Living a Life : Budaya Makan Pecel Masyarakat Kediri
Sedikit berbeda dari biasanya, kali ini aku mau ngajak kalian buat masuk ke seri baru dari akun ini yaitu Living a Life. Sesuai namanya…
Living a Life : Budaya Makan Pecel Masyarakat Kediri
Sedikit berbeda dari biasanya, kali ini aku mau ngajak kalian buat masuk ke seri baru dari akun ini yaitu Living a Life. Sesuai namanya, seri ini akan banyak membahas kehidupan secara general, di luar gapyear, yang bisa berasal pula dari sudut pandang kehidupan orang lain. Seri ini aku buat supaya aku dan kalian banyak mengetahui sisi lain kehidupan, supaya kita tahu bahwa sejauh apapun hidup membawa kita, Tuhan akan selalu menyapa kita lewat nikmat indah-Nya.
Tak hanya akan membahas perihal kehidupan yang dijalani, tetapi juga akan sedikit membahas konsep-konsep yang sekiranya perlu kita ketahui bersama selama hidup. Selain slice of life, di seri ini kita juga akan sedikit-banyak membahas perihal life lesson dan self developement. Oh iya! Aku mau kasih sedikit disclaimer bahwa seri ini memang dikemas dengan bahasa yang mungkin akan relatif lebih santai. Pun, pembahasannya tidak akan seberat segmentku yang lainnya! Ya karena… balik lagi ke genrenya, sih!
Jadi sekali lagi, aku ucapkan selamat datang di seri terbaruku, Living a Life!
Di episode pertama seri ini, aku mau membahas sebuah kebiasaan unik dari masyarakat Kota Kediri. Hmm… secara general, se-Karesidenan Kediri, sih! Buat teman-teman yang belum tahu, Karesidenan Kediri, atau biasa dibebut daerah AG (Karena pla nomor kendaraan kami diawali dengan gabungan huruf “AG”), meliputi daerah Kabupaten dan Kota Kediri, Kabupaten Blitar, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Tulungagung, dan Kabupaten Trenggalek.
Nah! Kebatulan, aku lahir dan tumbuh di sebuah daerah yang relatif kecil di Kabupaten Kediri. Pare, namanya. Sebuah kecamatan yang banyak dikenal orang dengan sebutan “Kampung Inggris”. Kali ini, aku bukan mau bahas soal Kediri, Pare, Apalagi soal Kampung Inggris. Nggak-nggak, bukan-bukan. Kali ini, aku mau ngebahas soal kebiasaan sederhana, tapi selalu kuanggap unik dari orang Kediri. Kebiasaan tersebut adalah makan nasi pecel.
Nasi pecel yang kumaksud di sini adalah sebuah makanan berat yang biasa dikonsumsi di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sepiring nasi pecel diisi dengan nasi, kulupan (sayur-sayuran rebus), rempeyek, dan siraman sambal kacang. Kulupan dalam nasi pecel, atau pecelan, sendiri cukup beragam. Biasanya isian kulupan disajikan sesuai dengan musim dan daerah. Misalnya saja bunga turi dan daun kenikir. Ada pula yang menyajikannya dengan bayam, kangkung, kacang panjang, tauge panjang, daun pepaya, dan masih banyak lagi. Secara tradisional, nasi pecel biasanya disajikan dalam pincukan daun pisang. Oleh karena itu, nasi pecel sering dijual dengan nama “Pecel Pincuk”.

Sumber : Wiratech
Seperti itu kira-kira bentuk dari nasi pecel yang biasa aku konsumsi di Kediri. Pecel sendiri terkenal berasal dari Kota Madiun. Namun, ada yang membedakan pecel Kediri dengan pecel-pecel lainnya. Di Kediri, pecel biasanya disajikan dengan sebuah sambal, yang mirip seperti kuah, bernama sambel tumpang.
Sambal tumpang sendiri merupakan sebuah olahan sambal yang terbuat dari tempe bosok atau tempe yang sudah sedikit busuk. Pengolahannya sendiri cukup sederhana. Tempe diolah bersama dengan bumbu-bumbu dapur sederhana seperti cabai, garam, bawang merah, bawang putih, dan bumbu lainnya. Campuran ini kemudian diolah sampai bertekstur mirip kuah lodeh. Sambal tumpang sendiri bisa memiliki tekstur yang cenderung cair karena tempe yang hancur karena proses masak. Semakin banyak sambal tumpang mengalami proses pemanasan (dihangatkan/dinget) maka akan semakin enak rasanya.
Kombinasi antara sambal pecel dan sambal tumpang inilah yang hanya bisa ditemui di Karesidenan Kediri. Banyak warung makan rumahan yang menjual hidangan penggugah hati ini. Namun, tak dapat diayal bahwa tak semua masyarakat Indonesia bisa menyukai bahkan menikmati hidangan ini. Rasanya yang cenderung medhok dan bercampur aduk antara manis, pedas, asin, dan sediki asam membuat banyak orang seringkali bingung dan kemudian tidak merasa cocok dengan cita rasa nasi pecel tumpang.
Bagiku, nasi pecel tumpang merupakan wujud nyata kenangan tak hidup dari kehidupan asalku, kehidupan masa kecilku. Tumbuh sebagai cucu perempuan pertama dari sebuah keluarga yang sudah turun-temurun memiliki bakat berupa tangan ajaib yang bisa menciptakan berbagai masakan lezat membuatku akrab dengan hidangan ini. Iya, Nenek dan Ibuku pemasak. Bukan pemasak andal ala Gen-Z, ya! Pemasak beneran! Dulu, Nenek memiliki warung makan di sekitar area pasar induk Pare. Warung kecil itu bertahan dari Ibu masih SD hingga aku masuk SD. Kira-kira, hampir 30 tahun. Namun, berjualan 30 tahun tak lantas membuat usaha warung Nenekku bisa berjalan selamanya.
