← Back to list

Hidup itu Kematian, Kematian itu Hidup

“Mengapa kehidupan begitu dicintai sedangkan kematian sebaliknya? Karena kehidupan adalah kebohongan yang menyenangkan dan kematian adalah…

Ika Febriyan · 2023-08-24 18:08 · 1 claps · 3.1 min read
#death-and-dying #kematian #hidup #death #nyawa
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💭 · Philosophy of Spirit

Hidup itu Kematian, Kematian itu Hidup

“Mengapa kehidupan begitu dicintai sedangkan kematian sebaliknya? Karena kehidupan adalah kebohongan yang menyenangkan dan kematian adalah kebenaran yang menyakitkan.”

Sepenggal diaolog dalam sebuah kisah Yunani di atas seolah mampu mencerminkan bagaimana manusia selalu berusaha sembunyi dari kemutlakan kematian. Bagaimana tidak? diskusi soal kematian kerap kali dikemas dalam suasana mencekam dan menakutkan. Belum lagi soal mitos dan momok-momok kematian yang beredari di masyarakat. Kematian sendiri diidentikkan dengan titik berhenti, kesudahan, ketiadaan, perpisahan, dan akhir dari segalanya. Menurut Hartanto (dalam Muthoharoh & Andriani, 2014), ketidakjelasan akan datangnya kematian adalah apa yang menyebabkan seseorang takut dan cemas menghadapi kematian. Ketakutan dan kecemasan disini dapat diartikan sebagai perasaan tidak atau kurang menyenangkan yang dirasakan ketika memikirkan kematian. Kecemasan atau ketakutan ini utamanya timbul dari individu yang tidak ingin merasa kehilangan identitas sosial, cemas akan konsekuensi kematiannya pada orang-orang terdekat, misteri setelah kematian, hukuman akhir zaman, dan lain sebagainya (Wijayanti & lailatushifah, 2012).

Meskipun terkesan mencekam dan begitu abu-abu, kematian sejatinya adalah penepuk pundak kita disaat tertidur dalam kehidupan (Sasongko, 2014). Kematian sendiri adalah satu fenomena yang mengakui adanya kehidupan. Di mana, kematian mampu menggerakkan manusia untuk memaknai kehidupan yang sebenarnya. Berbincang soal kematian justru membuat kita menghargai kehidupan tanpa melecehkan kematian. Di samping itu, setiap agama dan kepercayaan memiliki caranya masing-masing untuk menggambarkan perjalanan kehidupan setelah kematian yang pada dasarnya berusaha mengingatkan manusia untuk terus memaknai kehidupan yang kita jalani saat ini. Sebuah pepatah terkenal oleh Mahatma Gandhi berbunyi “hiduplah seolah kau mati besok hari …” menegaskan bahwa hidup adalah soal memanfaatkan waktu sebelum kematian. Mengingat kematian di kehidupan yang singkat membuat kita tidak ragu untuk melakukan dan mencoba hal baru sebelum menyesalinya karena terlanjur kehabisan waktu. Manusia yang memiliki kebermaknaan dalam hidupnya akan cenderung merasa puas dengan kehidupan yang dijalani karena merasa telah menjadi manusia “seutuhnya”. Menurut Wijayanti & Lailatushifah (2014), Kepuasan hidup dapat mempengaruhi kesiapan seseorang dalam menghadapi kematian.

Kehidupan singkat dan sementara manusia di dunia ini menjadi suatu persoalan yang menarik untuk dibahas karena berkolerasi langsung dengan proses menuju kehidupan akhir yang abadi. Hidup ini hakikatnya hanyalah soal perjalanan menuju kematian, sedangkan kematian adalah kepastian akan kehidupan yang abadi. Salah satu pepatah populer Arab menyebut, segala hal yang pasti itu dekat. Sebagai sebuah kepastian, kematian begitu dekat dengan kehidupan manusia, bahkan mungkin lebih dekat daripada mahasiswa tingkat akhir untuk memperoleh gelar sarjananya. Oleh karena itu, memandang kematian sebagai sesuatu yang jauh, bahkan jarang terpikirkan adalah sauatu pandangan yang patut diperbaiki.

