← Back to list

Bicara

“Bian, di sini!”

lila · 2023-04-29 13:02 · 15 claps · 3.4 min read
#binhao #zhanghao #hanbin #bxb #usa
Open on Medium ↗

Bicara

“Bian, di sini!”

Jesse melambaikan tangannya kala eksistensi Bian muncul di depan matanya. Bian yang melihat Jesse sedang duduk di halte depan gedung utama FISIP ㅡsesuai tempat yang mereka janjikan tadiㅡ pun segera menghampiri.

“Sorry ya baru dateng, tadi gue harus post test dulu.”

Bian sedikit merasa bersalah. Jesse sudah menunggunya dari pukul 14.35, sementara saat ini sudah pukul 15.03. Berarti sudah hampir setengah jam Jesse berada di halte ini.

“Iya nggak apa-apa kok, Bian.” Jesse berucap santai. Ia menepuk-nepuk tempat duduk di sampingnya. “Sini Bian, duduk.”

Bian mengangguk. Ia kemudian duduk di samping Jesse. Matanya memandang sekitar. Gedung FISIP kali ini cukup sepi. Mungkin karena mahasiswanya sudah banyak yang pulang. Berbeda dengan fakultas teknik yang mahasiswanya masih banyak yang nangkring di pelataran fakultas. Entah karena harus mengurus tugas kuliah, organisasi, ataupun hanya sekedar nongkrong.

“Oh iya Bian, katanya kamu mau ngomong sesuatu.” Kata Jesse mengingatkan.

Astaga, Bian hampir lupa. Sepertinya efek karena ia terlalu lelah berlari. Bian refleks meneguk ludahnya kasar sembari mempersiapkan dirinya.

“Jesse …” Bian memulai pembicaraan. Ia menatap bola mata Jesse lamat-lamat. “Meskipun kita baru kenal, tapi lo udah gue anggep sebagai sahabat gue.”

Jesse yang ditatap seperti itu pun ikut gugup. Hatinya menerka-nerka apa yang ingin Bian bicarakan.

“Sebagai sahabat, gue mau lo jadiin gue tempat lo berbagi keluh kesah. Gue mau lo jadiin gue tempat sandaran di saat lo capek.” Bian berkata dengan serius, sampai-sampai membuat Jesse berkaca-kaca.

“Setidaknya Jesse harus tau kalau dia nggak sendirian.”

“Bian …” Jesse menitikkan air matanya. Saat ia bersekolah di sekolah swasta dulu, tidak pernah ada satupun orang yang berkata seperti ini kepadanya. Bian lah orang pertama yang berkata seperti ini padanya.

Jesse memeluk Bian erat. Sementara tangan Bian menepuk-nepuk kepala Jesse.

“Pasti berat banget hidup lo ya, Jesse.”

Bian menarik nafas panjang-panjang. Baiklah, ia sudah siap untuk berkata pada intinya. Ia ingin Jesse segera mengakhiri perbuatan tidak terpuji itu.

“Jesse …”

“Iya Bian?” Jesse melepas pelukannya. Tatapannya terpaku pada mata Bian. Namun kalimat yang Bian utarakan selanjutnya membuat Jesse melongo tak mengerti.

“Bisa lo berhenti?”

“Berhenti apa Bian?” Jesse mengernyit tak paham.

Bian menghela nafas. “Lo tau kan yang lo lakuin bukan hal yang bener?”

“Hah?!”

Bian menggenggam erat tangan Jesse. Sementara Jesse masih dengan ekspresi melongonya.

Namun kalimat Bian selanjutnya semakin membuat Jesse dipenuhi tanda tanya.

“Jesse, gue tau uang emang segalanya di dunia ini. Tapi lo nggak boleh ngehalalin segala cara buat dapetin uang.”

“Bian, aku nggak ngerㅡ”

TINNNN!

