Titik Didih
Manajer kafe itu bersikeras kelinci di sudut ruangan adalah “bagian dari konsep.” Aku memesan air putih. Dia menatapku seolah aku memesan…
Titik Didih

Manajer kafe itu bersikeras kelinci di sudut ruangan adalah “bagian dari konsep.” Aku memesan air putih. Dia menatapku seolah aku memesan sesuatu yang memalukan.
“Air putih tidak ada di menu,” katanya.
“Air keran juga tidak apa-apa.”
“Kami tidak menyediakan air keran. Itu melanggar konsep.”
Kelinci itu, seekor makhluk gemuk berwarna abu, mengunyah selada dari mangkuk keramik yang lebih mahal dari sepatuku. Ia punya bantal sendiri. Ada plakat kecil di sampingnya: Pengunjung dilarang menyentuh Kapten.
Aku duduk. Sudah tiga hari aku tidak minum apa pun selain kopi karena setiap tempat yang kudatangi menjual pengalaman, bukan air. Tenggorokanku terasa seperti amplas. Tapi aku terlalu lelah untuk pulang, dan di rumah tak ada siapa-siapa yang akan bertanya kenapa aku pulang lebih cepat.
“Bagaimana kalau air mineral botol?” tawar manajer, ramah kembali karena melihat peluang.
“Berapa?”
“Lima puluh delapan ribu. Sudah termasuk sesi bermain dengan Kapten selama sepuluh menit.”
Aku memandang Kapten. Kapten memandangku dengan mata yang tidak menuntut apa-apa. Ia tidak peduli aku sukses atau gagal, apakah aku sudah makan, apakah aku menangis di toilet kantor siang tadi. Ia hanya ada, mengunyah, hangat, dan seseorang telah memutuskan bahwa kehadiran seperti itu layak dijual seharga lima puluh delapan ribu.
Ternyata itu harga yang masuk akal.
Aku bayar. Air botolnya kecil, hampir tak berarti. Tapi mereka menaruh Kapten di pangkuanku, dan untuk sepuluh menit aku mengusap bulunya yang seperti tak pernah tahu kesulitan apa pun.
“Sepuluh menit,” kata manajer akhirnya, mengambil Kapten kembali ke bantalnya.
Aku menghabiskan air dalam satu tegukan. Masih haus. Tanganku masih terasa hangat di tempat Kapten tadi bersandar, dan itu yang lebih sulit hilang.
Aku memesan lagi. Bukan airnya.
Kata-kata yang dipakai: air putih, kelinci
메타데이터
- post_id
- 4f5c8b5367dc
- slug
- titik-didih-4f5c8b5367dc
- url
- https://medium.com/@luqmanz/titik-didih-4f5c8b5367dc
- canonical_url
- https://medium.com/@luqmanz/titik-didih-4f5c8b5367dc
- author_url
- https://medium.com/@luqmanz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 18:05:59