A Lion’s Cage
Cw/kissing/french kiss/kinda mature.

Jikyu. Edited by:©HANA(ibispaint).
A Lion’s Cage
Cw/kissing/french kiss/kinda mature.
Junkyu dan jihoon, kedua daksa yang tengah terjerat dalam sebuah relasi rumit tersebut hanya butuh saling rangkul. Keduanya pun juga butuh rangkulan orang terkasih lainnya untuk menunjukkan bahwa mereka tak perlu takut, dan tak perlu merasa terintimidasi di dunia. Ketika dirangkul dan diterima, emosi negatif yang kini mereka rasakan tentu bisa menjadi katalis yang kuat untuk perubahan positif hingga dapat mengarah pada perasaan makna dan keaslian yang lebih dalam.
Sebenarnya jihoon sangat membutuhkan penerimaan junkyu terhadap perasaannya; Hanya saja dia merasa kecil. Sedangkan junkyu sedang membutuhkan dukungan dan rangkulan orangtuanya.
Senja ini, pemuda dengan mole kecil yang khas di bagian bawah mata kanannya itu sudah berada di dalam lift menuju lantai lima apartemen. Wajahnya lesu lantaran kelelahan. Sebelah tangannya menenteng ransel tempat kebutuhannya selama menginap di lokasi syuting. Sesekali dia menguap, mungkin saja kantuknya sudah menyerang. Lesung pipi indahnya akan muncul acap kali pria itu memainkan pipi dan senyumnya. Ia menatap lantai lift, sedangkan pikirannya sungguh acak. Ah, ada perasaan bahagia yang timbul lantaran sebentar lagi bertemu dengan jihoon. Aneh, padahal hanya seminggu tidak bertatap muka tapi perasaan rindunya bagai setahun tak bersua. Sejak dulu seperti itu.
Pernah ada kejadian dimana junkyu sampai jatuh sakit lantaran berpisah dengan jihoon selama sebulan lebih, Di karenakan harus ikut pergi ke luar kota bersama ayah ibunya yang bertugas. Saking tak kuasanya ia menahan rindu untuk bermain bersama jihoon, akhirnya junkyu demam tinggi lantaran tertekan, geram, gelisah dan tak sabaran.
Junkyu menggeleng pelan kepalanya seraya terkekeh kecil setelah mengingat kejadian itu.
“Ting!”
Bunyi tanda lift telah sampai di lantai tujuan. Pemuda dengan kaki jenjang itu segera melangkah sambil sesekali menyugar rambutnya ke belakang.
Saat di jalan melewati lorong, ia kembali menguap lantaran menahan euforia kantuknya.
Pelukan yang jihoon janjikan saat di chat tadi — tidak terjadi sama sekali. Entah kenapa keduanya malah saling lempar tatapan sengit sewaktu bertemu di ruang depan apartemen. Dan entah siapa pula yang duluan memulai antara keduanya. Yang pasti, sosok jihoon segera menutup toples kue kering yang sejak tadi ia jadikan cemilan kemudian berlalu pergi ke kamar—niat hati benar-benar ingin memeluk junkyu sampai gepeng tapi tidak jadi lantaran merasa mendapat tatap tak suka dari yang bersangkutan, padahal sendirinya juga melempar tatap sengit ketika junkyu baru muncul di pintu. sedangkan junkyu sendiri mengambil langkah cepat menuju dapur, ia pun merasakan sama halnya seperti yang jihoon rasakan, padahal ia juga yang mulai mendecak sebal saat baru masuk pintu dan mendapati jihoon di sofa. Aneh!.
Keduanya sudah mati-matian meyakinkan diri untuk tidak termakan amarah kalau bertemu, Tapi gagal. Mereka malah ganti termakan oleh gengsi. Seolah lupa kalau masing-masing bukan lagi remaja labil yang belum bisa mengontrol emosi. Tapi inilah mereka!.
Setelah memasukkan pakaian kotor kedalam mesin cuci otomatis dan menyalakan mesinnya, junkyu terinterupsi oleh kulkas yang membuatnya membayangkan banyak minuman dingin di sana.