Pengalaman kematian setiap orang tentu berbeda-beda. Beberapa orang mati karena sakit, mati karena kecelakaan, mati karena tenggelam, mati di peperangan, mati karena kelaparan, mati karena hewan buas, mati karena tersambar petir dan masih banyak lagi. Manusia memang dilahirkan dengan satu cara, tetapi kematian datang dengan berbagai cara. Mau tak mau, kematian manusia telah ditentukan oleh tuhan baik berdasarkan cara hingga waktu dan lokasinya. Kedatangannya yang secara mendadak dan tiba-tiba inilah yang kerap menimbulkan duka mendalam bagi keluarga, teman, dan orang-orang terdekat yang ditinggalkan. Kematian terasa begitu menyakitkan dan menyedihkan karena terasa bagaikan perpisahan abadi yang buruk tanpa ucapan selamat tinggal.

Namun, anggapan mengenai kematian adalah perpisahan memang tidak sepenuhnya salah. Kematian sendiri adalah perpisahan antara ruh dengan jasadnya. Menurut salah satu filsuf Yunani, Aristoteles (384–322), ruh manusia tidaklah mati, tetapi hidup dengan kekal bersama dengan perasaan dan kesadarannya. Pernyataan ini sejalan dengan pandangan filsuf Yunani Lainnya bernama Epicurus yang menyatakan bahwa, jiwa setelah kematian adalah jiwa-jiwa yang tetap hidup untuk merasakan siksaan (neraka) dan kenikmatan (surga) setelah kematian. Roh manusia tidaklah sama dengan jasad yang bisa mati, hancur dan musnah. Tubuh atau jasad berasal dari alam khalq yang berbentuk dan berupa, sedangkan roh atau jiwa manusia berasal alam ilahi yang tidak berwujud. Ini artinya, kematian bukanlah akhir kehidupan, melainkan sebuah jembatan utuk memulai kehidupan baru yang sesungguhnya.

Harapan terbesar bagi manusia adalah hidup kekal bahagia dalam sukacita yang telah menanti di alam abadi. Namun, tahap tersebut hanya bisa diperoleh melalui proses kematian. Ironisnya, sampai saat ini masih banyak orang-orang yang takut akan kematian. Tetapi satu hal yang pasti bukanlah soal takut atau tidak takut, siap atau tidak siap, sebab kematian merupakan sebuah hal mutlak yang tidak membutuhkan persetujuan dan kesiapan manusia. Berbagai misteri soal kematian atau kehidupan setelah kematian sudah sepatutnya mampu membuat kita terus belajar dalam memaknai kematian dalam kehidupan, bukannya takut dan terus menghindar. Layaknya pelajar, kerja keras untuk belajar di sekolah pasti dan harus berakhir pada waktunya. Proses berakhir atau mengakhiri masa sekolah ini adalah proses melangkah menuju tahap lebih baik yang diartikan sebagai kelulusan. Death is not so scary, death maybe is a graduation.

Referensi

Faot, A., Octavianus, J., & dkk. (2017). Kematian Bukan Akhir Dari Segalanya. KERUSSO, 2(2), 29.

Mansur, S. (2012). Kematian Menurut Para Filosof. ALQALAM(29), 242–245.

Sasongko, A. (2014). Sebuah Pandangan Tentang Kematian: “Bahkan Kematian Memiliki Hati. E-Journal Graduate Unpar, 1(2), 15–20.

Wijayanti, A., & Lailatushifah, S. (2012). Kebermaknaan Hidup dan Kecemasan terhadap Kematian pada Orang dengan Diabetes Melitus. INSIGHT, 10(1), 51–52.

written by: Ika Febriyan

Published on: LENTERA Purwa Jiwa https://issuu.com/antropologiub/docs/lentera_2_oktober1


메타데이터
post_id
50ccc7bc0d4e
slug
hidup-itu-kematian-kematian-itu-hidup-50ccc7bc0d4e
url
https://medium.com/@ikafebriyan20/hidup-itu-kematian-kematian-itu-hidup-50ccc7bc0d4e
canonical_url
https://medium.com/@ikafebriyan20/hidup-itu-kematian-kematian-itu-hidup-50ccc7bc0d4e
author_url
https://medium.com/@ikafebriyan20
status
ok
fetched_at
2026-06-29 01:02:39