Segelas Kopi Pengharapan Hal-Hal Baik
Kuminum hampir setiap hari, sembari berharap hariku berjalan dengan baik.
Segelas Kopi Pengharapan Hal-Hal Baik
Kuminum hampir setiap hari, sembari berharap hariku berjalan dengan baik.

- Neo1024 -
(Kaleidoskop 2025. Kurakit dan kutata tulisan ini di sore hari terakhir, di penghujung pergantian tahun baru)
Dengan segala kehati-hatian, maka kurangkum segala hal yang kulalui di tahun ganjil penuh warna terang serta gelapnya. Atau bahkan samarnya.
Di awal tahun, sama seperti seluruh kehidupan di sudut dunia manapun. Aku berharap hal-hal baik datang silih berganti padaku. Siapa yang tak berdoa seperti itu? Terasa aneh, terasa janggal. Namun begitulah yang datang, seperti pintaku. Aku pergi ke pantai, melarung seluruh pedih yang kulalui di tahun 2024, mencoba lebih baik di tahun berikutnya. Kunikmati senangnya, kulupakan sedihnya. Aku tidak melihat namaku terlampir dalam daftar target caci maki dunia.
Naif sekali. Padahal aku baru membuka halaman pertama setelah cover dalam sebuah buku kehidupan yang baru kuterima. Begitulah aku, baru membuka halaman awal namun seakan aku sudah selesai membacanya.
Kulalui waktu-waktu berikutnya di awal tahun. Aku bertemu banyak orang baru. Namun tak banyak orang lama yang bertahan. Aku tak acuh. Menerima ya menerima saja, ditinggal ya sudahlah. Terasa aneh, terasa janggal, namun nyaman hadir dalam waktu yang bersamaan. Lagipula hidup akan berakhir, semuanya akan meninggalkan apapun yang dimiliki di dunia, kan?
Begitulah aku. Baru selesai membaca setengah bab buku, namun merasa sudah menghapal seluruh isi buku hingga peletakan tanda bacanya. Brengsek kubilang manusia satu ini.
Kulanjutkan kehidupan di bait-bait selanjutnya. Aku mengikuti banyak kegiatan baru. Namun sebetulnya aku tak memiliki kegiatan apapun dahulunya. Namun kunikmati alurnya. Walaupun sering datang sendiri, tapi aku tak membawa banyak ‘oleh-oleh’. Padahal aku bisa dengan mudah mendapatkannya. Terasa aneh, terasa janggal, terasa nyaman. Kemudian bebas menyisip di tengah-tengahnya. Lalu semuanya terasa sama, seakan hidup tak ada artinya.
Sok pandai. Aku hanya baru selesai satu bab di buku itu, namun merasa sudah khatam berkali-kali dan mengingat seluruh isinya di luar kepala. Kemudian munculah Sang Entitas yang pada awalnya kuanggap sebagai pembangkang kehidupan.
Aku belum mengenalnya, karena kemunculannya saja kuabaikan. Maka aku menepis eksistensinya. Tapi ada satu kalimat yang tak gencar ia teriakkan di telingaku. Berkali-kali, hingga aku tak bisa begitu saja melupakannya;
“Coba buka bukumu lagi dari awal. Baca perlahan, kamu masih punya hari yang panjang untuk sekedar membacanya berulang kali. Namun kuharap kamu mampu menangkap semua pesan tersirat dari tiap kalimat yang tertulis di buku itu. Bacalah. Perlahan.”
Iseng, tapi rasa penasaran lebih mendominasi kepalaku kali ini. Bajingan. Keparat. Sebaiknya dari awal aku sudah masuk tempat sampah. Di titik inilah aku mulai membenci diriku sendiri. Aku. Menyesal. Tidak. Membaca. Bukuku. Dengan. Perlahan. Sebentar, kuulangi. Aku menyesal tidak membaca bukuku dengan perlahan. Aku percepat dahulu, karena ini masih panjang.
