← Back to list

Wujud dalam Kitab al-Masha’ir Mulla Sadra

Tidak mungkin Memberikan Ta’rif bagi Wujud baik Secara Definitif Maupun Deskriptif

Akhmad Fawzi · 2026-04-26 16:08 · 1 claps · 2.3 min read
#wujud
Open on Medium ↗
Wiki topics: CRY · Crypto & Web3

Wujud dalam Kitab al-Masha’ir Mulla Sadra

Tidak mungkin Memberikan Ta’rif bagi Wujud baik Secara Definitif Maupun Deskriptif

Sebab wujud tidak memiliki genus maupun diferensia, bagaimana mungkin mengidentifikasi/men-ta’rif wujud sementara tidak memiliki forma, genus dan diferensia. Pendefinisian sesuatu dimungkinkan apabila sesuatu tersebut mempunyai forma genus atau diferensia yang darinya akan ditarik definisi yang membedakannya dengan sesuatu yang lain. Seperti ‘manusia’ dan ‘hewan’, keduanya bisa di ta’rif karena keduanya memiliki forma genus dan diferensia yang dapat memunculkan definisi atas ‘manusia’ dan ‘hewan’. Sementara wujud tidak memiliki forma, genus dan diferensia. Tak hanya itu, alasan wujud tidak bisa dita’rif ialah konsepnya yang sedemikian jelas dan nyata dialami dalam diri seseorang serta luas cakupannya.

Konsep Wujud dan Hakikat Wujud

Konsep wujud merupakan makna mental yang tergolong intelejibel sekunder yang bersifat universal, maksudnya tidak terjewantahkan pada realitas eksternal. Sedangkan hakikat wujud meliputi segala sesuatu yang eksis pada realitas eksternal sehingga sifatnya tidak universal. Hakikat wujud memiliki tabiat eksternalitas. Sederhana nya, konsep wujud berada didalam pikiran seseorang, sedangkan hakikat wujud berada diluar pikiran seseorang.

Contoh Pemaknaan Falsafi atas Wujud

a. Wujud maujud

b. Mahiyyah maujud

c. Wujud adalah prinsipal

d. Mahiyyah adalah prinsipal

a. Wujud maujud, penjelasannya: Konsep wujud sudah dipahami dan dialami secara badihi dalam diri manusia. artinya manusia sudah memiliki konsep wujud, kemudian menemukan referen diluar dirinya yaitu aspek lain yang menunjukkan ke-wujud-annya ataupun aspek ketiadaan yang membuktikan ke-wujud-annya.

b. Mahiyyah maujud, penjelasannya: Konsep mahiyyah sudah ada dalam kepala lalu menemuk referen di luar dirinya. Konsep tersebut berasal dari kekuatan akal malakah yang secara spontan diberi karakter potensi mengetahui atas pengetahuan inderawi.

c. Wujud prinsipal, penjelasannya: merupakan konsekuensi kelanjutan masalah mana yang lebih fundamental apakah wujud ataukah mahiyyah. Bagi kalangan ashalah al-wujud, wujud lah yang prinsipal. Mengapa? Karena wujud sekalipun bersifat individual dapat mengindividuasi dengan dirinya sendiri dan membuat perindivuasian ketika mahiyyah diwujudkan. Misalnya, menerapkan insan yang beragam derivasinya/individuasi nya kepada wujud. Dikatakan ada manusia dengan beragam nama jika tidak terindividuasi oleh wujud maka semua itu hanyalah diluar wujud yakni ketiadaan.

d. Mahiyyah prinsipal, penjelasannya: lawannya ashalah wujud. Bagian ini menguraikan jika mahiyyah lah yang fundamen/prinsipal. Mengapa? Karena sifat mahiyyah sebagai dirinya ketika ia eksis, sudah ada yang diberikan kepada dirinya, itulah yang disebut sumber efek. Sumber efek ini eksis secara esensial.

Contoh ashalah al-wujud dan ashalah al-mahiyyah:

Misalnya, ada proposisi ‘kuda itu eksis’. Perkataan itu diawali dengan konsep seseorang perihal kuda dalam pikirannya, lalu menemukan referen diluar dirinya yaikni maujud kuda itu sendiri maka dikatakanlah kuda itu eksis/maujud.

Bagaimana dengan konsep wujud? Patut diketahui jika konsep ‘wujud’ dalam diri manusia sudah ada karena ia mengalaminya sehingga bersifat badihi konsep ‘wujud’ itu. Ketika diluar dirinya melihat referen berupa aspek lain yang menunjukkan ke-wujud-annya atau aspek ketiadaan yang semakin meneguhkan ke-wujud-annya maka dikatakanlah konsep wujud itu eksis.

Bagaimana dengan wujud non-materi? maka bisa diperluas instrumen epistemologisnya, tidak mesti dipaksakan harus dengan indera lahirian, bisa dengan intuisi.

Persoalan lebih peliknya lagi yaitu menentukan mana yang lebih prinsipal apakah wujud atau mahiyyah? Saat kita sudah memiliki konsep api lalu melihat api, pertanyaannya manakah referen esensial yang memenuhi realitas eksternal dari api itu sendiri? Apakah wujud api? Atau ke-api-annya? Bagi ashalah wujud, wujud api lah yang lebih prinsipal karena hanya dengan wujud lah api itu dapat terindivuasi, andai bukan wujud maka api pastilah tiada. Sementara bagi ashalah mahiyyah keapian lah yang prinsipal karena itulah yang menjadi sumber efek adanya api. Saat api sendiri ada, maka yang terkait dengan api akan eksis pada dirinya, yang membuat disebut api karena ke-api-anlah, jika merujuk kepada wujud maka akan dipermasalahkan kembali wujud mana yang dapat disebut api? Bukankah wujud bersifat universal? Akan sulit menemukan keterangan wujud pada api. Itulah persoalan pelik antara dua gagasan tersebut.


메타데이터
post_id
558e486f477c
slug
wujud-dalam-kitab-al-mashair-mulla-sadra-558e486f477c
url
https://medium.com/@akhmadfawzi3/wujud-dalam-kitab-al-mashair-mulla-sadra-558e486f477c
canonical_url
https://medium.com/@akhmadfawzi3/wujud-dalam-kitab-al-mashair-mulla-sadra-558e486f477c
author_url
https://medium.com/@akhmadfawzi3
status
ok
fetched_at
2026-07-13 22:13:33