← Back to list

Merangkum 2025

Menulis refleksi akhir tahun atau resolusi awal tahun tak pernah jadi kebiasaanku. Setiap penghujung tahun orang-orang biasanya sibuk…

Piece of Universe · 2026-01-01 10:43 · 0 claps · 3.7 min read
#new-year #end-year #2025 #self-reflection
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment

Merangkum 2025

Sumber pribadi

Sumber pribadi

Menulis refleksi akhir tahun atau resolusi awal tahun tak pernah jadi kebiasaanku. Setiap penghujung tahun orang-orang biasanya sibuk dengan pencapaian atas resolusi yang telah disusun sejak awal tahun lalu. Sementara bagiku pergantian tahun tak pernah istimewa — sama halnya seperti hari yang terus berganti. Meromantisasi telah menjadi kata kerja yang melekat di diriku, tapi tahun yang berganti tak pernah menjadi sebegitu romantis bagiku. Selalu sama.

Suatu ketika aku mencoba mengevaluasi alasanku tak pernah menyusun resolusi setiap awal tahun. Barang kali, aku khawatir akan rasa kecewa apabila resolusiku tak tercapai; atau boleh jadi aku malah merasa tertekan dengan target menggebu-gebu yang kubayangkan di awal tahun; atau malah aku akan merasa konyol sendiri dengan target-target tak masuk akal yang kubuat. Tapi kali ini, aku berpikir harus melakukan sedikit dokumentasi atas peristiwa sepanjang tahun ini — karena sepertinya aku akan menyesal jika melewatkan tahun ini begitu saja.

Tahun 2025 adalah tahun yang berat. Banyak kegagalan yang memukul telak hidupku hingga babak belur. Tapi 2025 juga membangkitkan sisi-sisi diriku yang sebelumnya tidak aku kenali.

Separuh awal 2025 kunikmati sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Berkegiatan seadanya, mempersiapkan beasiswa dan studi lanjut, dan nongkrong bersama teman-teman yang sekiranya cocok denganku. Di pertengahan tahun hidupku jungkir balik. Kondisiku buruk sekali. Aku dihadapkan dengan kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagiku selama beberapa tahun kebelakang. Kehilangan yang sebenarnya cukup aku persiapkan. Tapi tetap saja, yang namanya kehilangan pasti menyakitkan meskipun sebenarnya itu baik untukmu.

Belum sempat aku memproses kehilanganku dengan baik, ujian selanjutnya muncul. Usahaku lanjut studi dengan beasiswa pupus. Aku ditolak tiga beasiswa dalam waktu berdekatan. Sebenarnya tiga tahun terakhir aku sudah terbiasa menerima penolakan semacam itu. Tapi entah kenapa kali ini lebih menyakitkan. Seolah apa yang kuusahakan bertahun-tahun tak pernah sekalipun memihakku. Aku merasa tertipu dengan upayaku sendiri. Dan anehnya, aku merasa orang-orang menghiburku dengan rasa kasihan. Tak ada yang benar-benar menawarkan kehangatan atau sekadar mengajakku makan es krim tanpa harus berusaha menghiburku. Semua orang mengatakan “tidak apa-apa”. Aku tahu, jika aku di posisi mereka aku pasti akan melakukan hal yang sama. Tapi saat itu aku benar-benar tidak bisa menggambarkan betapa rapuhnya aku — ditambah fakta bahwa aku hanya bisa menahan air mataku sendiri. Saat itu, aku mengikuti kata orang-orang: tidak apa-apa.

Di momen itu, aku ingin sekali mengulang hidupku hingga beberapa tahun kebelakang. Mencoba mengatur ulang orang-orang yang kukenal, langkah yang kuambil, serta hal-hal yang harus aku pelajari. Namun, apa dayaku? Setiap kali membuka mata aku selalu berkata pada diriku bahwa setiap hari aku akan mempelajari satu hal. Aku menjadikan kerapuhanku sebagai ruang untukku belajar, bertumbuh, dan memperbaiki diri sendiri. Namun, hanya berselang beberapa minggu saja, aku dihadapkan dengan ujian lainnya. Ayaku sakit selama beberapa waktu. Hancur sekali aku saat itu. Mencoba menyimpan semuanya sendiri karena aku tak tahu harus bertumpu pada siapa. Aku benar-benar sendiri, memproses lukaku sendiri. Tak ada yang tahu pasti apa yang sebenarnya aku rasakan, hanya ada doa-doa yang terus aku langitkan memohon kekuatan.

