Bawa Aku Naik ke Atas, Aku Ingin Melihat Jalanan Pada Saat Aku Berhenti Bernapas
Cerita dengan tokoh dalam duka — menghadirkan Sora dan Kenarya.
Bawa Aku Naik ke Atas, Aku Ingin Melihat Jalanan Pada Saat Aku Berhenti Bernapas
Cerita dengan tokoh dalam duka — menghadirkan Sora dan Kenarya.

Source: Pinterest (https://pin.it/rCCrAL9YL)
“Sora, bagaimana rasanya melihat lampu-lampu kota dari lantai gedung tertinggi di samping apartemen kita?” Tanya Kenarya sambil menyulut rokoknya.
“Rasanya menenangkan, Kenarya. Indah, cantik, sedikit berisik. Namun dari berisik itu kamu jadi lebih rileks. Kenapa kau bertanya?” Kenarya bertanya balik.
Kenarya diam. Menghisap rokoknya dalam-dalam sebelum akhirnya menyodorkan bungkus rokoknya pada Sora. “Mau?” Tawar Sora. Kenarya menggeleng.
“Entahlah, Sora. Rasanya aku ingin menghirup lebih banyak udara dingin yang lebih dekat dengan langit malam ini.” Kenarya menundukkan kepalanya.
Sora mengernyit heran. Tidak paham atas keinginan Kenarya tersebut. Keduanya terdiam sebelum Sora menyeletuk,
“Hei, bagaimana jika kita ke sana sekarang?”
Kepala Kenarya terangkat melihat Sora. Matanya langsung sedikit berbinar dijawab langsung oleh senyum Sora yang lembut.
“Ayo!” Jawab Kenarya.
Kini mereka berdua berada di atas rooftop gedung samping apartemen mereka. Sembari bertumpu pada tepi tembok pembatas, mereka menikmati udara malam sambil memandangi lampu perkotaan dengan latar suara hingar bingar jalanan kota.
“Indah, ya.” Kata Sora, dibarengi dengan anggukan Kenarya. “Ini sudah lama sekali kita tidak menghabiskan waktu seperti ini.” Sambung Sora. Kenarya menimpali, “iya.”
Sora menatap Kenarya dengan senyum. Namun Kenarya masih tidak menatap Sora.
“Aku merindukan semua ini, Kenarya.” Kata Sora.
Akhirnya Kenarya menatap Sora.
“Padahal kamu yang ingin kemari, namun di sini sepertinya aku yang lebih banyak berbicara dibandingkan denganmu, ya. Setelah sampai di sini, kamu banyak diamnya, Ken..” Sambung Sora.
Kenarya menghirup rokoknya dalam-dalam. Merenungi perkataan Sora yang yang sebetulnya ia benarkan itu. Kemudian dia menatap Sora. Sorot matanya menunjukkan sedihnya. Sora tidak keberatan dengan itu. Ia balik menatap binar mata sarat pilu milik Kenarya tersebut.
“Ken, aku rindu dengan suara hujan.” Kata Sora.
“Aku rindu masukan ibu, aku rindu saat melihat Pak Bos mengomel karena kerjaanku yang buruk, aku rindu rasa pangsit buatan Ling Mei di kantor, aku rindu lawakan Kiki di tongkrongan, bahkan aku juga merindukanmu.”
Kenarya mulai menitikkan air mata.
“Ken, justru kamu yang paling kurindukan. Aku rindu semua momen kita. Aku rindu saat kita menghabiskan es krim di pinggir jalan, aku rindu semua perjalanan kita yang mungkin hanya memutari kota dengan motormu itu dan kehujanan, aku rindu semua pertengkaran kita, semua momen bersamamu aku merindukannya, Kenarya. Bahkan sesepele kita merokok bersama menghilangkan penat seperti ini aku juga merindukannya.”
Sora terdiam setelah menyelesaikan perkataannya. Saat itu pula Kenarya benar-benar menangis. Dia juga menyodorkan lagi bungkus rokok seperti saat mereka masih di dalam apartemen pada Sora dan berkata, “maka ambil saja barang hanya sebatang, Sora, jika kamu benar-benar merindukan hal sekecil ini..”
Kini Sora juga ikut menangis tersedu-sedu.
“Ken.. kamu tahu kalau aku tidak bisa melakukannya lagi, kan? Ini benar-benar hal yang sia-sia Kenarya..” Ungkap Sora.
Angin berhembus lembut. Secara tak langsung menerbangkan abu rokok panas milik Kenarya yang tak sengaja mengenai kaki Sora. Akan tetapi, Sora tidak berteriak ataupun bahkan kesakitan. Karena abu itu menembus kakinya. Langit samar, serta lampu-lampu bergetar di bawah sana. Sora naik dan berdiri di atas tembok pembatas. Wajahnya diterangi sinar bulan yang agaknya malam ini bersinar lebih terang daripada biasanya. Rambut pendeknya ikut andil menutupi sedikit wajahnya diterpa angin malam. Kenarya mengusap kasar mukanya. Kemudian dia menyulut rokok baru, menggantikan rokok sebelumnya yang sudah habis.