Namun bahunya langsung turun saat menyaksikan hanya dua jenis minuman dingin yang berada di sudut terpisah. Sebotol sprite, dan sebotol coke. “Aish! Tinggal dua doang!?.” kesahnya seraya menjulurkan tangan menuju sprite yang teronggok di paling sudut. Akan tetapi pergerakannya segera di hentikan oleh satu tangan yang tiba-tiba menyerobot botol sprite tersebut lebih dulu. “Eitts! Ini punya gue. Lu cola aja.” Ujar yang bersangkutan dengan nada terdengar amat menyebalkan. Junkyu memejam sebentar, menetralkan nafas, lantas melemparkan glare horor ke jihoon.
“ck! Gua lagi gabisa minum cola?!” Ketusnya, sedang ia berusaha merebut botol yang kini di oper bergantian dari tangan satu ke tangan yang lain.
Lantaran sudah lelah, junkyu memilih untuk mengalah saja. akhirnya ia mengambil air tawar dingin yang memang selalu diisi ulang. Meminumnya dengan tampak terburu-buru bagai orang kehausan di gurun Sahara.
“Nih, jangan marah” Jihoon kembali menyerahkan sprite ke junkyu. Merasa kasihan ia.
“Lo tuh yang marah duluan!” junkyu ketus, tanpa menerima pemberian jihoon. Ia lebih memilih berjalan ke mesin cuci, lalu berdiri di sebelahnya untuk menunggu.
“bukannya Lo yang marah-marah di chat tadi?” Tanya jihoon. Tatapnya menuju tepat pada punggung junkyu yang terlihat letih.
“ya Lo bikin gua marah! Lo yang marahin gua duluan! Sadar ga sih!?”. Junkyu berbalik hanya demi membalas perkataan jihoon.
“gua engga marah!. Gua cuman bilangin terus Lo marah, kyu~?”
“nggak!”
“ck! — hahh!” dapat junkyu dengar nafas jihoon yang memberat lalu terhela kasar. Setelah itu langkah kaki si Park terdengar sedikit menghentak. Pria itu akhirnya kembali ke kamar, meninggalkan junkyu yang makin mengumpat dengan suara kecil.
Keduanya perang dingin. Saling menghindar, uring-uringan satu sama lain hingga beberapa jam lamanya. Dari matahari masih sedikit tampak hingga langit tampak sedikit gulita. Atmosfir keduanya menjadi ikutan gelap seperti langit malam ini. Entah kejadian kecil apapun itu, maka akan berakhir dengan suara decakan atau hentakan kaki di lantai. Untung tidak retak tuh lantai!.
“Itu lipetan Lo di kamar gua ambil! Gua mau tidur!” Ujar junkyu masih dengan nada ketus. Matanya tak mau menatap jihoon barang sedetik pun.
“Bentar. Gua cuci piring ini.” berbeda dengan junkyu, jihoon masih berusaha menahan untuk tidak melontarkan nada yang tinggi. Tangannya sibuk berkutat dengan piring kotor dan air sabun. Ia juga sama dinginnya dengan junkyu.
“sekarang!”
Padahal mereka baru saja menjalani makan malam berdua di satu meja beberapa menit sebelum jihoon mencuci piring tadi. Hanya saja diiringi suara dentingan piring dan sendok yang sengaja di benturkan keras sebagai tanda kalau keduanya masih perang dingin.
Jihoon memutar kuat keran sambil melontarkan tatap tajamnya ke iris junkyu, deru nafasnya kesah.
Setelah di pastikan keran sudah mati, tanpa aba-aba tangan basahnya ia usap ke wajah junkyu sebagai pelampiasan emosi, hingga si Kim di buat berteriak lalu memukuli sambil mengejarnya.
“taik Lo taik! Ngeselin!”
Tepat pukul sembilan malam. Dimana Langit yang seharusnya gelap serta dipenuhi bintang itu tampak terang sebab terkena polusi sehingga sulit untuk mengamati barang satu bintang saja. Seakan selimut kabut yang membentang. Syukurnya disana terdapat bulan yang bersinar seperti bola perak di kegelapan. Menemani kesendirian jihoon yang tengah merenung di jendela sambil tertawa kecil.