Duka, pilu, sendu, muram, hampa, sengsara, semua bentuk kesedihan meranggas dengan cepat di pertengahan kehidupan. Aku tak bisa bertahan dengan baik. Padahal aku berjanji untuk menjaga diri. Padahal aku berjanji untuk berhenti merusak diriku sendiri di awal tahun. Namun aku bingung, semua ini bak virus yang merusak komputer dengan cepat. Aku tak tahu asalnya dari mana. Namun Sang Entitas itu kembali berbisik;
“makanya jangan terlalu mati rasa, makanya jangan mengabaikanku.”
Aku menemui buruk rupa diriku di pertengahan tahun. Padahal, saat itu aku baru saja menginjak di umurku yang kesekian. Seharusnya aku menjadi lebih baik. Seharusnya aku lebih banyak mengasihi. Seharusnya aku tak menjadi ketakutan siapapun. Dan (bentuk ‘seharusnya-seharusnya’ baik yang) lain sebagainya.
Sering aku berfantasi untuk menyudahi semuanya. Aku sendirian. Aku linglung. Tidak ada yang mempedulikanku bahkan jika aku tiada. Aku tak dibutuhkan siapapun. Aku sering bungkam atas banyak hal yang terjadi padaku, baik perihal suka atau perihal duka. Aku terlalu banyak bercanda hingga semuanya percaya aku tidak apa-apa. Lagipula semua orang memiliki pahit masing-masing. Tak boleh jika aku menambah ‘hitam’ yang seringnya menjadi batu penghalang kehidupan. Semua seharusnya berjalan lebih baik jika aku tak muncul dalam kehidupan siapapun. Seharusnya aku tak ada di cerita siapapun jika nantinya hanya berakhir luka. Dan (bentuk ‘seharusnya-seharusnya’ yang maknanya berbelok yang) lain sebagainya. Sekarang aku pergi, anggap aku mati.
Aku takut dicaci karena gaya penulisanku, tutur kataku, serta gayaku berpakaian. Tahun lalu, aku kerap menghilang karena bertarung dengan diriku sendiri perihal itu. Di sela aku menghilang, aku mencoba menjadi yang lain seperti yang mereka inginkan. Namun, aku malah menjadi lebih gila karena aku jatuh lebih dalam ke lubang hitam yang aneh. Mempertanyakan letak eksistensiku di dunia ini. Aku sulit menepis keraguan orang lain, padahal aku normal. Di situlah linglungku mencekik. Kembali mempertanyakan ribuan pernyataan yang berkelebat di kepala karena mereka tetap ngotot atas apa yang mereka tahu tentang hidupku.
Padahal aku tak pernah bicara tentangku pada mereka.
Jadi aku menjauh. Lebih baik aku sendiri daripada aku hidup tapi dipertanyakan. Lebih baik aku sendiri, karena mencintai tak lebih daripada hal yang aneh untuk diriku, karena mencintai adalah yang kata mereka tak boleh kulakukan. Heh, lagipula mengapa aku peduli dengan omongan orang lain? Bahkan mereka saja tak percaya jika kubuktikan. Siapa yang peduli jika aku pergi? Aku ingin tak menghiraukan masa depan. Salahku juga menyelamatkan mereka yang sebetulnya adalah titik masalah itu sendiri.
Tapi di situlah letak kesalahanku yang lain. Sang Entitas membantuku membuka ‘mata’ perlahan. Ternyata aku terlalu cepat memaknai buku yang baru kubaca satu bab. Masih ada ribuan halaman dengan bab-bab lain yang belum kubaca dan kupahami dengan baik. Dia membantuku untuk menyelamatkan diri, mengevaluasi jalan pikirku tentang romantisasi senang di halaman awal buku karena berujung pada ketakutan parah.
Beberapa bulan terakhir, aku merenung.
Setiap kalimat yang ada dalam buku itu mengandung tafsirnya masing-masing. Banyak tafsir yang tertulis jelas di bawah halaman, namun kuabaikan karena tak kuanggap penting. Penyesalanku kuratapi terlalu dalam, hingga akhirnya aku terselimuti gemuruh badai yang tanpa sengaja terbentuk. Sang Badai akhirnya datang. Aku masih mencoba membaca bukuku dengan tenang dan baik. Masih bersama Sang Badai. Sering tidak terkontrol, tapi dia setia menemani.
