La la la; Lost You?
“Sayangku. Cintaku. Manisku.”
La la la; Lost You.

La la la; Lost You.
“Kamu ingin jujur apa, Nakula?”
“Aku … cinta sama kamu, Arjuna Arkana. Sampai rasanya aku ingin menyerahkan jiwa dan ragaku agar kamu tetap di sini, sama aku, selamanya. Boleh, kan, sayang?”
Mentari terbit dengan lembut menyinari wajah lelaki manis di atas ranjang. Matanya juga perlahan terbuka dan terlihat lelaki lain mengusap rambutnya dengan sayang, senyuman lelaki berambut biru itu juga menyejukkan hatinya; Nakula Nalendra, namanya.
Sedangkan yang masih berusaha membuka mata, namanya yaitu Arjuna Arkana yang perlahan duduk dari tidurnya tetapi berganti menenggelamkan wajahnya di dada bidang Nakula. “Kapan bangun?”
“Bukannya aku udah biasa bangun lebih pagi dari kamu?” Tanya Nakula sambil mengangkat alis heran.
“Hmm iya sih … aku masih ngantuk, Na.”
Nakula terkekeh geli mendengar suara manja temannya ini. Kedua tangannya memeluk pinggang kecil itu dan membawanya ke atas pangkuannya. Ia cium pelipis Arjuna sambil mengusap rambut belakangnya perlahan. “Sayangku. Cintaku. Manisku.”
Mata Arjuna kembali terpejam merasakan usapan lembut tangan Nakula di rambutnya yang perlahan beralih ke punggungnya. Suara Nakula seperti alunan musik ballad, sangat ringan dan lembut. Kedua tangannya membalas memeluk lehernya erat sambil mengecup leher Nakula.
“Aku lapar, kamu udah masak, kah?”
Nakula mengangguk sambil memundurkan kepalanya, sedangkan tangannya menangkup pipi Arjuna yang masih bengkak sehabis bangun tidur. “Aku udah masak tapi gak ada buat makan siang. Mau gak kita siang jalan-jalan? Mumpung hari libur.”
Bibir merah itu perlahan membentuk senyum yang manis membuat Nakula mencuri kecupan darinya. Sedangkan matanya menatap mata Nakula yang masih mencari jawaban, tentu saja tanpa ragu kepalanya mengangguk. “Boleh gak aku jajan es krim?”
“Tapi satu kali aja, ya? Tenggorokan kamu masih serak, nanti tambah sakit, sayang.” Jawab Nakula dengan suara lembutnya.
“Oke, sayang. Satu aja, kok.”
Inilah kisah hidup mereka. Saling bergantung satu sama lain layaknya pasangan, namun kenyatannya masih tergantung pada status just friends. Hal ini disepakati dari jaman mereka sekolah, kuliah, hingga masing-masingnya bekerja. Tak ayal mereka terkadang sibuk sendiri dengan tugasnya, tetapi keduanya pintar membagi waktu. Seperti hari ini, kegiatan rutin mereka untuk menyempatkan quality time. Teman-teman mereka sudah saling menasehati tetapi kedua orang ini tetap ngeyel tentang; berteman saja sudah cukup.
Pancake itu sudah disuguhkan di atas meja, menyisakan Arjuna yang fokus makan dengan kedua pipinya yang bergerak mengunyah makanan. Nakula menatapnya sambil menopang dagu, jemari tangan kirinya memainkan ujung rambut Arjuna yang sudah panjang hingga telinga. Perasaannya perlahan goyah, namun hanya bisa tetap diam.
“Jun, kata dokter kemarin apa pas konsultasi? Baik-baik aja, kan?” Tanya Nakula sambil menatapnya.
Pertanyaan itu sukses membuat sang empunya menoleh, “Baik-baik aja, aku cuman perlu lebih rutin lagi konsultasinya.”
“Kan udah ku bilang juga, itu karena kamu telat sebulan.”
Nakula mengomel lagi. Arjuna memincingkan matanya dan menyandarkan kepalanya di bahunya. “Ayolah, cuman sekali aja. Itu kan juga karena tugas kuliahku banyak.”
Dirinya hanya bisa menghela nafas panjang jika sudah melihat Arjuna ngeyel begini. Tangannya mengusap rambut Arjuna dan menangkup wajah kecil yang cemberut sambil mengunyah makanan. “Aku minta maaf ya, sayang. Kemarin aku lupa karena rapat sampai pagi.”
