← Back to list

[What The Fact] The Dancing Boys: Mari Mengenal Lebih Jauh Tentang Bacha Bazi

Author : Lintang Nginanthi

HIMATERS UNS · 2024-09-29 00:21 · 1 claps · 3.4 min read
#bacha-bazi #bacha #culture #afghanistan #baaz
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing CUL · Culture & Media

[What The Fact] The Dancing Boys: Mari Mengenal Lebih Jauh Tentang Bacha Bazi

https://images.app.goo.gl/XSvGkK8NJQPETfX99

https://images.app.goo.gl/XSvGkK8NJQPETfX99

Author : Lintang Nginanthi

Di sebuah negara, di mana wanita seringkali dikucilkan dan dipandang rendah dalam segala aspek kehidupan publik, para anak laki-laki harus menjual diri mereka demi memenuhi kebutuhan ekonomi. Bacha Bazi, merupakan praktek eksploitasi seksual berkedok budaya yang dilakukan oleh pria dewasa terhadap anak laki-laki Afghanistan di bawah umur untuk kepentingan hiburan dan nafsu semata. “Women are for children, boys are for pleasure”, istilah ini erat kaitannya dengan praktek Bacha Bazi. Istilah ini memiliki arti bahwa wanita digunakan untuk memperoleh keturunan, sedangkan kesenangan dan kepuasan diperoleh dari anak laki-laki.

‘Bacha’ di dalam bahasa persia memiliki arti anak-anak, sedangkan ‘bazi’ memiliki arti suatu atau sebuah permainan. Sesuai dengan penerapannya, Bacha Bazi memiliki arti bermain bersama anak-anak, atau lebih tepatnya menjadikan anak-anak sebagai sebuah permainan. Dalam praktek bacha bazi, seorang bacha adalah anak laki-laki di bawah umur dengan rentang usia 10–18 tahun dan seorang bacha baz adalah ‘pemilik’ dari anak laki-laki tersebut. Bacha di dalam tradisi bacha bazi dituntut untuk merubah penampilannya menyerupai perempuan dan akan disimpan oleh seorang bacha baz sampai bacha tersebut mengalami perubahan fisik yang menunjukkan kedewasaan seorang laki-laki pada umumnya.

Pada dasarnya bacha bazi dapat terjadi karena adanya larangan bagi para wanita untuk menari di hadapan publik, namun secara historis praktek bacha bazi tidak memiliki asal-usul yang jelas. Ada yang menyebutkan bahwa bacha bazi diperkenalkan oleh Seyyid Mir Mohammed Alim Khan, keturunan terakhir dari Genghis Khan, ada pula yang menyebutkan bahwa tradisi ini sudah ada sejak abad ke-9 di Asia Tengah yang diperkenalkan kepada masyarakat Baghdad melalui Khorasan, dan ada pula yang menyebutkan bahwa tradisi penari pria menyerupai wanita sudah ada sejak zaman kesultanan Turki Ottoman. Praktek bacha bazi setidaknya sempat berhenti di mata publik pada masa pemerintahan Taliban di Afghanistan tahun 1996 sampai tahun 2001, hal ini dikarenakan Taliban memiliki keyakinan kuat terhadap penegakan syariat islam dan bacha bazi merupakan pelanggaran atas ajaran agama karena mengandung unsur pedofilia dan homoseksualitas. Pada masa pemerintahan Taliban, hukuman mati ditetapkan kepada individu-individu yang terlibat dalam praktek bacha bazi.

Praktek dari bacha bazi sendiri dilakukan secara tersembunyi oleh masyarakat Afghanistan dan pada umumnya berlangsung dalam suatu pesta. Seorang bacha yang sudah berdandan seperti perempuan akan menari dan menyanyi dengan gemulai di tengah kerumunan pria dewasa atau di depan para tamu undangan dari bacha baz. Pesta yang mulanya berisi tarian dan nyanyian saja akan dilanjutkan dengan aktivitas seksual perorangan atau dapat dilakukan secara bersamaan. Bacha yang dinilai sangat menarik bagi para bacha baz di tempat tersebut dapat dilelang kembali kepada bacha baz yang baru, hal ini seringkali menimbulkan keributan dan tidak jarang berakhir dengan kematian.