Sang Badai juga yang sempat menghalangiku berkomunikasi dengan Sang Entitas. Aku kerap berkelit dengan Sang badai.
Kepalaku penuh.
Badai menyerauk masuk ke sela-sela diriku.
Aku rusak lagi.
Sadarku yang hanya sebentar menghilang.
Merenung berakhir terkurung.
Aku dikurung takut yang entah apa maksudnya.
Aku berakhir membangun hal-hal fana, sibuk hidup dalam mimpi.
Sang Entitas tak bisa mencariku, Sang Badai menghalangi jarak pandang.
Namun, bagaimana aku bisa keluar jika aku tak berusaha? Maka aku sekali lagi merenung. Oh, renungan ini untuk melawan kurungan.
Aku menemukan Sang Entitas. Akhirnya ia tak berbasa-basi. Ia takut aku kembali rusak. Aku pun juga takut kembali terkurung. Dia membacakan keras-keras isi buku serta tafsinya yang tertutupi keegoisanku.
Aku tidak sendirian. Aku tidak ditinggalkan. Aku berharga. Aku dibutuhkan siapapun. Aku harus hidup lebih lama lagi. Mataku dibuka, begitupun telingaku.
Aku hidup dikelilingi manusia-manusia yang terkasih. Sang Badai menutup semuanya dariku. Bahkan saat aku sedang bersama mereka, aku masih merasa sendiri. Berkali-kali mereka bilang padaku; jangan pergi, jangan hilang, ayo pergi ke sana bersama, kamu tak sendiri. Sialnya aku terkalut Sang Badai. Tak bisa mendengarnya, tak bisa melihatnya. Tak lelah mereka berkata padaku;
“jangan sendirian, kamu boleh datang padaku kapanpun kau mau.”
Bukankah dosa besar jika mereka menyayangiku sebegitunya namun aku masih merasa sendiri? Mereka mau mendengarku. Mereka mau menolongku. Bahkan jika aku tidak meminta pertolongan, jutaan tangan mengulur dari teman-temanku. Mereka jauh lebih mengertiku daripada aku sendiri.
Kusadari juga, di tahun ini aku mengetahui bahwa ada orang yang memintaku untuk tidak menghilang. Kukira aku tak diperlukan. Kukira aku adalah ranjau di tiap perjalanan orang yang kutemui. Namun mereka kerap melibatkanku di tiap perjalanannya. Aku takut ditinggalkan, padahal tak ada satupun dari mereka meninggalkanku. Bahkan mereka tak ragu merengkuhku. Manusia yang menetap itu berjumlah sedikit, tapi merekalah yang tak ragu menarikku keluar dari kabut hitam.
Aku kerap bertanya-tanya, siapa yang mengharapkanku ada di dunia ini? Mengapa aku dilahirkan? Di sela-sela retaknya dinding tembok yang harusnya menjadi tempat amanku, ternyata aku terselamatkan di luar, dengan manusia-manusia yang tak sedarah namun hangatnya tak terkira. Berani bertukar nestapa, dan tidak ada kisah yang dibantah.
Harapan mati berubah menjadi; bagaimana jika aku hidup untuk satu hari lagi? satu hari saja, aku akan menemukan setitik harapan mengapa aku harus hidup satu hari lagi. Atau bahkan untuk selamanya.
Aku akan memberi, sekalipun aku membiru terluka. Aku akan mengasihi, tanpa mengharapkan pamrih. Aku tidak berbuat baik kecuali semuanya aku niatkan untuk teman-temanku, keluargaku, kenalanku yang berkesan, dan orang baik yang tak sengaja kujumpai saat aku sedang berhenti di pinggir jalan saat aku beristirahat dari pekerjaanku. Namun aku tetap berbuat baik untuk diriku sendiri.
