Perut Kaku Sebelum Menulis
Cerita: Project 300 Kata
Perut Kaku Sebelum Menulis
Cerita: Project 300 Kata

Saran latihan menulis dari Nuran. (Sumber: ig kompasiana.)
Ada banyak manfaat menulis yang bisa disebutkan. Pada satu orang dengan orang yang lain urutan dan jenis kompisisinya pasti berbeda. Bahkan untuk satu orang di waktu yang berbeda akan berbeda pula. Tergantung kondisi batin atau masalah yang sedang ia hadapi.
Pada saya kali ini, manfaat menulis yang sedang menempati posisi atas adalah dengan menulis, saya menjaga kewarasan.
Bagaimana tidak, di tengah banjir sampah informasi yang tak terbendung, begitu mudah menyeret orang dalam pusaran penyakitnya. Bila tidak memiliki pijakan tiang pancang dan tali kesibukan yang direncakan sendiri, maka ia akan terseret pada kesibukan melelahkan yang tak jelas ujung pangkalnya. Tak jelas untuk siapa. Tahu-tahu waktu dan energi habis.
Pada kasus kecelakaan kereta di Jakarta baru-baru misalnya. Tentu turut berduka dan mendoakan. Lalu selanjutnya apa?
Langkah terbaik bila ada suatu kejadian seperti itu adalah menjaga jarak dengan sosmed. Karena akan ada saja pernyataan tolol dari oknum pemerintah, atau dari orang-orang yang sok tahu menanggapi soal itu. Mengaca dari kejadian-kejadian sebelumnya, yang hanya bikin lelah, ketawa, dan ingin mengumpat, lebih baik saya menyibukkan diri dengan kegiatan yang menguras energi. Yakni menulis. Sehingga tak tersisa waktu untuk mengengok i sosmed.
Kini, saya menjalankan tips menulis yang disampaikan oleh Nuran Wibisono. Yakni menulis 300 kata hal-hal keseharian dengan satu sudut pandang jelas. Fokus detail.
Seorang penulis dari Jawa Timur yang membuat banyak tulisan panjang bergaya tutur. Buku pertama karyanya yang kubaca adalah “Dunia Iskandar”. Tentang seorang tokoh dari Krian, Jawa timur yang menekuni dunia tembakau.
300 kata adalah angka ideal bagi saya saat ini. Tidak terlalu seram. Tidak terlalu sedikit. Kadang dengan niat 300 kata, bisa jadi lebih panjang. Tak jarang juga perlu usaha keras untuk mencapainya.

Sampul buku. Bisa download di website komunitaskretek.
Sudah berjalan seminggu. Kadang berhasil, sering tidak. Ada yang saya unggah di medium, ada yang tersimpan. Tidak tahu akan berjalan panjang atau tidak.
Walaupun menulis itu melelahkan, itu lebih baik daripada terseret arus medsos. Lelah dan letih dari menulis, menghasilkan ketajaman pikiran. Alih-alih medsos yang menumpulkan.
Melelahkan seperti apa?
Berulang kali, saat menemukan sebuah ide menarik, lalu mencoba membuat kerangka bagaimana merangkai ide itu, lalu duduk mengeksekusinya. Menit-menit sebelum eksekusi inilah waktu terberat dalam menulis.
Ada kekhawatiran, “Bisa ga ya.. bagus ga ya. Pantes ga ya. Akan dibaca ga ya.” Disusul perut kaku, nafas yang berat. Untuk meredakan hal itu, biasanya saya berjalan kaki keluar ruangan. Bila tidak reda, saya tinggal tidur.
Tak terhitung berapa kali saya gagal mengeksekusi ide tulisan. Sampai saat ini pun masih banyak tumpukan ide yang belum tersentuh.
Pada titik ini, saya merasa perlu menulis setiap hari. Untuk melemaskan tangan, pikiran dan terutama perut. Agar saat menulis tidak lagi digelayuti ekspektasi. Agar perpindahan ide menjadi tulisan lebih lancar. Sehingga saat ketemu ide tertentu, tidak kaget dan bisa mengolahnya dengan baik.
Semoga.
Sidoarjo, 01 Mei 2026.
메타데이터
- post_id
- 508a5a0dfaea
- slug
- perut-kaku-sebelum-menulis-508a5a0dfaea
- url
- https://medium.com/@ahmadkhoiron/perut-kaku-sebelum-menulis-508a5a0dfaea
- canonical_url
- https://medium.com/@ahmadkhoiron/perut-kaku-sebelum-menulis-508a5a0dfaea
- author_url
- https://medium.com/@ahmadkhoiron
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-30 16:53:45