Bedul & Arsiparis
“Enak gak Pak jadi seorang pengelola rekod atau arsiparis ?”
Bedul & Arsiparis

“Enak gak Pak jadi seorang pengelola rekod atau arsiparis ?”
Pertanyaan tersebut terlontar dari sosok Bedul, mahasiswa Vokasi Kearsipan UGM, ketika saya memberikan kuliah umum tentang pengelolaan konten digital entreprise di kota gudeg. Saya ke Jogja bareng rekan saya, Prayitno yang seorang arsiparis Depnaker ! Kami berdua diundang oleh sekolah Vokasi Kearsipan UGM untuk memberikan wawasan kerja ke mereka !
Entah apa yang membuat Bedul dan para mahasiswa tersebut galau. Mereka adalah generasi milenial calon pengelola rekod atau arsiparis yang sedari kecil merangkak dan pipispun dicebokin, sudah dihadapkan dengan terpaan teknologi digital. Bahkan ketika kuliahpun sambil kelonan dengan Xiaomi, Es cream Dagendaz dan tools teknologi digital lainnya. Istilahnya, mereka adalah generasi native digital. Dari kecil sampai bangkotan, generasi si Bedul ini: tidur ngiler sambil berpeluk handphone dan ngelindur sembari update status di medsos.
Generasi Bedul yang percaya dengan melihat sendiri, perubahan sebuah masyarakat karena disrupsi dan teknologi. Perubahan sosial yang sangat dasyat ! Ya, jika perilaku keseharian kita berubah karena disrupsi dan teknologi, apakah dunia rekod dan kearsipan ajeg gak berubah ?
Contohnya dalam jagat kecil memandang profesi ini. Milenial ini, sekarang gak terlalu kesengsem dengan profesi tukang insinyur seperti gen X dulu. Tukang insinyur menjanjikan kesejahteraan masa depan ? Itu dulu mas broh jamannya gen X !. Sekarang mereka malah kerap diledek sebagai tukang dump pipe !
“Masa bodoh, gue lebih menikmati sesuatu yang punya output instan” !
"Saya gak takut menghadapi masa depan pak ! Masa depan harus dijalani, bukan dipikirkan" !
Bedul juga tidak silau lagi berpikir tentang model kesejahteraan profesi kedepannya. Jaman berubah, era sekarang banyak ruang krearif untuk sukses. Jangkauannya sangat luas dan lebar ! Yang penting terus menciptakan ruang kreatif karena kesempatannya sangat luas ! Menarik karena sekarang anekdok, mantu ideal itu bukan monopoli dokter atau insinyur teknik. Tapi lebih luas pada orang yang kreatif !
Gue gak kebayang dulu para imigran generasi X, melihat sekarang, ada profesi seorang Vlogger seperti Jerome Polin, arek Suroboyo yg menceritakan kesehariannya, kuliah di Waseda sambil ngupil, ngepel atau megal megol depan kamera video selfih, bisa berpenghasilan lebih 70 juta perbulan. Doski pinter nembus jurusan matematika di kampus elit Jeoang, tapi tetep milih ngurus konten digital. Jauh dari bayaran freshgraduate di Pertamina atau Exxonmobil yang konon 9–12 juta perbulan !
Memang butuh ikhtiar, doa dan juga sedikit keberuntungan. Tapi paling nggak tetep menunjukkan ruang, bahwa telah terjadi pergeseran, bahwa sebenarnya banyak ruang kreatif untuk menjadi lebih sejahtera di era kekinian. Ceruk sekarang lebih lebar..
Gak butuh kuliah berdarah darah, 5 atau 7 tahun sampai jenggotan, seperti teman saya dulu. Ada peluang kesejahteraan bagi yang kreatif, mengelola konten. Conten is Contex dan Contex is Conten. Singkat cerita, mahasiswa sekarang lebih enjoy, santuy gak mau mikirin yang berat dan ribet.
"Gue lebih milih backpaperan ke Thailand ketimbang nabung buat beli rumah. Gue gak khawatir masa depan, yang penting kagak miss queen penampilan Pak", kata Bedul.
Generasi X harus memahami, karena ini bukan masalah benar atau salah. Bukan perkara value dan tuntutan yg berubah. Tapi (sebagian) mereka memang beorientasi kompensasi yang instan dan jelas gak absurb atau abstrak. Sebagian saya bilang !
Mungkin ini pula yang menjelaskan kekagetanku saat kasih kuliah umum di vokasi UGM:
“Siapa yang memilih jurusan ini sebagai pilihan pertama” !
Mengagetkan, 30% mengacungkan tangan ! Luar biasa ! Menurutku angka 30% itu cukup moderat, mengingat sosialisasi bidang ini belum begitu nendang di Indonesia. Hebat karena saya berasumsi ada 30% mahasiswa yang sudah litered aspek rekod dan kearsipannya !
Lantas, apakah yang 70% gak ngacung sebagai sebuah keterpaksaan? Asal milih biar bisa kuliah keren berjaket abu berlogo bunga teratai ? Atau karena dipaksa bokapnya yang penting kuliah di negeri !
“Ah, gak juga. Jangan underestimate lah…Tidak sesederhana itu tuan Takur”.
Kehidupan tidak bisa dibedah hanya dengan perspektif sempit ya Dul !. Pilihan merdeka untuk berprofesi sebagai apa, dan menjadi apa, juga beragam. Sama seperti tokoh Seth dalam film City of Angel yang memilih menjadi manusia, agar bisa mencintai wanita manusia ? meski sakit, dan mati ketimbang menjadi malaikat yang abadi ? So elo mau jadi dokter, dosen, polisi, insinyur dan sebagainya, itu kan sebenarnya sama ! Semuanya hanya tools untuk menggapai tujuan hidupmu Dul…
“Ah …gedebus, adakah referensi berbeda, selain sebuah film Pak..!”, Bedul protes.