Mereka selalu punya cara untuk menambal kegagalanku, menyusup pada tiap aliran darahku, menyadarkanku untuk sesekali berbuat baik. Aku akan belajar memaafkan, karena manusia berpeluang untuk mengecewakan. Aku manusia, aku berpeluang. Maka memaafkan akan mengurangi peluangku untuk mengecewakan siapapun. Dan aku harap aku akan memaafkan diriku sendiri. Menepis segala traumaku yang mengalir di arteri.
Aku tak ingin hidup dalam ketakutan tak berguna lagi. Aku ingin hidup lebih baik lagi dan lagi. Aku tak ingin lagi mempertanyakan diriku untuk kesekian kalinya, hingga aku tak bisa keluar dari jalan gelap nan aneh itu. Aku juga tak ingin hidup di bawah angan-angan siapapun. Aku ingin hidup untuk diriku sendiri. Aku sudah susah payah keluar dari jalan berlumpur yang perlahan menelanku dengan membayar mahal orang yang tak kukenal. Aku ingin hidup untuk satu hari lagi dan selanjutnya, bukan? Aku ingin meyakinkan diri sendiri bahwa aku layak untuk hidup, ada, dan apa adanya. Semoga yang buruk segera menghilang dariku. Semoga macam-macam pikiran, pakaian, watak, dan perbuatanku yang buruk segera berubah menjadi baik. Aku ingin membakar diriku dan merubah sejarahku. Tapi yang bisa kulakukan hanyalah menjadi lebih baik.
Mungkin dari tulisan ini, kalian akan mengetahui bahwasanya Sang Badai masih bersamaku. Runyam dibaca, namun terima kasih kalian sudah sudi membacanya sampai akhir. Tulisan sesedikit ini, sepotong perjalananku di 2025. Aku tak menceritakan semuanya, barangkali sedih itu menular. Karena bunuh diri itu menular, berarti segala bentuk kesakitan yang lain juga bisa menular. Percayalah tak selamanya dunia harus begitu. Ribuan memori terbentuk di tahun 2025. Termasuk yang baik.
- Terima kasih pada teman-temanku yang masih bertahan, yang tak membiarkanku sendirian, yang menolongku, yang membahagiakanku, yang menghiburku, yang mengenalkanku pada musik-musik keren yang baru di hidupku, yang mengasihiku, yang merangkulku, yang mengejekku, yang mepersilahkanku tahu segala rahasia hidupmu yang barangkali enggan kamu bagikan pada siapapun (tidak kusebut namanya karena itu privasi).
- Terima kasih pada banyaknya orang-orang baru yang datang di kehidupanku, yang memberi arti lain, yang memberi kebaikan, yang berani mengajak bicara dahulu, yang berakhir menjadi dekat.
- Terima kasih pada beberapa orang yang pergi dari hidupku, yang memberikan pelajaran hidup, yang memberi trauma, yang meninggalkan sakit.
- Terima kasih kepada kucing-kucingku yang menggemaskan, yang menjadi salah satu alasan kuatku untuk masih mau pulang ke rumah.
- Terima kasih kepada banyaknya buku-bukuku yang mahal, yang mudah menghabiskan uangku, yang menemaniku saat aku mengurung diri, yang membuka banyak perspektif baru untukku, yang banyak memberi ilmu yang baru.
- Terima kasih kepada musik-musik yang kudengarkan untuk menemani perjalananku di tahun lalu, yang lama kudengarkan, yang baru kudengarkan, yang baru kuselami genre-nya, yang tidak kudengarkan lagi, dan yang akan kusebut kusebut di sini; Hindia, .Feast, Lomba Sihir, Nadin Amizah, Banda Neira, Nosstres, Payung Teduh, For Revenge, Daun Jatuh, Halstage, Sal Priadi, Kunto Aji, Amigdala, Jenny, Fstvlst, The Adams, rumahsakit, Dongker, Jason Ranti, The Jeblogs, Efek Rumah Kaca, Perunggu, One Direction, 5 Second of Summer, Faye, Adrianne Lenker, Gigi Perez, Conan Gray, Billie Eilish, Delaney Bailey, Phoebe Bridgers, Novo Amor, Bon Iver, Avenged Sevenfold, My Chemical Romance, CAS, Bring Me The Horizon, Down for Life, Radiohead, Bad Omens, eleventwelfth, Eastcape, Murphy Radio, Beijing Connection, Themilo, Hermione, Enamore, Beeswax, Colorcode, CWT, Liburan Dirumah, White Chorus, In Inertia, American Football, Turnover, Kevin Oh, EXO, dan lain sebagainya (terlihat di sini bahwasanya aku tak memiliki satu genre lagu yang selalu kuputar).
