← Back to list

Hiduplah dengan Marhaenisme

Kita dibesarkan dengan satu janji, bahwa kalau kamu bekerja cukup keras, kamu pasti keluar dari kemiskinan. Janji itu indah, dan sebagian…

Akhmad Royhan Fannani · 2026-06-01 09:12 · 0 claps · 2.9 min read
#marhaenisme #usaha #sistem
Open on Medium ↗
Wiki topics: ML · Machine Learning

Hiduplah dengan Marhaenisme

Kita dibesarkan dengan satu janji, bahwa kalau kamu bekerja cukup keras, kamu pasti keluar dari kemiskinan. Janji itu indah, dan sebagian benar. Namun, ia menyembunyikan kenyataan yang membuat banyak orang patah hati, yaitu:

ada orang yang sudah bekerja sekuat tenaga, dari subuh sampai malam, dan tetap miskin sepanjang hidupnya.

Di titik inilah Marhaenisme punya sesuatu yang penting untuk dikatakan. Untuk keluar dari jurang kemiskinan, terkadang yang dibutuhkan bukan hanya usaha maksimal, tetapi juga keberanian untuk MELAWAN.

Marhaen adalah bukti bahwa kerja keras saja tidak cukup

Marhaenisme adalah gagasan yang dipopulerkan Bung Karno sejak akhir 1920-an, seiring berdirinya Partai Nasional Indonesia. Inti gagasannya berpusat pada sosok “Marhaen”, yaitu orang kecil yang memiliki alat produksinya sendiri, seperti sepetak sawah, sebuah perahu, atau seperangkat alat tukang, tetapi hasil kerjanya hanya cukup untuk hidup dan tidak pernah menumpuk jadi kekayaan.

Marhaen bukan pemalas. Ia punya modal kecil, ia punya keterampilan, dan ia bekerja keras setiap hari. Dengan kata lain, ia sudah melakukan semua yang dituntut oleh resep “usaha maksimal”, tetapi tetap melarat.

Kalau usaha keras adalah jawabannya, Marhaen seharusnya sudah kaya. Kenyataannya tidak. Sukarno menangkap hal yang sering kita hindari, yaitu bahwa kemiskinan Marhaen bukan kesalahan pribadinya, melainkan akibat struktur yang menjepitnya. Tengkulak yang menentukan harga panennya. Tanah yang terlalu sempit karena dikuasai segelintir orang. Modal yang hanya mengalir ke yang sudah punya. Pasar yang dirancang untuk menguntungkan pemilik besar.

Mengubah sistem, bukan menambah usaha

Di sinilah Marhaenisme berbelok dari nasihat motivasi biasa. Jika kemiskinan disebabkan oleh kekurangan usaha, obatnya adalah bekerja lebih keras lagi. Tetapi jika kemiskinan disebabkan oleh struktur yang timpang, maka bekerja lebih keras hanya membuat seseorang menjadi korban yang lebih lelah. Strukturnya yang harus diubah.

Inilah arti “melawan” dalam Marhaenisme. Bukan ajakan marah tanpa arah, melainkan kesadaran bahwa nasib si kecil tidak akan berubah hanya lewat ketekunan pribadi, selama aturan mainnya tetap berpihak pada yang kuat. Sukarno merumuskannya lewat dua asas. Yang pertama adalah sosio-nasionalisme, yaitu keberpihakan pada rakyat kecil dan bukan sekadar mengganti penjajah asing dengan penindas lokal. Yang kedua adalah sosio-demokrasi, yaitu demokrasi yang tak berhenti pada hak memilih tetapi menuntut keadilan ekonomi. Baginya, kebebasan politik tak banyak berarti bila perut tetap kosong.

Melawan, tetapi melawan yang seperti apa?

Kata “melawan sistem” mudah diucapkan dan mudah pula menjadi slogan kosong. Maka ia perlu diberi isi yang konkret. Dalam semangat Marhaenisme, melawan tidak pernah berbentuk kepahlawanan individual, sebab satu orang tidak bisa mengalahkan sebuah struktur sendirian. Melawan di sini bersifat kolektif.

  • Kesadaran, yaitu berhenti menyalahkan diri sendiri atas kemiskinan yang sebagiannya hasil rancangan, dan mulai melihat siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh keadaan ini.
  • Berorganisasi, yaitu bergabung dalam koperasi, serikat, atau kelompok pekerjaan.
  • Politik, yaitu peduli terhadap perpolitikan Indonesia dan menuntut kebijakan yang mengubah aturan main.

Melawan, dalam arti ini, bukan menolak bekerja keras. Ia adalah memastikan bahwa kerja keras itu tidak dirampas oleh sistem yang timpang.

Dua Hal Penting!

Terdapat dua kesalahan yang harus dihindari, dan mengakui keduanya justru membuatnya makin meyakinkan.

Kesalahan pertama adalah berpikir bahwa siapa pun pasti bisa kaya asalkan rajin. Pandangan ini nyaman bagi orang yang sudah mapan, karena ia menyalahkan orang miskin atas kemiskinannya sendiri. Marhaenisme menolak pandangan ini, dan penolakan itu tepat.

Kesalahan kedua sama bahayanya, yaitu berpikir bahwa berusaha itu percuma karena semuanya sudah dicurangi. Ini juga keliru. Mengatakan usaha tidak cukup bukan berarti usaha tidak perlu. Kenyataannya, banyak orang berhasil keluar dari kemiskinan lewat gabungan kerja keras, kesempatan, dan keadaan yang berubah. Melawan sistem bukan alasan untuk berhenti berusaha, melainkan tambahan atas usaha itu. Tanpa usaha dari orang-orangnya sendiri, perubahan sistem pun tidak akan ada yang menggerakkan.

Kritik paling tajam terhadap Marhaenisme adalah bahwa ia sering berhenti pada semangat berpihak tanpa menjelaskan kebijakan nyata yang harus dijalankan. Maka tugas kita hari ini bukan mengulang slogannya, melainkan mengisinya dengan hal yang konkret, yaitu melawan lewat cara apa, lewat organisasi apa, dan menuntut perubahan aturan yang mana.

Penutup

“Hiduplah dengan Marhaenisme” bukan ajakan menjadi miskin yang ikhlas, dan bukan pula nostalgia masa Sukarno. Ia adalah cara membaca kemiskinan secara jujur, bahwa usaha keras itu mulia dan perlu, tetapi tidak selalu cukup, karena terkadang yang menahan seseorang di dasar jurang bukanlah kurangnya tenaga, melainkan tembok yang sengaja dibangun di atasnya.

Dan tembok seperti itu tidak akan runtuh oleh satu orang. Ia runtuh ketika orang-orang yang ditahannya berhenti saling menyalahkan, lalu mendorongnya bersama-sama.


메타데이터
post_id
528dde2fa2cc
slug
hiduplah-dengan-marhaenisme-528dde2fa2cc
url
https://medium.com/@akhmadroyhanfannani/hiduplah-dengan-marhaenisme-528dde2fa2cc
canonical_url
https://medium.com/@akhmadroyhanfannani/hiduplah-dengan-marhaenisme-528dde2fa2cc
author_url
https://medium.com/@akhmadroyhanfannani
status
ok
fetched_at
2026-07-10 08:43:10