← Back to list

Sage Green: The Amethyst’s White Flag

“Sumpah lo bisa ngomong gitu?” “Iya, kenapa gitu?” “Kin, lo sadar gak ini pertama kalinya lo jujur rasa lo ke cowok?” . . “hm, because he’s…

Dafrisyakinta · 2025-10-29 06:43 · 0 claps · 3.9 min read
#question-mark
Open on Medium ↗

Sage Green: The Amethyst’s White Flag

Happy Happy. Enjoy the Moment.

Happy Happy. Enjoy the Moment.

“Sumpah lo bisa ngomong gitu?” “Iya, kenapa gitu?” “Kin, lo sadar gak ini pertama kalinya lo jujur rasa lo ke cowok?” . . “hm, because he’s different.”

Bulan purnama ketiga, aku termangu di belakang bangku jok motor, setengah sadar akibat tequilla sialan itu.

Fuck! Why does weird stuff happen on a full moon, ya?

Sepulang konser di daerah bilangan Kemayoran, tertawa bersama nama baru, interaksi baru, momen baru, tapi aku sama sekali gak bisa bohong. Dalam hati masih penuh dengan 3 warna yang sering kali mengganggu hariku.

Kutarik garis ke 3 bulan belakang, dimana bulan purnama selalu muncul di dini malam hari, dengan dramanya masing-masing.

Agustus — aku mengkonfrontasi harga diriku di dalam mobil Charcoal Grey. September — aku menikmati keindahan mata Sage Green. Oktober — Broken Bronze menuntunku dengan genggaman tangannya.

Dan diam-diam, kekhawatiranku mencuat, bagaimana jika aku berpapasan dengan Red Wine?

Wanita gila!

Bagaimana bisa kapasitas hatimu terlalu besar untuk menerima ruang-ruang jiwa yang hanya ingin berteduh?

Ironi, semua warna tidak ada yang berniat untuk tinggal. Mereka mundur perlahan meninggalkan. Mendiamkan.

Aku harus segera berbenah.

CHARCOAL GREY DAY

Suatu hari di pertengahan Oktober, aku menamakan hari itu dengan Charcoal Grey Day. Dimana aku hanya fokus pada perasaanku terhadap pria dewasa itu. Mengingat bagaimana tiba-tiba aku sadar aku jatuh cinta. Saat dia secara impulsif, meninggalkan meeting dan muncul di kafe dengan wajah lugunya. Momen percakapan di mobil yang lebih menerjemahkan jiwa masing-masing, perpisahan sementara, sampai fase roasting yang hanya menyisakan sesak dada dan harga diri sebagai perempuan.

Kusambangi tempat dimana dia akhirnya mengembalikan perkataanku di purnama bulan Juni, tepat dimana tubuhnya akhirnya jujur. “Semua pasti ada reason-nya. I know it sounds gay, but I believe in fate. You’re not stupid, right, Kinta?”

Dan akhirnya, malam itu, di parkiran lapang bebas, aku berbisik. Ceritaku dan dirinya memang harus seperti ini, tidak ada yang harus diubah.

Ayo, jangan pernah bertemu lagi. Kurasa kita sudah mendapatkan pelajaran masing-masing.

RED WINE DAY

Hari kedua, tepat di keesokan harinya. Hanya perasaan sisa yang menemani. Aku sadar, bahwa energi tidak bisa bohong. Tidak ada yang singkron dengan dirinya.

Aku ingin melepaskannya sejak dari kapal. Aku yang merasa kosong kala itu, baru saja lepas dari Charcoal Grey, menikmati kesetengahadirannya. Logikaku mulai bermain, aku tidak mencintainya. Aku belajar mengenali diriku lewat dirinya. Kesadaranku memuncak, benar apa kata dia, akulah penjahat dari cerita ini. Karena aku lupa, mungkin dia sudah mengusahakan persahabatan, tapi memang perasaan itu tidak akan terbalas.

Dan akhirnya, malam itu, di parkiran lapang bebas, aku berbisik. Ceritaku dan dirinya memang harus seperti ini, tidak ada yang harus diubah.

Dan memang harus diselesaikan, segera.

SAGE GREEN DAY

Nope! Tidak ada!

Aku bahkan tidak mau memulainya. Untuk pertama kalinya, I broke the pattern.

Tanpa ada iming-iming afeksi palsu, aku langsung memutus ambiguitas dengan Broken Bronze. Aku tidak peduli dengan lagu yang ia nyanyikan. Belum lagi, sosok Golden Black yang menatapku lekat, tersenyum hadir di lobi dengan secangkir kopi itu pun kalah.