Belum sempat Jesse mengutarakan kebingungannya, sebuah mobil mengklakson mereka. Bian sontak melepaskan genggamannya pada tangan Jesse, kemudian mengalihkan pandangannya pada mobil yang baru saja mengganggu kegiatan menasihati Jesse yang sedang ia lakukan.

Bian menatap mobil itu bingung. Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa mobil BMW berhenti di depan mereka? Sejenak ia menatap sekitar, tidak ada tanda-tanda orang kaya yang menunggu jemputan di halte ini. Namun saat ia melihat Jesse yang berdiri, ia langsung paham situasi ini.

Bian menahan tangan Jesse. “Jesse, gue mohon jangan!” Bian berkata serius. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengisyaratkan supaya Jesse tidak pergi menuju mobil mahal itu.

“Tapi Bian, aku harus kesana.” Jesse mencoba melepaskan genggaman Bian. Tapi nihil. Tenaga Bian terlalu kuat.

Selagi Bian menahan Jesse. Sosok yang berada di dalam mobil tersebut segera keluar.

“Ada apa ini?” Katanya bertanya-tanya.

Bian menatap pria itu nyalang. Wajahnya berbeda dengan pria yang ia lihat bersama teman-temannya tadi siang. Mobil yang digunakan pun berbeda. Tapi yang bian tahu, penampilan mereka sama-sama terlihat mahal. Bian bisa memperkirakan jas hitam yang dipakainya mencapai jutaan rupiah. Sayangnya pria itu cukup tua. Lihatlah uban yang memenuhi rambut serta keriput di beberapa bagian wajahnya.

“Jesse, lo ngelakuin itu sama banyak orang?”

Sejujurnya sejak awal Bian ingin berpikir positif. Tapi apa yang ia lihat sejak tadi benar-benar sulit membuatnya berpikir positif mengenai Jesse.

“Apa yang sedang kamu lakukan?” Pria itu balik menatap Bian dingin. Terlebih saat ini Jesse meringis kesakitan akibat genggaman Bian yang semakin menguat.

Bian menggertakkan giginya. “Harusnya bapak nanya ke diri bapak sendiri, apa yang bapak lakuin? Harusnya bapak sadar diri, bapak itu udah tua. Inget anak istri pak.” Bian menunjuk-nunjuk dada pria itu.

Jesse semakin tidak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini.

“Bian, kamu kenapㅡ?”

“Jesse lo diem! Gue di sini mau berjuang buat lo!”

Bian tak membiarkan Jesse untuk bicara. Ia semakin menatap pria tua itu nyalang.

“Bapak harusnya tau kalau Jesse ini mahasiswa.” Bian kembali menunjuk-nunjuk dada pria tua itu. Cara bicaranya begitu menggebu-gebu. Sampai-sampai pembuluh darah di lehernya terlihat menonjol. “Sebaiknya bapak pulang dan urus anak istri bapak.”

Jesse dibuat bingung. Beruntung kondisi FISIP sepi. Sehingga tidak banyak yang me-notice keributan yang sedang terjadi.

“Bian, kamu kenapa sih? Kenapa juga tiba-tiba supir aku diusir?”

Bian menatap Jesse tajam. “Jesse, lo diem dulu. Gue masih ngomong sama supir loㅡ HAH SUPIR?!”

“Iya ini supirku.”

Bian terdiam beberapa saat. Menerka situasi saat ini.

“Bian kok diem?”

Dan selanjutnya Jesse dibuat panik karena Bian tiba-tiba terjungkal dan pingsan.

“Bian!!!’

©haonorable, 2023


메타데이터
post_id
4f0d538fcd81
slug
bicara-4f0d538fcd81
url
https://medium.com/@haonorable/bicara-4f0d538fcd81
canonical_url
https://medium.com/@haonorable/bicara-4f0d538fcd81
author_url
https://medium.com/@haonorable
status
ok
fetched_at
2026-07-25 20:14:21