Pidato Perdana Ketua Forum TBM Kota Pekalongan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Yang terhormat Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Jawa Tengah
Yang kami hormati, Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pekalongan, Bunda Literasi Kota Pekalongan dan jajarannya, Ketua Pengurus Daerah FTBM Kota Pekalongan periode 2019-2024,
Para pengurus TBM se-Kota Pekalongan, dan Pengelola Perpustakaan Masyarakat se-Kota Pekalongan, Pegiat literasi di Kota Pekalongan, serta Seluruh hadirin yang dirahmati Tuhan,
Tak kurang-kurangnya rasa syukur senantiasa kita unjukkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, karena setiap saat kita selalu dianugerahi kesempatan untuk menghirup udara dan memanfaatkannya sebagai bahan bakar bagi segala upaya yang kita lakukan. Baik dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, maupun dalam menjalankan tugas sebagai hamba yang mengabdi, menghargai dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan, dengan beragam cara yang kita mampu.
Sekurang-kurangnya, apa yang kita lakukan ini sebagai usaha untuk meneladani atas apa-apa yang telah dilaksanakan oleh beliau, pembawa risalah pilihan Tuhan, manusia yang diistimewakan, serta menjadi berkah bagi alam semesta, karena ajakan beliau yang selalu menyerukan rahmatan lil alamin, rahmat bagi seru sekalian alam.
Maka, sebelum saya menyampaikan beberapa hal, patutlah kita haturkan salawat dan salam bagi beliau, nabi penutup kenabian, nabi yang mengakhiri periode perisalahan, nabi pembawa terang dunia. Tentu, dengan harapan, kelak beliau akan menyambut kita yang duduk di sini dengan senyuman yang paling indah di pintu surga. Amin.
Bapak/Ibu dan saudara sekalian, Perkenankan, saya menyampaikan kelumit pikiran saya, sebelum dipuncaki pernyataan sikap atas terpilihnya saya sebagai Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Kota Pekalongan periode 2025-2030.
Sejak permulaan perjalanan sejarah peradaban, manusia dihadapkan dengan beragam pengalaman. Melalui pengalaman itu, manusia kemudian belajar untuk mengerti dan memahami kehidupan di dunia. Secara perlahan, manusia pun mulai menyusun hasil belajar itu sebagai pengetahuan. Akan tetapi, pengetahuan itu belumlah menjadi jawaban atas segala permasalahan yang dihadapi. Maka, manusia terus berupaya menghayati pengalaman dan pengetahuan itu.
Akal didayakan. Seluruh indera digerakkan. Simpul-simpul kesadaran manusia dihidupkan, sampai pada gilirannya, terkerucutlah pada kesadaran spiritualitas. Tetapi, timbul pertanyaan kemudian. Bagaimana manusia mampu mencapai evolusi pengetahuan itu?
Bapak/Ibu yang mulia, Tidak mudah menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan itu. Setiap jawaban, memiliki potensi kebenaran, sesuai takaran zaman maupun keadaan yang dialami subjek pengetahuan, yaitu manusia. Akan tetapi, kita bisa mengambil sebuah ibarat dari masa lampau.
Bagi umat islam, Nabi Muhammad merupakan teladan dari masa lampau. Perjalanan beliau—khususnya pada masa remaja—dapat kita ambil dan kita maknai secara tekstual maupun kontekstual. Pada masa itu, beliau melakukan safari dari satu negeri ke negeri lain bersama sang paman, Abu Thalib.
Secara tekstual, perjalanan itu kerap kita dengar sebagai perjalanan dagang. Sebab, di masa itu perdagangan lintas negeri sudah sangat marak. Jalur sutera dan jalur rempah menjadi denyut nadi kehidupan ekonomi masyarakat dunia. Dan Jazirah Arab, merupakan salah satu pusatnya. Lain dari itu, perjalanan yang beliau tempuh sebagai akibat dari nasib beliau sebagai seorang anak yatim piatu.