Aku menolak keras untuk masuk ke cerita baru, atau lebih tepatnya teman-temanku menyebutnya — Overlapping.

Menolak untuk menonton konser lanjutan. Karena aku paham betul, senyumku masih merekah, jantungku masih berdegup keras tiap kali aku mengingat mata Sage Green malam purnama September itu. Aku masih ingat, gemetar tubuhku yang tidak paham perasaan apa itu— ya, walaupun aku juga yang memutus pertemanan.

Aku masih sayang, rindu yang tak terbendung.

Berniat untuk tidak menghubunginya lagi. Tapi di hari itu, dimana hariku runtuh, aku benar-benar sendirian. Menatap gedung pencakar langit, membaca kalimat tentang Rumah.

“Aku hanya ingin pulang,” seruku dalam batin.

Berjam-jam aku berpikir keras, melawan konflik batin untuk memanggil namanya.

Perjalanan di bis, terasa sesak. Aku hampir menyerah dengan hidupku. Perundungan dan penghapusan nama itu terjadi sampai akhir.

Aku tiba di kota tempatku bertumbuh, duduk di bangku taman malam dengan lampu hias.

Menatap bulan sabit.

Satu jam, hatiku masih terus melawan, “Jangan hubungi lagi, dia mungkin tidak mau terganggu.”

Namun, aku ingin pulang.

Dengan napas berat, aku mengetik namanya. Detik itu juga dia membalasnya. Sumringah, panggilan telepon itu berbalaskan.

Hi Sage Green, temenin aku dulu ya.

dijawabnya, iya.

Aku menikmati suaranya, ceritanya, tawa canggungnya. Aku dimanusiakan malam itu. Dan aku tahu, aku pulang.

Sage Green adalah ruang.

Aku tidak memiliki ekspektasi apapun, aku tidak membutuhkan kejelasan. Karena semua sudah jelas, mungkin dia adalah rumah untukku, tapi belum tentu aku rumah untuk dirinya. Mungkin sama sekali bukan.

Aku tidak akan memaksa.

Tapi aku ingin dia tahu, dia aman bersamaku. Aku tidak akan mengubahnya, aku tidak ingin mempercepat kedewasaannya.

Sebenarnya, dia bisa rapuh di depanku juga.

Hanya jika, dia mau.

Aku akan menangkapnya, tidak untuk saling menyembuhkan. Tapi untuk memberi ruang. Dia bisa bercerita hal-hal kecil, seperti 3 es batu di bak mandi.

Apakah aku akan menunggu? Hanya keberanian dia yang bisa menjawab.

Apakah aku akan menerimanya? Pasti.

Karena untuk pertama kalinya, seorang gengsi tinggi ini dapat ditaklukan oleh tatapan yang bisa memikat banyak perempuan itu.

Aku salah satunya. Dan aku tidak malu untuk mengakui itu, karena dia layak untuk disinggahi.

Tidak hanya itu. Dia layak untuk ditemani. Dipilih. Dicintai.

Tapi aku menolak buta.

Bagiku hidup dibangun dari konsistensi, bukan momen. Dia bisa jadi luar biasa dalam 1 malam. Tapi aku butuh kesehariannya juga.

Dan aku meragu, mungkin aku bukan tipenya. Mungkin kecantikan lain yang lebih dia prioritaskan.

Mungkin, hanya aku yang menenun kisah pertemuan ini.

Mungkin, aku boleh untuk menerima warna lain. Karena toh, dia juga sudah mengikhlaskanku.

Sage Green, lagi-lagi ini surat yang tidak akan aku kirimkan kepadamu. Karena aku tau, perasaanmu tidak sebesar itu untuk aku. Namun, kamu adalah anomali berharga yang akan aku jaga.

Kamu boleh lupa semua hal. Tapi aku harap kamu ingat, aku akan jadi tempat untuk kamu gak harus pura-pura kuat.

Gak usah buru-buru. Dunia ini luas. Tapi kalau kamu lelah, kamu tahu arah pulang. -Amethyst


메타데이터
post_id
500a29ffc5d5
slug
sage-green-the-amethysts-white-flag-500a29ffc5d5
url
https://medium.com/@besokcantik/sage-green-the-amethysts-white-flag-500a29ffc5d5
canonical_url
https://medium.com/@besokcantik/sage-green-the-amethysts-white-flag-500a29ffc5d5
author_url
https://medium.com/@besokcantik
status
ok
fetched_at
2026-08-02 09:42:14