Arjuna mendengus kesal sambil menatapnya. “Kenapa tiba-tiba minta maaf?”
“Kamu kemarin gak mau kemoterapi karena gak aku temenin, kan? Maaf ya, aku baru sadar tadi.” Ujar Nakula lembut sambil mengusap pipi Arjuna. Sedangkan Arjuna hanya mengangguk kecil sambil mengalihkan pandangan membuat Nakula memeluk pinggangnya erat dan meliriknya cemberut. “Maaf, sayang. Bulan besok aku temenin deh, ya? ya? Maafin aku, sayang.”
Arjuna hanya bisa memejamkan mata dan menahan senyum karena mendengar Nakula memohon padanya.
Duh, lucu banget.
“Iya, iya. Aku maafin.” Ucapan Arjuna segera disambut kecupan ringan di pipinya sambil tersenyum.
“Uh, sayang deh sama kamu. Sayangku cantik banget sih.”
Tak tahan menahan senyum Arjuna langsung tertawa kecil sambil menoleh ke arah Nakula. “Aku laki-laki, tau.”
Ucapan Arjuna membuat Nakula mengangkat alis. “Memang kenapa? Kamu cantik, aku suka. Gak ada masalah.”
Arjuna tertawa kecil dan mengecup bibir itu lalu tersenyum lebar. “Kalau suka, cium aku banyak dong.”
Nakula terdiam sejenak mendengar tawa merdu itu masuk melalui telinganya. Darahnya berdesir tak terhingga. Jemarinya mengepal di sisi tubuhnya.
Tuhan, jangan ambil jiwaku.
Tanpa ragu bibirnya mengecup ringan bibir ranum itu, sedangkan jemari tangan kanannya menahan tengkuk itu. Bibirnya memagut dengan lembut, secara perlahan. Menyalurkan seluruh cintanya kepada pemilik seluruh jiwanya. Sedangkan Arjuna mengalungkan kedua tangannya ke leher Nakula, merapatkan tubuhnya seolah-olah hari esok akan merenggut raganya.
Lidahnya berputar di dalam mulut Arjuna, menyesapnya tanpa ragu. Kedua tangannya mengangkat pinggang ramping itu ke atas pangkuannya tanpa memutus ciuman itu. Keduanya perlahan meraup nafas sebentar sebelum kembali saling melumat dan memagut bibir satu sama lain. Hawa panas dari tubuh keduanya saling melekat tanpa berniat melepaskan.
Tangan Arjuna memukul-mukul dada Nakula sebelum sang empunya memutuskan ciumannya. Nafas keduanya terengah-engah, jemari Nakula mengusap air liur di bibir Arjuna yang memerah dan bengkak. Senyumnya kembali merekah melihat Arjuna yang menatapnya kesal.
“Kamu tuh, kalau ciuman inget nafas aku juga dong.”
“Maaf, sayang. Habisnya aku kecanduan kamu, gimana, dong?” Pertanyaan Nakula mendapat pukulan manis di lengan besarnya dan pelototan geram dari Arjuna.
Hari-hari mereka berlalu seperti biasa, Nakula yang bekerja di perusahaan dan Arjuna yang bekerja di kafe. Pukul 7 malam, Nakula sudah sigap memarkirkan mobilnya di depan kafe, kakinya dengan langkah tegas masuk ke dalam kafe dan duduk di kursi seperti biasa. Teman-teman Arjuna sudah hafal dengan kegiatan mereka berdua setiap hari. Seperti menonton film romansa gratis tanpa tambahan pajak.
Melihat bagaimana senyuman manis Arjuna merekah tanpa beban saat melihat Nakula yang menunggu pekerjaan Arjuna selesai dengan sabar dan telaten. Semuanya terasa manis dimata pekerja dan pengunjung yang lain. Kaki Arjuna melangkah ke arah meja Nakula dan mengecup bibir itu tanpa ragu.
“Aku bentar lagi selesai.”
Nakula menatapnya sambil mengangguk kecil. “Sayangku buat kue gak tadi?”
“Oh iya, aku buat cheesecake, kamu mau aku bungkusin?” Tanya Arjuna sambil tersenyum cerah.
