilmu para leluhur Bugis-Makassar. Ketika generasi muda belajar kembali membaca aksara-aksara itu, sesungguhnya mereka sedang menyambung kembali percakapan yang lama terputus dengan nenek moyangnya sendiri. Mereka sedang menyentuh jejak tangan para ulama, para penulis, para pujangga, dan para santri yang dahulu menghabiskan malam-malam mereka untuk menyalin ilmu demi anak cucu yang bahkan belum lahir.
Maka melestarikan huruf Serang dan aksara Lontara bukan hanya urusan budaya. Ia adalah bentuk penghormatan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu merancang masa depannya sendiri, tetapi juga bangsa yang melestarikan dan mengembangkan warisan leluhurnya. Dan mungkin, di tengah dunia yang bergerak begitu cepat hari ini, kita perlu sesekali menunduk kepada lembaran tua itu, lalu berkata dengan penuh hormat, “Terima kasih karena telah mewariskan ini kepada kami.” []
Catatan: Penggunaan istilah “Bugis-Makassar” dalam tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyamakan antara suku Bugis dan suku Makassar. Keduanya adalah dua suku bangsa yang berbeda dengan bahasa yang juga berbeda. Hanya saja, kedua suku bangsa tersebut memiliki banyak kesamaan dalam tradisi dan saling memengaruhi, termasuk dalam penggunaan huruf Serang. Bahkan banyak raja-raja di kerajaan Bone maupun Gowa yang berdarah Bugis dan Makassar (campuran) sehingga tradisi dua suku bangsa berpadu di lingkungan istana. Oleh karena itu, jika dikatakan “Bugis-Makassar” maka maksudnya adalah suku Bugis dan suku Makassar serta gabungan keduanya. Bukan suku Bugis yang tinggal di kota Makassar. Bukan pula suku Bugis yang pintar berbahasa Makassar. Bukan pula suku Makassar yang dianggap suku Bugis.
메타데이터
- post_id
- 4f0809458eb4
- slug
- jejak-tinta-leluhur-mengenang-huruf-serang-dalam-tradisi-bugis-makassar-4f0809458eb4
- url
- https://medium.com/@ishaq_asri/jejak-tinta-leluhur-mengenang-huruf-serang-dalam-tradisi-bugis-makassar-4f0809458eb4
- canonical_url
- https://medium.com/@ishaq_asri/jejak-tinta-leluhur-mengenang-huruf-serang-dalam-tradisi-bugis-makassar-4f0809458eb4
- author_url
- https://medium.com/@ishaq_asri
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 19:40:15