← Back to list

Sisa Mabuk Semalam

Omi — kucing hitam berumur lima bulan — membangunkanku untuk meminta makan, menjilati mukaku dengan liurnya yang bau amis. Huek. Ku beri…

Daniet Dhaulagiri · 2023-04-19 18:20 · 0 claps · 4.3 min read
#drunk #fiktif #music
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media 🎵 · Music & Audio

Sisa Mabuk Semalam

Omi — kucing hitam berumur lima bulan — membangunkanku untuk meminta makan, menjilati mukaku dengan liurnya yang bau amis. Huek. Ku beri dia makan dengan ikan goreng yang aku curi dari dapur Nyonya Trish di lantai bawah. Nyonya Trish adalah seorang janda tanpa anak, suaminya mati tujuh tahun lalu karena diabetes — dasar pria tua maniak gula. Perempuan tua itu selalu menggerutu karena suatu sore aku pulang membawa Omi yang saat itu baru beberapa pekan umurnya, ditinggalkan induknya. Kucing malang.

Belum sempat membilas muka, aku memilih kembali ke dalam kamar. Sedikit mengangkat poster Spacemen 3 — berlogo segitiga dengan angka tiga dilengkapi latar pola psikadelia — yang terpasang di dinding tepat atas kasurku. Kurogoh sebuah ruang rahasia untuk menyimpan pil psikotropika dan mariyuana. Sempat berpikir mana yang akan kupilih, sampai akhirnya memutuskan untuk melinting daun sativa.

Jam menunjukkan pukul dua siang. Sialan, semua kaleng bir sudah habis tak terisi. Oh, tunggu dulu, aku masih menyimpan setengah botol Scotch Whisky. Persetan jika terlalu dini, kutenggak botol yang sudah kucekik, dan kubakar mariyuana yang kulinting tadi sambil menghadap jendela, menatap Jakarta dari lantai dua rumah di bilangan Tomang Raya.

“Tribute for You” milik Pestolaer menggema dari pengeras suara dengan musik ala Madchester. Kulihat langit Jakarta sedikit muram, abu-abu warnanya — entah mendung atau hanya karena polusi belaka. Mengingatkan kehidupanku di Manchester ketika umur masih dua puluhan. Saat langit berwarna abu dan semu, aku harus menggunakan parka, sementara dengan suhu Jakarta, meski berwarna sama, bangun tidur aku harus bertelanjang dada. Sialan.

Pengaruh dari asap berzat Tetrahidrokanabinol yang disiram whisky tadi mengembalikan beberapa fragmen mengenai acara tadi malam di sebuah tempat yang terletak dekat dengan Museum Satriamandala, Poster Café namanya. Andri LMS bersama Rumahsakit mengangkat mikrofon saat menyanyikan “Nol Derajat”. Sebentar, semalam Peter menginap di kamarku. Kemana bajingan itu pergi?

Kutelfon dia.

Oh, rupanya dia sudah kembali ke kosannya di Rasuna. Brengseknya dia meninggalkan jarum suntik yang semalam digunakannya untuk mengkonsumsi heroin bersama wanita yang ia temui di acara semalam. Entah siapa namanya, namun aku hanya ingat merah gincunya dan kaus Belle & Sebastian-nya. Peter memang brengsek.

Namaku Radit, rasanya baru kemarin The Blue Thread Saga milik Astrolab masih menemani masa remajaku di paruh kedua dekade 2000.

Kuliah di Bandung dengan segala manis dan pahitnya, salah satunya yang menjadi favorit yakni saat duduk di kursi depan bersama Rhevi yang mengendarai Volkswagen tua menyusuri Tamansari, Dago, Cihampelas, Cipaganti, Alun-Alun, Braga, dan berhenti di Punclut, sepanjang jalan kami membicarakan hal-hal yang remeh hingga yang berat, dari eksistensi alien hingga tuhan, seraya menempelkan LSD di lidah, tentunya diiringi dengan CD album dari band favorit kami berdua, For All the Fucked Up Children dari Specemen 3.

Mengingat Bandung tentunya tak akan bisa dipisahkan dengan sosok wanita yang dicintai banyak orang, apa kabar Irene? Gadis berambut sebahu dengan kacamatanya yang cukup tebal. Kami berdua dulu bertemu di TRL Bar, saat menghadiri after party konser Kings of Convenience. Oh iya, TRL sudah tutup ya? Anak-anak Bandung bilang tempat ini ibarat Hacienda di Manchester, sempat menjadi pembangun citra sebagai katalis skena Bandung yang menyerupai Manchester.

Saat itu aku sedang duduk menyendiri di bar, ditemani tiga seloki tequila. Kulihat Irene — yang belum aku kenal — memutar sebuah lagu yang langsung aku kenali, “Love in December”-nya Club 8. ‪Lalu ia menari dengan tubuh yang berlenggak-lenggok di depan kotak juke sambil menenteng gelas berisikan cocktail. Setelah itu duduk di kursi tepat sebelahku sambil menyeka sedikit keringat pada dahinya dan membersihkan kacamatanya yang agak berembun.