- Terima kasih kepada hal-hal yang kusukai (hobi-hobiku, karya-karyaku, konser dari band yang kusuka dan kudatangi, diskusi buku yang kuikuti, pertemuan dengan para penulis yang kuhadiri, warna yang kusukai, dan hal-hal kecil lainnya yang jika tak ada maka aku juga mati).
- Terima kasih kepada seluruh perjalananku yang indah, yang sendiri, yang bersama, yang indah pemandangannya, yang segar angin tempat berlabuh, yang tenang riak airnya, yang deras hujannya saat masih di jalan, yang teduh pohon rindang tempat kuberistirahat.
Sesekali aku akan duduk menyesap kopi tanpa melakukan apapun agar aku sembuh, sambil merencanakan apa yang kulakukan esok hari. Tetap tidak akan mudah untuk melindungi diriku sendiri. Tapi aku bukan seorang penyerah walau sesekali jengah dan lelah. Barangkali aku akan meminta bantuan seseorang, namun aku akan melakukannya lebih minim. Seharusnya aku tak melarung sedihku secara keseluruhan. Karena yang terjadi selanjutnya adalah aku yang bingung bagaimana menghadapi kesedihan yang datang di kehidupanku di tahun itu. Sebaiknya, ia dijadikan pelajaran. Bijaknya, ia direngkuh agar aku tak terkejut dalam menemuinya di versi yang lain. Karena selanjutnya (dan akan terus begitu) ia akan datang dalam bentuk lain yang lebih kuat, menyesuaikan ritme kita yang dipaksa tak boleh begini-gini saja.
Buku adalah ibarat. Sang Entitas adalah ibarat. Sang Badai adalah ibarat. Semuanya adalah aku. Aku yang bertarung dengan diriku sendiri, aku yang bertaruh pada kehidupan yang indah ini. Buku adalah jalan hidupku yang tak dapat diprediksi dengan jelas, namun ia bisa berubah cerita jika aku tak menjalankannya dengan baik. Sang Entitas adalah diriku dalam bentuk kesadaranku. Lalu Sang Badai adalah aku dalam buruk rupaku, segala bentuk kejahatan dan keburukan serta karma hidup yang menumpuk dan mengorbit.
Untuk segala pelajaran yang kudapatkan, terima kasih banyak.
Semoga aku tumbuh lebih baik, mencoba hal-hal baru untuk menjadi orang baru dalam kebajikan. Semoga aku tak cepat habis energi untuk rajin pindah secara berkala ke tempat-tempat baru yang indah di dalam daftar keinginanku. Semoga segala jatuh bangunku tak membuatku terus meratap sedih. Semoga aku tak cepat menyerah atas tantangan apapun dari yang terdekat dan dari dunia. Ramai sepi ini milik bersama, semoga aku tak lagi sering menghilang, menyepi, dan mengurung diri berakhir menyiksa diri. Sebesar itu aku ingin mengubah diriku, memegang kendali atas ceritaku.
(Kuteliti dan kuselesaikan tulisan ini di siang hari, di hari keenam setelah pergantian tahun)
Terima kasih untuk lagu-lagu yang kudengarkan, menginspirasi, dan kukutip liriknya dalam menulis tulisan ini:

메타데이터
- post_id
- 5014e225a1fd
- slug
- segelas-kopi-pengharapan-hal-hal-baik-5014e225a1fd
- url
- https://medium.com/@neo.1024/segelas-kopi-pengharapan-hal-hal-baik-5014e225a1fd
- canonical_url
- https://medium.com/@neo.1024/segelas-kopi-pengharapan-hal-hal-baik-5014e225a1fd
- author_url
- https://medium.com/@neo.1024
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 04:09:36