Seorang bacha tidak memiliki kehendak atas hidupnya sendiri. Bacha tidak dapat berhenti menjadi seorang bacha atas keinginannya sendiri, hanya bacha baz yang berhak atas hal tersebut dan jika bacha melakukan perlawanan atau menunjukkan ketidaksetujuan atas perintah seorang bacha baz, tidak jarang hal tersebut akan berakhir dengan kekerasan fisik bahkan ancaman kematian bagi bacha dan keluarga seorang bacha itu sendiri

Bacha yang tidak lagi diperlukan oleh bacha baz sulit diterima kembali oleh masyarakat bahkan keluarganya sendiri karena stigma sosial yang buruk. Mantan bacha akan sulit mencari pekerjaan dan seringkali kembali kepada kemiskinan. Tidak heran apabila mentalitas seorang mantan bacha cenderung bermasalah karena efek pelecehan seksual yang mereka dapatkan pada umur belia. Pemerintah dan aparat penegak hukum di Afghanistan juga tidak dapat memberikan perlindungan hukum secara optimal terhadap mantan bacha. Hal ini dikarenakan oleh status bacha baz yang tinggi dan koneksi dari para bacha baz dalam pemerintahan.

Tahun 2009 lalu, PBB sudah berusaha untuk mengangkat masalah ini di ranah publik. Hal ini tidak dapat berjalan secara optimal karena Afghanistan merupakan negara konservatif yang menganggap bahwa homoseksualitas adalah hal yang tabu dan budaya bacha bazi itu sendiri sudah mengakar terlalu dalam. Radhika Coomaraswamy, Wakil Sekretaris Jenderal PBB kala itu, juga selaku Perwakilan Khusus PBB untuk anak-anak dan konflik bersenjata menyatakan bahwa para pemimpin agama di Afghanistan memohon bantuan untuk memerangi dan mengakhiri praktik ini, hukum harus disahkan dan pelaku harus dimintai pertanggungjawabannya. UNICEF juga telah menyoroti masalah ini beberapa kali, Alistair Gretarsson selaku juru bicara, menyampaikan bahwa korban dari bacha bazi enggan melakukan laporan karena takut akan stigma, ancaman pembunuhan atau pembalasan dendam.

References

AFGHANISTAN: An in-depth look at the practice of ‘bacha bazi’ (dancing boys) | CRIN. (2013, September 23). CRIN. Retrieved September 24, 2024, from https://archive.crin.org/en/library/news-archive/afghanistan-depth-look-practice-bacha-bazi-dancing-boys.html

Populer: Bacha Bazi, Kekerasan Seks Keji Anak-anak di Afghanistan. (2022, September 10). detikTravel. Retrieved September 24, 2024, from https://travel.detik.com/travel-news/d-6283563/populer-bacha-bazi-kekerasan-seks-keji-anak-anak-di-afghanistan

Ramadhani, D. (2020). Relativitas Budaya dan Berlangsungnya Budaya Bacha Bazi di Afghanistan Pasca Pemerintahan Taliban. Journal of International Relations, 6(4), 535–544.

Saramad, M. H., Abid, A., Alavi, M. J., Waziri, B., Babrakzai, N., & Sultani, L. (2014, August 18). Causes and Consequences of Bacha Bazi in Afghanistan. Refworld. Retrieved September 24, 2024, from https://www.refworld.org/reference/countryrep/aihrc/2014/en/108586

“Women are for children, boys are for pleasure”. (2019, April 10). FUF.se. Retrieved September 24, 2024, from https://fuf.se/en/magasin/magapril-women-are-for-children-boys-are-for-pleasure/


메타데이터
post_id
5034af9c26b9
slug
what-the-fact-the-dancing-boys-mari-mengenal-lebih-jauh-tentang-bacha-bazi-5034af9c26b9
url
https://medium.com/@himatersuns/what-the-fact-the-dancing-boys-mari-mengenal-lebih-jauh-tentang-bacha-bazi-5034af9c26b9
canonical_url
https://medium.com/@himatersuns/what-the-fact-the-dancing-boys-mari-mengenal-lebih-jauh-tentang-bacha-bazi-5034af9c26b9
author_url
https://medium.com/@himatersuns
status
ok
fetched_at
2026-08-19 15:48:43