Ia tertawa! Mengingat kejadian barusan.
Lelaki dengan iris boba itu menertawai dirinya dan junkyu. Ia mengerti bahwa pria bermarga Kim yang selalu memenuhi pikirannya itu sedang marah, tapi kenapa seolah-olah juga selalu mencari atensinya; Alias caper?.
‘dok dok dok!!’
Seperti saat ini. Suara gedoran pintu agak keras itu kembali menginterupsinya. Padahal terhitung baru satu menit lalu junkyu datang dan menggedor pintu kamarnya persis seperti saat ini. Lantas sekarang kembali lagi?. What are u doing Kim?.
“apa lagi?” jihoon bertanya saat sudah membukakan pintu dengan tatapan malas. Junkyu sontak menampakkan Boombastic side eyes beserta bibir yang menyebik kesal. Di serahkannya dua hanger besi milik yang bersangkutan. “Ketinggalan!. Menuh-menuhin kasur!” Ucap pria tersebut cepat dan rentet lalu pergi begitu saja.
Ini yang membuat jihoon terus tertawa. Padahal satu menit lalu junkyu juga menyerahkan dua hanger miliknya. Jihoon tidak mau gede rasa — Tapi, apakah pria itu sengaja mencicil dua hanger untuk dijadikan alasan agar bisa bertemu dengannya?. Lucu sekali kalau benar!.
“tuh hanger pake acara ketinggalan segala, ntar gue dikira caper lagi sama dia! Idih!” Junkyu bermonolog sendiri sesaat setelah tiba di kamar miliknya. Hei Kim junkyu! Padahal kau bisa meletakkannya di atas nakasmu, atau di tempat lain. Tapi kau memilih memberikannya langsung!?. Naur! Wdym?.
Lelaki itu kini bergerak merapihkan sprei dengan telaten, kemudian menyusun bantal dengan sangat rapih. Setelah bebersih di toilet hingga terasa segar, ia naikkan tubuhnya ke kasur disertai perasaan yakin bahwa kakinya sudah bersih.
Punggungnya bersandar di headboard kasur, sedang kaki jenjangnya terselonjor. Setelah itu, ia letakkan satu bantal di pangkal pahanya. Ia melirik sebuah laptop yang terletak di atas nakas, kemudian mengambilnya. Semenjak mengikuti projek drama, tiap sebelum tidur ia merasa harus menonton salah satu drama untuk di jadikan latihan.
“dok dok dok!!”
‘ — cklek’ . “ — apalagi?”
“ajarin gua kiss.” Bodoh. Junkyu pikir dirinya bagai pengemis bodoh sekarang. Akibat terlalu kesusahan latihan kiss scene dengan media bantal dan merasa tidak mendapat feel. Junkyu akhirnya memilih keputusan yang membuatnya bagai menyerahkan diri dihadapan singa lapar. Ia bak si pandir yang putus asa detik ini. Tangannya meremat kuat ujung kaosnya tanpa mau membalas tatapan melongo seorang jihoon. Pemuda park itu tengah mengerjap tak percaya setelah mendengar penyampaiannya barusan.
“ajarin — apa? Kiss?”. Tanya jihoon memastikan apakah ia tak salah dengar. Ujung bibirnya berkedut lantaran menahan senyum.
“iya! Budeg Lo!?”.
“gue ajarin Lo kiss? Lo minta ajarin gua? Kiss? Yakin? Ga salah?”. Jihoon berujar seraya menunjuk bibirnya sendiri, berkali-kali di hadapan junkyu.
sontak si Kim memukul kepala jihoon agak keras hingga pria tersebut mengaduh.
“Lo mikir apa bego!? Ajarin kiss yaa!?. Ajarin! Bukan praktek! Faham ga!?. Maksudnya tuh, Lo jelasin step by step! hiiihhh!” Junkyu menekan tiap katanya, lalu mendorong bahu jihoon agak keras hingga bahu pria itu terbentur ke daun pintu.
“Aduhh, ya kirain kan…?” Keluh jihoon seraya mengelus bahunya. “—buat kiss scene drama Lo sama mbak yoojung!?” lanjutnya lagi, ada sebersit raut kesal kala Ia berucap.
