Dikalahkan oleh Pikiran Sendiri
#179: Perjalanan 13 km yang Dipenuhi Kecemasan dan Prasangka
Cerita Jogja #7
Dikalahkan oleh Pikiran Sendiri
#179: Perjalanan 13 km yang Dipenuhi Kecemasan dan Prasangka

Dok. Pribadi. 19 Juni 2023
Tahun 2023 saya sempat menjadi pengemudi ojek online (ojol) selama hampir dua bulan. Bagi seseorang yang selama dua puluh tahun hidup di depan layar komputer, jalanan terasa seperti dunia yang sama sekali asing. Tidak terpikirkan bahwa pengalaman itu bisa memberikan ketegangan dan kecemasan saat mengantarkan pesanan.
Pengalaman itu terjadi bukan semata karena ingin mencoba, tapi karena keadaan yang mengharuskan. Semua tabungan sudah habis digunakan untuk membayar kontrakan, terkena PHK, laptop rusak, dan tidak ada lamaran yang lolos (terutama yang menyediakan laptop). Tahun itu sekaligus menjadi tahun terakhir saya bekerja sebagai pemrogram komputer, hingga saat ini belum ada perangkat yang mumpuni untuk kembali ke bidang tersebut — mungkin suatu saat akan kembali.
Setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari kantor, rencana pertama saat itu adalah menjadi kontributor di Canva, bukan pengemudi ojol. Setelah beberapa bulan, saya sadar bahwa tidak mudah mendapatkan hasil yang sesuai di sana dengan modal keterampilan dan alat seadanya. Setelah mengalami kesulitannya sendiri, saya memutuskan menerima tawaran dari rekan relawan menggunakan akun Gojek-nya sementara waktu.
Akunnya sudah lama tidak aktif, reputasinya sangat rendah, dan itu membuat akun memiliki peluang lebih kecil mendapatkan pesanan. Meski demikian, setidaknya itu bisa menambah sedikit biaya kebutuhan dasar saat itu.
Ada berbagai pengalaman baru yang saya rasakan selama menjalani prosesnya, salah satunya adalah ketika mendapatkan pesanan dari seorang lansia dari luar layanan aplikasi. Ada rasa cemas yang tidak perlu yang membuat momen itu membekas di ingatan.
Bukan tanpa alasan, beberapa waktu sebelumnya, rekan saya, pemilik akun, memperingatkan untuk tidak berkomunikasi dengan pelanggan di luar aplikasi. Tujuannya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan jika harus terjadi, masih bisa dilacak — entahlah, agak samar diingatan alasannya.
Pengalaman lainnya juga terjadi ketika mendapat pesanan membeli minuman beralkohol. Saat mendapat pesanan Go-Mart, untuk pembelian Kawa-Kawa, saya pikir itu hanya pesanan biasa karena tak tahu bahwa itu adalah alkohol.
Hidup saya jauh dari minum-minum, apalagi mengenal merek-merek minumannya, jadi setelah sadar rasa cemas pun muncul tanpa alasan jelas.
Rasa cemas itu memberi efek abai pada pelanggan. Pelanggan meminta untuk dibelikan rokok juga, tapi sengaja tidak saya balas karena pikiran liar saya. Setibanya, saya hanya membuat alasan tidak sempat membuka chat dan baru aktif lagi saat mendekati tujuan.
Sebagai tambahan, ketika pelanggan memesan menggunakan Go-Mart, transaksi dilakukan menggunakan uang pengemudi terlebih dulu, jika pelanggan membatalkan atau menolak untuk membayar, maka kerugian terjadi pada pengemudi saja. Rating atau reputasi menurun, peluang mendapat pesanan berikutnya mengecil, serta uang ikut hangus jika terlanjur dibeli.
