← Back to list

Seleksi atau Diskriminasi? Saat Kompetensi Dikalahkan Label Jurusan

Selama ini, aku pikir kampus adalah ruang yang menjunjung penuh meritokrasi. Tempat di mana potensi, prestasi, bahkan integritas punya…

radioaktif · 2026-05-11 10:22 · 0 claps · 1.6 min read
#diskriminasi #kampus
Open on Medium ↗
Wiki topics: 📋 · Product Management

Seleksi atau Diskriminasi? Saat Kompetensi Dikalahkan Label Jurusan

Selama ini, aku pikir kampus adalah ruang yang menjunjung penuh meritokrasi. Tempat di mana potensi, prestasi, bahkan integritas punya nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar latar belakang.

Namun kenyataannya, di beberapa ruang, identitas akademik tetap menjadi batas gerak yang sulit diretakkan.

Termasuk seleksi sebuah kegiatan mahasiswa yang baru-baru ini aku ikuti. Namanya sangat bergengsi, prestasinya sering dibanggakan, dan proses seleksinya terkenal ketat.

Mereka membawa citra progresif, terbuka, dan inklusif. Tampak seperti ruang yang menerima akan siapa pun berdasarkan kompetensinya.

Setidaknya, begitu kesan awalku.

Kegiatan itu memang telah lama didominasi oleh mahasiswa rumpun seberang. Namun, label inklusivitas yang terus mereka elu-elukan berhasil memikatku.

Karena bukankah memang ruang akademik seharusnya dibangun atas dasar kemampuan, bukan sekadar asal jurusan?

Dari puluhan pendaftar posisi X, aku menjadi satu-satunya orang yang lolos seleksi tahap akhir, wawancara final.

Ironisnya, di sana, untuk pertama kalinya, aku merasa tidak sedang dinilai objektif sebagai individu yang memiliki kompetensi.

“Kamu kan soshum, nggak tertarik join organisasi soshum aja?”

“Kan jurusan A beda banget sama soshum. Kamu bakal terbiasa?”

Skeptisme yang bahkan tidak mempertanyakan kapasitas atau pengalamanku sebagai individu, tetapi hanya menyoal dari mana aku berasal.

Seolah menjadi seorang mahasiswa soshum otomatis membuat kami lebih sulit beradaptasi dengan ruang yang didominasi saintek.

Seolah kami hanya pantas berdinamika di lingkar kami sendiri.

Dan seolah ada jarak yang memang dari awal mereka pertahankan dan sembunyikan.

“Ditolak.”

Begitu hasil akhirnya

Alasan yang mereka sampaikan pun terdengar normatif dan menggantung. Tidak ada evaluasi yang benar-benar jelas selain kalimat umum tentang presentasi dan interview yang dinilai “kurang matang”.

Padahal, jika memang presentasi “kurang matang”, seharusnya aku digugurkan sejak awal. Bukan diloloskan hingga tahap terakhir sebagai satu-satunya kandidat yang tersisa.

Ditambah fakta bahwa posisi yang kudaftar akhirnya justru diberikan kepada orang yang integritasnya dipertanyakan, membuat niatku untuk menulis topik ini makin bulat.

Di titik ini, sudah sulit rasanya untuk percaya bahwa proses tersebut sepenuhnya berbicara tentang kompetensi.

Meritokrasi di kampus sering kali hanya terdengar indah sebagai konsep

Sebab pada praktiknya, seorang mahasiswa tetap bisa dipandang berbeda hanya karena identitas akademiknya.

Bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia dianggap tidak sesuai dengan bayangan ideal yang sudah dibentuk sejak awal.

Diskriminasi hari ini tidak hanya hadir dalam bentuk perbedaan gender, agama, suku, atau ras. Ia juga hidup di ruang akademik , di tempat yang “katanya” paling menjunjung objektivitas.

Pengumuman kehadirannya pun tidak selalu terang-terangan. Ia bisa hadir dengan halus. Dengan rapi. Bahkan, terkadang hadir dengan bungkusan kalimat sederhana,

“keputusan ini kami buat berdasarkan kebutuhan kami saat ini.”


메타데이터
post_id
4f575cc3f2f2
slug
seleksi-atau-diskriminasi-saat-kompetensi-dikalahkan-label-jurusan-4f575cc3f2f2
url
https://medium.com/@coffebyeol86/seleksi-atau-diskriminasi-saat-kompetensi-dikalahkan-label-jurusan-4f575cc3f2f2
canonical_url
https://medium.com/@coffebyeol86/seleksi-atau-diskriminasi-saat-kompetensi-dikalahkan-label-jurusan-4f575cc3f2f2
author_url
https://medium.com/@coffebyeol86
status
ok
fetched_at
2026-06-24 23:31:39