Junkyu hanya membalas dengan anggukan semata.
“kalo gituuu…nggak gua ajarin.” Jelas saja jihoon masih merasa tak rela meski sudah tahu kalau junkyu mendapat scene kissing di dramanya.
“Kenapa sih!?. Gua ga mau tahu! Ajarin pokoknya! Cepet!”. Pemuda September itu akhirnya menerobos masuk begitu cepat ke kamar jihoon, lalu duduk di karpet bulu sebelah kasur. Tangannya bersila, sembari menunggu jihoon mendekatinya.
Si lelaki yang lebih tua akhirnya ikut duduk di hadapan junkyu. Ia jadi ikutan bersila. Memberikan tatapan intimidasi nya.
“jadi gimana cpet!” Nada ketus junkyu sepertinya tak akan hilang dalam waktu lama.
Jihoon menghela nafas perlahan. “Hahhh~ jadi gini.” ia telan dulu Saliva nya sebentar. “Pertama lu tarik dagu lawan Lo, trs tinggal Lo kecup aja udah!”.
“yang bener jiii ah” Junkyu merengek. “Lebih detail cobaaa!”.
“ikutin tangan gua ya?” — “Hm”
“tangan lu gini di wajah lawan Lo, trs Lo deketin aja wajah Lo pelan ke dia ginii seet~ nah, trs lu buka mulut Lo — DIKIT AJA bukanya goblok! Jangan mangap gituu!” — “hehe! Iya! Trs!?”
“ yaudah terus Lo seakan-akan jemput bibir dia pake bibir Lo udah sat set jadi deh ciumannya!-faham gak!?”
“gak! Lu gak bener ngajarinnya. Ulang lagi.”
Refleks jihoon memegangi kedua sisi kepalanya sendiri. Seolah pening datang melanda tiba-tiba. Sampai akhirnya ia kembali menghela nafas, dan lanjut mengajari junkyu kiss yang di maksud. Ia ubah kata-kata nya se detail mungkin — dan junkyu hanya mengangguk-angguk tiap dikasih penjelasan. Namun tiap kembali ditanya, junkyu menjawab bahwa ia masih tak faham juga. Jihoon di buat harus mengulang berkali-kali perkataan dan gerakannya.
“jadi, sampe sini faham?”. Tanya jihoon kesekian kali di sertai perasaan heran, memang junkyu mendapat bagian kiss scene yang banyak?. Paling hanya kecup saja kan?. Kenapa harus se detail ini ia menjelaskan?.
“nggak jii~! Gua ga fahaaa— akh!! Heungh!!!?” Rengekan junkyu otomatis terhenti dan berganti dengan sebuah keterkejutan lantaran jihoon tiba-tiba mendorong ia hingga punggungnya mepet ke kasur. Dagu junkyu di jepit oleh telunjuk dan jempol jihoon hingga bibir nya mengerucut. Wajah keduanya berdekatan sampai terpaan nafas terasa masuk ke pori-pori. Alis junkyu mengernyit sedangkan matanya menatap tepat ke arah mata jihoon. Tampak bergetar lantaran ia merasa takut.
“kalo gitu kita praktek langsung aja nggak sih?. Biar Lo faham?” Jihoon berucap dengan nada rendah dan berat. Aura geramnya sangat terasa, mungkin ia sudah capek melayani permintaan aneh junkyu malam ini.
“lwepwas~!” Ujar junkyu tak jelas lantaran kini pipinya di cengkram. Jihoon terkekeh horor. “tujuan Lo sebenarnya ini kan?. Praktek sama gua?. Jujur aja deh Kyu?”. Perkataan jihoon membuat junkyu menggeleng ribut.
“nggwak uswah swok twahu luw!”
Jihoon tak mengindahkan elakan junkyu. Kini kedua tangannya ganti bergerak menangkup lembut pipi hingga rahang sang empu. Ia berikan tatapan begitu dalam tepat di mata hazel bulatnya.