“Ken, kamu tahu? Semuanya terlihat kecil dari atas sini. Bahkan rasa sakitmu.” Kata Sora.
“Tapi kamu tak tahu bagaimana rasanya pada orang yang ditinggalkan.” Jawab Kenarya.
“Aku tahu. Karena aku yang meninggalkanmu, Kenarya.” Timpal Sora.
Keadaan kembali hening. Menyisakan suara angin yang semakin kencang menghembus. Sora tersenyum samar lalu melangkah mundur. Hembusan angin kencang itu meninggalkan embun, namun kaki Sora tidak meninggalkan jejak saat ia melangkah mundur. Kenarya menatap Sora lama. Dia mulai menyadari bahwa tubuh Sora perlahan mulai memudar. Dia juga mencoba meraih tangannya, namun tidak bisa. Tembus.
“Jangan pergi dulu..” Kenarya memelas.
Sora menjawab, “aku tidak pernah benar-benar ada di sini. Aku tahu mengapa kamu ingin pergi ke gedung ini, Ken. Aku selalu menunggumu, tapi aku tak benar-benar berharap kamu betulan datang. Namun kali ini aku benar-benar merindukanmu. Jadi maafkan aku, kupaksa kau mengingatku dan membuatmu kemari, ke tempat aku mati, di hari kematianku dua tahun yang lalu.”
Kenarya menjatuhkan dan menginjak batang rokok untuk mematikannya. Kemudian ia naik menyejajari Sora. Dia menatap langit, dan menarik napas panjang.
“Aku tahu, Sora. Seharusnya aku yang meminta maaf karena tak mengingat hari kematianmu. Aku berusaha lari dari kenyataan bahwa kamu sudah tiada. Maka dari itu aku melupakan waktu kematianmu. Aku tak tahu bagaimana cara berduka dengan baik, Sora. Aku benar-benar terpukul atas kematianmu. Rasanya seakan-akan waktu berhenti dan aku tidak layak menjalani kehidupanku selanjutnya. Kehilanganmu benar-benar mengubah segalanya. Aku tak lagi memiliki seseorang yang akan dengan mudah kuajak mengobrol dan berkeliling kota tanpa tujuan, menceritakan apa yang sudah kulalui di hari tersebut, berteriak dan bernyanyi sumbang di dalam kamar apartemen. Kamu, Sora, sahabat baikku yang sialannya meninggalkanku begitu saja saat aku membutuhkanmu.
Di hari kematianmu, Sora, aku benar-benar mengutuk diriku habis-habisan. Mengapa kamu bisa mengakhiri hidupmu semudah itu? Apakah aku bukan pendengar yang baik? Apakah aku bukan teman yang bijak? Aku mengevaluasi diriku mati-matian mengapa aku bisa membiarkanmu jatuh dari ketinggian ini. Aku tak tahu, Sora. Namun mengetahui bahwasanya kekasihmu adalah alasanmu mengapa kamu terjun dari gedung ini, mengapa kamu tak menceritakan semuanya padaku seperti biasanya? Namun aku kembali mengutuk diriku, mengapa aku tidak menyadari kesakitanmu selama ini. Maafkan aku, Sora. Maafkan aku..”
Kenarya melangkah sedikit ke pinggir tembok pembatas. Sora kaget dan mencoba meraih tangannya. Namun tak bisa. Sekali lagi, tembus.
“Kenarya! Apa yang kau lakukan! Turun!” Teriak Sora.
Kenarya menatap nanar ke arah Sora sambil berkata,
“Aku lelah, Sora. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana hidupku berjalan selama ini. Tapi yang pasti, aku ingin memiliki napas yang sama denganmu.”
Gemuruh kota malam ini menyisakan lara. Namun lampu-lampu kota masih tetap menyala seperti biasanya. Bising, ricuh, indah. Dan di antara hingar bingar kehidupan itu, ada napas baru di alam lain, tanpa disadari siapapun.
메타데이터
- post_id
- 50e29bbd0eeb
- slug
- bawa-aku-naik-ke-atas-aku-ingin-melihat-jalanan-pada-saat-aku-berhenti-bernapas-50e29bbd0eeb
- url
- https://medium.com/@neo.1024/bawa-aku-naik-ke-atas-aku-ingin-melihat-jalanan-pada-saat-aku-berhenti-bernapas-50e29bbd0eeb
- canonical_url
- https://medium.com/@neo.1024/bawa-aku-naik-ke-atas-aku-ingin-melihat-jalanan-pada-saat-aku-berhenti-bernapas-50e29bbd0eeb
- author_url
- https://medium.com/@neo.1024
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 04:09:36