Zikir Antariksa
#21_Sesi Mengarsip Puisi Amatiran
Zikir Antariksa
21_Sesi Mengarsip Puisi Amatiran
Photo by Jeremy Thomas on Unsplash
Kau pernah bilang,
Langit malam begitu menawan
Taburan bintangnya mendekap kita dengan rasa nyaman
Menurutku tidak!
Aku lebih suka langit pagi jam sembilan
Biru, tak berawan, dan menenangkan.
Kau juga pernah berbisik,
Purnamalah makhluk antariksa paling cantik
Pendar keemasannya memanjakan setiap netra yang melirik
Namun, kupikir bulan sabit lebih menarik
Lengkungnya selalu mengajakku tersenyum
Bahkan saat diri ini sedang tidak dalam keadaan baik.
Kali lain, kau bilang, hujan itu menyebalkan
Guyurannya selalu mengingatkan pada kenangan
Aku tak setuju
Hujan, bagiku, adalah selimut hangat
dengan manik-manik kerinduan.
Ah, kita memang tak ditakdirkan sejalan,
begitu keluhmu beberapa waktu kemudian.
Lagi-lagi, aku menolak.
Tidak, Kawan.
Masih ada satu persamaan.
Sejatinya, kita sama-sama berzikir pada Tuhan.
— Sukorejo, November 2024
Puisi yang ditulis lebih satu tahun lalu ini adalah karya pertamaku (lagi) setelah sekian lama hanya bergelut dengan prosa dan bersembunyi di balik alasan; aku tak berbakat jadi penyair. Aku lupa, dulu ada masanya aku suka menulis puisi, meski tidak banyak. Dan hasilnya, ya begitulah. Entah bisa disebut puisi atau tidak.
메타데이터
- post_id
- 5086cbb2d30a
- slug
- zikir-antariksa-5086cbb2d30a
- url
- https://medium.com/meja-sajak/zikir-antariksa-5086cbb2d30a
- canonical_url
- https://medium.com/meja-sajak/zikir-antariksa-5086cbb2d30a
- author_url
- https://medium.com/@lilisdurotunnafisah97
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-19 20:17:51