Secara kontekstual, perjalanan itu—menurut hemat saya—tak sekadar sebagai akibat dari takdir beliau sebagai anak yatim piatu. Akan tetapi, dapat dimaknai pula sebagai perjalanan spiritual, yang kelak menjadi bekal wawasan dan pengetahuan beliau tentang gambaran kehidupan manusia.
Memang, agaknya kisah perjalanan masa remaja beliau kurang mendapatkan perhatian lebih. Akan tetapi, apabila kita pelajari, kita akan menemukan betapa perjalanan itu sesungguhnya memberi pengaruh besar kepada cara pandang beliau tentang bentuk-bentuk kehidupan dan tata semesta.
Dan, pada puncaknya, pada sepenggal malam, ketika orang-orang ditenggelamkan dalam genangan mimpi, beliau dipertemukan dengan pengalaman yang tidak bisa kita bayangkan. Atas perintah Tuhan, malaikat Jibril menemui beliau di dalam keheningan. Saat itu, muncullah perintah “membaca”. Tetapi, apa yang harus dibaca, sementara buku-buku belum ada. Tradisi menuliskan buah pikiran pada masa itu pun bahkan terlarang.
Kalau boleh saya memberi komentar atas peristiwa itu, saya menduga, perintah itu semacam seruan tentang membaca ulang pengalaman-pengalaman masa lalu, pengalaman hidup manusia dengan latar belakang yang beragam, serta segala bentuk kehidupan yang terlingkupi alam semesta ini. Dengan membaca ulang, akan ditemukan makna-makna baru tentang kehidupan. Sebab, zaman juga ikut berubah seiring dengan perubahan tabiat dan perilaku manusia di dalam menjalankan kehidupan.
Ini mengandung arti, bahwa membaca sebenarnya hak asasi yang sangat mendasar. Boleh dibilang merupakan kebutuhan pokok. Sayang, di era kekinian, membaca agaknya disisihkan ke tepian, menjadi kebutuhan sekunder atau malah tersier. Hal ini pula yang kemudian dicatat oleh pujangga Jawa Abad ke-19, R.Ng. Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha.
Amenangi zaman édan, éwuhaya ing pambudi, mélu édan nora tahan, yén tan milu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun, dilalah kersa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang éling lawan waspada.
Penggalan itu memberi aba-aba, betapa ingatan adalah perihal yang sangat penting bagi kehidupan, agar manusia mampu bersikap dan bertindak secara cermat. Maka, untuk memelihara ingatan, manusia menciptakan tradisi pewarisan pengetahuan.
Mula-mula dalam tradisi lisan, kemudian tradisi tulis, dan kini kedua tradisi itu disenyawakan dalam budaya digital. Walau sesungguhnya, budaya digital cenderung lebih didominasi tradisi lisan, dipercanggih dengan rayuan sensasi imajinasi yang bisa saja justru membelenggu imajinasi manusia itu sendiri, sehingga sulit berkembang.
Kehadiran Taman Bacaan Masyarakat boleh dibilang merupakan ikhtiar yang bersumber pada penghayatan atas rambu-rambu itu. Sejak kemunculan perdana, di tahun 1950, Taman Bacaan Masyarakat menjadi oase di tengah kering kerontangnya sumber-sumber pengetahuan yang dapat dinikmati masyarakat kala itu.
Kini, di era banjir bandang informasi, Taman Bacaan Masyarakat, tentu memiliki peran yang lebih kompleks. Tidak sekadar menjadi mata air, melainkan menjadi penyeimbang. Agar, deras arus informasi itu tak menghanyutkan akal, batin, dan jiwa manusia.
Saya kira, fungsi ini sangat bersesuaian dengan slogan gerakan literasi yang berbunyi “Literasi untuk Kesejahteraan”. Dan, lewat Taman Bacaan Masyarakat, slogan itu mesti kita maknai terus-menerus. Sebab, kesejahteraan tak sekadar diukur dari materi. Lebih dari itu, kesejahteraan berkait erat pula dengan bagaimana manusia menghayati kehidupan, bagaimana manusia memberi makna pada kehidupan.