Dalam kondisi krisis keuangan, pikiran-pikiran buruk cenderung menguasai pikiran. Bayangan saya tentang pemabuk sudah terlalu buruk, segudang “what if” muncul merancu pikiran saya. Jantung berdebar sepanjang jalan hingga proses transaksi selesai. Pikiran saya berbisik, “Ini kalo mereka udah mabuk terus ngamuk, bisa repot, bisa-bisa digebukin kalo salah dikit.”
Kehidupan yang monoton pada satu aktivitas saja selama bertahun-tahun ternyata menimbulkan kecemasan ketika harus terpaksa keluar dari zona tersebut. Bukan karena tidak mampu, tapi karena perasaan asing dan penuh ketidakpastian. Hal-hal yang tidak biasa saya temukan atau alami, harus saya hadapi saat itu juga. Puncaknya adalah ketika menerima pesanan dari perempuan lansia dari luar aplikasi dengan tujuan yang jauh dan tidak terdeteksi di Google Maps.
Setelah mengantarkan kakak saya ke Jogja City Mall, saya mangkal di area sekitar Universitas Gajah Mada (UGM) berharap dapat pesanan ke area dekat kontrakan. Dengan begitu, biaya bensin jadi bisa tertutupi jika dapat pesanan. Namun, alih-alih dapat pesanan ke sana, malah dapat pesanan yang ke arah sebaliknya, lebih jauh dari kontrakan.
Seorang nenek, berusia sekitar 60 tahun lebih, menghampiri saya dengan suara yang pelan dan samar. Beliau bercerita sudah mengunjungi keluarganya di sekitar area tersebut dan ingin pulang, tapi tidak ada keluarganya yang bisa mengantarkan. Beliau juga tidak memiliki ponsel — paham cara memesan ojol pun tampaknya tidak — sehingga meminta saat yang sedang melamun di pinggir jalan mengantarnya.
Ingat pesan rekan saya sebelumnya, “jangan komunikasi dengan pelanggan di luar aplikasi,” ini mirip seperti itu, tapi termasuk pemesanannya. Karena sudah terlanjur mendapatkan penghalang mental (mental barier) sebelumnya, mendadak rasa cemas muncul. Setelah menanyakan tujuannya, lalu tidak menemukan apa pun di Google Maps, perasaannya kian memburuk. Rumah beliau dekat dengan makam pahlawan di Kulon Progo, tapi tak satu pun makam pahlawan saya temukan di Google Maps.
Saya cemas, tapi rasanya juga tidak tega meninggalkan beliau begitu saja. Saya teringat almarhumah nenek yang sudah lama meninggal. Saya membayangkan jika hal serupa terjadi pada nenek saya, mana tega saya meninggalkan beliau begitu saja. Saya pun memutuskan untuk menerima permintaan nenek tersebut karena perasaan itu. Namun, sempat tertahan oleh pesanan dari aplikasi.
Sesaat ketika kami hendak berangkat, ponsel saya berbunyi, menandakan ada pesanan yang masuk. Akun saya mengaktifkan fitur auto-bid agar langsung menerima setiap pesanan yang masuk. Saya tidak bisa membatalkan pesanan dan meminta neneknya menunggu sebentar karena titik penjemputan dan pengantaran masih dekat, di area UGM. Saya meminta beliau menunggu, tapi sekembalinya beliau malah menghilang.
Dada saya terasa sesak karena seperti telah membohongi nenek sendiri saat ia tidak di sana. Saya menyisiri area sekitar, mulai ke arah Selatan hingga mendekati Ring Road Utara, tapi nihil. Saya kembali lagi, menyusuri dengan perlahan, 20 km/jam, memusatkan perhatian ke bahu jalan.
Telat semenit saja, mungkin itu akan jadi momen menyedihkan selama saya menjadi pengemudi ojol saat itu. Beliau ternyata mencari pengemudi lain. Terlihat mereka (pengemudi lain) juga sempat ragu menerima permintaan beliau. Saat ada yang ingin mengantar beliau, saya menawarkan diri untuk mengantar karena sudah terlanjur janji pada beliau.
