Kopi di Siang Hari
“Iced Caramel Latte 1 ya, mba.”
Kopi di Siang Hari

“Iced Caramel Latte 1 ya, mba.”
Juna menyebutkan pesanannya setelah 1 menit bergelung dengan papan menu yang berada pada dinding atas. Juna bukanlah penyuka kopi. Ia hanya minum kopi di saat-saat tertentu saja. Seperti saat ini, dimana ia harus ikut lembur bersama rekan-rekan kerjanya yang lain demi keberlangsungan project mereka di Bandung.
Maka dari itu, espresso dengan campuran susu dan sirup karamel merupakan pilihan yang tepat baginya untuk menahan rasa kantuk.
“Ada lagi?”
Juna lantas menggeleng kala mendapati pertanyaan itu dari waiter di hadapannya. Tangannya bergerak mengambil dompet di sakunya, kemudian mengeluarkan selembar uang 50 ribuan.
“Ini ya, mba.”
Waiter itu mengambil uang dari tangan Juna, lalu tak lama mengeluarkan beberapa lembar uang dengan nominal yang lebih kecil.
“Ini kembaliannya ya, kang. Nanti minumannya diantar.”
“Makasih.”
Juna tersenyum. Ia mengambil uang tersebut dan menyimpan dengan rapi di dalam dompet lipatnya.
Juna yang merasa urusannya sudah selesai kemudian mundur sedikit, hendak berjalan menuju tempat duduknya. Namun kala tubuhnya berbalik, ia langsung dihadapkan dengan sesosok pria dengan tinggi yang sejajar dengannya.
Netranya menelisik pria itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seketika tubuh Juna membeku dalam sepersekian detik. Senyum yang tersungging indah di bibirnya perlahan pudar, berganti dengan raut kaget.
Juna mengenal jelas siapa sosok itu.
“Haris?”
Keduanya duduk berhadapan, saling memberikan senyum canggung. Juna beberapa kali menyedot iced caramel latte-nya, sementara Haris meneguk hot coffee latte-nya yang sudah mulai mendingin.
Juna tahu bahwa Haris tinggal di Bandung. Tapi ia tidak berekspektasi untuk bertemu dengan Haris di saat ini, saat dimana ia harus menyelesaikan project-nya dengan jadwal yang cukup padat. Lagipula bukankah Bandung cukup luas untuk mempertemukan mereka kembali?
Juna menatap Haris lamat. Nampaknya waktu 2 tahun cukup menciptakan jarak tak kasat mata antara dirinya dan sahabat anaknyaㅡYuan.
“Apa kabar?” Pertanyaan yang cukup basa-basi. Namun itu adalah kalimat yang pertama kali terlintas di pikiran Juna.
“Baik, Om.” Balas Haris seadanya, sesekali ia memberikan senyum tipisnya.
“Om?” Juna mengernyit. Ia memang biasa dipanggil ‘Om’ oleh teman-teman Yuan. Namun entah kenapa ada rasa tak suka saat panggilan 'Om' keluar dari bilah bibir Haris. Juna menarik napas panjang. “Panggil Papa aja.” Pinta Juna tanpa basa-basi.
Haris mengangguk, menuruti ucapan pria yang usianya terpaut hampir 20 tahun lebih tua darinya. “Oke, Pa. Papa gimana kabarnya sekarang?”
“Nothing special. Papa begini-begini aja, tiap hari fokus nyari uang buat kebutuhan Yuan.” Ucap Juna terus terang.
“Keren, Pa.” Respon Haris memuji.
Juna sendiri tak terlalu terkesan dengan pujian yang menurutnya bukan pujian itu. Lagipula darimana kerennya sosok Papa berusia 40 tahun yang mencari uang untuk putranya? Bagi Juna itu adalah hal wajib yang harus dilakukannya.
Juna mencoba mencari topik lain. “Haris udah tahun kedua ya di STEI ITB? Terakhir kita ketemu Haris masih nunggu pengumuman SNBT, ya.”
Haris menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi. “Iya Pa, nggak nyangka juga Haris udah sampai di titik ini.”
Seketika Juna ingat setahun yang lalu saat Yuan memberikan kabar terbaru mengenai Haris. Tidak hanya Haris sebenarnya, putranya itu juga mengabarkan bagaimana nasib kedua temannya yang lainㅡ Mario dan Tara.
Yang Juna ketahui, Haris tidak lulus SNBT. Namun pria itu tak menyerah. Pada akhirnya Haris berhasil mendapatkan jurusan impiannya lewat jalur mandiri.
Kemudian Tara, dia sudah lulus SNBP (seleksi menggunakan rapor) di FK Unair. Yuan sendiri bilang kalau Tara adalah temannya yang paling pintar. Nama Tara sendiri sering nangkring di 3 besar peringkat paralel angkatannya.
Terakhir, Mario. Siapa sangka pria yang kata Yuan hobi menyontek PR akan mendaftar di sekolah penerbangan?