“Aku mau kamu aja, boleh, gak?”
Arjuna segera menjentikkan jarinya di bibir Nakula membuat pria berambut biru itu mengaduh kecil diiringi kekehan ringan. “Mau, sayang. Aku mau apapun yang kamu buat.”
Setelahnya Arjuna membereskan pekerjaannya dan membungkus satu cheesecake. Keduanya berjalan ke arah mobil dan masuk dengan helaan nafas Arjuna yang terdengar lelah. Nakula memakaikannya sabuk pengaman lalu mengusap pipi Arjuna khawatir. “Kamu udah makan belum, sayang?”
“Belum, aku pengen makan sama kamu.”
Nakula mengangguk mantap lalu tangannya segera memutar stir ke arah restoran tempat mereka biasa makan. Mata Nakula melirik Arjuna khawatir namun si cantik segera menggenggam jemari Nakula sambil tersenyum manis. “Aku gapapa, sayang.”
Punggung tangan Arjuna dikecupnya lembut sambil menatap jalanan di depannya. Hatinya tak pernah tenang setiap harinya. Tubuhnya tak pernah tidur setiap menitnya. Matanya selalu mendambakan kesehatan di tubuh Arjuna. Harapan dan doa tak pernah putus terucap dari bibirnya.
Tuhan, jangan hari ini.
Rangkaian pekerjaan semakin menumpuk membuat Nakula mengerang kesal menatap layar komputer di depannya. Helaan nafas keluar dari bibirnya sambil mendengus lelah. Tubuhnya beranjak dari kursi kerjanya, keluar ruang kerjanya menuju kamar tidurnya. Ia menatap tubuh Arjuna yang tenang, tertidur pulas di bawah selimut yang hangat menutupi tubuhnya yang meringkuk.
Nakula melangkah semakin dekat duduk di sisi ranjang sambil mengusap perlahan rambut Arjuna, tak berniat membangunkan si cantiknya di tengah malam. Di menit ini, Nakula bisa melihat dengan jelas dan tenang wajah Arjuna yang kecil, bulu mata yang lentik, bibir ranum yang merah, hidung mancung, pipi tembamnya yang semakin tirus.
Perasaannya kian memberat, tak terkira jumlah harapan yang ia lontarkan setiap detiknya. Tak terbayang dan tak pernah ingin ia bayangkan, cintanya pergi jauh darinya. Tanpa bisa ia gapai kembali. Tanpa bisa ia genggam dengan hangat lagi. Nakula tak mau.
Tanpa ragu ia langsung merebahkan tubuhnya di samping Arjuna. Menarik tubuh kecilnya ke dalam pelukannya membuat Arjuna langsung menenggelamkan wajahnya di dada bidang Nakula. Tangannya merengkuh pinggang itu lebih erat dan menghirup wangi sampo dari rambut Arjuna.
“Sayang…” lirihnya dengan suara gemetar.
Arjuna membalasnya dengan gumaman tanpa membuka mata. Nakula menggigit bibirnya menahan tangisnya. Dikecupnya pelipis itu dan diusapnya punggung itu agar kembali lelap. “Cantikku…”
“Arjuna!”
Teriakan itu berasal dari rekan kerja Arjuna di seberang meja yang sedang mengelap kaca. Arjuna segera mendongak dan menyadari hidungnya meneteskan darah. Temannya segera membawakan tisu dan menaruhnya di hidung Arjuna agar menahan tetesan darah itu.
“Kamu pulang aja, istirahat. Kita beresin sisanya.”
Arjuna menatap mereka dengan rasa bersalah. Semakin hari kesehatannya rasanya semakin memburuk dan Arjuna benci kelihatan lemah. Tapi apa daya, kepalanya hanya bisa mengangguk dan segera menaruh celemek di atas meja. Tas nya segera ia sambar ke pundaknya dan berlalu menaiki bus pulang ke rumah.
Nakula yang mendengar kabar bahwa Arjuna mimisan segera meraih tas dan jas nya. Berlari menuruni tangga darurat menuju ke arah parkiran. Jantungnya berdetak beribu kali lebih kencang. Tangannya dengan gemetar menghidupkan mesin mobilnya dan mengendarainya pulang ke rumah.