Kenapa harus menjadi arsiparis ?
“Profesional di bidang Rekod & Digital Arsip itu profesi masa depan Dul !”,
Aku ajak doski, untuk berdiskusi serius tentang arti menjadi seorang pengelola rekod atau arsiparis.
“Aku tak mau terjebak dalam diskusi tentang ini Bedul,” ujarku sambil menyantap ayam kungpao goreng yang warnanya begitu mengkilap. Kau pun dan aku sama dalam memandang makna ketika suatu saat menggeluti profesi ini . Bukan begitu Bedul ?.
Singkat kata, akupun kemudian membrainstromming Bedul. Sepertinya kekeras bathok kepalanya harus disiram segelas Chatime biar meleleh !
“Kalo sekedar menjadi arsiparis, mah gampang Dul ! Gisel yang gak pernah kuliah di disini juga bisa jadi arsiparis kok. Yang susah itu menjadi seorang arsiparis yang paripurna Bedul !”
Arsiparis yang paripurna ? Istilah apalagi tuh ? Pengelola rekod dan arsiparis yang bekerja dengan rasa, totalitas serta idealisme tinggi ! Sampai akhirnya Bedul kemudian mempunyai persamaan pemahaman pada suatu titik. Ya, sama-sama tak ingin cepat bertekuk lutut menjadi arsiparis yang repetitif prosedural dan untuk mengabdi menjadi sahaya.
Betapa tidak menjadi arsiparis yang sering terlihat adalah akumulasi ketertundukan manusia yang kehilangan dimensi kemanusianya. Menjadi arsiparis yang hanya terjebak dalam kegiatan repetitif administratif pagi — sore — siang — malam.
Tapi aku tak ingin diadu dengan kata-kata yang tak bermakna. Buktikan dengan tindakanmu barulah semuanya jelas. Baru aku dapat menilaimu apakah memang pantas aku menilanya sebagai arsiparis yang paripurna. Sayangnya itu sulit sulit dan mustahil, hingga aku merasa seperti sembelit !
“Kupikir itu wajar saja. Kita adalah orang-orang yang percaya terhadap arti penting pencapaian sebuah mimpi. Mana mau kita dengan cepat menyandarkan diri dengan orang yang tak tepat dan lemah ?”
Kubiarkan pikiran Bedul mengelana entah kemana. Rasanya jauh dan begitu menyakitkan. Ada kesadaran yang tiba-tiba merasuk dan mesti kuungkapkan.
“Kita tak bisa mengharapkan menjadi arsiparis yang paripurna Bedul. Tak ada kebahagiaan sepenuhnya abadipun. Coba kau bayangkan. Apakah dengan memilih menjalani profesi ini kau siap melepaskan semua mimpi-mimpimu Dul ?”
Apa kau siap dengan konsekwensi hidup kedepanmu ? Anakmu kelak yang harus bayar spp mahal. Atau istrimu yang kudu diasapin dapurnya !
Iya, jika kau pada akhirnya menemukan kebahagiaan yang sempurna menjalaninya.
“Jika tidak?”
Atau jangan jangan karena aku telah berjalan terlalu jauh dan tenggelam ke dalam obsesi menuju mimpi-mimpiku sendiri. Bedul mendengarkanku dengan seksama. Begitu serius dan hanyut ke dalam kata-kata yang kuucapkan disela-sela bibirku.
“Iya, selalu ada yang mesti dikorbankan Dul !,” kubisiki dengan pelan. Kesadaran mengenai kebahagiaan yang tak mungkin dicapai jelas membayangi. Manusia yang dapat berpikir, sungguh menakjubkan sekaligus menakutkan. Berpikir dan menyelami diri sendiri seolah bermain layaknya Tuhan. Berpikir mengantarkan pada pengetahuan baru yang begitu menakutkan untuk diselami.
Kuracuni si Bedul dengan kata penutup:
“Menjadi pengelola rekod atau arsiparis hanyalah sebuah tools profesi. Sama seperti jasi dosen, dokter, jualan cilok dll. Tujuan kehidupan pada akhirnya, tentu saja ingin bahagia kan So….
Coba tanyakan ke Seth. Apakah dia bahagia menjadi manusia yang akan mati? Itulah konsekwensi hidup. Tapi tiba-tiba Bedul nyeletuk :
“Sesulit itu jadi Arsiparis Pak?”
“Gak sulit Dul…cuma rasanya seperti sembelit“, sambil kutinggalkan Bedul ke toilet.
Dalam hatiku berbisik. sebenarnya tidak sulit menjadi arsiparis Bedul ! yang susah itu meyakinkanmu untuk memilih profesi ini….
Tabik
메타데이터
- post_id
- 55dfbe7ebd72
- slug
- enak-gak-pak-jadi-seorang-pengelola-rekod-atau-arsiparis-55dfbe7ebd72
- url
- https://medium.com/@yogihartono/enak-gak-pak-jadi-seorang-pengelola-rekod-atau-arsiparis-55dfbe7ebd72
- canonical_url
- https://medium.com/@yogihartono/enak-gak-pak-jadi-seorang-pengelola-rekod-atau-arsiparis-55dfbe7ebd72
- author_url
- https://medium.com/@yogihartono
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-28 15:08:08