“ya, terserah Lo mau ngomong apa. gua ajarin Lo ciuman yang sebenarnya.” Kata jihoon lalu tersenyum miring. Junkyu merinding, tatapan jihoon juga sentuhan hangat yang ia rasa membuatnya terpaku hingga pikirannya kosong. Seolah kata-kata ‘kabur’ itu sudah terhapus dari memori otaknya. Susah payah ia telan Saliva tatkala wajah jihoon semakin dekat bergerak. Matanya sontak terpejam. Membuat jihoon bersmirk senang. “Buka mulut Lo dikit” bisik jihoon, yang mana membuat junkyu merinding. Kembali ia buka matanya dengan cepat, tepat saat hidung jihoon sudah terasa menyentuh hidungnya. “j-ji~ b-bentar ji~hhh~” tangan junkyu menahan sebelah wajah jihoon. yang bersangkutan jadi melirik ke arahnya. Menghentikan aktivitas yang padahal sudah mulai serius.
“i-ini yakin?. K-kita~” cicit junkyu ragu. Nafasnya tertahan sesekali. Bola matanya bergerak-gerak mencari ketidak yakınan di mata jihoon, namun nihil.
“Ya. Lo ga faham-faham jadi gua ajarin gini~. Ya udah sih kalo gak ma — ” Junkyu segera menahan pundak jihoon yang tadinya hendak menjauh. Membuat pemuda park itu tertawa sarkas. See? Junkyu akhirnya mulai menunjukkan keinginan sebenarnya ia mengunjungi kamar jihoon malam ini?.
“Diem lu ji!” ketus junkyu merasa malu. Wajahnya sudah memerah padam lantaran mendapat tertawaan sarkas. Tangannya makin mencengkeram kedua pundak jihoon.
“hahah! Kim junkyu~? lo tuh mau apa sebenarnya huh?. Harusnya Lo nggak dateng ke kandang singa sih...” Jihoon kembali mendekatinya, dengan ekspresi wajah yang makin di buat sarkas dan garang. Tangannya kembali menangkup pipi gembil si manis yang kembali terlihat pasrah.
Okay, memang sebenarnya junkyu sengaja menyerahkan diri kepada sang singa dengan mengkambing hitamkan kata ‘belajar kiss’ malam ini. Junkyu hanya tidak tahan berlama-lama marah dengan jihoon. Hatinya sejak tadi tidak tenang dan tubuhnya gelisah kalau masih dalam masa perseteruan dingin dengan orang yang ia sayangi. Junkyu sangat rindu suasana hangatnya bersama jihoon.
Kelopak matanya kembali menutup tatkala pria dihadapannya mulai mendekatkan kembali wajah tampannya. Kedua tangan junkyu yang berada di pundak jihoon spontan merosot; jatuh lemas ke karpet bulu yang ia dan jihoon duduki saat ini. seakan kehilangan tenaga.
“chup!” tiba-tiba jihoon mengecup sebentar bibir merah junkyu, hingga sang empu mengernyit heran dan kembali membuka mata. Di pandanginya jihoon yang saat ini sedang tersenyum manis sekali. Ada sedikit kekehan lembut, membuat junkyu tambah tersipu malu dan tergelitik efek sentuhan bibir hangat jihoon barusan — meski hanya sekilas.
sampai akhirnya pria itu kembali mendekatkan wajah dengan perlahan, dan kali ini benar-benar mengajak bibirnya untuk beradu lembut. Wajah junkyu dibuat meremang dan panas. Jemarinya spontan mencengkram bulu karpet untuk melampiaskan perasaan campur aduk nya di sana, Di iringi degup jantung yang semakin menggila. Juga perut bawahnya yang bereaksi. Menciptakan jutaan kupu-kupu fana.
Dapat ia rasakan bibir lembut jihoon bergerak menginterupsi bibirnya yang hanya diam kikuk. Tiap kali bibir itu bergerak, saat itu pula ia merasa terbang. Tubuhnya seakan ringan, dan pusarnya seolah menerima suatu rangsangan aneh. Geli sekali.
dapat jihoon rasakan pula bahwa nafas junkyu sedang bergetar dan memburu ribut. Membuat nya tersenyum di sela-sela kenikmatan akan pagutan manisnya. Matanya terbuka, lantas menatap wajah merona junkyu dari jarak yang begitu dekat. Ia juga masih tak percaya kalau sedang mencium junkyu secara sadar detik ini.