Dengan penuh rasa ragu dan cemas, tanpa tahu arah tujuan, beberapa kali saya menepi dan mengonfirmasi tujuan beliau. Tetap saja hasilnya nihil. Meski beliau bilang mengingat jalan pulang, rasanya tetap saja ragu dengan ingatan beliau. Lagi-lagi, saya teringat almh. nenek saya yang pelupa, membuat saya membandingkan mereka berdua.
Yang membuat itu berkesan adalah ketidakpastiannya dan pikiran liar pribadi. Ingat tidak beberapa tahun lalu banyak berseliweran konten eksperimen sosial? Sampai sekarang masih sih, tapi gak semasif dulu kayaknya. Pikiran liar saya berbisik, “Gimana kalo ini sosial eksperimen?”, “Dimana kameranya?”, “Kalo bukan, terus ini jebakan untuk dipukuli atau ditipu gimana, ya?”, “Nanti kalo dikasih uang musti gimana ya?”, dan berbagai pikiran lain terus berdatangan seiring waktu.
Kadang terbesit, “ngapain ya aku terima pesanan ini?”. Cuma ya, akhirnya tetap aku lakuin dengan niat tulus pengin bantuin beliau aja karena gak tega ninggalin.
Dari titik itu saya merasakan efek jera menikmati konten eksperimen sosial atau prank lagi. Takut jadi parno lagi seperti saat itu. Tanpa sadar saya termakan konten-konten mereka dan tanpa sadar pula itu akan berdampak pada kondisi mental atau psikis saya di masa mendatang.
Perjalanan itu menempuh jarak sekitar 13,5 kilometer, sekitar 30 menit perjalanan. Dari Jl. Monjali ke Taman Makam Pejuang 45. Itu terasa seperti pengantaran terpanjang dan terlama hanya karena pikiran negatif. Ketika menemukan Taman Makam Pejuang 45 barulah saya sadar bahwa informasi yang saya terima tidak akurat bukannya tidak ada. Bukan “Makam Pahlawan” yang harusnya beliau sebutkan, tapi “Taman Makam Pejuang,” pantas saya tidak temukan di Google Maps.

Tangkapan layar pribadi
Saya merasa lega, di sana betul ada perumahan. Tetangga beliau juga mengonfirmasi dan mengenali beliau, sekaligus mengucapkan terima kasih karena telah mengantarkan beliau.
Sejak awal, karena neneknya meminta diantarkan tanpa memesan aplikasi, pikiran dan hati saya tidak karuan, tapi saya tulus hanya ingin mengantar beliau sampai tujuan. Saat menanyakan tarif, saya justru bingung berapa biaya yang cocok untuk jarak tempuh tersebut. Niat saya dari awal pun memang ingin mengantarkan beliau tanpa bayaran sama sekali. Beliau kekeh ingin membayar karena merasa tidak enak, ditambah lagi tetangga beliau meminta saya menetapkan tarif juga. Akhirnya, saya sampaikan saja seikhlasnya karena tidak paham tarif dan niat ingin membantu saja.
Pengalaman itu jadi bahan refleksi pribadi dalam mengonsumsi konten media sosial. Pengalaman yang membuat saya sadar bahwa ketakutan sering kali tidak datang dari kenyataan, melainkan dari bayangan yang saya bangun sendiri. Ketidakpastian yang saya hadapi menciptakan ruang negatif dalam hati dan pikiran.
메타데이터
- post_id
- 52784f85eb6e
- slug
- dikalahkan-oleh-pikiran-sendiri-52784f85eb6e
- url
- https://medium.com/@frdi/dikalahkan-oleh-pikiran-sendiri-52784f85eb6e
- canonical_url
- https://medium.com/@frdi/dikalahkan-oleh-pikiran-sendiri-52784f85eb6e
- author_url
- https://medium.com/@frdi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-10 08:17:25