← Back to list

Gandrung #1 : Spekulasi dan Ancaman “Oknum” Agamis

Buku Kerudung Santet Gandrung (2003), dikarang Hasnan Singodimayan. Menceritakan pertemuan dua kebudayaan antara Arab (Islam) dan tradisi…

Hani · 2024-10-15 08:19 · 0 claps · 1.6 min read
#tari-gandrung #novel #budaya-indonesia #banyuwangi #osing
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative 🕊️ · Religion

Gandrung #1 : Spekulasi dan Ancaman “Oknum” Agamis

Buku Kerudung Santet Gandrung (2003), dikarang Hasnan Singodimayan. Menceritakan pertemuan dua kebudayaan antara Arab (Islam) dan tradisi masyarakat Belambangan (Tari gandrung). Kisah seorang bekas anggota KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda-Pelajar Indonesia) sekaligus seorang Muhammadiyah, beristrikan mantan Penari Gandrung.

Gandrung (tari) berasal dari Banyuwangi. Salah satu daerah di ujung timur Jawa, identik dengan mistis, dan ilmu hitam (santet). Begitu anggapan orang luar Banyuwangi yang tak pernah singgah di kota The Sunrise of Java itu.

Topik ini digarap elok oleh Hasnan dalam Kerudung Santet Gandrung. Tanggapan-tanggapan negatif tentang mistis Banyuwangi menjadi acuan utama menyusun cerita, dalam salah satu kubu (kebudayaan lokal). Diseberang kebudayan terdapat agama.

Agama menjadi antitesis dari kebudayaan Belambangan dalam cerita itu. Hasnan menghadirkan agama bukan tanpa sebab. Pemilik julukan “Sumur tanpa dasar” itu, Siwi Yunita (Kompas, 2022). Tentu paham betul bagaimana “Oknum” agama berusaha melengserkan tradisi lokal masyarakat Belambangan.

Sejarah Indonesia mencatat, keterkaitan antara seni dan politik erat hubungannya. Terutama kesenian yang memiliki hubungan dengan PKI melalui jaringan LEKRA. Kesenian Banyuwangi (tidak semua) sempat terdeteksi tergabung dalam hubungan tersebut. Sebab, lagu Genjer-genjer dari Banyuwangi menjadi Soundtrack dalam film G30S PKI. Hal ini membuat seolah kesenian Banyuwangi adalah kesenian partai kiri, Komunis! Anggapan itu menjalar ke seluruh elemen masyarakat.

Fenomena ini diabadikan cukup serius oleh Hasnan dalam Kerudung Santet Gandrung (2003). Iqbal, tokoh yang diceritakan sebagai suami penari gandrung itu mendapat kecaman dari keluarganya yang berlatar belakang Muhammadiyah. Pernikahannya dengan Penari Gandrung bernama Merlin tidak diakui oleh keluarga Iqbal. Sebab, Penari Gandrung identik hubungannya dengan ilmu hitam (dalam cerita itu).

Selain itu, di dalam buku tersebut, Merlin diceritakan memiliki seorang bapak yang tergabung dalam partai komunis Indonesia (PKI). Sehingga latar belakang demikian ini membuat Iqbal (atas perkawinannya dengan Merlin) dijauhi oleh keluarganya yang merasa kental agamanya.

Namun, dalam cerita ini, yang menarik adalah kehidupan Iqbal. Rupanya, dia menjadi tumpuan dan sumber rejeki oleh orang-orang di sekelilingnya. Usaha tambak udangnya memberikan kekuatan materiil bagi Iqbal untuk membutikan pada keluarganya. Iqbal menganggap keluarganya telah salah menilai Merlin sebagai Penari Gandrung dan Gandrung itu sendiri.

Ending cerita buku ini juga tak kalah menarik, meskipun berakhir Happy Ending. Merlin, seorang Penari Gandrung dari kalangan abangan (Geertz : Agama Jawa) telah berubah status sosialnya, karena dapat melantunkan ayat suci Al-Qur-an, Ad Dhuha. Oleh kelompok agamis, dia dipandang mentereng. Serta, sekaligus menjadi kebanggan bagi kaum abangan lainnya (masyarakat desanya). Ditambah, dalam cerita itu, Merlin akan menunaika ibadah Haji.

Semarang, 15 Oktober 2024

Jangan anggap semua ini serius. Ku tak pernah menginginkannya. Sebab, serius tak membuatku memiliki banyak teman.

*Petani Aksara


메타데이터
post_id
54c8d10b75e1
slug
gandrung-1-spekulasi-dan-ancaman-oknum-agamis-54c8d10b75e1
url
https://medium.com/@PetaniAksara/gandrung-1-spekulasi-dan-ancaman-oknum-agamis-54c8d10b75e1
canonical_url
https://medium.com/@PetaniAksara/gandrung-1-spekulasi-dan-ancaman-oknum-agamis-54c8d10b75e1
author_url
https://medium.com/@PetaniAksara
status
ok
fetched_at
2026-07-22 13:00:00