Kemudian tangannya beralih menggamit dua pergelangan tangan sang pemilik bibir manis itu, lalu di ajak untuk memeluk erat tubuhnya. Junkyu sontak sedikit bangkit sesuai naluri, dan itu membuat jihoon lebih leluasa menggaet pinggang junkyu hingga di ajak duduk ke pangkuannya. Akhirnya jihoon rasakan dua lengan yang kini bergerak melingkari leher hinggatimbul detak keras di dada. Ia di buat meremang akibat menerima sentuhan tangan lembut junkyu di bagian kulit leher sampai area tengkuk.
Junkyu sendiri mulai menggerakkan bibir sembari otaknya mengingat perkataan jihoon yang tadi mengajarinya cara berciuman. Tatkala bibir jihoon mengemuti bibir bawahnya, junkyu balas mengemuti bibir atas pria itu, pelan dan canggung. Bibir jihoon rasanya manis hingga ia pening — Seolah tengah meneguk alkohol tingkat tinggi.
“chup — ahh~”
“mhh~”
Keduanya sama-sama melenguh akibat rasa nikmat dari pergulatan bibir yang mereka lakukan. Jemari junkyu meremat rambut belakang jihoon, menekan kepala itu hingga ciuman semakin dalam. Sedang jihoon dibuat spontan mengelusi punggungnya. Ada sengatan yang timbul ketika punggung bawahnya di elusi, sampai-sampai ia di buat menjengit beberapa kali. Apalagi kala jihoon mulai berani memasukkan tangannya ke dalam kaos yang ia kenakan, lalu memberikan rangsangan pula di sana. Bulu halus di area tersebut rasanya meremang. Membuat pelukan keduanya kian erat dan intens. Tubuh junkyu bergerak meliuk di atas pangkuan jihoon.
“hngh~”
Junkyu sendiri makin aktif sampai menggigit pelan bibir atas jihoon. Begitu pula si Park yang balas memberikan gigitan menggelitik di bibir bawahnya. Mereka sudah mabuk kepayang. Yang ada di pikiran mereka hanyalah ‘ingin lagi dan lagi’.
Tak lama setelah itu, yang lebih tua mengambil alih ciuman hingga junkyu di buat gelagapan. Begitu dalam dan rakus sampai sulit untuk di kejar. Bunyi kecipak menjadi melodi keras kamar jihoon. Bahu junkyu berjengit-jengit setiap kali ia mendesah.
“hnnh~ ahh~” mata junkyu kian terpejam erat. Saat dirasanya tangan jihoon yang bergerak nakal mengelusi area pusarnya hingga ia dibuat merintih kegelian. makin ia rapatkan tubuhnya agar tangan nakal tersebut berpindah haluan.
“hahh~ngh” mereka kembali fokus dalam gulatan bibir masing-masing hingga beberapa menit lamanya.
Jihoon lah yang akhirnya lebih dulu melepaskan pagutan bibir setelah di rasa sudah terlalu lama membasahi bibir dengan ciuman mesra. lalu terjadilah sahutan deru nafas yang saling terhela lantaran sesak kekurangan oksigen. Mata keduanya sayu efek nikmatnya ciuman yang terjadi beberapa detik lalu. Saling tatap begitu lama. Jihoon berikan senyum yang amat teduh ke arah junkyu. Sedangkan si Kim masih terlihat sulit berkata-kata dan berekspresi. Seolah rasa terkejutnya masih menguasai. Ia blank.
“gimana?. Udah faham sekarang?”.tanya jihoon, yang tentu saja terlontar hanya untuk sekedar basa-basi.
Junkyu menggeleng kaku beberapa kali, lalu mulai tersenyum malu.
“belum? Belum faham?” lagi, Tanya jihoon yang juga tak dapat menghandle senyum menggodanya.
Junkyu kembali menggeleng beberapa kali. senyumnya makin malu-malu tak tertahan. Segera Ia tenggelamkan wajahnya di ceruk leher pria itu , lantas semakin erat memeluk leher ber-aroma maskulin tersebut, yang mana aromanya semakin di hirup semakin terkikis pula kewarasannya. Junkyu menutupi auranya yang kacau; Entah itu senang, salah tingkah, kesal lantaran belum puas, dan sebagainya. Ia masih ingin lagi!!.