Sebagai anak satu-satunya Ibu dan Ayahku, aku mengalami proses pendewasaan yang cenderung lebih cepat jika dibandingkan dengan kebanyakan anak tunggal di luar sana. Ibu selalu menitipkanku di rumah nenek semenjak aku masuk tk. Hal itulah yang kemudian membuatku akrab dengan Warung Nenek dan Pasar.
Kembali ke masa kecil dan keakrabanku dengan pecel, aku mengenal nasi pecel dari masa sebelum aku masuk tk. Namun, keakraban ini kemudian kian meningkat ketika Ayah dan Ibu memutuskan untuk membeli rumah di daerah Jombangan. Sebuah desa yang masih sangat asri. Sebuah desa yang sangat sederhana dan bersahaja. Desa yang dipenuhi dengan hamparan sawah yang sangat luas di berbagai areanya. Di daerah ini, ada sebuah warung nasi pecel yang sangat terkenal. Selain terkenal akan nasi pecel pincuknya, warung ini juga terkenal dengan burung puyuh gorengnya. Namanya Warung Nasi Pecel Bu Kamarumi.
Proses pengakrabanku dengan nasi pecel tak terjadi hanya dengan berkenalan dengan Nasi Pecel Bu Kamarumi, tetapi juga berkat dua warung nasi pecel yang terletak di dekat rumahku saat itu dan warung nasi pecel di jalan dalam rute menuju sekolahku. Namun, jika kuingat-ingat kembali, ada dua lagi warung pecel yang mengawali kedekatanku dengan nasi pecel di masa SDku. Warung nasi pecel di area Jl. Dhoho dan warung nasi pecel di daerah alun-alun Pare (saat itu namanya Taman Thamrin) kala itu.
Masyarakat Kediri sendiri memiliki waktu yang cukup beragam dalam mengkonsumsi hidangan yang satu ini. Ada yang menggunakannya sebagai hidangan dalam menu sarapan, ada juga yang menggunakannya sebagai makan malam. Namun yang jelas, kapanpun kita mengkonsumsi nasi pecel, rasanya akan tetap nyaman.
Kebiasaan mengkonsumsi nasi pecel ini rasanya sudah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Kediri. Kebudayaan inipun turut difasilitasi oleh pihak pemerintah daerah Kediri dengan diadakannya berbagai macam festival seperti Dhoho Night Carnival, Festival Kuno-Kini, dan masih banyak lagi. Lebih dari sekadar hidangan pengenyang perut, pecel berhasil melekat dan mengakar menjadi salah satu kebudayaan khas Kediri.
Dalam keluargaku sendiri, jika ditelisik lebih dalam, kebiasaan mengkonsumsi nasi pecel ini sudah ditumbuhkan semenjak kami masih kecil. Seperti contohnya, aku, sudah dibiasakan menikmati pecel sedari tk. Lalu, sepupuku sudah dibiasakan mengenal pecel sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun, lebih dari sebuah hidangan, kami memaknai pecel sebagai salah satu sumber kehangatan dalam keluarga. Saat aku dan Ibuku merantau, Nenek akan selalu membekalkan kami sambal pecel yang belum diseduh. Kata Nenekku, “Supaya tetap ada makanan pas nggak ada uang.”
Membawa sambel pecel melalang buana ke berbagai pelosok wilayah di Indonesia membuat kami tetap mengingat siapa kami sebenarnya, dari mana kami berasal, seperti apa seharusnya kami berperilaku, bagaimana seharusnya kami memperlakukan orang lain. Hal-hal yang demikian ini yang kemudian membuat kami tetap mengingat rumah, tempat asal kami.
Dilahirkan di sebuah kota yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawi atau yang berarti subur makmur, sejahtera, aman, dan berkecukupani, membuatku banyak sekali mengenal berbagai bentuk syukur. Lewat kesederhanaan nasi pecel, aku mengenal berbagai bentuk kesahajaan masyarakat Kediri. Makanan yang bahkan harganya dimulai dengan angka Rp5.000,- ini seakan menjadi salah satu kekuatan magis masyarakat Kediri. Bukan kekuatan magis yang bagaimana, tetapi kekuatan magis yang mampu menyatukan hati dan menentramkan jiwa.

Sumber : Radar Tulungagung
Banyak percakapan hangat lahir dari sepiring nasi pecel. Banyak juga perut kosong yang bisa segera terisi berkat uluran tangan sederhana berisikan nasi pecel. Banyak keluarga baru yang disatukan berkat pemberian segenggam sambal pecel.
Bagiku, kebiasaan makan pecel bukan sekadar kebiasaan ramah tamah yang remeh temeh. Kebiasaan yang bisa dimulai oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja ini menjadi salah satu wujud nyata bahwa negaraku masih kaya. Kaya akan kearifan masyarakatnya. Pecel, sekepal sambal yang bisa mengembalikan suasana rumah di manapun aku berada.
메타데이터
- post_id
- 52e87e184dc2
- slug
- living-a-life-budaya-makan-pecel-masyarakat-kediri-52e87e184dc2
- url
- https://medium.com/@rastudybuddy/living-a-life-budaya-makan-pecel-masyarakat-kediri-52e87e184dc2
- canonical_url
- https://medium.com/@rastudybuddy/living-a-life-budaya-makan-pecel-masyarakat-kediri-52e87e184dc2
- author_url
- https://medium.com/@rastudybuddy
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 23:44:03