← Back to list

Zikir Antariksa

#21_Sesi Mengarsip Puisi Amatiran

Lilis Durrotun Nafisah in Meja Sajak · 2026-01-09 11:57 · 98 claps · 0.9 min read
#antariksa #langit #meja-sajak #poetry #cinta
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Zikir Antariksa

21_Sesi Mengarsip Puisi Amatiran

Photo by Jeremy Thomas on Unsplash

Photo by Jeremy Thomas on Unsplash

Kau pernah bilang,

Langit malam begitu menawan

Taburan bintangnya mendekap kita dengan rasa nyaman

Menurutku tidak!

Aku lebih suka langit pagi jam sembilan

Biru, tak berawan, dan menenangkan.

Kau juga pernah berbisik,

Purnamalah makhluk antariksa paling cantik

Pendar keemasannya memanjakan setiap netra yang melirik

Namun, kupikir bulan sabit lebih menarik

Lengkungnya selalu mengajakku tersenyum

Bahkan saat diri ini sedang tidak dalam keadaan baik.

Kali lain, kau bilang, hujan itu menyebalkan

Guyurannya selalu mengingatkan pada kenangan

Aku tak setuju

Hujan, bagiku, adalah selimut hangat

dengan manik-manik kerinduan.

Ah, kita memang tak ditakdirkan sejalan,

begitu keluhmu beberapa waktu kemudian.

Lagi-lagi, aku menolak.

Tidak, Kawan.

Masih ada satu persamaan.

Sejatinya, kita sama-sama berzikir pada Tuhan.

— Sukorejo, November 2024

Puisi yang ditulis lebih satu tahun lalu ini adalah karya pertamaku (lagi) setelah sekian lama hanya bergelut dengan prosa dan bersembunyi di balik alasan; aku tak berbakat jadi penyair. Aku lupa, dulu ada masanya aku suka menulis puisi, meski tidak banyak. Dan hasilnya, ya begitulah. Entah bisa disebut puisi atau tidak.


메타데이터
post_id
5086cbb2d30a
slug
zikir-antariksa-5086cbb2d30a
url
https://medium.com/meja-sajak/zikir-antariksa-5086cbb2d30a
canonical_url
https://medium.com/meja-sajak/zikir-antariksa-5086cbb2d30a
author_url
https://medium.com/@lilisdurotunnafisah97
status
ok
fetched_at
2026-08-19 20:17:51