Kakinya kembali berlari masuk mendobrak pintu dan berjalan masuk menuju kamar. Sedangkan Arjuna melonjak terkejut melihat Nakula yang terengah-engah dengan wajah yang sudah penuh air mata. “Eh, kok udah pulang? Bukannya — “
Tubuh Arjuna terdorong saat tangan besar Nakula segera memeluknya erat, bahkan Arjuna bisa mendengar suara detak jantung Nakula dua kali lipat lebih kencang. Pundaknya terasa basah dan terdengar isak tangis Nakula membuat Arjuna segera memeluk lehernya erat.
“Sayang, jangan nangis dong. Aku baik-baik aja kok. Aku langsung minum obat tadi.” Ujar Arjuna lembut untuk menenangkan Nakula.
Nakula hanya menggelengkan kepala dan memeluknya semakin erat. Merengkuh cintanya yang terasa semakin menipis untuknya. “Sayangku, maaf ya, pasti sakit banget.”
Arjuna menghela nafas panjang sambil perlahan menangkup wajah Nakula yang sudah memerah karena menangis. Bibirnya membentuk senyuman sambil mengusap air mata Nakula di pipinya. “Lihat aku. Aku sekarang ada di depan kamu, oke? Aku masih disini, sama kamu.”
Mata Nakula bergetar menelisik satu-persatu wajah cantik Arjuna yang tenang. Isak tangisnya pun mereda lalu mengecup bibir ranum itu hingga Arjuna terkekeh. “Kamu udah makan? Kalau belum, aku buatin sup ayam, mau?”
“Mau, sayang.”
Di hari Kamis, Nakula sambil menggenggam tangannya erat menunggu dengan sabar di depan ruangan kemoterapi. Sedangkan Arjuna di dalam dengan tenang mengikuti prosedur. Setelah beberapa menit kemudian, Arjuna sudah keluar sambil tersenyum manis menyapa Nakula. “Sayang!”
Nakula menghela nafas lega dan segera memeluk tubuh kecil itu, merengkuhnya erat sambil mengecup pipi itu. “Habis ini, kamu mau jalan-jalan?”
“Mau ke pantai lihat sunset, boleh?”
Kepala Nakula mengangguk dengan cepat dan berbicara dengan ceria, “boleh, sayang. Yuk!”
Keduanya segera berjalan melewati lorong rumah sakit itu disertai canda dan tawa yang dilontarkan Nakula. Sepanjang perjalanan menuju pantai, Nakula memutar musik romantis dan bernyanyi bersama Arjuna. Langit sore kala itu semakin memudar berwarna orange. Menyinari wajah cantik yang memerah merekah dengan suara merdu nyanyiannya dan tawa yang berdengung indah di telinga Nakula.
Tak henti-hentinya Nakula tersenyum manis melihat tingkah Arjuna. Menatap kaki kecil itu berlarian dengan ringan di atas pasir pantai disertai suara deburan ombak yang semakin kencang. Matahari itu perlahan semakin tenggelam berganti dengan bulan yang menerangi luasnya lautan. Warna air laut itu juga perlahan berubah menjadi biru pekat. Sensasi angin yang mendayu menyisir rambut kedua pria itu yang sedang berlarian, saling mengejar disertai tawa riang tak kenal lelah.
Ponsel Nakula sudah siap di sisi pantai, memotret mereka dalam kenangan yang dapat terus diputar selamanya. Menyimpan suara tawa, senyuman cerah, pijakan kaki yang manis di sekitar pantai. Memori itu tersimpan rapi dalam ingatan Nakula. Dikunci erat tanpa berani ia sentuh kembali.
Arjuna Arkana. Cintanya yang selalu membiru bagai lautan. Cantiknya yang selalu dirindukan, berdesir tak kenal ampun. Dunia yang menjadi titik balik hidupnya. Jiwa raganya yang menjadi sumber kekuatannya.
Hidupnya.
Matinya.
“Kamu ingin jujur apa, Nakula?”
“Aku … cinta sama kamu, Arjuna Arkana. Sampai rasanya aku ingin menyerahkan jiwa dan ragaku agar kamu tetap di sini, sama aku, selamanya. Boleh, kan, sayang?”
Arjuna menatapnya heran lalu terkekeh kecil, es krim di sudut bibirnya diusap oleh Nakula. “Pengakuan cinta?”