Mereka berbagi hangatnya pelukan sesaat, membagi debaran jantung yang tak terkira. Tangan jihoon masih bergerak di dalam kaos junkyu, mengelus lembutnya kulit itu. Sedangkan junkyu tersenyum, sambil terpejam menikmati usapan jihoon di pinggangnya.
Tiba-tiba junkyu merasakan tubuhnya terangkat. Ia di bawa bangkit oleh jihoon. Kaki jenjangnya spontan melingkari pinggang pemuda park itu lantaran takut terjatuh.
Kini jihoon duduk di bibir kasur dalam keadaan memangku junkyu.
Mereka menyatukan dahi. Saling bertukar nafas yang segar.
“gimana gua bisa move on kalo Lo kaya gini ,hm?” ujar jihoon hampir seperti bisikan.
“kenapa? Kenapa Lo mau move on?. Huh?” Nada junkyu terdengar kecewa. Ia makin menekan dahinya, sampai-sampai hidung dan bibir mereka bergesekan.
“emang gue punya apa?. Gue cuma bisa ngasih cinta, nggak bisa ngasih yang lebih berharga dari itu, apalagi materi. ngga ada spesialnya. Hidup gue sejak dulu bergantung ke keluarga Lo"
“tapi ji — ” jihoon sadar saat junkyu tiba-tiba mengecup telinganya. “Yang gue butuhin cuma cinta dari lo. Dan orang kaya Lo ini, terlalu langka buat di cari.” junkyu memainkan jemarinya di sela-sela rambut belakang jihoon. Ada perasaan nyaman yang jihoon rasakan. Ia juga sedang merasa heran, dan agak terkejut lantaran mendapati junkyu yang pandai berucap lembut, juga memberi afeksi di setiap perkataannya. Baru kali ini ia melihat sisi lain dari junkyu. Bicara panjang lebar secara emosional setahu jihoon itu bukan junkyu banget.(?) “lo itu berharga, penuh cinta, penuh kasih sayang, Lo rendah hati, tapi tolong jangan rendahin diri. Plis jihoon jangan rendahin diri.” Junkyu menekan kata-kata terakhirnya lalu kembali memeluk erat jihoon. “jangan anggap diri Lo lagi bergantung di keluarga gue. Kalo papah sama mamah denger, pasti sakit hati. Gue aja yang denger sakit hati. Kenapa Lo anggap nya begitu huh?”
“eh… m-maaf~” jihoon yang sejak tadi terpaku mendengarkan tiap tutur lembut junkyu, akhirnya berhambur membalas pelukan erat pria di pangkuannya ini. “Maksud gue ngga gitu~”.
“lagian, emang Lo mau move on ke siapa?”. Junkyu menegakkan tubuh, lantas mengintimidasi jihoon.
“ada junior, namanya doyoung.” jawab jihoon sambil tersenyum lebar. “Dia mirip lo — ”
“jihoon ih!!!” sontak pria di pangkuannya memukul dan mendorong pundaknya hingga ia sedikit terjengkang kebelakang. Lalu dibuat tertawa nyaring.
“lagian, emang Lo suka sama gua?”. Tanya jihoon balik. “Nggak! Benci banget gua!” Junkyu kembali memberi pukulan bertubi-tubi di bahu jihoon. Ia merajuk. Lalu hendak beranjak dari pangkuan yang lebih tua dengan bibir mengerucut lucu. Tapi jihoon sangat cepat mengambil start untuk menahan pinggangnya.
“sst! Lo tidur disini, atau gue tidur di kamar Lo? Pilih mana!”
Junkyu mendengus kecil “tidur sini! Sambil peluk pokoknya!” perkataan junkyu membuat ujung bibir jihoon berkedut lantas tersenyum. “huhuu gemessss!” jihoon duselkan wajahnya di dada junkyu hingga pria itu tertawa lantaran kegelian.