Bapak/Ibu dan Saudara yang berbahagia, Dalam urusan menghayati kehidupan, dalam upaya memberi makna pada kehidupan, saya sangat beruntung karena dipertemukan dengan sosok yang menurut saya sangat menginspirasi. Setiap tarikan napasnya, sosok ini terus melakukan tugas sebagai seorang hamba, seorang abdi. Dengan rasa welas asih, beliau memberikan sentuhan-sentuhan yang begitu lembut. Lebih-lebih, kepedulian beliau terhadap nasib generasi penerusnya.
Tekun betul beliau mengajarkan anak-anak untuk membaca. Tekun betul beliau untuk melatih dan mendidik anak-anak agar memiliki bekal bagi kehidupan kelak. Sampai-sampai, beliau tak memedulikan usia yang melapukkan badan.
Dan, pada pertemuan kali pertama dengan beliau, saya menangkap tatapan mata yang teduh dan bercahaya. Tulus dan teguh pada pendirian. Saya sangat mengagumi beliau, sejak pertemuan itu.
Maka, jika diperkenankan, saya meminta sambutan yang penuh rasa hormat, kepada beliau Ibu Sri Widiati. Beliaulah inspirasi bagi saya.
Dan, di atas podium ini, saya mengajukan permohonan kepada Pemerintah Kota Pekalongan, agar beliau dianugerahi penghargaan khusus. Terutama, sebagai sosok yang berjasa bagi penumbuhkembangan budaya baca, budaya literasi.
Dari hati yang terdalam, saya sampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya, atas segala yang telah beliau berikan kepada Forum TBM Kota Pekalongan, hingga akhirnya di masa akhir jabatan beliau sebagai Ketua Forum TBM, beliau menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan ini kepada saya. Sungguh, saya mesti merasa malu, karena saya merasa belum berbuat apa-apa. Masih sangat jauh dari apa yang telah beliau kerjakan.
Untuk itu, secara khusus, saya memohon kesediaan beliau untuk saya tempatkan sebagai anggota istimewa dalam kepengurusan Forum TBM periode 2025-2030. Dalam hal ini, saya dudukkan beliau sebagai penasihat. Tujuannya, agar kami pengurus baru ini masih memiliki kesempatan untuk mencecap ilmu dan pengalaman beliau.
Terakhir, kepada seluruh pengurus Forum Taman Bacaan Masyarakat Kota Pekalongan, saya sampaikan terima kasih pula atas kesediaannya. Mari bersama-sama kita laksanakan tugas kemanusiaan ini sebagai salah satu bentuk pengabdian kita, sebagai cara kita untuk meneladani para pendahulu kita.
Rasa terima kasih juga kami sampaikan kepada Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Jawa Tengah beserta jajaran pengurus, yang berkenan hadir dan mengukuhkan kepengurusan kami. Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pekalongan, tak lupa pula kepada Wali Kota Pekalongan, serta Bunda Literasi Kota Pekalongan atas segala bentuk dukungan yang diberikan.
Semoga, pada kepengurusan Forum TBM periode kali ini, kita dapat bersama-sama mewujudkan budaya literasi di Kota Pekalongan yang lebih baik, lebih berdaya, dan lebih menunjukkan Kota Pekalongan sebagai salah satu kota pusat kebudayaan di Nusantara ini. Lebih-lebih, kota ini merupakan kota tua yang memiliki sejarah panjang dalam pembangunan peradaban Nusantara.
Sekian, Terima kasih
Salam Literasi! Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pekalongan, 18 Januari 2025 Ketua Forum TBM Kota Pekalongan Ribut Achwandi
메타데이터
- post_id
- 4fbb3ec6a4fb
- slug
- pidato-perdana-ketua-forum-tbm-kota-pekalongan-4fbb3ec6a4fb
- url
- https://medium.com/@ributachwandi/pidato-perdana-ketua-forum-tbm-kota-pekalongan-4fbb3ec6a4fb
- canonical_url
- https://medium.com/@ributachwandi/pidato-perdana-ketua-forum-tbm-kota-pekalongan-4fbb3ec6a4fb
- author_url
- https://medium.com/@ributachwandi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 05:58:31