Nakula mengangguk mantap dan mengecup bibir itu sambil tersenyum. “Boleh, gak?”
“Boleh lah. Kamu boleh cinta sama aku, kamu boleh menyerahkan apapun buat aku. Tapi kamu harus terus semangat hidup.”
Nakula menatapnya lamat-lamat lalu menyandarkan kepalanya di bahu Arjuna. Arjuna hanya meliriknya sekilas lalu kembali melahap es krimnya. Siang hari itu terasa panas dan es krim satu-satunya makanan yang enak untuk dilahap bersama Nakula. Apapun jika bersama Nakula, dia selalu suka.
“Na, kalau aku pergi duluan gimana?”
Pemuda yang ditanya tersedak lalu menatap Arjuna kesal. “Hush! Ngomongnya yang bener.”
“Aku nanya aja, aku pengen kamu janji untuk terus hidup meskipun aku gak ada, oke?”
“Iya, iya. Tapi jangan pergi, aku gak mau.”
Arjuna hanya tersenyum manis dan mengacak-acak rambut Nakula dengan lembut. “Enggak, aku gak bakal pergi kemanapun. Aku selalu di sisi kamu kapanpun.”
Nakula ingin percaya. Nakula ingin memegang erat janji itu. Nakula ingin egois. Tak bisa kah? Sekali saja, biarkan Arjuna Arkana hanya untuk Nakula Nalendra.
Tuhan, aku tau dosa ku tak kan bisa diampuni, tapi bisakah kali ini saja aku memohon padamu. Tolong cintanya. Jangan ambil seluruh ragaku. Biarkan aku merengkuh cintaku selalu. Kumohon, Tuhan.
Pagi kala itu hanya terdengar rintikan hujan dan dengungan dari suara kicauan burung. Sedangkan Nakula bersiap-siap memakai jas nya berjalan keluar rumahnya. Mengendarai mobilnya keluar dari teras rumahnya. Musiknya yang menjadi candunya kini tak terdengar lagi, hanya terdengar suara deru mesin.
Sesampainya di tempat, Nakula segera mematikan mesin mobilnya, kakinya melangkah keluar tanpa payung di atas kepalanya. Rintik hujan dibiarkan membasahi seluruh tubuhnya. Tangannya memegang rangkaian bunga yang basah karena hujan. Lututnya bersimpuh di atas tanah, matanya hanya menatap batu nisan di depan matanya.
Jantungnya, hatinya, berhenti berdetak.
Doanya kalah dengan takdir.
Jiwa dan raganya sudah terkubur jauh, pergi dari hidupnya.
“Hai, sayang. Aku balik lagi kesini.” lirihnya menahan gemetar.
Tangannya perlahan terulur mengusap batu nisan itu sambil tersenyum. Dadanya terasa sesak tak karuan. Nafasnya terasa semakin mencekik dirinya.
“Udah gak sakit ya, sayang?”
Perlahan airmatanya mengalir hilang bersama hujan. Tak terhitung berapa kali tangisnya kembali luruh di atas batu nisan itu. Teriakannya sudah tak bergema seperti beberapa hari lalu. Tubuhnya sudah letih dipaksa berjalan di atas kenyataan yang menyiksa seluruh hidupnya.
“Aku kangen kamu, sayang. Ayo temenin aku lagi. Aku gak mau sendirian disini, sayang…”
Rintikan hujan semakin deras setiap detiknya. Tak henti juga tangisnya di antara nisan yang menjadi harapan hidupnya. Janji dan harapan itu terkubur menjadi kenangan tak menentu.
Nakula dengan cinta terakhirnya.
“Dari dulu sampai sekarang, kamu satu-satunya hidupku. Sampai ketemu nanti, cantikku. Aku cinta kamu, sayangku.”
Tetaplah hidup, Nakula Nalendra. Cintaku.
writen by nnacaemin
02/05/2026.
메타데이터
- post_id
- 50aa7536b8e4
- slug
- la-la-la-lost-you-50aa7536b8e4
- url
- https://medium.com/@akhmarnizamayedda/la-la-la-lost-you-50aa7536b8e4
- canonical_url
- https://medium.com/@akhmarnizamayedda/la-la-la-lost-you-50aa7536b8e4
- author_url
- https://medium.com/@akhmarnizamayedda
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 21:44:25