← Back to list

Ketika Semua Orang Merasa Bisa Mendesain

Meninjau Kembali Relevansi Profesi Desainer Grafis di Era Digital

Abang Edwin SA · 2025-05-17 00:34 · 52 claps · 2.6 min read
#desain #desain-grafis #desain-komunikasi-visual #canvas #relevansi
Open on Medium ↗
Wiki topics: TLS · Design Tools & Workflow

Ketika Semua Orang Merasa Bisa Mendesain

Meninjau Kembali Relevansi Profesi Desainer Grafis di Era Digital

Photo by Aleks Dorohovich on Unsplash

Photo by Aleks Dorohovich on Unsplash

Sebagai seorang dosen di program studi desain, saya bukanlah praktisi desain grafis. Tapi, kegelisahan yang dirasakan para desainer grafis belakangan ini, nyatanya juga terasa di ruang-ruang diskusi kami di dunia desain secara umum. Dan mungkin, kegelisahan ini bisa dikatakan cukup mendalam: benarkah profesi desainer grafis mulai kehilangan relevansinya?

Pertanyaan ini muncul seiring kemunculan berbagai teknologi yang memudahkan siapa pun untuk membuat desain visual. Platform seperti Canva, Figma, hingga layanan cetak cepat seperti Snapy dan Revo, seolah menjadi jawaban instan bagi banyak orang yang membutuhkan desain. Tak jarang, masyarakat lebih mengenal Snapy ketimbang siapa itu desainer grafis. Bahkan tak sedikit yang merasa, “Toh sekarang semua orang bisa desain sendiri.”

Dari luar, tampaknya masuk akal. Tapi justru di sanalah letak persoalannya.

Orang sering lupa bahwa desain bukan sekadar hasil akhir berupa visual yang enak dilihat. Desain adalah proses berpikir. Dalam dunia kami, kami menyebutnya sebagai problem-solving — pemecahan masalah melalui pendekatan visual dan strategis. Jadi ketika seseorang bisa memindah-mindahkan elemen di Canva, itu mungkin menyenangkan, tapi belum tentu bisa disebut desain.

Sama halnya seperti memiliki kamera profesional tidak serta-merta menjadikan kita fotografer, kemampuan menggunakan tools desain bukan berarti menjadikan kita desainer. Karena di balik satu desain yang baik, ada riset, ada pertimbangan komunikasi, ada pemahaman konteks, ada pemilihan elemen visual yang tidak asal cantik tapi relevan. Itulah wilayah kerja desainer.

Saya melihat pergeseran ini juga direspon oleh dunia pendidikan. Di banyak kampus, program studi yang sebelumnya bernama Desain Grafis kini berubah menjadi Desain Komunikasi Visual. Perubahan nama ini bukan hanya soal tren, tapi upaya untuk menjelaskan ulang bahwa kerja desainer tidak sebatas ‘mendesain poster’ atau ‘bikin brosur’. Desainer visual hari ini dituntut memahami komunikasi, perilaku audiens, bahkan etika dan dampak dari visual yang mereka hasilkan. Desain adalah bahasa, bukan hanya hiasan.

Namun, sepertinya masyarakat belum sepenuhnya menangkap pergeseran ini. Yang sering muncul adalah semacam kesalahpahaman bahwa desain itu soal “tampilan”, padahal yang sedang kita bicarakan sebenarnya adalah “pesan”.

Lalu pertanyaannya, apa yang bisa kita lakukan?

Sebagai bagian dari komunitas desain, saya percaya kita perlu lebih sering membuka “dapur” proses kerja kita. Jangan hanya tunjukkan hasil akhirnya, tapi juga cerita di baliknya: bagaimana kita membaca brief, menggali masalah, menyusun konsep, menyusun visual, hingga mengevaluasi dampaknya. Cerita-cerita inilah yang bisa membantu masyarakat memahami bahwa desain adalah kerja pikir, bukan sekadar kerja teknis.

Kita juga perlu lebih aktif membuat konten literasi visual. Bukan untuk menggurui, tapi untuk mengajak berpikir. Misalnya membandingkan antara desain instan dengan desain yang berbasis riset. Menjelaskan kenapa warna, bentuk, atau layout tertentu dipilih, bukan hanya karena estetika, tapi karena fungsi komunikasi.

Yang lebih penting, saya rasa kita perlu membangun narasi baru tentang profesi ini: bahwa desainer bukan tukang gambar. Desainer adalah perancang komunikasi. Pemikir visual. Dan bahwa desain bukan hanya alat untuk mempercantik, tapi jembatan antara ide dan pemahaman.

Bukan profesinya yang kehilangan relevansi, tapi cara kita memahaminya yang belum sepenuhnya utuh.

Saya percaya, selama kita mau menyampaikan nilai dari kerja desain dengan cara yang mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan, masyarakat akan kembali melihat profesi ini dengan hormat. Dan siapa tahu, mereka yang awalnya hanya memakai Canva, justru akhirnya tertarik untuk benar-benar belajar menjadi desainer yang utuh.

Karena di balik semua alat canggih yang kita miliki hari ini, tetap ada satu hal yang tidak tergantikan: cara berpikir manusia dalam memahami masalah dan menciptakan makna. Itulah desain, dan itulah mengapa profesi ini akan selalu relevan.

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, silakan tinggalkan komentar, berlangganan feed saya, bagikan dengan teman dan kolega Anda, atau cukup beri tepuk tangan pada artikel ini atau **belikan saya kopi.** Dukungan Andalah yang membuat saya termotivasi untuk membuat lebih banyak konten yang saya harap bisa berguna bagi kita semua. Bersama-sama, kita dapat terus belajar dan menemukan hal-hal baru. Terima kasih telah mengapresiasi tulisan saya!


메타데이터
post_id
54b8a1be697a
slug
ketika-semua-orang-merasa-bisa-mendesain-54b8a1be697a
url
https://medium.com/@abangedwin/ketika-semua-orang-merasa-bisa-mendesain-54b8a1be697a
canonical_url
https://medium.com/@abangedwin/ketika-semua-orang-merasa-bisa-mendesain-54b8a1be697a
author_url
https://medium.com/@abangedwin
status
ok
fetched_at
2026-08-01 09:39:10