← Back to list

Selamat Ulang Tahun, Indonesia — Katanya

Apa yang kau rasakan, Negeriku, ketika lilin-lilin itu dinyalakan lagi? Apakah kau merasakan getar sukacita? Atau justru gemuruh luka di…

derifarz · 2025-08-23 17:19 · 2 claps · 2.6 min read
#indonesia #garuda #corruption #politik #ibu-pertiwi
Open on Medium ↗

Selamat Ulang Tahun, Indonesia — Katanya

Sumber: Majalah DIA

Sumber: Majalah DIA

Apa yang kau rasakan, Negeriku, ketika lilin-lilin itu dinyalakan lagi? Apakah kau merasakan getar sukacita? Atau justru gemuruh luka di setiap jengkal tanah airmu yang semakin terlupakan?

Kali ini, kusiapkan untukmu kado yang mungkin kau anggap naif: sebuah surat cinta. Ini dariku, salah satu dari jutaan rakyatmu yang masih nekat mencintaimu, meski harapan ini kadang terasa seperti memeluk duri.

Akhir-akhir ini, Ibu Pertiwi, mataku disuguhi pemandangan yang menyayat-nyayat jiwa. Berganti-ganti, tiada henti, seperti deras hujan yang menggerus tanah harapan. Sakit. Dan yang paling perih, itu semua mematahkan sayap Burung Garuda yang dulu kami banggakan, menjatuhkannya dari khayalan tentang langit yang jernih.

Katanya, ikan membusuk mulai dari kepala. Dan kami menyaksikannya sendiri. Kekacauan ini berawal dari carut-marut “kepala” kami. Apakah semua ini hanya tentang politik bagi-bagi kue kekuasaan, Pak? Apakah kekalahan yang berulang harus dibayar dengan “hutang” yang membuat prinsip-prinsip bangsa ini jadi tumbal?

Yang paling memilukan adalah sandiwara yang kami tonton. Sebuah strategi kampanye yang mengubah politik menjadi tontonan lucu-lucuan, di mana tangisan buzzer di TikTok lebih berharga daripada debat gagasan. 58% itu, Bu, apakah angka kemenangan, atau justru monumen kegagalan kami mendidik anak bangsa? Mungkin bukan sepenuhnya salah mereka yang terbuai. Di tengah jerit perut yang lapar, politik adalah kemewahan. Mencari makan adalah naluri, sementara memilih pemimpin adalah pelajaran yang tak pernah sampai ke pelosokmu.

Lalu, di mana tempat kami yang mencoba berdiri dengan ilmu? Suara kami tenggelam dalam banjir emosi dan debat kusir. “Lucu,” kata mereka. Tahukah mereka, di balik senyum yang dikurasi itu, tersimpan cerita-cerita kelam yang membuat kami bergidik? Dapatkah mereka membayangkan tangan yang mereka pegang, mungkin pernah memegang senjata yang menghabisi nyawa anak-anak bangsanya sendiri? Atau tentang wakil yang naik dengan menginjak-injak konstitusi yang mereka dustakan? Hukum jadi bahan olok-olok, dan pertanggungjawaban adalah kata asing.

Tadi siang, aku tertawa. Tertawa yang dalamnya getir dan pahit. Mamaku, seorang guru, mengikuti pelatihan anti-korupsi yang diselenggarakan oleh kementerian yang seharusnya menjadi mercusuar moral. Mereka berbicara tentang integritas dan keteladanan.

AHAHAHAHAHAHAHAHAHAAHAHAH. Maaf, Ibu Pertiwi, aku tidak kuat.

Bagaimana mungkin kami meminta contoh yang baik, ketika pejabat yang akan memberi ceramah anti-korupsi justru diciduk KPK? Latar belakangnya? Sebuah ironi yang begitu pahit hingga rasanya ingin muntah. Aku mulai bertanya, Bapak Noel itu manusia atau monster? Atau, apakah korupsi telah mengubah manusia menjadi monster yang haus darah saudaranya sendiri?

Korupsi. Sudah berapa banyak berita yang kuhirup? Lebih dari tiga perempatnya adalah racun ini. Di satu sisi, aku bersyukur algoritma mempermudah akses pada informasi. Di sisi lain, hatiku hancur. Inikah kualitas pemimpin yang kau dapatkan? Sementara aku di sini, gigit jari, mati-matian mencari kerja hanya untuk menyambung nyawa di tengah reruntuhan mimpi-mimpimu?

Korupsi adalah bunuh diri perlahan-lahan padamu, Bu. Ia adalah vampir yang menghisap darah kehidupan dari anak-anakmu yang kelaparan. Setiap rupiah yang dicuri adalah sepotong nasi yang terenggut dari mulut bayi, sebutir obat yang tak sampai ke tangan yang sakit, satu bangku sekolah yang ambruk. Dengan korupsi, berapa banyak nyawa yang seharusnya diselamatkan? Berapa banyak masa depan cemerlang yang digantikan menjadi lorong gelap? Apakah kami, “rakyat jelata” ini, memang hanya tumbal untuk keserakahan segelintir orang?

“Wakil Rakyat,” katanya. Bukankah kami, rakyat, adalah atasan yang seharusnya kalian layani? Mengapa yang terjadi justru terbalik? Kami yang harus melayani nafsu dan perut lapar kalian? Kami yang harus merunduk dan bersyukur atas sisa-sisa yang kalian berikan?

Ini adalah surat cinta, Ibu. Cinta yang terluka, yang berdarah, tetapi belum padam. Kami masih di sini, mencintaimu dengan cara kami: dengan tidak pernah berhenti peduli, dengan masih mau bersuara meski serak, dan dengan menolak untuk apatis.

Kami masih menantimu membuktikan bahwa Garuda itu bukan hanya lambang di dinding, tapi nyali yang terbang tinggi mengangkasa membawa harapan anak bangsanya.

Selamat Ulang Tahun, Indonesia. Kami masih mencintaimu. Dengan duri yang mencabik-cabik raga ini.


메타데이터
post_id
51cea6e2a5ee
slug
selamat-ulang-tahun-indonesia-katanya-51cea6e2a5ee
url
https://medium.com/@derifarz/selamat-ulang-tahun-indonesia-katanya-51cea6e2a5ee
canonical_url
https://medium.com/@derifarz/selamat-ulang-tahun-indonesia-katanya-51cea6e2a5ee
author_url
https://medium.com/@derifarz
status
ok
fetched_at
2026-07-19 02:42:08