Dia menyodorkan tangan,

“Irene” ucapnya.

Aku sempat mengernyitkan dahi kebingungan awalnya. Oh, rupanya dia mengajakku berkenalan.

“Radit” ujarku sambil menenggak tequila pada seloki ketiga, disusul dengan memesan satu gelas bir hitam.

“Kamu mau menambah minuman?” Tawarku pada Irene. Jawabannya hanya dengan anggukan kepala saja.

“Jadikan pesananku dua gelas” ucapku pada bartender tadi.

Semenjak malam itu kami jadi sering bertemu, untuk menghadiri konser musik kesukaan kami berdua, entah melewati malam panjang di TRL, atau kembali ke tempat tinggalku untuk bercumbu lalu memperdebatkan mana album The Radio Dept. yang terbaik; Pet Grief atau Lesser Matters.

Banyak sekali hal yang kami perdebatkan karena perbedaan pandangan, namun hal tadi selalu kami jadikan sebagai ajang bertukar pikiran dan pasti diakhiri dengan sebuah kecupan. Hanya ada satu hal yang kami setujui, bahwasanya cinta adalah hal yang aneh dan konsepnya sulit untuk dimengerti. Sampai sekarang pun aku belum paham, apa itu cinta?

“RADIIIIITTTTTTT” teriak Nyonya Trish dari bawah, membuyarkan lamunanku.

Sialan, perempuan tua itu pasti menyuruhku menghidangkan makanan. Apa yang dia bisa? Selain menggerutu atau masturbasi dengan desahannya yang keras dan membuat mual tiap kali tak sengaja terdengar.

“Aku sedang malas membuatkan makanan yang sulit, kali ini panekuk saja ya!” Malas sekali rasanya sedang mabuk berat dipaksa memasak.

“Baiklah, tolong beri sirup maple yang banyak ya Dit” ujarnya.

Perempuan tua ini nampaknya ingin mengikuti jejak suaminya, ya sudahlah kuturuti saja, lumayan juga berkat seperti ini aku mendapatkan potongan setengah harga sewa untuk tinggal di lantai dua rumahnya yang cukup besar.

Aku naik lagi ke atas sambil membawa kopi hitam. Sesampainya di kamar, kurogoh kembali ruang penyimpanan itu dan mengambil dua pil 1 mg berwarna ungu, dan ditenggelamkan ke dalam kopi. Ya, Xanax. Kubakar kembali mariyuana tadi, kali ini terdengar Galaxie 500 yang membawakan ulang lagu dari Joy Division; “Ceremony”. Aku berdiri di tengah kamar layaknya seorang rock star yang sudah terlampau tinggi.

Oh, iya, Irene? Aku berhenti berhubungan setelah pergi ke Manchester. Dengar-dengar dia sudah menikah dan memiliki dua anak. Penasaran ingin kutanya kembali bagaimana persepsinya mengenai cinta kali ini.

Tak terasa umurku sekarang di penghujung kepala tiga, tak usah kusebutkan tepatnya berapa, hanya perihal angka juga. Kulihat lima puntung mariyuana sudah habis kubakar, di luar jendela fajar terbenam dan kini hari berganti malam.

Telepon berdering.

Revina — bosku — menelfon mengingatkan kembali janjiku. untuk mewawancarai Kip Berman dari The Pains of Being Pure at Heart. Menjadi seorang jurnalis musik bagiku seperti beronani; dibayar untuk menyenangkan diri sendiri, menonton pertunjukan musik, mewawancarai musisi favorit, dan kerap mendapatkan rilisan fisik secara cuma-cuma. Ah.. orgasme.

Sepertinya aku akan memanaskan CB 100-ku terlebih dahulu, sebelum nanti harus menyambangi Salemba, Kalibata, dan bertemu Kip di Radio Dalam Raya.

Hah? Apa yang kau maksud dengan makna dari cerita ini? Sudah jelas ini hanya serangkaian kegiatan dari sisa mabuk semalam, lalu memulai hari untuk mabuk kembali. Aku bukan orang yang setiap bercerita pasti memiliki makna, aku tak sepretensius itu.

Oh, cinta? Bagiku cinta adalah mendengarkan musik dan mengkonsumsi narkotika; candu yang membuat bahagia, berbahaya, dan memabukkan. Itu cinta. Sudah dulu, aku harus bekerja.


메타데이터
post_id
4f2cf35b464c
slug
sisa-mabuk-semalam-4f2cf35b464c
url
https://medium.com/@dhaulagg/sisa-mabuk-semalam-4f2cf35b464c
canonical_url
https://medium.com/@dhaulagg/sisa-mabuk-semalam-4f2cf35b464c
author_url
https://medium.com/@dhaulagg
status
ok
fetched_at
2026-07-25 21:11:06