Beberapa saat kemudian tubuhnya di bawa berbaring ke kasur. Jihoon memanjakannya bagai anak gadis, begitu lembut seakan takut barang berharganya tergores. Tiap sentuhannya membuat junkyu berdebar gila. Mereka tidur berhadapan dan saling tatap. Jihoon lebih dulu memeluk junkyu, hingga keduanya merapat. Tak butuh waktu lama, mereka kembali berciuman lantaran jihoon yang memulai. Junkyu kembali di bawa ke dalam afeksi memabukkan yang kedua kali ia rasakan secara sadar bersama jihoon. Ia masih saja kaku. Tidak seperti jihoon yang bergerak profesional. Junkyu masih menyesuaikan diri dengan ciuman yang baru saja di rasakan dalam hidupnya ini. Dan tiba-tiba di hadapkan dengan jihoon yang mengajak lidahnya untuk bertaut dan berperang.
“hngh~ anh~”
Tentu saja junkyu sangat terkejut dan heran. Ia sontak melemah dan makin pening. Sehingga tanpa sadar sudah berbaring di bawah Kungkungan jihoon.
Mereka bertukar Saliva, hingga salah satunya memproduksi begitu banyak cairan sampai meluber keluar. Tangan junkyu bergerak aktif mengelusi rahang hingga telinga jihoon yang tampak memerah. Ia lampiaskan perasaan nikmatnya di sana.
Lidah mereka akhirnya terlepas hingga membentang lah benang-benang Saliva. Junkyu kembali seperti orang sesak nafas lantaran kelelahan melayani perbuatan jihoon. Ia begitu sayu. Sampai-sampai jihoon merah padam lantaran menahan gejolak aneh saat melihat keadaan kacau pria di bawahnya. Bahkan tubuhnya lebih banyak berkeringat sebab menahan sesuatu yang berkedut di bawah sana.
“hahh~ j-jihoon, i- I love you too”
Hanya memandangi junkyu yang berantakan seraya mengungkapkan perasaannya saja membuat jihoon tiba-tiba meninggi. Ia mendesis beberapa kali. Sampai pangkal hidungnya mengkerut.
Hendak segera menjauh dari junkyu rasanya, namun penampilan si manis dengan mata sayu, juga bibir basah akan saliva membuatnya candu, dan ingin menyentuh lebih. Apalagi jemari lentik junkyu yang tiba-tiba mengelusi rahangnya dengan lembut.
Kepala jihoon kembali merendah, lalu bibirnya menciumi tulang selangka junkyu yang terekspos. Ia hisap dan jilat sampai terdengar suara rintihan sang empu. Membuat nya merasa terbakar di dalam sana. Nafasnya kian memburu. Apalagi kala di rasakannya dengkul junkyu yang tak sengaja menyenggol miliknya di bawah sana.
“shh — ahh~”. Jihoon sudah tak kuasa menahan, lantas ia cepat-cepat beranjak menjauhi kasur.
“mau kemana~?” Rengek junkyu pelan.
“k-ke kamar mandi.”
Akhirnya jihoon kembali berakhir memuaskan adik kecilnya di kamar mandi seperti malam dimana junkyu mabuk waktu itu.
“hngh! J-junkyu-yahh — shh”.
Ia sibuk meremat dan mengocok sembari membayangkan junkyunya. Menikmati detik-detik menjemput putihnya sendirian bersama suara derasnya air keran.
Tanpa sadar jihoon sedang membiarkan junkyu yang tengah meringkuk di kasur sembari memeluk diri sendiri. Ia sedang tersipu dengan wajah begitu merah. Sambil mengingat kejadian dimana jihoon menjamah collarbone nya. Bahkan rasa gelinya masih terasa. Apalagi saat lututnya tak sengaja menyenggol sesuat — ah, junkyu jadi malu~!! ㅠ.ㅠ.
— HANA.
메타데이터
- post_id
- 4f1b63398c82
- slug
- a-lions-cage-4f1b63398c82
- url
- https://medium.com/@danhanaminayuki02/a-lions-cage-4f1b63398c82
- canonical_url
- https://medium.com/@danhanaminayuki02/a-lions-cage-4f1b63398c82
- author_url
- https://medium.com/@danhanaminayuki02
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-25 02:07:45