Bisa dibilang Yuan dan 3 temannya sudah menemukan jalan masing-masing. Putranya juga saat ini sedang menempuh pendidikan di UI jurusan Ilmu hukum.
Waktu benar-benar mengubah semuanya.
“Gimana kuliah Haris sejauh ini?” Juna sedikit memajukan tubuhnya. Kedua tangannya saling bertaut di atas meja.
Haris bergumam sejenak. “Cukup capek Pa, tapi Haris masih sanggup kok ngejalaninnya.” Kali ini Haris menjawab dengan santai. Pria itu menyelipkan kekehan di akhir sebagai tanda bahwa yang ia ucapkan bukan suatu masalah besar.
Juna mendengarkan dengan seksama, kepalanya merespon dengan anggukan kecil. “Di ITB banyak tugas ya?”
Haris kembali terkekeh mendengar pertanyaan retoris tersebut. “Bukan banyak lagi pa, tapi numpuk. Segini kali ya.” Kali ini Haris bertingkah hiperbola. Ia mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi, mengisyaratkan seberapa banyak tumpukan tugasnya itu.
Juna tertawa. Yang Haris lakukan benar-benar mencairkan suasana yang sempat tegang antara mereka. Dari situ Haris mulai bercerita banyak tentang kehidupan kampusnya. Ia juga bercerita bahwa saat ini tengah menjabat sebagai ketua Hima di jurusannya.
Juna diam-diam tersenyum takjub. Hanya butuh 2 tahun, namun Haris sudah jauh lebih dewasa dari yang terakhir kali ia lihat.
Tak berselang lama, Ponsel Haris berbunyi. Juna yang tak sengaja melihat sesuatu di ponselnya seketika diam. Ia hanya mengangguk kala Haris pamit untuk mengangkat telepon dan berjanji untuk segera kembali.
Dalam waktu kurang lebih 5 menit, Juna berkecamuk dengan pikirannya. Dia bukanlah seorang pemikir seperti ini. Namun foto seorang gadis di wallpaper ponsel Haris membuatnya bertanya-tanya akan sosok tersebut.
Dia siapanya Haris?
Juna membiarkan benaknya mengulang pertanyaan yang sama hingga Haris selesai dengan teleponnya. Haris yang tak tahu menahu dengan keadaan Juna dengan santainya menyapa sosok pria yang lebih tua darinya itu.
“Pa, Haris udah selesai.” Kata Haris.
Juna mendongakkan kepalanya. Ia mencoba bersikap biasa dengan menyunggingkan senyumnya pada Haris.
“Telepon dari siapa, Haris?”
“Oh itu, dari temen di kampus Haris, Pa.”
Haris kemudian meletakkan ponselnya kembali dengan layar yang menghadap ke atas. Lagi-lagi wajah gadis itu terpampang.
Kali ini Juna tidak sanggup lagi untuk menahan rasa penasarannya.
“Oh iya, itu yang di wallpaper Haris siapa.” Juna menunjuk ke arah layar ponsel Haris menggunakan dagunya.
“Oh ini …” Haris mengangkat ponselnya. Kali ini Juna bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas. Binar matanya memancarkan aura teduh yang membuat siapapun betah menatapnya. Ditambah, rambut panjangnya yang terurai sempurna menambah kesan anggun pada gadis tersebut.
Dalam sepersekian detik Juna refleks meneguk salivanya. Entah kenapa ia mulai takut mendengar jawaban yang akan dilontarkan Haris.
“Pacar Haris, Pa.”
Saat itu juga, kedua pundak Juna terasa berat.
Haris kemudian melanjutkan bicaranya. “Cantik kan?”
Juna tersenyum getir. Ia mengangguk dengan sorot mata kosong.
“Iya Haris, dia cantik banget.” Hanya itu respon yang bisa Juna berikan.
Haris kemudian menatap layar ponselnya dengan senyuman. Senyuman yang sangat tidak Juna sukai.
“Dia orang yang Haris cari selama ini. Orang yang Haris harap bisa bersama Haris sampai hari tua nanti.”
Perkataan yang terdengar tulus itu rasanya membuat Juna muak. Padahal ini yang Juna harapkan dari Haris sejak lama. Namun saat harapannya terkabul, entah kenapa Juna merasakan lemas di sekujur tubuhnya.
Juna tak mau terlalu dini menamai perasaannya. Tapi bisakah Juna menarik kata-katanya 2 tahun yang lalu?
©haonorable, 2023
메타데이터
- post_id
- 5220eb24c851
- slug
- kopi-di-siang-hari-5220eb24c851
- url
- https://medium.com/@haonorable/kopi-di-siang-hari-5220eb24c851
- canonical_url
- https://medium.com/@haonorable/kopi-di-siang-hari-5220eb24c851
- author_url
- https://medium.com/@haonorable
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-25 13:31:28