Aku merasa di satu sisi sedang dipermainkan takdir. Tapi Tuhan seakan tak membiarkanku melihat hanya di permukaan. Ia membuatku menyelami dasar yang tak pernah kujangkau. Jatuh ke dasar membuatku bisa melihat sekelilingku dengan lebih jernih dan tenang. Aku menilai ulang apa yang sebenarnya aku butuhkan sebagai seorang individu. Dan Tuhan sedang menjawab doa-doaku melalui ujian beruntun yang diberikanNya. Aku yang naif hanya melihat apa yang memberatkan hidupku, tak sadar bahwa itu adalah proses purifikasi untukku. Dalam kepiluan yang melanda, secara magis Tuhan memberikanku kesempatan untuk melanjutkan studi. Memang tak semegah rencana indah yang telah aku susun, tetapi kali ini Tuhan memberikanku apa yang ternyata lebih aku butuhkan dan di waktu yang tepat. Seolah-olah Dia ingin mengatakan, doa-doa yang kaulangitkan telah Kuketahui jauh sebelum kau memintanya. Namun, kau belum siap, niatmu belum utuh, hatimu belum kuat, dan yakinmu belum teguh. Maka diciptakannya semua duka yang membuatku menyadari bahwa Tuhan lah yang setia mendengarkanku, mengawasiku, membimbingku, dan menjawab semua doa-doaku di momen terapuhku. Dia memberiku ombak bukan untuk menghancurkanku, alih-alih membuatku bangkit dan mengendarainya sebagaimana peselancar menguasai gelombang laut.

Dalam ketertatihanku, aku mengutip keberkahan-keberkahan yang diberikan Tuhan untukku. Dukaku diberikan penawar yang indah dan tak terbayangkan. Aku tak lagi berselimut dengan perasaan pilu terkutuk itu. Memakai skin baru, aku keluar dan melanjutkan hidup. Mengilas balik, ternyata aku tak hanya mampu bertahan — aku secara perlahan mengubah hidupku, kepribadianku, lingkunganku, dan kemampuanku. Belum sempurna dan tak kentara, tapi bukankah itu hal bagus? Bahkan mampu bertahan saja sudah bagus.

Tak seperti dongeng yang selalu berakhir bahagia, tentu saja dalam perjalananku masih tetap dipenuhi jalan berbatu. Ada saja kerikil yang membuatku ragu dengan arah yang kupilih. Tapi lagi-lagi Tuhan tidak pernah meninggalkanku bahkan di saat paling konyol dalam hidupku. Dia selalu hadir dalam sela-sela hidupku — memberikan pertolongan melalui orang-orang terdekatku, algoritma sosial mediaku, rengekan-rengekanku sepanjang hari, dan banyak hal lainnya. Aku juga banyak belajar melalui orang-orang yang kukagumi. Aku berusaha memproses lukaku dengan cara yang baik, berdamai dengan masa laluku, serta memeluknya dengan erat. Terima kasih untuk orang-orang yang telah memberikanku kekuatan dan rasa damai (walaupun kalian tidak menyadarinya).

Karena ini bukanlah refleksi akhir tahun atau resolusi awal tahun, aku tak akan menciptakan narasi-narasi bernada optimis sebagai penutup. Alih-alih, tulisan ini cukup menjadi sekadar pengingat bagiku bahwa aku pernah menemukan berkah dalam duka yang kualami. Bagiku, duka itu bukan soal rasa, tapi perspektif. Kau merasa sedih dan pilu, itu benar. Tapi kau bisa melihat hal lain yang kaudapatkan dari dukamu. Dan melihat sedikit kebahagiaan yang tersedia dalam masa sedihmu, membuatnya semakin indah dan mewah.[]


메타데이터
post_id
53ed4df133aa
slug
merangkum-2025-53ed4df133aa
url
https://medium.com/@rizkinameutuah/merangkum-2025-53ed4df133aa
canonical_url
https://medium.com/@rizkinameutuah/merangkum-2025-53ed4df133aa
author_url
https://medium.com/@rizkinameutuah
status
ok
fetched_at
2026-07-31 11:34:07